Semakin intennya pameran yang diselenggarakan oleh seniman (mahasiswa) Kriya dalam beberapa waktu belakangan ini, pada tahap pertama menyiratkan adanya keinginan dari seniman kriya untuk ikut mendinamisasi perhelatan seni rupa. Akan tetapi bagaimana dengan pergerakan karya-karyanya sendiri ? Apakah para seniman kriya akan terus terjebak dengan kungkungan diseputar kategori dan batasan-batasan dimensional maupun material, yang kembali hanya akan membatasi ruang kretifitas ?
Setelah pameran “ Shadow” yang diselenggarakan oleh mahasiswa jurusan Kriya ISI Denpasar yang tergabung dalam K 2000, pada bulan Maret – April 2004 lalu. Kini dengan jumlah yang lebih banyak mereka kembali menggelar pameran bersama dengan judul yang kembali menggelitik yaitu “Ekspresi Kayu”. Pameran ini diikuti oleh kurang lebih 26 orang mahasiswa Kriya dari angkatan 2000 – 2003, dengan mengambil Museum Sidik Jari Denpasar sebagai tempat untuk merepresentasikan karya-karya terbaru mereka selama enam bulan terakhir. Pameran akan digelar mulai dari tanggal 18 September sampai dengan 2 Oktober 2004.
Penggambilan angle “Ekspresi Kayu” dalam pameran ini dilandasi dengan menggunakan pendekatan medium, salah satu benang merah untuk mengidentifikasi kriya adalah melalui mediumnya seperti; kayu, keramik, logam, serat, fiber, dan sebagainya. Penjudulan ini menandakan usaha untuk keluar dari ketidakjelasan lingkup istilah kriya, yang kerap memunculkan perdebatan yang cenderung mengkonotasikan kriya hanya sebagai seni rendahan, dan kerajinan semata. Karena sampai sekarang istilah kriya di samping belum begitu populer, sepertinya masih belum begitu dimengerti oleh sebagaian masyarakat seni dan terlebih lagi masyarakat luas. Hal itu tentunya sangat wajar, karena dalam lingkungan akademis sendiri pembahasan dan perdebatan tentang karya kriya ini masih belum terakumulasi dengan jelas, sehingga kerap menimbulkan masalah dalam orientasi sistem pengajaran di akademis.
Kriya adalah istilah yang digali dari budaya masa lalu di Indonesia, pada awalnya merupakan sebuah terminologi yang melingkupi seluruh praktek seni di Indonesia. Dalam usaha mengenali konteks budaya etnik masa lalu mungkin istilah ini masih relevan. Namun seperti diketahui dalam mengidentifikasi seni di Indonesia selama ini istilah kriya tidaklah eksis, yang lebih eksis justru istilah seni rupa. Di samping itu telah menjadi hal yang kaprah dan telah terkonvensi bahwa seni rupa selama ini diterjemahkan dari istilah fine art (seni murni) dalam bahasa Inggris. Sehingga dapat ditengarai penjurusan seperti seni murni dan kriya dalam akademi seni rupa di Indonesia jelas berlandaskan pada dikotomi art – craft seperti dalam seni modern di Barat.
Maka hadirlah fakultas/jurusan seni murni dan desain yang melingkupi seni lukis, patung, dan juga desain. Di sisi lain hadir juga jurusan Kriya, yang ketika menilik ke Barat mendapat padanan dengan craft. Ketika dipadankan dengan craft di Barat, kriya cenderung akan berada pada wilayah heirarkis antara dikotomi art dan craft. Secara sadar atau tidak ketika mengadopsi pola dan wacana art-craft Barat kita telah berada pada wilayah yang ahistoris dan cenderung merugikan, karena seting yang yang melatar belakanginya sangat berbeda. Di Barat pergerakan craft bukan hanya dalam tataran visual semata, namun perlu dilihat pergerakan paradigma dan pergulatan wacana dalam perjalanan historisnya.
Karena dalam perjalanan craft di Barat kemudian muncul perlawanan-perlawanan seperti gerakan art and craft movment atau di Eropa yang merupakan reaksi atas lahirnya masyarakat industri Barat yang dimotori oleh John Ruskin dan Robert Morris. Gerakan ini kemudian memberi berpengaruh melahirkan profesi desainer sebagai bentuk aplikasi “pertukangan” pada industri. Belakangan resistensi craft hadir dengan mangadopsi maupun dengan meluluhkan diri dalam term modern atau kontemporer. Craft tetap tidak dapat masuk dalam wacana art world. Sedangkan di Indonesia yang namanya masyarakat industri itu tidak pernah ada, dan juga tidak ada debat yang intens mengikuti perkembangan kriya.
Dalam konteks inilah kemudian terminologi kriya kehilangan lingkupnya dalam mewadahi seni rupa Indonesia. Istilah kriya sendiri mimiliki sepektrum begitu luas dan sering menimbulkan “bias” sehingga kemudian dibutuhkan pemahaman pada konteks pembicaraan. Ketika Istilah kriya ditujukan untuk memberi intensi pada kategori praktek visual tertentu yang memiliki kebedaan, lingkup wilayah kriya menjadi tidak jelas karena kemudian sulit sekali menarik batas yang rigid dengan bidang seni yang lain. Sehingga kriya sering berada dalam wilayah yang “ambigu”, dalam batasan-batasan katagori antara seni dan desain, hal ini terjadi justru ketika seni rupa didudukan dalam frame seni modern (fine art).
Kriya dalam lingkup pendidikan selama ini memang take for grated diterima begitu saja, usaha-usaha pengkajian secara kritispun sepertinya selalu dimentahkan dengan rumitnya sistem kurikulum yang sangat centralistik. Padahal pendidikan kriya (seni) yang ada di masing-masing wilayah di Indonsesia memiliki local problem sendiri-sendiri yang tidak selalu bisa diputuskan secara general tanpa memeriksa setingnya, dan belum tentu masih relevan dalam konteks pada masa sekarang. Salah satunya seperti saya sebutkan tadi adalah masih minimnya pemahaman masyarakat mengenai istilah kriya. Sampai saat ini benang merah kemudian yang dapat ditarik untuk melihat kriya adalah pada wilayah mediumnya, dan intensitas teknisnya yang disebut craftmanship.
Mekipun lewat studi komparasi seperti ini cenderung menjadikan persoalan kriya sangat complicated, tetapi saya tidak mengharapkan seniman/mahasiswa kriya benjadi tambah bingung, fesimis, apalagi frustrasi dalam menapaki perjalanan kretifnya. Namun sebaliknya dapat semakin terbuka dan selalu berusaha menganalisis bidang yang sedang dijalaninya. Satu hal yang patut diketahui, dalam konteks seni rupa Indonesia dan umumnya di Negara non-Barat dimana kriya tidak mengalami desakan yang begitu kuat seperti yang dialami craft di Barat, justru karena “ambigu” itulah kriya/seniman dapat dengan leluasa bergerak dan bukan tidak memungkinkan untuk melampui kategori yang disandangnya. Dalam tataran visual sesungguhnya karya-karya seniman kriya dalam medan seni rupa Indonesia selama ini tidak pernah dipermasalahkan jika bersanding dengan karya lukis ataupun patung. Hanya skat dalam wilayah akademislah yang kemudian menjadikan karya/seniman kriya cenderung ekslusif tanpa berusaha memahami medan yang sedang dihadapi.
Kembali pada pertanyaan yang diajukan pada awal tadi, menyimak karya-karya dalam pameran ini sepertinya ada permasalahan klasik yang masih dihadapi para peserta. Sampai saat ini umunya para peserta masih disibukkan dalam pecarian subject matter, sementara pengolahan bentuk, komposisi, dan pewarnaanya masih seperti itu-itu saja.Menurut hemat saya masalahnya bukan hanya pada keotentikan,atau keanehan subject matter. Ada ruang-ruang kosong yang masih terlupakan seperti mempermainkan karakter material, baik aplikasi, atau manipulasi, pewarnaan yang lebih pop misalnya. Wujud bukankah tidak harus dua dimensional, bisa insatalasi, site spesifik, objeck, bahkan patung sekalipun. Format pameran sepertinya harus diperhitungkan juga mungkin bisa diformat dalam bentuk gerakan pembaharuan misalnya, agar tidak semata-mata hanya sekedar hadir.
w. seriyoga parta.
Tulisan yang cukup membangun kekriyaan khususnya kriya akademis pada saat ini yang mempunyai kcendrungan untuk maju dan sejajar dengan seni rupa lainnya seperti seni lukis..memang kenyataan kriya pd saat ini kurang berkembang,miskin peminat tapi laris dipasaran yg nota bene bukan karya kriya tapi lebih dibilang ukiran kayu……kdengarannya aneh dan istilah kriya atau kekriyaan nyatanya blum mmasyarakat, kurang mensosialisasikan kale ya??? Thanks bwt saudara Seryogaparta,tulisan saudara banyak berterbaran didunia maya,moga tulisan saudara ttg kriya dapat memacu tingkat aspersiasi masyarakat dibidang ini.. salam bwt saudara. Heribertus joseph (mahasiswa kriya ISI denpasr).
terimakasih saudara Heribertus, respon anda sangat baik…sebagai alumni kriya STSI Denpasar dan kini juga menjadi tenaga dosen kriya, saya meresa bertanggungjawab dengan keberlangsungan kriya. dari statistik dalam blog saya tiap hari rata2 ada saja yang mengakses blog saya dengan kata kunci seni rupa dan kriya..apalagi sekarang dalam kurikulum sekolah ada mata pelajaran kriya..ya semoga secara perlahan kriya dapat dikenali dan dipahami oleh masyarakat..kalo saudara dan kawan2 kriya mau bikin pameran jangan segan2 hubungi saja saya.. sekarang saya mulai mengkurasi pameran kembali..
Bung Yoga..Knapa gak langsung buat situs ajah biar lebih aksen n khusus mengulas ttg seni rupa n kriya. Biar masyarakat pecinta seni lebih jelas mngenal profilmu Bung. Bung..scara pribadi gw mngenal Bung sjak aq masuk DiSTSI Denpasar sjak taon 2002, hanya Bung tidak mngenal saya…maklum kaum marginal dibanding Bung Yoga..hehehe..tp benar kog, profil Bung gak diragukan lg n smua dosen disini mngnal Bung krn langkah2 kritis Bung Yoga dulu ktika masih brstatus sbg mahasiswa. Ok gw dukung langkah2 Bung selanjutnya dlm membahas persoalan yg berbau seni rupa. salamku Bung..
oya..wah sori banget Joseph jika saya lupa,..
ya nanti pelan2 kita bikin, atau blog nanti saya bikin blog khusus kriya, kayaknya lebih baik bikin blog aja ud free, gampang diakses lagi..
terima kasih atas masukannya.. kamu bikin tulisan dong, nanti saya masukin di blog ini, atau kamu masukin di balipost..
sbenernya si artikelnya bgs…py..ko gada gambarnya????
py thx bgt de..mnyelamatkanq dari tuga segudang ni…=)
sori belum sempat apload gambar..
harapanku semoga tulisan2 ini dipakai dengan tujuan referensi bukan, hanya copy-paste saja untuk paper..
salam
Bung..aku punya tulisan yang aku muat di blog milikku..baca yach?? klik “bhalujosepheriberts@arts”..sukses bwt Bung Yoga. Thanks yach..