I Wayan Seriyoga Parta
Kriya adalah istilah yang digali dari budaya masa lalu Indonesia, pada awalnya merupakan sebuah terminologi yang melingkupi seluruh praktek seni di Indonesia Primadi Tambrani menegaskan: Seni kriya sebenarnya adalah apa yang kita sebut sebagai seni rupa tradisional Indonesia. Dalam seni rupa tradisional (Timur) terkandung nilai seni(estetika), fungsional, simbolis.Kaidah : etika, logika dan estetika. Berbeda dengan kredo seni rupa Barat: “seni untuk seni” Dalam seni tradisi kita tak ada karya seni rupa yang dibuat semata untuk ‘keindahan’ saja, sebaliknya tak ada benda pakai yang asal bisa dipakai, tapi ia juga indah. Indah-nya bukan sekedar memuaskan mata, tapi melebur dengan kaidah adat, tabu, kepercayaan, agama, dsbnya. Jadi selain bermakna sekaligus indah. (Primadi Tambrani, )
Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Soedarso, SP sebagai berikut: Seni kriya merupakan cikal-bakal seni rupa Indonesia, yang kemudian membedakan seni kriya dari seni murni atau seni rupa lainnya adalah fungsinya. Seni murni adalah ekspresif dan amat komunikatif, seni kriya lebih berorientasi pada kegunaan dalam kehidupan sehari-hari dibarengi dengan teknik pembuatan yang tinggi. Dalam wujudnya yang sekarang seni kriya adalah bagian seni rupa yang mengutama kan kegunaan, sarat akan kekriyaan atau craftsmanship yang tinggi, dan bentuknya tinggi. Hal ini semakin ditegaskan oleh Gustami yang dirumuskan dalam sebuah diagram yang menampilkan kriya sebagai ”wadah” seni rupa di Indonesia yang melingkupi seni lukis, seni patung, seni bangunan, dan seni kerajinan, namun dalam perkembangannya karena semua bidang seni yang lain memisahkan diri dalam disiplin ilmu tersendiri, sehingga kriyapun pada akhirnya menjadi satu disiplin ilmu tersendiri.
Usaha pemisahan tersebut terus berlangsung pergerakannya dapat kita simak dalam diagram oleh Gustami di bawah ini: Sumber: SP. Gustami Dalam konteks inilah kemudian terminologi kriya kehilangan lingkupnya dalam mewadahi seni rupa Indonesia. Istilah kriya sendiri mimiliki sepektrum yang begitu luas dan sering menimbulkan “bias” sehingga kemudian dibutuhkan pemahaman pada konteks pembahasan. Ketika Istilah kriya ditujukan untuk memberi intensi pada kategori praktek visual tertentu yang spesifik, lingkup wilayah kriya menjadi tidak jelas karena kemudian sulit sekali menarik batas yang rigid dengan bidang seni yang lain. Sehingga kriya sering berada dalam wilayah yang “abu-abu” grey area, dalam batasan-batasan katagori antara seni dan desain, hal ini terjadi justru ketika seni rupa didudukan dalam frame seni modern (fine art).
Namun seperti diketahui dalam mengidentifikasi seni di Indonesia selama ini istilah kriya tidaklah eksis, yang lebih eksis justru istilah seni rupa. Di samping itu telah menjadi hal yang kaprah dan telah menjadi kesepakatan bahwa seni rupa selama ini diterjemahkan dari istilah fine art (seni murni) dalam bahasa Inggris. Sehingga dapat ditengarai penjurusan seperti seni murni dan kriya dalam akademi seni rupa di Indonesia jelas berlandaskan pada dikotomi art–craft seperti dalam seni modern di Barat. Sehingga hadirlah fakultas/jurusan seni murni yang melingkupi seni lukis, patung, dan seni grafis, serta di sisi lain hadir jurusan Kriya sebagai seni terapan menyusul belakangan jurusan desain.
Pada abad ke-20 paradigma high art terwadahi dalam format-format kesenian yang dibakukan dalam akademis dan infrastruktur seni rupa modern telah terbentuk, pada saat inilah laboratorium formal seni rupa modern dimulai. Seiring dengan kemajuan teknologi dan sains maka seniman mengukuhkan diri sebagai “individual jenius” dalam semangat “penemuan” seperti halnya para ilmuan sains. Seniman menyerukan otonomi seni atas kepentingan di luar dirinya (seni untuk seni), dan dimulailah semangat avant garde. Dalam perjalanannya semangat avant garde ini selanjutnya terbagi menjadi dua; di satu sisi avant garde yang memurnikan seni hanya untuk seni mulai dari Kubis, Abstrak Ekspresionis, sampai fure art yang berobsesi mendudukkan warna hanya demi warna itu sendiri. Kedua avant garde yang melakukan penentangan pada maryarakat borjuis, seperti yang dilakukan oleh kelompok Dada dan Surrealisme. (Asmudjo J. Irianto, 2002: 144)
Sedikit tidaknya paradigma fine art di Barat memberi pengaruh dalam kehadiran seni rupa di akademis. Kembali menelisik perihal seni rupa dari masa lalu dengan menyimak pencarian dari almarhum Santo Yuliman, dalam bahasa Jawa Kuna/ bahasa Kawi terdapat kata; anglukis’ disamping berarti melukis dalam pengertian sekarang juga berarti ngukir (L. Mardiwarsito, kamus Jawa kuna Indonesia, Nusa Indah, Ende, 1981dalam Sanento Yuliman, 2000). Jadi boleh disebut ‘melukis’ di zaman dulu bukanlah hanya membuat rupa dengan mencoret garis dan mengoreskan warna, melainkan juga dengan memahat juga disebut melukis. (Sanento Yuliman, 2000: 7) Dari penjelasan oleh Sanento ini dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa pengertian seni lukis dalam kesenian tradisional Indonesia mencoret dan mengoleskan warna atau mengukir.
Pengertian ini berbeda dengan melukis (to paint bahasa Inggris) di Barat yang mengandung konotasi cat minyak. Jadi sesungguhnya antara seni lukis dan kriya dalam kasanah seni tradisional Indonesia luluh dalam istilah kagunan. Dalam kasanah seni rupa Indonesia dimasa lalu memang tidak ada spesifikasi medium dan teknik seperti yang kita dapat sekarang ini. Profesi seniman di masa lalu bersifat general misalnya Undagi atau Sangging di Bali selain bisa mengukir, mereka juga bisa melukis (menggambar) membuat bangunan, mematung dan sekaligus sastra. Karena pedoman untuk berkarya yang mereka lakoni harus berdasarkan kitab atau sastra yang dibuat berdasarkan ajaran Hindu. Hasil karya mereka secara konkrit bisa dilihat dalam bangunan suci pura, di sana ada seni pahat relief, patung, arsitektural, dan seni lukis (gambar) sekaligus. Meskipun karya mereka bersifat anonim, maha karya tersebut dikerjakan dengan integritas yang tinggi demi persembahan terhadap kekuatan yang Maha Besar yang dipercayai menaungi kehidupan di alam semesta ini.
Intisari dari uraian tadi adalah meskipun kini bidang seni rupa dan kriya dipisahkan dalam disiplin ilmu namun pada awalnya kedua berasal dari satu kesatuan yang padu. Persoalannya kemudian adalah eksistensi yang satu lebih eksis dari yang lain. Jadi tidak ada yang harus dipertentangkan.
0 Responses to “Kriya Sebagai Akar Seni Rupa Indonesia”