Oleh: I Wayan Seriyoga Parta
Seni tiga dimensional yang lebih bersifat eksperimental mencoba meluaskan perspektif mengenai ruang dalam konvensi seni patung, hanya terbatas dalam kaidah trimatra, dan wujud yang intregated (terkait) antara tampak depan, samping dan balakang yang menunjukkan satu-kesatuan yang solid. Sehingga hadirlah karya-karya yang dibuat dengan merespon alam yang dikenal dengan seni di alam (environmental art) dimana ruang tidak lagi spesifik akan tetapi ruang yang lebih luas yaitu alam lingkungan. Seperti karya seniman Amerika Chisto yang membungkus gedung, atau bahkan pulau-pulau kecil di bagian Amerika dengan kain yang telah dirancang khusus sehingga tidak merusak alam.
Muncul kemudian istilah seni instalasi, seni instalasi tidak semata-mata muncul dari keniscayaan praktek kreatif yang mencoba untuk bermain-main di luar dari konvensi tradisi fine art, jika mau dirunut praktek kreatif ini memiliki nilai historis yang sangat berkaitan dengan tradisi fine art itu sendiri. Ada kegelisahan, penyangsian, dan perlawanan di dalamnya.
Pergerakannya bisa disimak lewat munculnya usaha mempertanyakan kembali tentang definisi seni oleh Duncamp dan gerakan Dada, dengan Urinoirnya yang melegenda, atau juga gerakan konstruktivisme dalam seni patung, yang mempersoalkan prinsip-prinsip ruang dalam seni patung. Munculnya kolase dan assemblage dalam seni dua dimensional, yang mempertanyakan kembali kedataran dan bidang dua dimensional seni dua dimensi yang lakoni oleh para seniman pasca kubisme, adalah beberapa pergerakan yang membawa perluasan ruang lingkup seni tiga dimensional.
Spirit yang sama dapat dilihat dalam Gerakan Seni Rupa Baru 1975, dari gerakan inilah kemudian menghembuskan nafas bagi praktek seni instalasi dan menjadi semakin luas dan dinamik setelahnya. Hingga memunculkan perdebatan sampai saat ini, mengenai apa sebenarnya seni instalasi itu. Paradigma dikotomis dan kategori dalam seni modern (baca: seni lukis, patung dan grafis) itulah yang diretas oleh GSRB dengan meluaskan praktek kreatif seni rupa dan bahkan melampaui batasan-batasan kategori tersebut. Yang kemudian semakin diperluas konteksnya dengan mempertanyakan konstruksi kultural seni rupa itu sendiri seperti dalam Pameran Seni Rupa Apa (PIPA), Pasar Raya Dunia Fantasi, serta masih banyak lagi.
Karya-karya instalasi kemudian tidak berhenti dalam upayanya merepresentasikan fenomena kepada audien akan tetapi juga mengajak audien ikut berinteraksi dalam karya tersebut. [dalam hal ini interaksi yang dimaksud bukan hanya bersifat fisik akan tetapi juga bersifat fsikis (seperti; ketergangguan, mencekam dan sebagainya).
Seni Eksperimental di Bali
Even-even seni eksperimental di Bali umumnya dilakoni oleh seniman lukis yang pada umumnya lebih bebas bereksperimen dengan berbagai media atau material tanpa terikat dengan misalnya karakter material. Sementara dikalangan pematung hal ini menjadi sulit karena umumnya mereka masih sangat terikat dengan kaidah konvensional dalam seni patung. Sehingga sangat sulit bagi mereka untuk dapat sebebas seniman lukis dalam bereksperimen media.
Perkembangan seni tiga dimensi-eksperimental di Bali tidak dapat dilepaskan dari peran kreatif seniman Nyoman Erawan yang banyak mengarap seni intsalasi yang dia gabungkan dengan pertuntukan (performance art). Karya-karya dari Rejang Biru, Ruatan Bumi, Sikat Gigi, dan banyak lagi, menunjukkan keseriusan sosok Nyoman Erawan dalam mengembangkan seni instalasi dan performance art di Bali.
Dengan kepekaannya merespon media dan kegelisahannya dalam karya-karya instalasi. Sehingga tidak salah jika Erawan dianggap sebagai figur penting dalam perkembangan seni eksperimental di Bali, yang mampu mempengaruhi para seniman muda setelahnya untuk berkarya seni eksperimental.
Selain juga ketokohan Made Wianta yang dalam perjalanan kreatifnya sangat intens membuat seni eksperimental seperti: Art and Peace th 2000, Dream Land th 2003, yang mengangkat refleksi horor-teror pasca Boom Bali 2003 dalam karnya Wianta kerap mengangkat isu-isu budaya dan social dan menampilkan Perupa I Wayan Suklu juga termasuk yang senantiasa intens dalam melakukan pencarian kreatif pada seni yang non konvensional, mulai dari kegiatan kelompok yang sempat digagasnya Sangga Buwana, dan dia teruskan dalam karya-karyanya selanjutnya hingga saat ini.
Tercatan juga beberapa proyek seni rupa yang mengangkat isu lingkungan oleh kelompok seniman muda dari STSI (ISI) Denpasar diantaranya: Sangga Buwana, yang membuat proyek seni isntalasi untuk recovery serangan. Proyek “Lekakut” oleh kelompok Sudamala STSI (ISI) Denpasar yang dilaksanakan di areal persawahan daerah Penguyangan, kabupaten Badung. Proyek seni eksperimental oleh komunitas Pojok (Wayan Dania dan kawan-kawan) yang pernah membuat karya-karya mural pameran lukisan jalanan dengan memakai sepeda berkeliling diseputaran kota Denpasar. Bahkan mereka pernah menggelar pameran eksperimental di Bale Banjar Kesiman th 2002.
Proyek “Memasak dan Sejarah” th 2004 yang mengangkat peristiwa th 1965 di Bali dan menampilkan karya-karya video, instalasi, happening art, oleh kominutas Klinik Seni Taxu di Rumah Seni Cemeti Yogyakarta yang cukup fenomenal dan mendapat tanggapan kritik dari penulis Putu Wirata.
Proyek seni instalasi yang berjudul; “Konstruksi 1” dengan tema “Eksplorasi” digelar di Paros Galeri Sukawati, Gianyar, oleh seniman antara lain; Made Budhiana, Made Supena, Made Mahendra Mangku, Nyoman Erawan, Wayan Sujana “Suklu”, IGK. Murniasih, IB. Alit, Pande Wayan Mataram, dan IB. G. Ari Munartha. Kegiatan ini melibatkan seniman lukis yang sering bereksperimen dengan media tiga dimensi dan pematung.
Proyek Seni Instalasi RTRWP (Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi), merespon ruang di areal sekitar halaman Rumah Buku Cengkilung (RBC). oleh lima seniman muda I Made Sudana “Koplek”, Made Bakti Wiyasa, Ketut Endrawan, Made Supena, Made Sugiantara Pada tataran konteks (muatan yang dibawa) karya-karya lima perupa ini sangat menarik untuk dibicarakan. Tema ini konon merupakan singkatan Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi (RTRWP).
Meskipun bukan suesuatu hal yang baru dan pertama, melalui even ini kita sepertinya dihadapkan pada sebuah realitas yang berbeda dari iklim penciptaan seni rupa di Bali umumnya.
Tema Edivice Dalam Bali Biennale dan Pra Bali Biennale 2005 yang menampilkan karya-karya instalasi dengan senimannya antara lain; Imam Nurofiq, Ni Komang Kartika Tri Dewi, Cece Riberu, Grace Tjondronimpuno, Lufti Sani, Eksa Agung Wijaya, Ida Bagus Candra Yana, I Made Widya Diputra, Dewa Gede Jodi Saputra, Hamad Khalaf. Dan tentunya lebih heboh lagi dalam pameran Bali Biennale 2005 yang menghadirkan barisan nama-nama seniman terkenal seperti Nyoman Erawan, Pande Ketut Taman, hingga Jirna.
Tentunya sederetan peristiwa yang sempat dicatat ini adalah ujung dari fenomena yang sebagian besar pernah dilakoni oleh seniman Bali khususnya, mungkin akan kita jumpai ide-ide brilian yang masih tersimpan dalam ruang privat studio seniman. Dan jika diwujudkan menjadi sebuah proyek sangat mungkin akan menghasilkan karya-karya yang fenomenal. Dalam kepungan pasar seni kontemporer saat ini ketika seni lukis kembali menemukan masa renessansnya praktek kreatif ini kembali redup. Padahal kalau dilihat secara logis ketika karya sudah pada laku, perupa tentunya punya modal besar untuk membuat seni yang non konvensional ini. Mungkin sudah kodratnya ketika kemapanan mulai menghampiri kita terlalu meresa nyaman dan tidak mau neko-neko.
Sementara pada sisi yang lain, gejala seni yang tumbuh separatis ini sampai kini sepertinya belum mendapat perhatian dari penulis, untuk dirumuskan menjadi sebuah kajian. Karena sangat mungkin nanti bisa bermura menjadi sebuah buku “Seni Eksperimental Bali”.

0 Responses to “MENJEJAKI SENI EKSPRIMENTAL DI BALI”