Oleh : W. Seriyoga Parta (Mahasiswa Pasca Sajarna FSRD ITB)
Satu sosok figur bertopi/slayer merah sedang berdiri ditepian jalan layang tidak jelas apa yang sedang ia lakukan tumbuhnya tampak seperti siluet karena ditempa cahaya lampu jalan. Itu adalah salah satu karya Iman Sapari yang berjudul; “Nightwatch” dalam pameran tunggalnya yang bertajuk “ Cross Road” kini sedang digelar di El Canna Gallery Jakarta dari tg. 8-28 Agustus 2008. Karya-karya Iman menampilkan ke-sepi-an obyek dalam karyanya diambil dari lokasi seperti; jembatan layang, jalan raya, lampu lalu lintas, rel kereta api, gedung, hingga billboard dipinggir jalan. Semua obyek itu ditampilkan dengan situasi yang kosong, jalan nampak sepi, lintasan rel kereta api nampak lengang, papan billboard kosong tanpa image dan teks. Apa gerangan yang sedang ditampilkan Iman…
Pada pameran ini Iman ternyata tidak sedang menampilkan suasana, ia sedang mencoba menggali kemungkinan baru dari persinggungan antara fotografi, proyektor dan lukis. Memang dalam proses berkarya selama ini Iman memakai bantuan proyektor untuk membuat sketsa obyek karyanya, namun dalam perkembangannya ternyata Iman menemukan idenya justru pada alat proyeksi itu sendiri. Bermula ketika ia mencoba sebuah proyektor baru yang dibawa rekannya, pada awalnya ia merasa terganggu dengan cahaya proyektor yang agak redup dari proyektor umumnya. Imej obyek tidak tampil secara merata, cahaya hanya terfokus ditengah obyek semantara pada pinggirnya hanya terlihat samar, bahkan tidak terlihat dan menjadi gelap.
Keterbatasan cahaya alat proyeksi ini mengusik kreativitas Iman, ia kemudian menjadikan pada keterbatasan cahaya sebagai persoalan dalam karyanya. Cahaya ini bukan cahaya matahari seperti yang ditampilkan oleh kaum impresionis, cayaha dalam karya Iman adalah cahaya arifisial, cahaya buatan yang penuh dengan keterbatasan. Namun pada sisi lain memberikan berbagai kemungkinan imaji. Hal inilah yang menjadikan karya Iman kali ini cenderung lebih gelap, disamping memang sebagian besar pengambilan obyek karyanya dilakukan pada malam hari.
Karya Iman menampilkan kesunyian. Kesunyian dalam karya Iman dapat mengandung berbagai metafora sesuai dengan inpresi dan intrepretasi audien/apresiator. Hal yang juga disadari oleh senimannya, namun perhatian Iman bukan tertuju pada metaphor tersebut. Iman lebih mengarahkan perhatiannya pada penggalian aspek-aspek formal (rupa). Metaphor disadarinya adalah sesuatu sudah yang melekat pada obyek tersebut, tidak perlu dibicarakan karena pada kenyataanya obyek itu sendiri yang akan berkomunikasi dengan audiensnya.
Iman berkeyakinan artificial light dalam karyanya mengandung persoalan kerupaan, sehingga ia berusaha bereksplorasi pada persoalan tersebut. Hal itu dapat dilihat dalam pemilihan judulnya “projected # 1 hingga # 17”. Judul-judul tersebut tidak menampilkan persoalan tematis atau bisa dibaca konteks. Proyektor dalam memproyeksikan imej dalam karya iman menghasilkan pemiuhan dan distorsi hal ini telah disadari oleh Iman, hal ini ditampilkan Iman apa adanya, sehingga logika persepektif linear tidak bisa diterapkan secara ketat dalam karya-karya Iman. Hal ini terasa sekali terutama dalam garis verikal pada karya-karya Iman banyak yang kemudian tidak lurus sekali, agak miring ke kanan ataupun ke kiri.
Menyaksikan karya Iman dan beberapa karya perupa lainnya kini semakin masip memunculkan kecenderungan untuk memangkas narasi yang melekat pada bahasa realis sebelumnya. Beberapa perupa muda dengan sadar mengarahkan rupa realis untuk melakukan penggalian formal, yang menjadi perhatian para kaum formalis. Iman adalah mantan eksponen kelompok Seni Rupa Abstrax Bandung, kelompok perupa muda yang mempunyai peran dalam kebangkitan seni lukis Bandung. Ketika seni multimedia mendominasi seni rupa Bandung di awal tahun 2000-an kelompok Abstrax malah memilih menekuni medium konfensional yaitu seni lukis. Mereka menyadari perkembangan itu, mereka adalah kumpulan seniman muda yang mencoba meretas jalan lain dengan melukis representasi fotografi dan dengan sadar memakai teknologi digital sebagai alat bantu dalam berkarya lukis. Kebanalan mereka memilih medium konfensional mengantarkan perjalanan mereka saat ini. Termasuk di dalamnya perupa muda Iman Sapari.

0 Responses to “Obyek-obyek Kosong Iman Sapari”