Oleh : I Wayan Seriyoga Parta
Identitas dalam seni rupa Bali selama ini telah menjadi stigma, sejarah mencatat bahwa perkembangan seni rupa Bali adalah sebuah perkembangan seni rupa yang berjalan dalam garisnya sendiri secara linier. Tidak ada seni rupa di wilayah lain di Indonesia seperti Bali, dimana sejak awal transformasinya dari hasil pesentuhan dengan modernisme-kolonialisme yang kemudian berujung pada sebuah konstruksi identitas kultural Bali. Dalam perkembangannya seni rupa Bali berjalan pada rulenya sendiri-wacana identitas sangat lekat dalam presentasi karya-karya seniman Bali dari zaman ke zaman.
Kekusyukan seni rupa Bali pada dirinya sendiri berimplikasi pada dua hal; disatu sisi menjadi potensi, hal ini menjadi pembeda seni rupa Bali dengan seni rupa lainnya karena hanya dalam seni rupa Bali bisa ditelusuri jejak-jejak perkembangan yang bisa dibaca secara runut hingga saat ini. Pada sisi yang berbeda ke-spesifik-an seni rupa Bali justru menjadikannya berdiri sendiri dan kerap luput/enggan dimasukan dalam pembacaan menyeluruh mengenai seni rupa Indonesia. Seni rupa Bali dalam hal ini diposisikan sebagai the other yang memiliki kasus yang spesial.
Jika perspektif ini terus disematkan pada seni rupa Bali niscaya stigma dan citra-cita kolonial mengkonversi Bali akan terlegalkan, Bali kemudian akan terinklusi dan ditempatkan pada wilayahnya sendiri. Terlebih dalam wacana seni kontemporer sekarang ini, jika tidak ada upaya sendiri untuk melakukan pembacaan diri dan pemetaan posisi dalam wacana kontemporerisme, niscaya seni rupa Bali akan tersisih selamanya berada pada dunia yang lain (the other). Dalam pengantar pameran SDI tahun 2008 lalu Arif B. Prasetyo memberi catatan yang dapat menegaskan persoalan identitas yang menjadi bahasan dalam tulisan ini, adapun pernyataan Arif sebagai berikut:
[…] di era global ini, sesungguhnya SDI kini menghadapi tantangan serius bersisi ganda, yang sama-sama ekstrem. SDI harus menjawab problem menghilangnya identitas. Tapi bagaimana menjawabnya bukanlah perkara enteng. Apakah SDI sebaiknya melupakan visi primordialnya tentang Bali dab kebalian, dan mencebur tanpa beban identitas ke dalam kancah seni rupa global? Ataukah SDI justru perlu menajamkan visi primordialnya, berupaya menyodorkan identitas Bali dan kebalian kegelanggang seni rupa global, dengan resiko tergelincir ke dalam jebakan fanatisme dan fundamentalisme reaksioner, berbalik arah memuja warisan identitas masa silam yang dulu dikritisi oleh SDI sendiri? (Dalam Pengantar Pameran SDI NOW, di Tony Raka Art Gallery, Desember 2008- Januari 2009)
Persoalan yang diungkap oleh Arif bukan hanya menjadi persoalan SDI semata, akan tetapi juga bagi segenap entitas dalam medan seni rupa Bali. Namun, persoalannya tidak harus diletakan pada dua tegangan berposisi bipolar tersebut. Representasi seni kontemporer Bali saat ini tentunya tidak dapat dilepaskan begitu saja dari persoalan identitas yang di dalamnya terjadi dinamika dan usaha untuk reinterpretasi secara menerus, kadang bersifat harmonis dan juga disharmonis. Dalam arus perkembangan seni rupa kontemporer yang ditandai dengan fluralitas, keberagaman dan pentingnya narasi kecil, bahkan narasi lokalitas atas reaksi matinya grand narasi yang telah dibunuh oleh kaum postrukturalis pada dekade yang telah lalu. Pada konteks tersebut persoalan identitas tetap penting dalam membaca seni rupa Bali.
Walaupun mempersoalkan identitas dalam wacana kontemporer ini bisa menjadi terpeleset pada persepsi yang berusaha memetakan subyek dalam satu kesatuan dan utuh, yang otentik dan terpisah dari lainnya sehingga bersifat spesifik. Kerangka tulisan ini tidaklah memaksudkan diri pada hal tersebut. Kalau ditelisik lebih seksama sesungguhnya apa yang distigmakan mengenai keunikan Bali selama ini tidaklah tumbuh dari batang dan bahkan akar yang satu. Akan tetapi merupakan perkawinan dari berbagai kebudayaan, kebudayaan Hindu yang masuk ke Bali merupakan transformasi dari Hindu Jawa (Majapahit) yang sebelumnya telah mengalami persilangan. Ketika masuk ke Bali dipersilangkan lagi dengan kebudayaan lokal Bali yang telah ada sebelumnya. Begitu selanjutnya hingga kini. Hasil yang kini kita warisi sesungguhnya hasil persilangan dan pemaknaan yang terjadi secara menerus, dan kini-kedepannya juga terus akan mengalami pemaknaan secara menerus. Identitas sejatinya tidaklah statis-absolut.
Jika kita menoleh pada perkembangan seni rupa kontemporer Cina yang “kini menjadi kiblat seni rupa Indonesia”, sesungguhnya persoalan identitas adalah soal yang menjadi penanda bagi perkembangan mereka. Meskipun karya-karya seniman Cina pada umumnya merepresentasikan budaya kontemporer “mereka”, mereka memiliki cita rasa visual yang khas Cina. Dan nilai itu menjadi kekuatan mereka untuk mengedor medan seni rupa dunia.
Bali yang sedari awal tercitrakan identitas yang sangat lekat khususnya pada karya-karya seni rupa adalah potensi yang dapat dikembangkan dalam wacana seni rupa kontemporer. Kita sesungguhnya dapat membalik stigma identitas yang selama ini lekat dan menjadikan Bali enggan untuk dibaca dalam perkembangan seni rupa modern/kontemporer Indonesia. Upaya ini tidaklah dapat dilakukan hanya dalam tatanan wacana semata, karena wacana sendiri harus didukung oleh pergerakan karya-karya yang representatif.
Recent Comments