Archive for November 4th, 2009

04
Nov
09

Re-Imagining the Identity

Oleh : I Wayan Seriyoga Parta

Identitas dalam seni rupa Bali selama ini telah menjadi stigma, sejarah mencatat bahwa perkembangan seni rupa Bali adalah sebuah perkembangan seni rupa yang berjalan dalam garisnya sendiri secara linier. Tidak ada seni rupa di wilayah lain di Indonesia seperti Bali, dimana sejak awal transformasinya dari hasil pesentuhan dengan modernisme-kolonialisme yang kemudian berujung pada sebuah konstruksi identitas kultural Bali. Dalam perkembangannya seni rupa Bali berjalan pada rulenya sendiri-wacana identitas sangat lekat dalam presentasi karya-karya seniman Bali dari zaman ke zaman.

Kekusyukan seni rupa Bali pada dirinya sendiri berimplikasi pada dua hal; disatu sisi menjadi potensi, hal ini menjadi pembeda seni rupa Bali dengan seni rupa lainnya karena hanya dalam seni rupa Bali bisa ditelusuri jejak-jejak perkembangan yang bisa dibaca secara runut hingga saat ini. Pada sisi yang berbeda ke-spesifik-an seni rupa Bali justru menjadikannya berdiri sendiri dan kerap luput/enggan dimasukan dalam pembacaan menyeluruh mengenai seni rupa Indonesia. Seni rupa Bali dalam hal ini diposisikan sebagai the other yang memiliki kasus yang spesial.

Jika perspektif ini terus disematkan pada seni rupa Bali niscaya stigma dan citra-cita kolonial mengkonversi Bali akan terlegalkan, Bali kemudian akan terinklusi dan ditempatkan pada wilayahnya sendiri. Terlebih dalam wacana seni kontemporer sekarang ini, jika tidak ada upaya sendiri untuk melakukan pembacaan diri dan pemetaan posisi dalam wacana kontemporerisme, niscaya seni rupa Bali akan tersisih selamanya berada pada dunia yang lain (the other). Dalam pengantar pameran SDI tahun 2008 lalu Arif B. Prasetyo memberi catatan yang dapat menegaskan persoalan identitas yang menjadi bahasan dalam tulisan ini, adapun pernyataan Arif sebagai berikut:

[…] di era global ini, sesungguhnya SDI kini menghadapi tantangan serius bersisi ganda, yang sama-sama ekstrem. SDI harus menjawab problem menghilangnya identitas. Tapi bagaimana menjawabnya bukanlah perkara enteng. Apakah SDI sebaiknya melupakan visi primordialnya tentang Bali dab kebalian, dan mencebur tanpa beban identitas ke dalam kancah seni rupa global? Ataukah SDI justru perlu menajamkan visi primordialnya, berupaya menyodorkan identitas Bali dan kebalian kegelanggang seni rupa global, dengan resiko tergelincir ke dalam jebakan fanatisme dan fundamentalisme reaksioner, berbalik arah memuja warisan identitas masa silam yang dulu dikritisi oleh SDI sendiri? (Dalam Pengantar Pameran SDI NOW, di Tony Raka Art Gallery, Desember 2008- Januari 2009)

Persoalan yang diungkap oleh Arif bukan hanya menjadi persoalan SDI semata, akan tetapi juga bagi segenap entitas dalam medan seni rupa Bali. Namun, persoalannya tidak harus diletakan pada dua tegangan berposisi bipolar tersebut.  Representasi seni kontemporer Bali saat ini tentunya tidak dapat dilepaskan begitu saja dari persoalan identitas yang di dalamnya terjadi dinamika dan usaha untuk reinterpretasi secara menerus, kadang bersifat harmonis dan juga disharmonis. Dalam arus perkembangan seni rupa kontemporer yang ditandai dengan fluralitas, keberagaman dan pentingnya narasi kecil, bahkan narasi lokalitas atas reaksi matinya grand narasi yang telah dibunuh oleh kaum postrukturalis pada dekade yang telah lalu. Pada konteks tersebut persoalan identitas tetap penting dalam membaca seni rupa Bali.

Walaupun mempersoalkan identitas dalam wacana kontemporer ini bisa menjadi terpeleset pada persepsi yang berusaha memetakan subyek dalam satu kesatuan dan utuh, yang otentik dan terpisah dari lainnya sehingga bersifat spesifik. Kerangka tulisan ini tidaklah memaksudkan diri pada hal tersebut. Kalau ditelisik lebih seksama sesungguhnya apa yang distigmakan mengenai keunikan Bali selama ini tidaklah tumbuh dari batang dan bahkan akar yang satu. Akan tetapi merupakan perkawinan dari berbagai kebudayaan, kebudayaan Hindu yang masuk ke Bali merupakan transformasi dari Hindu Jawa (Majapahit) yang sebelumnya telah mengalami persilangan. Ketika masuk ke Bali dipersilangkan lagi dengan kebudayaan lokal Bali yang telah ada sebelumnya. Begitu selanjutnya hingga kini. Hasil yang kini kita warisi sesungguhnya hasil persilangan dan pemaknaan yang terjadi secara menerus, dan kini-kedepannya juga terus akan mengalami pemaknaan secara menerus. Identitas sejatinya tidaklah statis-absolut.

Jika kita menoleh pada perkembangan seni rupa kontemporer Cina yang “kini menjadi kiblat seni rupa Indonesia”, sesungguhnya persoalan identitas adalah soal yang menjadi penanda bagi perkembangan mereka. Meskipun karya-karya seniman Cina pada umumnya merepresentasikan budaya kontemporer “mereka”, mereka memiliki cita rasa visual yang khas Cina. Dan nilai itu menjadi kekuatan mereka untuk mengedor medan seni rupa dunia.

Bali yang sedari awal tercitrakan identitas yang sangat lekat khususnya pada karya-karya seni rupa adalah potensi yang dapat dikembangkan dalam wacana seni rupa kontemporer. Kita sesungguhnya dapat membalik stigma identitas yang selama ini lekat dan menjadikan Bali enggan untuk dibaca dalam perkembangan seni rupa modern/kontemporer Indonesia. Upaya ini tidaklah dapat dilakukan hanya dalam tatanan wacana semata, karena wacana sendiri harus didukung oleh pergerakan karya-karya yang representatif.

04
Nov
09

PERAN PASAR DALAM SENI RUPA KONTEMPORER

OLEH: I WAYAN SERIYOGA PARTA

Perkembangan seni rupa kini atau yang lebih akrab disebut sebagai kontemporer ditandai dengan meluasnya kembali wilayah dan cakupan bidang seni rupa, setelah sebelumnya dispesialisasikan dan dibuatkan sekat-sekat yang memisahkan antara satu dengan lainnya. Seperti pemisahan fine art (seni murni) dan appleid art (seni terapan), kedua bidang seni rupa ini diletakkan dalam posisi biner dan kerap dipertentangkan secara dikotomis. Seni seni murni antara lain meliputi: seni lukis dan patung, pada perkembangan berikutnya juga seni grafis, sementara seni terapan mencangkup desain dan kriya (craft).

Seni Modern kemudian tumbuh menjadi sebuah lingkaran institusi, yang di dalamnya  terdapat museum sebagai kuilnya, seniman individual-genius-kreatif (author) yang umumnya laki-laki berkulit putih dengan ras barat (white male anglo), ada kritikus dan kurator, serta galeri dan balai lelang, juga kelas menengah atas yang menjadi apresiator untuk karya-karya seni modern. Kesemuanya itu berjalan dengan baik menjadikan seni modern sebagai satu-satunya bentuk kesenian yang ”universal”, melalui kolonialisme kemudian disebarkan dari Eropa menuju Asia, Amerika Latin, Timur Tengah dan bahkan Afrika.

Dikotomi seni murni (fine art) dan desain ternyata tidak berlangsung lama, ketika muncul arus besar yang disebut post modern, menyangsikan dan bahkan secara radikal mengumandangkan dekonstruksi atas modernisme meratas semua batasan dalam seni rupa sehingga menjadi sama semua (flat) tidak ada lagi perbedaan seni murni dan desain atau dengan kriya (craft). Gerakan ini menjadi sangat kuat karena muncul pada semua  lini, dalam kekaryaan tahun 1960an muncul seni pop yang membawa pengalaman dan citra-citra keseharian dalam ekspresi seni Andy Warhol membuat kaleng sup dalam kanvas dengan teknik cetak saring (sablon), Roy Lichtenstein mengangkat komik menjadi karya seni.

Pada ranah filsafat gerakan ini menjadi diskursus yang secara terus-menerus dibedah dan dibahas terutama oleh kaum post strukturalis. Secara sederhananya dapat kita temui dalam pengalaman emperis kehidupan sosial budaya sehari-hari, pada kenyataannya entitas kehidupan termasuk seni di dalamnya tidak dapat dengan tegas dipisah-pisahkan, selalu ada wilayah in betwen (abu-abu). Sebuah kenyataan emperis yang tidak dapat ditolak modernisme. Kini dalam wilayah yang disebut seni kontemporer, sulit bagi kita untuk membuat batasan-batasan antara seni dan desain. Ketika teknologi berkembang begitu pesat seperti sekarang ini, banyak seniman  berkarya dengan dengan bantuan teknologi fotografi dan komputer. Begitu juga halnya dengan desain kredo form follow function sudah tidak lagi menjadi acuan, perkembang visual desain kini telah berkembang jauh fungsi mungkin merupakan aspek yang kesekian dari wujud itu sendiri.

Pada karya-karya seni rupa modern kontrol atas artistic value sejajar dengan economic valeu, akan tetapi dalam seni rupa kontemporer ketika kekuatan kapitalis sangat berperan di dalamnya. Kekuatan pasar begitu besar dalam menopang perkembangan karya-karya seni rupa kontemporer. Sejak tiga tahun belakangan, puluhan balai lelang bertumbuhan di Indonesia, seperti: Masterpiece, Borobudur, Heritage, Cempaka, Denindo, dan masih banyak lagi. Melalui balai lelang itulah harga karya-karya seniman muda didongkrak seperti dijelaskan Silvana Silveira, dalam tulisannya yang berjudul Collecting Contemporary Art: A Cultural or Economic Capital? http://www.ecoledumagasin.com/session17/spip.php?article106

Salah satu yang paling fenomenal adalah Nyoman Masriadi dalam acara lelang di Hongkong di tahun 2008 harga salah satu karyanya bisa menembus angka penjualan sekitar enam miliar rupiah. Harga yang cukup fantastis melewati seniman senior seperti Afandi, padalah dari jam terbang Masriadi masih jauh, bahkan masih belum bisa dibandingkan perupa Agus Suwage. Kondisi tersebut bisa terjadi karena mekanisme pasar dalam perkembangan seni rupa kontemporer ini.

Para apresiator dalam hal ini umumnya dari golongan menengah atas, yang menyadari mengoleksi karya seni rupa adalah sebuah prestise, dan  juga telah menjadi bagian dari gaya hidup kaum menengah atas di Indonesia. Dalam tulisan Ilham Koiri pada Kompas Minggu, 30 Agustus 2009, wawancaranya dengan narasumber Rachel Ibrahim, pemilik Sigi Arts Gallery di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, mengungkapkan; ”perluasan apresiasi seni itu juga ditandai dengan tumbuhnya kolektor baru dari kalangan profesional muda kota. Bagi mereka, karya seni bukan lagi sekadar gengsi, melainkan kebutuhan gaya hidup yang bisa dinikmati dengan cara masing-masing”.

Bak gayung bersambut seiring dengan seni sebagai gaya hidup, seni juga menjadi investasi yang tak kalah seperti investasi saham. Su Mei Thompson Seni Sebagai Investasi, dalam Majalah Visual Art vol. 5 No. 25 Juni-Juli 2008 menguraikan; ”pandangan bahwa karya seni bisa menjadi investasi yang baik, jika dibandingkan dengan saham dan obligasi, didukung oleh makin banyaknya studi akademis – seni bisa dilawankan dengan laba dari saham dan obligasi, dan bahwa karya seni punya korelasi yang sangat lemah dengan pasar ekuisitas, yang berarti bahwa karya seni punya potensi yang amat berguna dan bernilai”.

Seni rupa khususnya (seni lukis di Indonesia) dalam perkembangan seni kontemporer telah menjadi komoditi yang empuk bagi golongan menengah atas, menjadi sebuah gaya hidup dan sekaligus juga investasi yang baik. Sebuah perkembangan yang begitu massif dan tidak mungkin dalam era seni modern. Jika dalam seni modern melahirkan gaya/aliran (isme), maka kini dalam seni kontemporer muncul fesyen (fashion), tren yang tidak berdasarkan sebuah ideologi artistik seperti halnya dalam isme seni rupa modern. Dan sebagaimana halnya sebuah tren tentunya dapat dengan cepat berubah.

Di Indonesia tradisi mengoleksi karya seni rupa sejak awal kemerdekaan dimulai oleh presiden Soekarno, seorang teknokrat dan politikus yang memiliki kecintaan yang mendalam terhadap seni. Soekarno adalah presiden yang sangat dekat dengan seniman, ia bahkan membayar dengan mencicil untuk membeli karya Afandi, Hendra Gunawan, Sudjojono dan lainnya. Berkat jasa Soekarno lah istana negara memiliki koleksi karya seni lukis dari para maestro Indonesia yang bernilai sejarah, diwariskan hingga saat ini. Di tahun 1990-an muncul kolektor yang cukup berpengaruh asal Magelang Oei Hong Djien, yang mempunyai koleksi cukup lengkap dan mampu menggerakkan para pengusaha tembakau untuk mulai mengoleksi karya seni rupa terutama karya-karya seni lukis.

Kecenderungan untuk mengoleksi karya seni rupa semakin meningkat ditahun 2000-an yang ditandai dengan tumbuhnya kolektor-kolektor muda, umumnya mereka adalah para eksekutif muda dari golongan menengah atas yang memiliki basik pendidikan dari luar negeri. Dalam ulasan perihal Sepak Terjang Kolektor Muda di Indonesia dalam Majalah Visual Art, vol. 6 no. 33 Oktober-November 2009, Yusuf Susilo Hartono menguraikan ”dalam praktek mengoleksi seni rupa kontemporer, sekurang-kurangnya terdapat aspek kesenangan adventurer, resiko, kompetisi dan gaya hidup”.

Para kolektor muda inilah yang menopang perkembangan apresiasi karya-karya seni rupa kontemporer, didukung oleh sikap adventurer untuk menemukan dan lebih lanjut nantinya membuktikan bahwa pilihan mereka adalah karya dan seniman yang memiliki perkembangan karir  bagus. Pengoleksian karya seni dalam hal ini merupakan aktivitas konsumsi, seperti dijelaskan Yasraf Amir Piliang dalam bukunya Dunia Yang Dilipat, Tamasya Melampaui Batas-Batas Kebudayaan, Jalasutra press 2004  ”konsumsi tidak lagi sekedar berkaitan dengan nilai guna dalam rangka memenuhi fungsi utilitas atau kebutuhan dasar manusia tertentu, akan tetapi kini berkaitan dengan unsur-unsur simbolik untuk menandai kelas, status, atau simbol sosial tertentu”. Adalah sebuah kepuasan yang tidak saja bersifat materi (karena seiring dengan senimannya harga karya tentunya melonjak naik), akan tetapi juga merupakan sebuah kepuasan batin karena telah menemukan sesuatu yang berharga.

Motivasi ekonomi berjalan sejajar dengan sebuah prestise yang dijanjikan dalam pengoleksian karya seni rupa, menjadikan para kolektor muda ini semakin semangat. Karena ”yang dikonsumsi tidak lagi sekedar obyek, tetapi juga makna-makna sosial yang tersembunyi dibaliknya” seperti ditegaskan oleh Yasraf Amir Piliang.

* Penulis adalah Staf Pengajar di Universitas Negeri Gorontalo, dan kini sedang menyelesaikan studi Magister Seni Rupa di ITB




Authors

My Frofile

Sejak tahun 2006 menjadi tenaga pengajar tetap seni rupa/kriya pada Universitas Negeri Gorontalo, selain mengajar juga aktif menulis dan menjadi kurator untuk pameran seni rupa. Kini sedang menempuh pendidikan Magister Seni Rupa di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung

 

November 2009
M T W T F S S
« Oct    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Categories

Recent Comments

yogaparta on MENGENAL ORNAMEN
jon on MENGENAL ORNAMEN
ariestya dwi on Pengertian Seni Kriya
yogaparta on “SHADOW”: PAMERAN KELOMPOK K.…
yogaparta on Pengertian Seni Kriya

Blog Stats

  • 30,337