Home > Journal > Dimensi

Dimensi


Kurator: I Wayan Seriyoga Parta

Difinisi dimensi dalam ensiklopedia online, Wikipedia adalah sebagai berikut:

Dalam penggunaan umum, dimensi berarti parameter atau pengukuran yang dibutuhkan untuk mendefinisikan sifat-sifat suatu objek—yaitu panjang, lebar, dan tinggi atau ukuran dan bentuk. Dalam matematika dan fisika, dimensi adalah parameter yang dibutuhkan untuk menggambarkan posisi dan sifat-sifat objek dalam suatu ruang. Dalam konteks khusus, satuan ukur dapat pula disebut “dimensi”—meter atau inci dalam model geografi, atau biaya dan harga dalam model ekonomi. Waktu sering disebut sebagai “dimensi keempat”. (http://id.wikipedia.org/wiki/Dimensi)

Dimensi memiliki lingkup pengertian yang luas, mulai dari fisikal (wujud: 2 dimensi, 2 dimensi), waktu/skuensial yang juga disebut sebagai dimensi ke-4  pergerakan waktu kita alami dalam kehidupan ini. Gerak dan perubahan menjadi salah satu penanda waktu, dalam film atau audio visual aspek waktu dapat kita lihat dalam durasinya. Dalam seni rupa dimensi menjadi dasar untuk mengelompokkan disiplin keilmuan; dapat dilihat dalam pemisahan seni rupa bersadarkan wujud antara lain seni 2 dimensi pada seni lukis dan seni 3 dimensi berupa patung. Pengelompokkan itu bahkan kemudian menjadi mainstrem dalam perkembangan seni rupa modern, yang meletakkan ekplorasi pada kedua dimensi medium tersebut sebagai fokus utama.

Berdasarkan dimensi yang terkategori tersebut kemudian memicu kreativitas untuk melampaui batasan-batasannya, kreativitas seniman tidak pernah dapat dibatasi sehingga kemudian muncul perluasan-perluasan seperti dalam seni instalasi, pengabungan berbagai media (mixed media), performance art yang melibatkan gerak dan ruang yang tidak terbatas. Perkembangan eksplorasi dimensi dalam medium karya, juga beriringan dengan perkembangan pada tataran wacana seni rupa, seperti dari modernisme ke posmodernisme. Perkembangan pada eksplorasi medium memicu pemikiran-pemikiran penting, Arthur C. Danto yang mengumandangkan pemikiran tentang the end of art, dalam analisisnya tentang karya Brillo Box (1995) Andy Warhol yang menampilkan box (kotak) yang sebenarnya, secara wujud visual karya ini tidak ada bedanya dengan benda aslinya, tapi value of the art berupa konsep yang dikandung dalam karya tersebut menjustifikasi perbedaan di antara keduanya. Konsep pemikiran tentang perkembang seni rupa dipicu oleh gejala visual (dimensi karya) dan begitu juga sebaliknya, eksplorasi karya kemudian juga merepresentasikan pemikiran yang tengah berkembang. Singkat kata, dimensi menjadi aspek penting dalam perkembangan seni rupa.

Dimensi sebagai tajuk dalam pameran ini dimaksudkan sebagai refleksi tentang peran medium sebagai aspek penting dalam perkembangan seni rupa hingga saat ini. Dimensi yang dalam konteks karya seni rupa termanifestasi dalam medium menampilkan berbagai perkembangan visual dan juga penggarapan secara teknik. Kerangka pameran ini tidak melibatkan diri pada silang sengkarut wacana seni rupa kontemporer yang sepertinya tidak akan pernah berujung pada kejelasan definitif. Konon seni rupa kontemporer tidak akan selesai dirumuskan, jadi dalam hemat penulis biarlah gejala visual yang direprsentasikan oleh karya-karya para seniman memberikan refleksi tentang nilai kontemporer yang dikandungnya. Karena perkembangan seni rupa kontemporer salah satunya ditandai dengan keragaman dimensi kekaryaan, dan keragaman itulah yang tengah dipresentasikan oleh perupa dan karya-karyanya dalam pameran ini.

Pameran ini melibatkan seniman-seniman yang menggarap karya dari berbagai dimensi tersebut, mulai dari 2 dimensi yaitu lukisan, mixed media, seni patung sebagai wujud 3 dimensi dan juga perluasannya dalam bentuk seni instalasi. Selain dalam wujud fisik dimensi juga dapat dilihat dari konsep para seniman, dan tertuang dalam tema yang dihadirkan dalam karya. Dimensi tema memiliki konteks yang luas menyangkut fenomena sosial dan kebudayaaan.  Mereka adalah; Arief Tousiga, Bagus Indrayana, Diyanto, Dolorosa Sinaga, Harry Cahaya, Made Mahendra mangku, Made Pasek Kusumawijaya, Made Supena, Nyoman Wijaya, Putut Wahyu Widodo dan Wayan Sujana “Suklu”. Pameran ini bermaksud untuk melihat relasi-relasi perluasan dimensi tersebut, dan pencerapan oleh para seniman yang termanifestasi dalam konsep dan wujud visual-karya mereka. Kemudian masing-masing karya tersebut akan mencoba membangun jalinan komunikasi dengan para apresian dengan inteprestasinya masing-masing, karena karya seni miliki dimensi yang luas tidak saja bersifat fisik tapi juga psikis. Dalam wilayah yang sublim aspek psikis akan terjalin dengan sendirinya antara karya seni dan apresian, karena proses internalisasi. Indra dalam hal ini hanyalah pengantar pada penghayatan internalisasi tersebut, dan saya persilakan kepada para audiens menjalani proses tersebut.

Bandung Juli 2010

(Kuratorial teks pameran Dimensi, di El-canna Fine Art Jakarta, Juli-Agustus 2010)

About these ads
Categories: Journal
  1. Bal-Q
    May 29, 2011 at 2:31 pm | #1

    salam kenal, saya suka anda senang berbagi pengalaman. saya ada banyak karya, mohon diberi kritisi. mohon kunjungi http://balchibara.wordpress.com
    makasih

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: