Kurator I Wayan Seriyoga Parta
Tradisi adalah sebuah konsep untuk meletakkan nilai-nilai kultural yang ada di masyarakat yang diwarisi secara turun-temurun, kategori tradisi dihadirkan sebagai kutub yang cenderung berlawanan dengan kemodernan. Tradisi dianggap mewakili kebudayaan yang stagnan, statis, maka dari itu cenderung dianggap sebagai menghambat usaha untuk mengejar kemajuan dan progres yang terus-menerus dari semangat modern. Akan tetapi dalam kenyataannya tradisi pada berbagai kebudayaan senantiasa mengalami dinamika dan evolusi, dikarenakan berbagai aspek sosial yang mempengaruhi masyarakat pendukungnya.
Kebudayaan Bali yang sejak lama dikatakan memiliki akar yang kuat dan terus tumbuh seiring dengan perkembangan zaman. Baik sejak mengalami persinggungan dengan kebudayaan Barat di awal abad ke-20 khususnya di Bali Selatan, yang dalam perkembangan kemudian meletakkan konstruksi pada kesadaran akan nilai-nilai luhur identitas budaya Bali dalam kerangka awal pariwisata budaya. Maupun disaat modernitas semakin kencang mendera dalam perkembangan pariwisata di Bali, kebudayaan tradisi kemudian mengalami diversikasi. Berupa pemisahan antara kepentingan religi dan kepentingan industri pariwisata, pemisahan tersebut tentunya tidak berjalan dengan damai namun penuh dengan dinamika sehingga pada akhirnya melahirkan konvensi tersebut.
Tradisi dan modernitas menjadi dua entitas penting dalam kebertahanan dan perkembangan kebudayaan Bali, kondisi yang lebih real dapat dilihat dalam perkembangan kesenian khususnya seni rupa. Pada masa pra-modernitas, masyarakat Bali pada umumnya telah biasa dengan aktivitas seni namun belum memiliki kesadaran akan profesi sebagai seniman. Berkarya (melukis) mereka jalani sama seperti halnya ketika mereka harus ngayah membuat gambar pewayangan langit-langit, mengukir relief pada bangunan pura, membuat patung perwujudan dewa-dewa. Seni rupa Bali pra modern sangat terkait dengan entitas agama-Hindu seni merupakan bagian inheren kehidupan keagamaan. Spirit ngayah mendasari aktivitas seni masyarakat Bali pada umumnya dan tidak ada keterpisahan antara akivitas seni sebagai aktivitas budaya dan aktivitas religi. Hal ini terepresentasi dalam tema-tema yang mereka angkat umumnya adalah di seputar epos Mahabarata dan Ramayana, Tantri, serta cerita lainnya dalam kitab Hindu.
Kehadiran Pitamaha tahun 1937 yang dibentuk oleh Cokorda Gede Raka Sukawati dengan Walter Spies dan Rodelf Bonnet. Hadir sebagai sebuah organisasi yang mewadahi aktivitas pelukis dan pematung Bali pada waktu itu, memberikan kontribusi pada bidang pemasaran karya seni. Lembaga ini bertugas mengumpulkan karya-karya seniman Ubud, Gianyar, Sanur dan Denpasar serta memfasilitasi dalam even pameran dan juga mencari pemasaran bagi karya-karya tersebut. Melalui Pitamaha inilah nilai-nilai identitas-estetik seni lukis Bali dan kesadaran senimannya dibangun, maka secara perlahan hadirlah personal-personal yang kemudian mulai dikukuhkan posisinya sebagai individu seniman.
Seiring dengan perkembangan zaman, para seniman yang berkarya dalam jalur yang kemudian disebut tradisi dan belajar secara otodidak ini lambat laun karya-karya mereka juga mengalami perkembangan. Perkembangan zaman (modernisasi) memberi dampak sangat besar dalam membentuk sikap dan persepsi mereka untuk memaknai tradisi, kedirian, dan modernitas. Jika umumnya seniman yang tumbuh dari latar akademisme memakai ideom (bahasa) seni modern untuk memaknai tradisi mereka, maka para seniman yang tumbuh dari tradisi justru merepitalisasi bahasa tradisi untuk memaknai perubahan akibat dari modernitas yang mereka alami.
Mereka mengembangkan seni rupa Bali yang sepenuhnya berbasis pada praktek, ketekunan dan keuletan dalam berkarya sehingga melahirkan master-master yang memiliki penguasaan teknik yang matang. Mereka bisa sampai membuat bentuk yang realis bukan karena mempelajari struktur, tulang, otot yang ketat dalam ilmu anatomi. Pembelajaran melukis oleh mereka sangat empiris dan sekaligus juga imajinatif, mendasarkan pada penyerapan dengan indra mata, dimulai dengan nempe (mencontoh) pada seorang guru pada akhirnya mereka mengambangkan imajinasinya hingga menemukan bahasa ungkapnya sendiri. Pengalaman lebih menempa perjalanan kreativitas mereka dari pada pengetahuan dan wawasan teoritik. Intuisi atau kesadaran dalam persaingan, kemudian menuntun mereka untuk mengembangkan karakter dan gaya masing-masing, yang tumbuh dari intuisi tentang eksistensi diri dalam persaingan kolektif.
Tradisi sebagai bahasa rupa bagi mereka adalah sama kedudukannya dan bahkan telah memiliki nilai yang khas yang membedakan mereka dari seniman akademis. Para seniman otodidak mengembangkan gagasan mereka dengan bahasa rupa yang dikembangkan dari bahasa rupa tradisi. Primadi Tabrani (2005) meneliti mengenai bahasa rupa sejak dari tahun 1970-an mengungkapkan bahasa rupa menitik beratkan ”pada cara mengambarnya”. Bahasa rupa tradisi khususnya di Bali masih terus diwarisi hingga saat ini, dan bahkan juga mengalami perkembangan. Perkembangan tersebut dapat dilihat dari karya-karya seniman yang dipresentasikan dalam pameran ini.
Perkembangan kekaryaan mereka bukan hanya merupakan fenomena visual semata, namun juga ada basis knowledge yang bekerja di dalamnya sebuah kesadaran pembelajaran yang berbeda dari ranah akademis yang terstruktur dalam kurikulum. Pembelajaran di balik kekaryaan mereka adalah sebuah fenomena yang menarik untuk dikaji, gagasan pameran ini tidak saja menampilkan representasi karya semata. Lebih lanjut merupakan sebuah penelitian untuk para seniman otodidak yang mengembangkan kreativitas kekaryaan mereka yang berbasis pada bahasa rupa tradisi. Pameran ini melibatkan 10 orang seniman yang berkarya seni patung dan juga seni lukis dan yang berkarya keduanya, mereka dipilih berdasarkan pengembangan bahasa rupa tradisi yang telah dilakukan melalui karya seni lukis dan seni patung.
Made Budi sejak tahun 1970-an sudah mengembangkan gaya tersendiri dari seni lukis Batuan yang sebelumnya sudah dikembangkan oleh pendahulunya Made Djata ditahun 1930-an mulai diperkenalkan dengan material, dan karya lukis dari Barat oleh antropolog Margaret Mead. Made Budi mengembangkan gaya naturalis dengan tema-tema tentang Bali sebagai sebuah destinasi pariwisata, kondisi-kondisi modernitas yang dia jalani sebagai bagian dari masyarakat Bali ditampilkan secara unik dengan bahasa rupa tradisi. Pengembangan yang signifikan terhadap bahasa rupa tradisi dalam kekaryaan Budi adalah penyerapannya terhadap perspektif, dapat dilihat dalam karya ”Rafting” tahun 1996 yang tetap ditampilkan dengan perspektif burung dan komposisi yang memenuhi kanvas.
Perkembangan yang berbeda terjadi pada kekaryaan alharmun Dewa Putu Mokoh dari Pengosekan Ubud, melukis dengan gaya khas yang naif seperti gaya melukis anak-anak dapat dilihat dalam karya ”Sorga Neraka” tahun 2001. Keunikannya yang lain dapat dilihat dalam karya ”Kain” 2004 yang hanya menampilkan kain yang sedang digantung, sepintas karya ini mungkin terlihat biasa-biasa saja namun dalam amatan penulis karya ini memperlihatkan kecenderungan Mokoh pada kesadaran komposisional. Seperti diketahui kecenderungan karya tradisi memakai komposisi yang cenderung penuh untuk menampilkan narasi secara utuh dalam satu bidang karya. Kini Mokoh melampui konvensi tersebut dengan menampilkan obyek secara bersahaja dengan posisi dipinggir kiri dan bidang yang lain dia biarkan kosong, bidang yang dapat diasosiasikan sebagai langit. Komposisi dalam karya Mokoh bukan semata untuk menampilkan narasi, kesadaran untuk mengeksplorasi aspek-aspek formal yang lebih intens.
Wayan Asta menemukan gaya ungkapnya yang khas dengan memakai monyet sebagai metafor untuk menampilkan ide-idenya dari pencerapannya pada fenomena keseharian. Berbeda dengan Mokoh yang mengembangkan gaya ungkap dalam bentuk-bentuk naif, maka Asta mengembangkan gaya ungkap yang realistik dengan intensitas penggarapan yang detail. Tradisi ikonisitas dalam karya-karya tradisi pewayangan dikembangan menjadi visual metafor oleh Asta.
Dewa Putu Kantor yang belajar seni lukis dari gaya Batuan dalam pencarian kreatifnya ia sampai pada mengeksplorasi kebersahajaan dan kekuatan garis, yang sebelumnya dikembangkan oleh Gusti Nyoman Lempad. Dewa Putu Kantor kerap mengetengahkan tema-tema fenomena keseharian, kerap kali dia mengangkat kembali cerita-cerita rakyat yang kontekstual dengan kondisi kekinian. Seperti pada karya berjudul ”Pan Paluk” 2008, yang penulis soroti dalam karya ini adalah aspek cara pengungkapnnya yang memberikan penekanan pada sosok Pan Paluk yang besar dengan kemaluan yang besar pula. Penekanan tersebut memiliki intensitas tertentu umumnya merupakan tokoh yang diutamakan atau yang dipentingkan, dapat dibandingkan dengan karya-karya prasejarah terutama dalam karya seni lukis Mesir selalu terdapat sosok yang lebih besar dari obyek-obyek lainnya. Tokoh yang dibesarkan tersebut menyiratkan kedudukannya sebagai pemimpin atau raja, dalam karyanya Dewa Kantor juga tengah mengangkat kembali kecenderungan bahasa rupa prasejarah yang telah lama dilupakan tersebut.
Dari pesisir Sanur kembali hadir IB. Mayun seorang arsitek yang memiliki kesadaran dalam mempertahankan nilai-nilai tradisi Bali dalam karya arsitektural, dan ia juga mengembangkan gaya lukisan yang terinspirasi oleh Gusti Made Deblog. Dalam kesehariannya di kediamannya di Griya Sanur yang mewarisi karya-karya almarhum Gusti Deblog, membuatnya tergerak untuk mengembangkan seni lukis hitam putih dengan mengutamakan karakter garis.
Seniman lainnya adalah Wayan Sadha yang lebih dikenal sebagai kartunis, karya-karyanya sarat dengan muatan kritis terhadap fenomena sosial di masyarakat. Sadha sebagai otodidak sejati tidak hanya berhenti mengambar, dia mengembangkan kekaryaannya hingga membuat karya cerpen. Di balik kesederhanaan hidupnya dia bergaul dengan berbagai kalangan dari orang biasa hingga intelektual, hal tersebut membuatnya mempunyai kepekaan sosial dan dengan kemampuan artistik dalam berolah rupa dengan garis membuatnya fasih dalam menampilkan ide-ide kreatif ke dalam karyanya. Karya ”Sunami” 2005 Sadha menampilkan kedasyatan fenomena alam yang menelan ratusan dan bahkan jutaan korban jiwa, manusia, hewan, harta benda dan sebagainya. Orang-orang terbawa air bah dan ada yang bisa menyelamatkan diri dengan bergelantungan di pohon dan di atas atap rumah, namun ada juga yang bergelantungan mengambil gambar atau video, dari pakaiannya bisa diidentifikasi mereka adalah para wartawan.
Sementara dari belahan utara Bali hadir Ketut Santosa sebagai pewaris seni lukis kaca, ia mengembangkan karakternya sendiri dengan medium kaca yang harus dilukis secara terbalik, dengan tingkat kesulitan tekniknya Santosa mampu menciptakan gayanya tersendiri. Karyanya yang berjudul ”Judi” 2006 Santosa merepresentasikan persoalan sosial dengan menempatkan dua tokoh punakawan Sangut-Delem dalam dunia pewayangan. Ia menggabungkan tokoh-tokoh dari pewayangan dengan manusia yang menampilkan persoalan-persoalan kekinian di masyarakat, divisualisasikan pada media lukis kaca.
Dalam perkembangan seni patung Bali fenomena yang menonjol adalah kecenderungan gaya rupa realis dan kecenderungan bentuk-bentuk imajiner yang merespon bahan dalam hal ini adalah kayu. Karya Ketut Muja yang berjudul ”Cinta Suci Akan Melahirkan Kehidupan Baru” 2008 adalah salah satu kecenderungan merespon material kayu dengan bentuk realistik. Sukanta Wahyu yang juga merespon bentuk kayu yang dia temukan untuk merealisasikan bentuk-bentuk yang lebih imajiner, ia lebih tertarik dengan dunia mitis dimana setiap benda di alam pasti memiliki energi. Energi inilah yang kemudian menjadi spirit baginya berkarya. Fenomena yang menarik dari kecenderungan seni patung yang dipresentasikan oleh kedua seniman ini, adalah sistem kerja yang berada dalam ranah imaji masing-masing dalam diri mereka. Sebuah proses yang menarik untuk dikaji karena mereka umumnya tidak melakukan studi bentuk atau desain terlebih dahulu, ide tentang bentuk itu muncul ketika mereka berhadapan dengan material kayu. Ide muncul seketika atau dalam proses perenungan dengan bahan, ketika sudah ketemu ide yang akan dibuat bentuk kemudian muncul dalam kayu tersebut seuasu dengan imajinasi mereka. Kinerja kreatif ini merupakan salah satu basis pengetahuan (knowledge) yang khas dari para seniman otodidak, yang dalam dunia akademis kerap digolongkan tidak ilmiah.
Fenomena lain yang menarik dari mereka ternyata tidak hanya mengeleti satu bidang saja, IB. Alit selain membuat patung juga melukis, secara kebentukan patungnya terlihat biasa namun dalam finishing IB. Alit kemudian melukis permukaan patung dengan cat akrilik. Lihat saja patung yang berjudul ”Piece” 2009 dan ”Song” 2010 yang pada permukaannya dilukis dengan komposisi warna yang cenderung biru monokromatik dan aneka warna. Kebebasan ekspresi juga ia tuangkan dalam medium lukisan, seperti karya ”Warisan Leluhur” 2006 dan karya ”Jalan-Jalan Ke Sorga” 2010, IB. Alit menggabungkan elemen-elemen dari bentuk-bentuk tradisi seperti patung dan bentuk pewayangan dengan warna yang beragam dan cenderung cerah. IB. Alit berusaha mengaktualisasikan bahasa rupa tradisi dengan kecenderungan visual yang bersifat kekinian, yang salah satunya dicirikan dengan pemakaian warna-warna cerah tanpa campuran. Ia mengangkat nilai ornamentik dalam seni menghias dalam tradisi untuk kemudian dijadikan elemen visual yang dapat memberikan sense kekontemporeran.
Selain IB. Alit, seniman patung yang juga berkarya lukis adalah Sukanta Wahyu yang membuat kolase topeng kayu dalam kanvas dan ia juga memakai kolase benang sebagai aksen untuk karyanya. Berbeda dengan IB. Alit, Sukanta Wahyu tetap mengetengahkan karakter mistis dalam dua dimensinya yang berjudul ”Roh Gumi Bali” 2010, dia memakai warna tri datu (merah, putih dan hitam) dan warna emas yang dominan. Karakter mistis tetap menjadi bagian penting dalam karyanya yang kerap mengangkat nilai-nilai penciptaan- peleburan dan simbol-simbol Lingga-Yoni. Mereka tidak membatasi eksplorasi kreatinya pada medium tertentu kesadaran tersebut menjadikan mereka merambah keberbagai eksplorasi medium, Sukanta Wahyu bahkan juga kerap kali mambuat karya instlasi dalam pemeran-pameran yang diikutinya.
Dalam karya-karya seni lukis, seperti karya Dewa Putu Mokoh, Made Budi, Wayan Asta, IB. Alit, Ketut Santosa yang memakai medium kaca, terlihat rata-rata menampilkan garis pada obyek lukisan (outline) terlebih lagi pada karya Dewa Putu Kantor, IB. Mayun, Wayan Sadha, yang memang mengeksplorasi kekuatan garis untuk menerjemahkan ide-ide kreatif mereka. Garis dalam karya-karya representasi yang menggunakan bahasa rupa modern khususnya karya realis, dipakai hanya sebagai studi bentuk atau desain awal dalam proses berkarya. Sehingga kerap dikatakan sebagai gambar (drawing) atau mengambar yang kemudian dibedakan dengan lukis (painting) atau melukis yang memakai cat minyak atau cat air. Kehadiran outline sangat diminimalisir dalam karya realis karena dapat menganggu upaya untuk menampilkan realitas serealis (semirip) mungkin pada bidang lukisan. Garis membatasi upaya menampilkan volumetris atau kesan tiga dimensi pada obyek-obyek lukisan realis, karena garis menjadikan karya terlihat pipih atau dua dimensi.
Fenomena yang bertolak belakang pada karya-karya yang memakai bahasa rupa tradisi oleh para seniman dalam pameran ini yang justru menempatkan garis sebagai elemen utama dalam representasi obyek-obyek karya mereka. Hal ini disebabkan karena mereka bertolak dari bahasa rupa tradisi seperti seni wayang yang umumnya pipih, karya-karya tradisi pada umumnya menampilkan cerita-cerita dalam epos Mahabaratha, Ramayana, atau Tantri. Pada perkembangannya narasi dalam karya-karya yang menampilkan bahasa rupa tradisi menjadi tema keseharin dan pengalaman-pengalaman pribadi, dengan gaya ungkap mereka yang khas pada masing-masing seniman.
Yogyakarta, Nopember 2010


