I Wayan Seriyoga Parta*
Dalam perkembangan seni rupa Bali kini sedang muncul riak-riak baru, yaitu kecenderungan seni lukis realistik yang umumnya digeluti oleh para seniman muda, seperti; Ngakan Made Ardana, I Wayan Suja, Gede Puja, Putu Sumiantara, Made Dodit Artawan, Ketut Moniarta, Dewa Gede Rata Yoga, Agung Darmayuda, Tatang BSP, Cundrawan, I Wayan Hendra Kusuma, Wayan Pastika, dan I Wayan Rediasa, Nyoman Wijaya, Agus Cahaya, Made Alit Suaja mereka berempat masuk dalam 17 finalist Akili Museum Art Award (AMAA) 2008 yang acara pengumuman pemenangnya dilaksanakan pada tgl. 27 Agutus 2008, yang diumumkan langsung Oleh Rudi Akili di Museumnya di Jakarta.
AMAA 2008 terdiri dari lima orang tim juri yaitu; kritikus seni Jim Supangkat, pelukis Chusin Setiadikara, pengamat seni Suwarno Wisetrotomo, kurator Rizki Zaelani, dan Kuss Indarto. Menetap dua seniman muda dari Yogyakarta Agus Triyanto BR dan Setyo Priyo Nugroho sebagai pemenang. Dalam acara tersebut digelar pameran yang bertajuk From Cam to Com menampilkan karya 17 finalis bersama delapan pelukis realis lainnya antara lain; Chusin Setiadikara, Dede Eri Supria, Mangu Putra, Ronald Manulang, dan Gede Mahendrayasa. Menurut Jim Supangkat, seperti dikutif Ilham Khoiri dalam tulisannya di kompas Minggu 31 Agustus 2008 menyatakan; seni realistik muncul kembali dalam perkembangan seni rupa kontemporer untuk mengangkat budaya pop. Karya realistik yang berangkat dari bantuan fotografi dan komputer dapat digarap dengan kepekaan dan kecermatan sehingga menghasilkan bahasa ungkapan.
Berkaitan dengan persoalan tersebut, dan menyimak perkembangan seni rupa Bali dalam rentang tahun 2005 hingga sekarang telah muncul beberapa kali pameran yang menampilkan karya-karya realis dari seniman muda, diantaranya, pameran “Narasi Relistik” 2004 Klinik Seni Taxu Art Space, “Membaca Realisme” 2005, Nava Gallery Denpasar, hingga pameran “Cosmetic Culture” Kendra Gallery of Contemporary Art Seminyak Bali, pameran yang dibuka dari tgl 9 Agustus dan masih berlangsung hingga 18 September 2008 dikuratori oleh Hardiman. Pameran ini memakai label “realism in Bali”. Kehadiran beberapa pameran tersebut dan nama-nama seniman yang menekuni realis seperti yang telah disebutkan tadi, mungkin hanya beberapa dari kecenderungan yang kini sepertinya juga semakin menggejala pada seniman muda lainya di Bali atau seniman Bali yang tinggal di Yogyakarta atau di daerah lainnya.
Masifnya kecenderungan realis dilakoni oleh seniman muda Bali memunculkan pertanyaan apakah ini dapat dibaca sebagai tanda-tanda “baru” seni kontemporer Bali ?
Pada tahun 1990-an di Bali muncul kecenderungan seni lukis abstrak-yang mengangkat ikon-ikon kultural Bali dengan tokohnya Nyoman Erawan. Namun dalam fase berikutnya seiring dengan pertumbuhan seni realis oleh seniman muda Bali. Ternyata memberi daya ganggu pada sosok Erawan, hal ini dapat ditengarai dari karya-karyanya dalam pameran E-Motion di Galeri Nasional dalam rangka memperingati lima tahun majalah Visual Arts, menunjukkan suatu pergerakan. Dengan sangat hati-hati Erawan mulai memasukkan rupa realistik dalam lukisannya, setelah seni abstraknya di “sabotase” oleh Gede Mahendrayasa dengan “abstrak realisnya”. Erawan sebagai individual-kreatif sepertinya dirundung kegelisahan, dan tentunya kegelisahan sangat penting bagi seniman “besar” seperti Nyoman Erawan yang pada masanya dinobatkan sebagai “master” dalam seni rupa Bali.
Sejarah menunjukkan bahwa, posisi seniman sebenarnya berada dalam kondisi yang labil jaman senantiasa terus berjalan dan tantangan terbesar seniman adalah bagaimana menyikapi perkembangan tersebut. Apalagi membawa beban berupa citra “besar” yang telah dibentuk sebelumnya, jelas akan muncul dilema antara mempertahankan citra yang telah melakat dan keinginan untuk selalu menyesuaikan diri dengan pergerakan jaman. Eksistensi Erawan saat ini benar-benar sedang diuji, apakah dia akan tunduk pada pencitraan itu ? atau..? Mungkin kelahirannya sebagai “master” pada masa lalu terlampaui “mudah”, sehingga membuatnya terlalu “nyaman”. Munculnya kecenderungan baru dari seniman muda Bali bisa dimaknai sebagai sebuah tantangan bagi eksistensi seorang Erawan.
Jika kini kemudian hadir kecenderungan rupa realis di Bali sangat beralasan, dan dapat ditarik benang merah dengan perkembangan seni rupa Bali sebelumnya. Jika ditelisik lagi kebelakang, seni realis sudah mengakar dalam seni rupa Bali, hal ini dapat dilihat mulai dari kelahiran seni lukis asuhan Pitamaha, seniman Ubud menyerap anatomi plastis dari lukisan W. Spies dan R. Bonnet. Kemudian melahirkan seniman seperti: I Gusti Nyoman Lempad, I Dewa Sobrat, I Dewa Meregeg, dan beberapa seniman lainnya walaupun penyerapan mereka hanya sebatas anatomi semata, namun hasil penyerapan tersebut memberi nafas baru seni rupa klasik pewayangan Bali. Kemudian yang kerap luput dalam pembahasan, adalah hadirnya Sanggar Pejeng pimpinan pelukis Dullah yang mengajarkan seni lukis realis, juga pernah hadir di Bali. Dilanjutkan dengan sanggar Kamboja Denpasar. Sanggar Senin Kamis di Sanur asuhan pelukis Chusin Setyadikara yang melahirkan Agus Cahaya dan kawan-kawan yang sebagian menjadi finalis dalam AMAA 2008 yang telah dibahas diawal tulisan. Hingga kelahiran Klinik Seni Taxu yang pada akhirnya memilih rupa realis sebagai ideom estetik dalam perjalanan eksistensi mereka dalam medan seni rupa Indonesia
Seni Rupa Bali kini sedang mengalami masa yang dinamik, kecenderungan ini bisa dibaca sebagai salah satu tanda kebangkitan seni rupa kontemporer Bali.
* Penulis adalah Dosen Seni Universitas Negeri Gorontalo, kini sedang menempuh Program Magister FSRD ITB

0 Responses to “BALI: After the Abstract Painting”