<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title></title>
	<atom:link href="http://yogaparta.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://yogaparta.wordpress.com</link>
	<description>mari berbagi pengalaman...</description>
	<lastBuildDate>Wed, 18 Jan 2012 00:31:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='yogaparta.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title></title>
		<link>http://yogaparta.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://yogaparta.wordpress.com/osd.xml" title="" />
	<atom:link rel='hub' href='http://yogaparta.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Reposisi Bahasa Rupa Tradisi Bali</title>
		<link>http://yogaparta.wordpress.com/2011/05/15/reposisi-bahasa-rupa-tradisi-bali/</link>
		<comments>http://yogaparta.wordpress.com/2011/05/15/reposisi-bahasa-rupa-tradisi-bali/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 May 2011 10:49:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>seriyoga parta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yogaparta.wordpress.com/?p=430</guid>
		<description><![CDATA[Kurator I Wayan Seriyoga Parta Tradisi adalah sebuah konsep untuk meletakkan nilai-nilai kultural yang ada di masyarakat yang diwarisi secara turun-temurun, kategori tradisi dihadirkan sebagai kutub yang cenderung berlawanan dengan kemodernan. Tradisi dianggap mewakili kebudayaan yang stagnan, statis, maka dari itu cenderung dianggap sebagai menghambat usaha untuk mengejar kemajuan dan progres yang terus-menerus dari semangat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yogaparta.wordpress.com&amp;blog=3900794&amp;post=430&amp;subd=yogaparta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>    <a style="color:#FF0000;font-size:22px;text-decoration:blink;">Kurator I Wayan Seriyoga Parta</a> </p>
<p><a href="http://yogaparta.files.wordpress.com/2010/11/dewa-putu-kantor-pan-paluk-2008-40x60cm-tinta-di-kanvas.jpg"><img title="dewa putu kantor, Pan Paluk 2008, 40x60cm, tinta di kanvas" src="http://yogaparta.files.wordpress.com/2010/11/dewa-putu-kantor-pan-paluk-2008-40x60cm-tinta-di-kanvas.jpg?w=500&#038;h=313&#038;h=313" alt="" width="500" height="313" /></a></p>
<p>Tradisi adalah sebuah konsep untuk meletakkan nilai-nilai kultural yang ada di masyarakat yang diwarisi secara turun-temurun, kategori tradisi dihadirkan sebagai kutub yang cenderung berlawanan dengan kemodernan. Tradisi dianggap mewakili kebudayaan yang stagnan, statis, maka dari itu cenderung dianggap sebagai menghambat usaha untuk mengejar kemajuan dan progres yang terus-menerus dari semangat modern. Akan tetapi dalam kenyataannya tradisi pada berbagai kebudayaan senantiasa mengalami dinamika dan evolusi, dikarenakan berbagai aspek sosial yang mempengaruhi masyarakat pendukungnya.</p>
<p><a href="http://yogaparta.files.wordpress.com/2010/11/dewa-putu-mokohkain-2004-cat-air-di-kanvas-80x60cm.jpg"><img class="alignleft" title="Dewa Putu Mokoh,Kain, 2004, cat air di kanvas, 80x60cm" src="http://yogaparta.files.wordpress.com/2010/11/dewa-putu-mokohkain-2004-cat-air-di-kanvas-80x60cm.jpg?w=322&#038;h=439&#038;h=439" alt="" width="322" height="439" /></a></p>
<p>Kebudayaan Bali yang sejak lama dikatakan memiliki akar yang kuat dan terus tumbuh seiring dengan perkembangan zaman. Baik sejak mengalami persinggungan dengan kebudayaan Barat di awal abad ke-20 khususnya di Bali Selatan, yang dalam perkembangan kemudian meletakkan konstruksi pada kesadaran akan nilai-nilai luhur identitas budaya Bali dalam kerangka awal pariwisata budaya. Maupun disaat modernitas semakin kencang mendera dalam perkembangan pariwisata di Bali, kebudayaan tradisi kemudian mengalami diversikasi. Berupa pemisahan antara kepentingan religi dan kepentingan industri pariwisata, pemisahan tersebut tentunya tidak berjalan dengan damai namun penuh dengan dinamika sehingga pada akhirnya melahirkan konvensi tersebut.</p>
<p>Tradisi dan modernitas menjadi dua entitas penting dalam kebertahanan dan perkembangan kebudayaan Bali, kondisi yang lebih real dapat dilihat dalam perkembangan kesenian khususnya seni rupa. Pada masa pra-modernitas, masyarakat Bali pada umumnya telah biasa dengan aktivitas seni namun belum memiliki kesadaran akan profesi sebagai seniman. Berkarya (melukis) mereka jalani sama seperti halnya ketika mereka harus <em>ngayah</em> membuat gambar pewayangan langit-langit, mengukir relief pada bangunan pura, membuat patung perwujudan dewa-dewa. Seni rupa Bali pra modern sangat terkait dengan entitas agama-Hindu seni merupakan bagian inheren kehidupan keagamaan. Spirit ngayah mendasari aktivitas seni masyarakat Bali pada umumnya dan tidak ada keterpisahan antara akivitas seni sebagai aktivitas budaya dan aktivitas religi. Hal ini terepresentasi dalam tema-tema yang mereka angkat umumnya adalah di seputar epos Mahabarata dan Ramayana, Tantri, serta cerita lainnya dalam kitab Hindu.</p>
<p>Kehadiran Pitamaha tahun 1937 yang dibentuk oleh Cokorda Gede Raka Sukawati dengan Walter Spies dan Rodelf Bonnet. Hadir sebagai sebuah organisasi yang mewadahi aktivitas pelukis dan pematung Bali pada waktu itu, memberikan kontribusi pada bidang pemasaran karya seni. Lembaga ini bertugas mengumpulkan karya-karya seniman Ubud, Gianyar, Sanur dan Denpasar serta memfasilitasi dalam even pameran dan juga mencari pemasaran bagi karya-karya tersebut. Melalui Pitamaha inilah nilai-nilai identitas-estetik seni lukis Bali dan kesadaran senimannya dibangun, maka secara perlahan hadirlah personal-personal yang kemudian mulai dikukuhkan posisinya sebagai individu seniman.</p>
<p>Seiring dengan perkembangan zaman, para seniman yang berkarya dalam jalur yang kemudian disebut tradisi dan belajar secara otodidak ini lambat laun karya-karya mereka juga mengalami perkembangan. Perkembangan zaman (modernisasi) memberi dampak sangat besar dalam membentuk sikap dan persepsi mereka untuk memaknai tradisi, kedirian, dan modernitas. Jika umumnya seniman yang tumbuh dari latar akademisme memakai ideom (bahasa) seni modern untuk memaknai tradisi mereka, maka para seniman yang tumbuh dari tradisi justru merepitalisasi bahasa tradisi untuk memaknai perubahan akibat dari modernitas yang mereka alami.</p>
<p><a href="http://yogaparta.files.wordpress.com/2010/11/santosa-judi-2006-cat-minyak-di-kaca-50x70cm.jpg"><img title="Santosa, Judi, 2006, cat minyak di kaca, 50x70cm" src="http://yogaparta.files.wordpress.com/2010/11/santosa-judi-2006-cat-minyak-di-kaca-50x70cm.jpg?w=431&#038;h=308&#038;h=308" alt="" width="431" height="308" /></a></p>
<p>Mereka mengembangkan seni rupa Bali yang sepenuhnya berbasis pada praktek, ketekunan dan keuletan dalam berkarya sehingga melahirkan master-master yang memiliki penguasaan teknik yang matang. Mereka bisa sampai membuat bentuk yang realis bukan karena mempelajari struktur, tulang, otot yang ketat dalam ilmu anatomi. Pembelajaran melukis oleh mereka sangat empiris dan sekaligus juga imajinatif, mendasarkan pada penyerapan dengan indra mata, dimulai dengan <em>nempe</em> (mencontoh) pada seorang guru pada akhirnya mereka mengambangkan imajinasinya hingga menemukan bahasa ungkapnya sendiri. Pengalaman lebih menempa perjalanan kreativitas mereka dari pada pengetahuan dan wawasan teoritik. Intuisi atau kesadaran dalam persaingan, kemudian menuntun mereka untuk mengembangkan karakter dan gaya masing-masing, yang tumbuh dari intuisi tentang eksistensi diri dalam persaingan kolektif.</p>
<p>Tradisi sebagai bahasa rupa bagi mereka adalah sama kedudukannya dan bahkan telah memiliki nilai yang khas yang membedakan mereka dari seniman akademis. Para seniman otodidak mengembangkan gagasan mereka dengan bahasa rupa yang dikembangkan dari bahasa rupa tradisi. Primadi Tabrani (2005) meneliti mengenai bahasa rupa sejak dari tahun 1970-an mengungkapkan bahasa rupa menitik beratkan ”pada cara mengambarnya”. Bahasa rupa tradisi khususnya di Bali masih terus diwarisi hingga saat ini, dan bahkan juga mengalami perkembangan. Perkembangan tersebut dapat dilihat dari karya-karya seniman yang dipresentasikan dalam pameran ini.</p>
<p>Perkembangan kekaryaan mereka bukan hanya merupakan fenomena visual semata, namun juga ada basis <em>knowledge</em> yang bekerja di dalamnya sebuah kesadaran pembelajaran yang berbeda dari ranah akademis yang terstruktur dalam kurikulum. Pembelajaran di balik kekaryaan mereka adalah sebuah fenomena yang menarik untuk dikaji, gagasan pameran ini tidak saja menampilkan representasi karya semata. Lebih lanjut merupakan sebuah penelitian untuk para seniman otodidak yang mengembangkan kreativitas kekaryaan mereka yang berbasis pada bahasa rupa tradisi. Pameran ini melibatkan 10 orang seniman yang berkarya seni patung dan juga seni lukis dan yang berkarya keduanya, mereka dipilih berdasarkan pengembangan bahasa rupa tradisi yang telah dilakukan melalui karya seni lukis dan seni patung.</p>
<p>Made Budi sejak tahun 1970-an sudah mengembangkan gaya tersendiri dari seni lukis Batuan yang sebelumnya sudah dikembangkan oleh pendahulunya Made Djata ditahun 1930-an mulai diperkenalkan dengan material, dan karya lukis dari Barat oleh antropolog Margaret Mead. Made Budi mengembangkan gaya naturalis dengan tema-tema tentang Bali sebagai sebuah destinasi pariwisata, kondisi-kondisi modernitas yang dia jalani sebagai bagian dari masyarakat Bali ditampilkan secara unik dengan bahasa rupa tradisi. Pengembangan yang signifikan terhadap bahasa rupa tradisi dalam kekaryaan Budi adalah penyerapannya terhadap perspektif, dapat dilihat dalam karya ”Rafting” tahun 1996 yang tetap ditampilkan dengan perspektif burung dan komposisi yang memenuhi kanvas.</p>
<p>Perkembangan yang berbeda terjadi pada kekaryaan alharmun Dewa Putu Mokoh dari Pengosekan Ubud, melukis dengan gaya khas yang naif seperti gaya melukis anak-anak dapat dilihat dalam karya ”Sorga Neraka” tahun 2001. Keunikannya yang lain dapat dilihat dalam karya ”Kain” 2004 yang hanya menampilkan kain yang sedang digantung, sepintas karya ini mungkin terlihat biasa-biasa saja namun dalam amatan penulis karya ini memperlihatkan kecenderungan Mokoh pada kesadaran komposisional. Seperti diketahui kecenderungan karya tradisi memakai komposisi yang cenderung penuh untuk menampilkan narasi secara utuh dalam satu bidang karya. Kini Mokoh melampui konvensi tersebut dengan menampilkan obyek secara bersahaja dengan posisi dipinggir kiri dan bidang yang lain dia biarkan kosong, bidang yang dapat diasosiasikan sebagai langit. Komposisi dalam karya Mokoh bukan semata untuk menampilkan narasi, kesadaran untuk mengeksplorasi aspek-aspek formal yang lebih intens.</p>
<p>Wayan Asta menemukan gaya ungkapnya yang khas dengan memakai monyet sebagai metafor untuk menampilkan ide-idenya dari pencerapannya pada fenomena keseharian. Berbeda dengan Mokoh yang mengembangkan gaya ungkap dalam bentuk-bentuk naif, maka Asta mengembangkan gaya ungkap yang realistik dengan intensitas penggarapan yang detail. Tradisi ikonisitas dalam karya-karya tradisi pewayangan dikembangan menjadi visual metafor oleh Asta.</p>
<p>Dewa Putu Kantor yang belajar seni lukis dari gaya Batuan dalam pencarian kreatifnya ia sampai pada mengeksplorasi kebersahajaan dan kekuatan garis, yang sebelumnya dikembangkan oleh Gusti Nyoman Lempad. Dewa Putu Kantor kerap mengetengahkan tema-tema fenomena keseharian, kerap kali dia mengangkat kembali cerita-cerita rakyat yang kontekstual dengan kondisi kekinian. Seperti pada karya berjudul ”Pan Paluk” 2008, yang penulis soroti dalam karya ini adalah aspek cara pengungkapnnya yang memberikan penekanan pada sosok Pan Paluk yang besar dengan kemaluan yang besar pula. Penekanan tersebut memiliki intensitas tertentu umumnya merupakan tokoh yang diutamakan atau yang dipentingkan, dapat dibandingkan dengan karya-karya prasejarah terutama dalam karya seni lukis Mesir selalu terdapat sosok yang lebih besar dari obyek-obyek lainnya. Tokoh yang dibesarkan tersebut menyiratkan kedudukannya sebagai pemimpin atau raja, dalam karyanya Dewa Kantor juga tengah mengangkat kembali kecenderungan bahasa rupa prasejarah yang telah lama dilupakan tersebut.</p>
<p>Dari pesisir Sanur kembali hadir IB. Mayun seorang arsitek yang memiliki kesadaran dalam mempertahankan nilai-nilai tradisi Bali dalam karya arsitektural, dan ia juga mengembangkan gaya lukisan yang terinspirasi oleh Gusti Made Deblog. Dalam kesehariannya di kediamannya di <em>Griya</em> Sanur yang mewarisi karya-karya almarhum  Gusti Deblog, membuatnya tergerak untuk mengembangkan seni lukis hitam putih dengan mengutamakan karakter garis.</p>
<p>Seniman lainnya adalah Wayan Sadha yang lebih dikenal sebagai kartunis, karya-karyanya sarat dengan muatan kritis terhadap fenomena sosial di masyarakat. Sadha sebagai otodidak sejati tidak hanya berhenti mengambar, dia mengembangkan kekaryaannya hingga membuat karya cerpen. Di balik kesederhanaan hidupnya dia bergaul dengan berbagai kalangan dari orang biasa hingga intelektual, hal tersebut membuatnya mempunyai kepekaan sosial dan dengan kemampuan artistik dalam berolah rupa dengan garis membuatnya fasih dalam menampilkan ide-ide kreatif ke dalam karyanya. Karya ”Sunami” 2005 Sadha menampilkan kedasyatan fenomena alam yang menelan ratusan dan bahkan jutaan korban jiwa, manusia, hewan, harta benda dan sebagainya. Orang-orang terbawa air bah dan ada yang bisa menyelamatkan diri dengan bergelantungan di pohon dan di atas atap rumah, namun ada juga yang bergelantungan mengambil gambar atau video, dari pakaiannya bisa diidentifikasi mereka adalah para wartawan.</p>
<p>Sementara dari belahan utara Bali hadir Ketut Santosa sebagai pewaris seni lukis kaca, ia mengembangkan karakternya sendiri dengan medium kaca yang harus dilukis secara terbalik, dengan tingkat kesulitan tekniknya Santosa mampu menciptakan gayanya tersendiri. Karyanya yang berjudul ”Judi” 2006 Santosa merepresentasikan persoalan sosial dengan menempatkan dua tokoh punakawan <em>Sangut-Delem</em> dalam dunia pewayangan. Ia menggabungkan tokoh-tokoh dari pewayangan dengan manusia yang menampilkan persoalan-persoalan kekinian di masyarakat, divisualisasikan pada media lukis kaca.</p>
<p>Dalam perkembangan seni patung Bali fenomena yang menonjol adalah kecenderungan gaya rupa realis dan kecenderungan bentuk-bentuk imajiner yang merespon bahan dalam hal ini adalah kayu. Karya Ketut Muja yang berjudul ”Cinta Suci Akan Melahirkan Kehidupan Baru” 2008 adalah salah satu kecenderungan merespon material kayu dengan bentuk realistik. Sukanta Wahyu yang juga merespon bentuk kayu yang dia temukan untuk merealisasikan bentuk-bentuk yang lebih imajiner, ia lebih tertarik dengan dunia mitis dimana setiap benda di alam pasti memiliki energi. Energi inilah yang kemudian menjadi spirit baginya berkarya. Fenomena yang menarik dari kecenderungan seni patung yang dipresentasikan oleh kedua seniman ini, adalah sistem kerja yang berada dalam ranah imaji masing-masing dalam diri mereka. Sebuah proses yang menarik untuk dikaji karena mereka umumnya tidak melakukan studi bentuk atau desain terlebih dahulu, ide tentang bentuk itu muncul ketika mereka berhadapan dengan material kayu. Ide muncul seketika atau  dalam proses perenungan dengan bahan, ketika sudah ketemu ide yang akan dibuat bentuk kemudian muncul dalam kayu tersebut seuasu dengan imajinasi mereka. Kinerja kreatif ini merupakan salah satu basis pengetahuan (<em>knowledge</em>) yang khas dari para seniman otodidak, yang dalam dunia akademis kerap digolongkan tidak ilmiah.</p>
<p>Fenomena lain yang menarik dari mereka ternyata tidak hanya mengeleti satu bidang saja, IB. Alit selain membuat patung juga melukis, secara kebentukan patungnya terlihat biasa namun dalam finishing IB. Alit kemudian melukis permukaan patung dengan cat akrilik. Lihat saja patung yang berjudul ”Piece” 2009 dan ”Song” 2010 yang pada permukaannya dilukis dengan komposisi warna yang cenderung biru monokromatik dan aneka warna. Kebebasan ekspresi juga ia tuangkan dalam medium lukisan, seperti karya ”Warisan Leluhur” 2006 dan karya ”Jalan-Jalan Ke Sorga” 2010, IB. Alit menggabungkan elemen-elemen dari bentuk-bentuk tradisi seperti patung dan bentuk pewayangan dengan warna yang beragam dan cenderung cerah. IB. Alit berusaha mengaktualisasikan bahasa rupa tradisi dengan kecenderungan visual yang bersifat kekinian, yang salah satunya dicirikan dengan pemakaian warna-warna cerah tanpa campuran. Ia mengangkat nilai ornamentik dalam seni menghias dalam tradisi untuk kemudian dijadikan elemen visual yang dapat memberikan sense kekontemporeran.</p>
<p><a href="http://yogaparta.files.wordpress.com/2010/11/sukanta-wahyu-gana-1998-kayu-jepun-60x65x110-cm.jpg"><img class="alignleft" title="Sukanta Wahyu, Gana, 1998, Kayu Jepun, 60x65x110 cm" src="http://yogaparta.files.wordpress.com/2010/11/sukanta-wahyu-gana-1998-kayu-jepun-60x65x110-cm.jpg?w=284&#038;h=564&#038;h=564" alt="" width="284" height="564" /></a>Selain IB. Alit, seniman patung yang juga berkarya lukis adalah Sukanta Wahyu yang membuat kolase topeng kayu dalam kanvas dan ia juga memakai kolase benang sebagai aksen untuk karyanya. Berbeda dengan IB. Alit, Sukanta Wahyu tetap mengetengahkan karakter mistis dalam dua dimensinya yang berjudul ”Roh Gumi Bali” 2010, dia memakai warna tri datu (merah, putih dan hitam) dan warna emas yang dominan. Karakter mistis tetap menjadi bagian penting dalam karyanya yang kerap mengangkat nilai-nilai penciptaan- peleburan dan simbol-simbol Lingga-Yoni. Mereka tidak membatasi eksplorasi kreatinya pada medium tertentu kesadaran tersebut menjadikan mereka merambah keberbagai eksplorasi medium, Sukanta Wahyu bahkan juga kerap kali mambuat karya instlasi dalam pemeran-pameran yang diikutinya.</p>
<p>Dalam karya-karya seni lukis, seperti karya Dewa Putu Mokoh, Made Budi, Wayan Asta, IB. Alit, Ketut Santosa yang memakai medium kaca, terlihat rata-rata menampilkan garis pada obyek lukisan (<em>outline</em>)  terlebih lagi pada karya Dewa Putu Kantor, IB. Mayun, Wayan Sadha, yang memang mengeksplorasi kekuatan garis untuk menerjemahkan ide-ide kreatif mereka. Garis dalam karya-karya representasi yang menggunakan bahasa rupa modern khususnya karya realis, dipakai hanya sebagai studi bentuk atau desain awal dalam proses berkarya. Sehingga kerap dikatakan sebagai gambar (drawing) atau mengambar yang kemudian dibedakan dengan lukis (<em>painting</em>) atau melukis yang memakai cat minyak atau cat air. Kehadiran <em>outline</em> sangat diminimalisir dalam karya realis karena dapat menganggu upaya untuk menampilkan  realitas serealis (semirip) mungkin pada bidang lukisan. Garis membatasi upaya menampilkan volumetris atau kesan tiga dimensi pada obyek-obyek lukisan realis, karena garis menjadikan karya terlihat pipih atau dua dimensi.</p>
<p>Fenomena yang bertolak belakang pada karya-karya yang memakai bahasa rupa tradisi oleh para seniman dalam pameran ini yang justru menempatkan garis sebagai elemen utama dalam representasi obyek-obyek karya mereka. Hal ini disebabkan karena mereka bertolak dari bahasa rupa tradisi seperti seni wayang yang umumnya pipih, karya-karya tradisi pada umumnya menampilkan cerita-cerita dalam epos Mahabaratha, Ramayana, atau Tantri. Pada perkembangannya narasi dalam karya-karya yang menampilkan bahasa rupa tradisi menjadi tema keseharin dan pengalaman-pengalaman pribadi, dengan gaya ungkap mereka yang khas pada masing-masing seniman.</p>
<p><strong>Yogyakarta, Nopember 2010</strong></p>
<br />Filed under: <a href='http://yogaparta.wordpress.com/category/journal/'>Journal</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yogaparta.wordpress.com/430/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yogaparta.wordpress.com/430/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yogaparta.wordpress.com/430/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yogaparta.wordpress.com/430/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yogaparta.wordpress.com/430/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yogaparta.wordpress.com/430/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yogaparta.wordpress.com/430/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yogaparta.wordpress.com/430/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yogaparta.wordpress.com/430/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yogaparta.wordpress.com/430/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yogaparta.wordpress.com/430/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yogaparta.wordpress.com/430/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yogaparta.wordpress.com/430/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yogaparta.wordpress.com/430/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yogaparta.wordpress.com&amp;blog=3900794&amp;post=430&amp;subd=yogaparta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yogaparta.wordpress.com/2011/05/15/reposisi-bahasa-rupa-tradisi-bali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c0582d6501f8eeedfaf8520c4d3fa825?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yogaparta</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yogaparta.files.wordpress.com/2010/11/dewa-putu-kantor-pan-paluk-2008-40x60cm-tinta-di-kanvas.jpg?w=500&#38;h=313" medium="image">
			<media:title type="html">dewa putu kantor, Pan Paluk 2008, 40x60cm, tinta di kanvas</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yogaparta.files.wordpress.com/2010/11/dewa-putu-mokohkain-2004-cat-air-di-kanvas-80x60cm.jpg?w=322&#38;h=439" medium="image">
			<media:title type="html">Dewa Putu Mokoh,Kain, 2004, cat air di kanvas, 80x60cm</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yogaparta.files.wordpress.com/2010/11/santosa-judi-2006-cat-minyak-di-kaca-50x70cm.jpg?w=431&#38;h=308" medium="image">
			<media:title type="html">Santosa, Judi, 2006, cat minyak di kaca, 50x70cm</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yogaparta.files.wordpress.com/2010/11/sukanta-wahyu-gana-1998-kayu-jepun-60x65x110-cm.jpg?w=284&#38;h=564" medium="image">
			<media:title type="html">Sukanta Wahyu, Gana, 1998, Kayu Jepun, 60x65x110 cm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Memasang Google Translate Di WordPress anda</title>
		<link>http://yogaparta.wordpress.com/2011/05/15/memasang-google-translate-di-wordpress-anda/</link>
		<comments>http://yogaparta.wordpress.com/2011/05/15/memasang-google-translate-di-wordpress-anda/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 May 2011 10:22:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>seriyoga parta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Application]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yogaparta.wordpress.com/?p=428</guid>
		<description><![CDATA[Inginkah anda di blog WordPress.com anda terdapat fasilitas penerjemah bahasa? Yang tidak hanya menerjemahkan satu bahasa melainkan multi bahasa? Yang menerjemahkan isi blog anda tanpa meninggalkan theme blog anda? Bila ya! Anda wajib membaca artikel ini! Google Translate! Bukan terdengar asing lagi. Bahkan hampir semua orang membicarakannya di posting blog mereka. Saya tidak akan membicarakan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yogaparta.wordpress.com&amp;blog=3900794&amp;post=428&amp;subd=yogaparta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="image/png;base64,iVBORw0KGgoAAAANSUhEUgAAAHQAAABXCAIAAABawPboAAAgAElEQVR4nO2cd5wdxZXvR2C8Zo2NvWs/vNjrtE6s1wln9tkYECZZGAyYaIxNMkLYeAGBBAbJKCcUEJIQQjkiEMpCOSKUNRrNaPKde2du7tzV1ZV/74++MxoFe7GXee/zeR+dT3/m09O3b3XVt06dOudU9a3CGekxqfp/XYH/n+UM3B6UM3B7UM7A7UE5A7cH5QzcHpQzcHtQzsDtQTkDtwflDNwelDNwe1DOwO1BOQO3B+UM3B6ULri629EppvPoOocGJCCPf9TtHgMNaAMJSHNiUQZQ0BJaQito0718wAAS4NAcWkGayqG7FX/ic6FhKpU9Xi8NqOSZ2nQ9uuuigYFW0KryTAkwA6GgJaCSSmhAaejOQo2G0egEcAIQgxNb8JfgdkcGgc5WdT6sG3OjAQEVAhRS8VBDAQqKI4oSQCJiLlWONGGsQ6lZUg7jmmgRQ4bgARgFZ0Ycb7mBBAi0A+GAxaAchCPkEByQBhJQkAYUoJ1MBZQGA1il3uBADMSAACAVhIGGBhhAgRhQ4JARZJmBA0DoeI0cbgQWAAyAApgGk+AyeSSkhJRJx58ApFsXqkoLTk+6O1yRHCfD7SpOaxgG48L4MBoaRoLHUBqEwfIJkUSCciR/hQQ4wA08Jl3OCFgMxsAkhFDx8fINJBBDB2ABWAzJITgIB+Odfa4gDBggOvtbQElwQIADPIEbAVHyj1RgKlHzGIgACkgwyAA6SjoDtjatHCUPQQlo9xgUwCW4gJCJpkNLGKkA3gVXdVbor8A13eHiZLiV4Wy66azuHCZggK/gM01LbuCRSttClaiIIIgjiBgoc+FyEKAM+IlqQEMLSAbOwEVSZlI5ANAaikFpKCiTVDIxDsKAGYgu41KpDBhADVgMwSujHIgrJBSESjpDAAzggAKDjgFlIGLD4wyQZsgXZN4HSAVfZezGAAEiyBiy89vdjMxxO4N3A7e7ZaiMs9NZVQ3ISBEGzTpHYQx4EuUYrVZ0LFeuK1jtRHlAAASAD3QI+AAHtBLgDEKASwjdBbdSsNIQLFHGimp0EgQYkjGuYSqmCBKMw2dwIxCWaHTCUQCAglSgAIGikAxSwujEcjAg7/pH0tt3Ny+f9Pqw0fPH1FnFPJW8YnyEgmSVYaAjSFYZOqexuSdb4HcNt9u01k0U4AsQgACOREsRry45cnff8dfeOvDKmx+78ubH/vO6R75zRb+f3T528Ji9a7bjWLoyUiVAaCQFhREQMTg/0eB0DQtxsmlT+vidJrHsSdfqCIKAEhAGgi6+qjI9KjAgBGwYGyYEmAQCYF++tKx+79gdE//42qPffOA71w+8fW+hza+YZQkIGFlhYHQyA6nTTVx/kezp4KKzlfIUyrrruxwgQImhzLFodepH1z5+0z2j5q+sX7q+Ze2uwtKNbfNXtbw4p+a+/1p28Y+Hfelbz19yxbAXp6yprU93PlcCImahMaqrKp2mTHIwCWa6xo3uZuNk1zQCBZ0YWAIdQBBQBmJAKx1jKl/qnANdwAZ8gEqAAEVgvy681DL3jvn3fPzmT17/7G17s82WUjHAE+U3smLsVGIoKhBMp1nqMgV/nSyAqu4eTzcVTsYYA4SB7DLlDGj3cSyPh558+XtXPvDCjPVrdrbOW/nOjpr2Y/l4f5N3oIkebsWaneHTo3Zc/csp37n0iU99/n+PHDM5054HAEgYrgxPtC/qNB0+4EMEoBEoh1BgJhkeRkBJKAEpu3e3Ajh0DB1BR9AMQoEaUIAliiaPj2WGykgTCmCACzSjPCez4MZpN1xw4wWPTe+fpQ4HYugYgif2PfGCjutyxVQlfhvvLPw42cRgneTIdsLVJ0KXncaOGlAFoSp+KGIgF+KBx6f/+LpHnhk1/40NB/fXdxQiaTPlCpNM1+0ePAMfmDzn0Ge+cuNdv3ly1arNZctjjBkIJolPbAaWWG1SOTQBi0BihAyMgyrYBi6MhAKUgKJQotNXBECB0HQ5JIAEkyAKVEHIE9W96+i62QFZE6y5/sXr/unaDz076+mSX4SBguSVR1d8EgVtIKAYJIMWiWuWzDesu3923CM+Ba6CVF1wu26tGKzQgHiRE3c6i2WCya/u/vr37nvwD5NmL9pe3ZDjgIROJikJKQAiEQOewsbdLc+PnDln9vKaw01cGMIjCcHBFBiJPUgFDVCFmEEyHpUA38DnFVe3pODHid+ktAoK0C6UB6EhGdAG3QRWVDHRCtwkAQjjoBzCixgV4AZUgBlQBZdWXAYJECF8hEsLS66ffM25l/YaPv+50CtCwNAQoIQUROxVnKY4MqELThCH2isZSSQEAY+gWWXS7/KmErgnz1XH4VbMXAWzUNoFfIMwUoQCgYQvsetgdF/fVy750aMjx615Z3/Rco0BDDgTrtSJMy65VomOBBJH69sbatLMkwCopjGYpxwFAsMQUhQD+BqeREBBQpAipBOEZQ4qYcc6hIQIkxHoAx1AO5QF3Q7shX4bOgUZGqaMAQcYdABaJE4SengEYQyiERj4Bp6CQ8EBO6Y2wkXFhX2mXH1u7/eNWjyI+WXEGpypcgdUCBHCiRBpUAFK0NEOEoATaBqLkIAnLkclqDvumenOiOc43yoJcQLcimofhyshIwNXoKWESTMOfvM7f/zFzS+sWp11HJikXCk0IxAURsJAMCmESoahkEAIEAMgBotAWWIGnDLay/aSDdseGXJkwAvW1IVYsxmFPHwb1AeEEJ5gGgzcT+B6kh5ON712ZNfUluopUWEaggUIt4E2QZFyseQSlhiZGCi4cSxQctCSxaEm7G3E4TT2NekD9db2Q8da47Ad4avl+VdPv+YD171/1LLnGSmDShAK4iN2EYVkX82KQaMPTn61de5C7NkLzwENwcK3d29r6kjVpJre2rH9hMBWAUYbSFWJ+7vBlZDdguukHwQQAr4B4dChhq9woAF/GLjiU/92x+NPLjl8hEsJaBghYQQMBQuhEz9GxDRgksQ69KkLDb/kAxpgnNuAb6zM6kkTBl1305w7H7KmLKkbMObN63819/I+83pf7c9fjJIDoUFpxcIqKBbt27t6+bKRm9ePPrh7wqGdQzYuvXvVnBvqNvc3hWXQzUCogBio7xClCO3F+OnnRv9pyJQBQ+bc+tD0IS/X3PDAzKtuH3n1Lx8bOWVeE/Ez8Gfl5/d5+drz+pw7buVwSSwQiVQGvuvv3/nYL64b92Dfw7MXvjXwz6N7X/vcJT+a/pt70JEBC3dt31TyrDc3rnv7cLUBoDqjLgUYqSDkSXA5mIQ4RckTlfMVCAcCgcDgrV341UNz//WiG8dOWdHSQSSgESldBizAgiwnWgoQIFRwJUoxrAgy0BxGgBMQH6nmbRNeGHLrzS0rV6GhKd6zT27ewZcs23jbPS9+6otDP/nlgy/MQZ4jkhAudANQ9847c2bNe377zqW7dy09sn9Rc/Xc2p3jdiz73bp5V6yZ27u1eizQYoBIgSgsfLPhp9f95q1N7+w5cmzn0fZBL2+54LsPffHyZx8evGH1dmvT7racSz34y5rn3jHxuguu+ceXVozUYQmhQMnRe3cP/NXPl814odRcU7t5nb11U+OMV0b/pPfQSy/r3/sK0ACGZfJpBgRCVXB1RT0VuOIkuPRkuBX/jgCBAo00fIVA45WFxRt//cpnvnHjhNnL0w5h0BweYANlwEViSbWAEQZMIuSwItgueAQNGiD0Ybttr8585ic/WfKnp/avXJqueUf7WZ6uRbEdG99640eXjf30Fx/9wjdzb2yARxE1A8ut8rjBw3rPWzJk26417dlGIAekaHZP/c4J25dfs3bRt8YO+my2daEBCMeazfqBfouGjVz0zoGafXUHj+Q6Djq4b+Sai64b9cEv/+7RQavyPiwCArK8Yd6d4675+FUfmLRihAyKCDhqGxb/1x+euOWnW5e/eqx6R9TRCL+M9raW0S888YV/v/lfPnnwtcXgkYGkMHGCq5uzAiMlBD8FLpFgx+HK43C5sBRYKE2o4Ur0//Pe3jdN/dTXfzly+vI2X0ZAoIgCM7qSE4CE4dACTCCUJjQsALfAOCRIAMfF4eqlv3vwwa99tXbl4mzbAQbXhcVhQReQOtQ+eeSIb37pwU98cNYdN6CtCe474MP27L32wX6fWrflpY5yux04VLYAGUgG1VGoH7T2tW/Nf/lLs6f3CQLP9jBmQvuPfvLCwGfmtGRyPooeSAPwto8v9RnxjZ+N/+ZPnqntQA7IgSxsnXfD+J9+4JpzRq4aFkYFBHHHgtfG/7zP8F/9nLTsg3IR2bDyYt78l77/o6e/8O9j+1x/YP58P5MCJBGCcFUJCP86XAmqIMxJcLWGpiGxFHQgK1HZHQ8t+d7VIz7xtTsGTV7V6oEA5Ygq6CTckqHRFJAwClIjUpUYwQZsrSE0fNI+9ZVJl1/2+He/XrNsduA3B3DL8B34DAWoAg5snn3TT2f+7JJ7P3Y2dm+GtxWF+9av+Vz/AZ/e9s4rEjrJZkmWBwWEiIuzju686c3pXxjy+L/WVu8q+Rgw9Ngn//1PY6e+nbEog19Grgx0AE+8eOCrvYd95uK+Gw4FRSADMisz/6rxV5199T8MWTnUpTn4Xvqll5/8t3+b/cDdunYfysV1L00efdMvFt9/X8eUGY2Tph2buzC3cwcrFQEdSxXG4oRklwKgFeTJNtdUPpcwGlpD6STVBq0A+JGJAQ8oa/z6iXmX3z76c//5+9t+P+NYGYnnFSsGEEgbxoehRkhoSAOqECrkBdqBPMAYkLfSI8bN//Glz/7H54pr5kMWGEIbxINwEQIhiu3Vwwa/euWl/S74SPWE4XA3hDXXrpz3wQEDLqiuny+hwwiaBV3xmQrXN+1+oHnltc/f/aEdG2furive/vT6T/cee8vjS/IKHNqAMAk7wBtrnd43jel1wY+31BUcoABvWnrOD0Zc9uE+Hxuy5HmLpODkGp4eMObTn3n9rjt3DR8z7YEnN05dkK0+fOztLS1bt+ffOcBS7WAcSmupuBSniXoNThNEdEuTCxjWaTcrOf+IIwZ8oGjwwsI937/p6R/cNOIT33qw2YdXSXYgyY+ouB1wAea44abttQuW7l+301p/SMzcXX78peVvbTmAUJZfeHH+97/33Jc/aXashN0MkAiCACEUwBD4qWnTX7/1tvs/9tGj0yagvK6w64ptr184/PnPHqqbE6tIKUAwSIgYxgA4UKoduGva98Y/eMHSuX8+Vgi+d9fYz/UZ8+1bR1YXQRRIKIkHJfDGisxXvn3PPX8cvXLXIYeHHtxZHQt/MPSy86/+5wkrx0lY8Nob+j86/StfHPmNb/CVm7A3XXynYcvW9YEJBI2S0czDSDGeUGOCn0D1ZMrHNTdZmOkG1zAYAaM709gIAEtjf9pc+eshP75r3I/ufGHS0loHyJMkfSql9JMgrmxb23YdHDZu7p9GLJq24PComXvvH770Wz97cPeeeljk6NOD11zf55kvfrLw+kzQEjQxRimgTFwVOgh8+daGN+/73X2f/mzjotkobGjb1mffmu9NHPftPQenSniAhHGhiVIwYMCuQuOAPYt7P3Xn+csWTkwXzdOTtvzrfz7yL9++bcT0DQTwKXyOQKPfwJnfveKegUOn7Dlcp1UcIL+wdf5PR/70E9d+fNLy0RJFhKktD94+6wffeOJLn5FbtqAhz1rzCqTE8kDnwoQGDULLsiil3TO5fw2uqixqdSZrusNN1j6ACPABB3h64opb/jjrt4NWXH73sHQEH7AoqKkE2sn8GQpUt0T7GvnGg6T/mNXXPzz2+t/+qS3lwgrrh49988afT7z8hxsHPQFqgfmIYmjAKEQBCnmybv2Mu3478PIrU+tWwt5dOvzHfW9d9/Lk3us3jgLKQACZAQpKR1x3AGu9wrC1867sd+f/envrqryF5hJufWjCd3v/5id9Hnlh+r5jOVRnMWxGTZ/7ho19Zfm69W97jg9QB9n5jXNunnzLF2/9/KjXn7dFM2jrnmf6vnrZxf3/43Nrnn4SRRf5opGWgQ9BhRuqkCbhqxAijmMN867gSkBWlgU7M2EJXC20VAaIZYVvCOxqIP1GvNmn38t3D5wz9JXNmbASFEWy4pZECq5AyoalkKGYvuzojfcP+8PTk3dtO4xIY++BV/tcu/A3t79y720od4CEsH1T9hELcAbXa160dOhNd80Z8Fxu726wJlgL9q6/f+70O15/7WnXOQwUgBR0s9AZoAlYXyyM+1P/L44e0ufIoXfiCH6AA4f9cRNfv+OeP9/y22mjZuf7T81897apMzakV+88FjqRpp4EKcNakF16y4xffb3vdyZvnWQjBZ3RWxZNvvybL/3s0hFXXortu+GFCHJQNqKworlCQekuY/uu4Hb6ElqdkGlkgJCCAoi4SrJknoAPzNnYcueAmQ8OnnfLQ6OGTVlZoIgABtgBXIpAVJwED2jxMHH+rvsem3jvQ4P37a6FHcL1D40f/fKvbx156/UHFsxGRxZEgmqQGLGIDhyc/eSA0X3/uHf5ai/dClMADtXtHrP6jYGL5w3cu2shkAGagUYgBdQ57uIVK343ePCVq1aNy+cyNEIpB6eIo9XOspV1r21w+w7b3bvfqm/fPWfJXl6fR1gMNLEtUczDXlpa+4tpv/7hk73nHl3ooAPIwK7bPej3r/zy2nHXXL683x/45q0IS8g2gnNQIXwS2i4NQqXU3wCXVRaZtKwo73G+UkSAZoInHlpsEAFl4JXVNXf8YdzA0YsffGLi2GkrV22odSNwDa4RaxCFUMMD6guYvWzP75+adO/vnunI2KxoIQrR3rxy+LNTH3lg8O237po9FyUfkUbeyu4/9Na0l0f0e3j1/EVtxxo1I4APtLuZrUf2LlixeMSyBSOzjZsR1UDXS36kUNqw/8CLM2c+vGnzzKO1u6M4KJQDq4Saw24+jVQGB1owbH719U+t+uZdM+4YuLbdh/CBOMpGhSLCmXXLbpn4wE+fu3n85im72rf5pAFxBk375v3uV/Pu/dXSvg9PufPO/S9PKuzaUqyt271x69a169NNLQk4IYTjue8KboyudFyXcRDd4EopeVdH2VQnMdnSjTUDhs7oP2j6A48Mf+LpyZOnrXprfV1DE8nkdUcR9alg485jU+as6vvE8N/2/dOfR0w9dOgYtIakYL5srds846XZzz4z+nf9pj7xzPKJL785+eV548a/NW925mh1Y31DtlgwkFqHQAieL7Tt27B86sLpzy+fP3r9skn1h95sqluzY+uMt9+eVXNkTVN9je9FJc9Ll/ymFGtOIduO5pTZXW9NWbnnmken93543o2/f/ORZ9Y2HqWRK0PF20hh4spXHxj32K3P3ff7if0nLhnflj0EWUS5BbX71w4ZNPHXd0176P6R99wx+L67BzzUd+7UV+oOHA5t1wj5t5kFdnq43Q/ZtZlBdabMywGONtlrNhx6aeqygQMnPvTQ4CceG/1U/zHPPjNh+IiXJ09ZMHfhyuWrt67d/M6qjXt27KtryeSimAIMhoCUUe5I79rZtGnL0bUbj761uWHH2+lDhzLHapqb6nwREfDOYaRhOGIHYfbIrlWHdq44uH3FgV0rjuxb11i7LZM6XOxoI0XOPDSk7DYPdVlMWbB74KBZjw14YcTk6YNfmv7sjBV9Hnnpxr5Lbn5g0YN9ZzfVSulB+VFHW/qdA3u2H9q1p3FvXfuR9mITpAcZIHR0pqlt99a3Vyxeu3jWioWzj7yzp/FQTa6lLbAczcXfZ3OTWyv7ZTqZnsC3azFNAUqBUhQLrLGhvG9P67YtR7dsrN666fCOrdV7dtceOdzU0pzJZctly29MF9Ml145iAcMgJQQUBfVglVV7LmhN+S2puD0rrDINHS92PdAATEJWdscYgMeIXFpsCwrNdkdTuaPRy7VQu8AJS5ZzDYETYdbK6keGL7rjsYlTFm7dW5PZtm9vY65jf1tx6c62+59546YHFl3+s0kjhm9lBYAALuKs71m2F9gRczmiSEUGGkqAhVE5nU3XpVLH0m3N+daUncmRsiMITbKHfwNceeJ9nduQ5OkWKyWgoU33zK/kiEL4ri7mo2I+KuWIVQx8K6R+JCMuueKdiyK8shlAm2TtQggIAUYRhSAEPDbgMThBTMEVKltdJAClwRkUg6ZGUhkTEJYsSEIAAZw0GjJ4etK2a/q9+MTUVav2NRxN5wmTBcstU1GTDdcetB8atOqq2xb95xVjag87ohQnVYFIWEgFmY+iQJnOjTa+Fr7REgagHFSAK0gNbYwxWmtl9LuCa07/ke7823V0rgRLCakhjGaGRSoMhOMwy6JBYIJAhYGIAs5CLiOuKJO8ssxlAAG4MB4kUxJCQEooAUFVHCIMQYlQMUEcg3EwGGWUTvZFGKUhFZSA5kJTxigCBR8mAmLABii27VOPjNh08V3DXlh3dGer3VoO4xi2RTiQcqKMwoTXa29+eMO3LhuzemtdJp1HCESAhBFScSIgc0I6GuAAFaC2JjYIq+hFRQENlK7Iu/RzT730F6RzG47U4FpEPAqZ51Pbi8seLXs0WwxyZb9kE8ehvkdJEFM/jkLiRW4Q+4pxpUwIBIDgxkQMhCIKOQsZ8xAEIEQIRsEEYg0OoSFMhDhErJSAEIZTwQlRLuFBBS7t3K0ksXRDx6+eee2KvpOnbU1X55G2kE5FpbyoT+UbSn6Nw/fmce29C/73Lye8WV1f7+aTTTU8VhH1ObUVmAcQJMtTMdwCSlnkPRRj+EwHVJNYx9wIaczxHNe7gKtP/0Hl/CTopjLHEJ+VLb8jb7UVym1FJ11ya1vb69O55vZiJm9nC24+7xayVj5fTHe0FEsd0g+SfV0xoGKjvThozwWFvO0VXa8gSiVZtkjoh4wwSTSnIAaxJiZ04cQiZHHouWXHLxTijB3lhE2MJVhAWRhTlxqN+evqfv6Hybc/t2DUkpr6EuwAxEM6FdemykcL7oFiNGdr8/dvGHbf4Nc2FdKNskSIIXlmFyzbzlKvg4vAAiwAnkDBVtkW1tEi24qyzQ07ymHBorbHw0hz8TfCTTZN6pPvONVcJKVIBuKLYsFrTuVqGtsON6WqU5kj6Y5WO2hzSdajBV8UXJ4v01wuaO8oNjTXZjNNsmAhEEIiYohtRrNuvq650NqSK2YKxXSYTpO2jJ3PO3aZho4KQrgAMQSOjbxHS35gFUsdOSfVRupzpImWLF7wfCvnODnHDgOG/R3Ow2NmXPnAyBsenLZ0VdDegVIBdY1RgWH90fT8nQ239Z9426MTF+6s2x93pE0pKId2fb7Q3Gy1N5JCYxjm0ypupczLlsPWlnLqUCF1uNzUajVl7ba8nytR25NRDKmMMcaYd2tzobvvSP1v4BrAKofZrNvUmq+pbz18rOVIS+pYNtdULucilqe8SFWZyLzD2vNBc1u5obm97tiRdHM9SWdF0Q9calvEaiuVGjuKjalypr1k5W0rTzqyUabDyxd82wqdsnA8eBKRiI3j6pwbZh0n53oFO8wWeavL09y1pW0TL+u67RFleT8sw6yuru3751dueWDCL++cdN+9r4wbt2rClGVPjZh69+N//s3A8eMWblqxu353qj0N14ZHnMBqai+3tfqFFLNa46hYVDRHIy9f8lMthdThXGt1vqmp0JRxsoWwZLOAaC6M0lprIUTM2ckkT2ddq06L/DQWV2tCaNnyWtOFptb8seZMXVO6qa0jU7IsQn2pfKlCbZKQJBKwfZEtBm3tpaNHatJNTV62SMuuW3IK7flcS6a9MeXmioHl8IgYwREz4flusVxsb7cLHX4xF5VLsWuFYTEgeeIXQq9IQ4tSK+YW57amngy9OCwFQaHsZIthqRBZrXZp99GWhcu2Dx+94PEnJj32xLgBz04cOuaVSTMWz3tz48Y9R46lSwVCQsQudyy7UOhIF7Jtdqk98gucul5gl0qFYqq11NxkpZuCfJqVinHZVpQJxgXjkgsppZRSKZUEwf+t/Dfb9hMT0wmXlC2npS3flCo0prLN6Ww6Vyo6vh/HVCkiRKw1N+AGVMIJea4UZrJWU11jNpV2CqXActxiudiezbVlsqm0V7Ii11eUQSgIxcPIL9tWLmcXOtxSR2DniVuMvFLklYhbDJ0CJ46knmaB4aFmgaQeJw4hpbKbtqNcKL2AB3nbrqlv3bLj0PJVOxYsXv/aG1tWrtm1Ycu+t/fW1Da2FmyfCMF0HMSe5RZyxUwuny5bOeJbnPq+VbCzmUJrcynVEnS0C6sMz0MYas6EOI5Va51Yhh6B25zKNbcV27LlbMkpe8SnnCrFoakSzBiBClwvkkWb5opeR6q9nM17Jcsv206hVOrIlTpy5Ww+cn0eRuASGlBGx5x6gV8uW/l2p9juW7kEbkI2sPMq9g0PISMoChkZHqrYj2M7V2oueGk7KvnM9ygtuWF7Pkhl/FQmbGsnmSxJZ7101smVXS/izBim45D5jl8qWtliqcN2ClFgizhwSzmrI11qa7Xb07FVQhRCcCgJKf5Wpu8KbvfilFJhGJbKdnMql+oo5cq+HVDCFTOVjYDMKA6dwI0VgljbvrDtqFy0AsshjhdYjlMoWbmCUyj5ZVsQqmMO1Rm1cCkIpZ53EtyEb2DnIQhkBB1XMs6KQhAhAsvLFP1M0c8VvWLRdYtOULDigsWYBFeIJfwIZZeV3NAJacg50zHhgRdalluw7LzrlSLiijgI7KJTzDq59rCY14EHwaCSbYDy78D6ruBqrU+C29ZeyBZc24sjprvvdJMwMtmabcAkIqaDSAUhC30Sh4SRiHi+W7acUtm3ncgPNBeQxzeSQmkZMx4Ru5hzrXzglqLApqFDQycKbOJbUDEMPx6RGw4VSxlKE1LlBbHnhK7l+ZZLbI87nuYSQoFLRAyOzyyXOEHkR0QoHnMSRp4X2J5vBaFDI1/QkBOf+k5kl5nnIJtLfS4AAAqBSURBVCIQHFJAMKN7Bm4lGAEASCmDICiX7WLJLTuRT3gsTfc9hF2HMOAasQDliJnmsdBcaC54RInn+7ZDPJ+RCFJBdfNSpNJcyJj6din0yjR0WOSJOODUZ5EXExcqhmYnwxURV2Ek/SD2vMh3Q+IGsU90QEAoYg4uEQsEkXBD6keUsFhqwSWlLCTUJ5EXUT+mAYtDzamkoQg8RSovxYBGKiRaqh4xC6fCLZUsz6dBIGishITSycZUo4zs2oqaBKsyWWhWkFwZpaGNEpKSKPSD0A8oibRURunkI6O0ElIwzhkNfJuETkx9wYkUkRSR4ISzUEmquymv0Sz5yAtLPikHkRNGAaFRREUU6ShCFIFzKAUpQWMVEkaiOOZMaiEUZyKmLKKUxHHE4ogzqjkTNOJhKJNvMq5JFPu+5OK9n9ASm5CU1R0uiUREZcwUF0pILbWSWkgtjsM1OlHK5H8tO31mbXjMopCQIEzgdh1KSMlFAjciXkJWSWo00ypWkiaUkyswHIZrFQtOYhaQyKU84JJKLZTRSkNIcA5KjRDQGlIhosIPiB+QgIQJXC4ZEzFjlDHKGeWMypjyiDDSCVcIGUWx7/OYMcY4590R/09dMdMpCWJVESM6d+4pXdHcJFGZvJaXrDl7fpTwDMIYBoLxOKLJSalQTE6UkDAgQQiDRKOjkGglPLcc+DYgjeYwQvDI96wkfRIRLzmRgrI4VDImkQdIP3SEisMoUEYLqWksaawM4AcxF/D8iAtjANvxpFaANka5rg3oKApzuQ5AayW6DsgTDl2BqbpU7b3R3O5wO/meADd5uyYhG0ae7nyHzQBJe5LAhJIo0VzJRYKyktyUSnLhu56WSjAOA9/1pGCATPhyRpIt81Y5D0jBI0BqxQSPIuJxRgCpDWci7v7yAePJwDJ+QCMqOi2V8cPAAAlTz3OEYIzRJNUnBevOt4uyVqI72fce7ol8jaz4J9A68YKPp3214b7vxnEMgFKWtFVKDUB0ipSSUgqAMWbb9kkPpZQCmvM4aXMcR4CWkgOaUlJ58cMoQGstw9APAi+OozAMlVJSSiFEcgIgmSyk1JTS5ApjDIDneSc9NLmiT5Ek2D0t2fcsiDiZbyfZTnNcgRuzsCvnSykDAAOlDOeyu4USQiQ1dl03uUIIsSwLgFJKCNGlWUqJhKmU3PMcKXmhkNu5c7tllXzf7b5R2xiTPCIIAgBRFPm+nwBNqCVPIYR0VSO5RwjBOeecn6RMp1Wsvwnru4J7Kt8T1RYnvn0pAX306JHRo8fOnTv/5Wmvzp49d/bsuYMGDSqVSoSQBEH3RiZanIjjOMaYLrVNKHfX1quuuvLDHz4vk2lL1Dmh31Wa43haa8dxRo0a8fGP/3OhkEsMK6DL5WL3XVxxHCfopZTJOOtqpsYpx99L9l3BxYm9qpL3zk+wCQIQNPaVjoWkuVzHkiVLJkyY9JHzP3b22ecsWrRkwYIFYRgCEEIUi8WkTM55HMfJKFZKdY1Wz3MAnXBJ8CklOI8LhdwXvvD5r371ojD0k3sAnYx0x/Fmz5571VXX7Nu3D0BjY/3gwc/5vmuM6roT0KVSiTGW1ARA10mXjuO0icC/0RT8zXBP4Ks6X4XQ5kS1FUpSzkiy9LR187aPnv+xm2/+ZRhGBnh11sy1b6175dUZI0aNDEi4YtXK54cOGT12zLGGegNk87nlK1fUHqubPXdO/6eePHykOoqp7TorVq3s/9STi19bYoBtO7ZX9ap6csBTBnjjzWUjRo0c+MzTBw8ejKL44P7qL3/xK72qznr9taWlQnHunFmbN20wmhvN165ZMW3qiy9Pm7J1yyZAMxpveGv9lk1bt2/fOWTIsGnTpodhlMwK3YGe8Cbf30v2fwLXwOCkRUytGCC1EjAYO3pMr6qz1qxZByDdnvnH8z74iQv/5cc/uXT4yBGUxUuWvnbg0MFz/uH9n/7sZ2LOJr44qapX1fU3/HzZ8jcv731FVa8qoeTPru8z6M+DS1b5xpt+YYA/Pffs2ee8b9+B/croLdu21h6r++nVV/Xq1auxsfng/kMf+uCHe19+ZcOx+k0bNvaqqvrD7/u1pVo+8+kLb7zhes7o6lUr/vmfPrJv7zuu7Zzd66wPvP/c5ctXPvnkgA9/+COLF78GwHE8cwpf838N7l8WfYqJBICvfe1r55xzTiqVCsNwy5YtH/zgBxcuXJjY3MOHD8+dO3f8+PEXXnjhxRdfDODOO+8899xz29raAFx22WUf/ehHAXzpS186//zzhwwZknzroosuOuecc7TWruvOnz9/0aJFV1xxxXnnnVcsFhctWnTOOecsW7aMcz5o0KCzzz772LFjl1566VlnVfm+D6BQKFRVVfXt23ffvn1nnXXWzJkzAcyaNauqqqq2tlYIcWqr/h6Wp8h7+TMslNLECNbU1HzoQx+65JJLAAghrrrqqgsuuCCVSimlxo8ff/75548aNSqVSp199tmTJk0CUFVV9cMf/hBAS0vLBz7wgb59+yZ28NFHH+3Vq9f3v/9913XPOuus+++/P4qiXr169e7dOwzDiy666OKLLw7DsH///ueee25HR4dS6pJLLvnUpz5ljLnwwgu/+93vJp7f1KlTL7zwwrlz5/72t78955xzCoWClPKSSy75xCc+8R42/1R5z+AGQZBMTXEcjxs3LtEUAEKIs88++8tf/nIURQCefPLJqqqqTZs2Pf/881VVVYsXL964ceP73//+2bNnx3E8dOjQqqqq3bt3Hz58uF+/fgCuuuqqO+64Y8GCBe973/uGDx++cePG888//+GHH16zZk1VVVXv3r0BfPvb366qqsrlcvX19VVVVddcc03yoPPPP7+hoaG6uvrjH//4vffeyzk/77zzLr/8csZYTU3N5z//+eRiuVzu7sC8h/Ie/4BQ4jPW1tYuXry4XC4DKJfLO3bsyGQyURQlTuWrr746cuTIxsbG5cuXHzhwoK6ubv369ZzzMAybm5tXr17teV5DQ8OsWbPGjBmzbt06AM3NzVu3bk0QbNiwYejQoQcOHGhsbEz8EN/3Z8yYsWrVqnK5vHbt2nQ6nVTm0KFDb7zxxvjx4xsbGwGUSqWlS5dWV1cD8DxvxYoVSQ1PaxbeE3nP4MZxLIRwXTeO465cWmLyOOeJuThVOn1bHoZhl8vZdbPWOrEPSZTRJZzzrjAkccCjKBJCGGO6O85CiEKhYIyJoiibzSYXE+fPdKaqkziiuzf2HkpP/fQVYyyBJaXsPuiUUklrS6VS93xmckIp7X5zGIaJMQFgjAnDMLkz6TMAnPMumgkydPZNMoYopV2KmZR8Ese/2xN4N/JewmWMEUKSGPTUGjuO0xUHJy08KXF3kuErlUroHLNJyegW0cVxTClNSuiKpLvUM+mSruu5XK7ruUkJye57xpgx5i+Nqv+5vPeamyhs0rwoiro0JcHUNSS7tC8ZmKeW0CWdOYeTOyyB0qX+iRhjkmAv4e44zrup80kVeK/kzC/i9aCcgduDcgZuD8oZuD0oZ+D2oJyB24NyBm4Pyhm4PShn4PagnIHbg3IGbg/KGbg9KGfg9qCcgduDcgZuD8r/AUaXrHgwB0caAAAAAElFTkSuQmCC" alt="" width="116" height="87" /></p>
<p>Inginkah anda di blog WordPress.com anda terdapat <strong>fasilitas penerjemah bahasa</strong>? Yang tidak hanya <strong>menerjemahkan satu bahasa melainkan multi bahasa</strong>? Yang menerjemahkan isi blog anda tanpa meninggalkan theme blog anda? Bila ya! Anda wajib membaca artikel ini!</p>
<p><a href="http://bootingskoblog.wordpress.com/2009/01/20/memasang-google-translate-di-wordpress/" target="_blank"><strong>Google Translate</strong></a>! Bukan terdengar asing lagi. Bahkan hampir semua orang membicarakannya di posting blog mereka. Saya tidak akan membicarakan <a href="http://bootingskoblog.wordpress.com/2009/01/20/memasang-google-translate-di-wordpress/" target="_blank"><strong>Google Translate</strong></a>, melainkan cara memasangnya di blog WordPress.com yang terkenal anti java scriptnya ini.bootingskoBlog</p>
<p>Bila anda hendak mengambil script langsung di <strong>Google Translate</strong>, maka anda akan mendapati kode Java Script. Dan kita tahu bahwa script tersebut tidak berlaku terhadap blog kita yang Free<a href="http://bootingskoblog.wordpress.com/2009/01/20/memasang-google-translate-di-wordpress/">.</a> Namun bagi anda yang sudah memakai WordPress dengan hosting sendiri, sudah pasti anda tidak akan mengalami kesulitan memasangnya.</p>
<p>Untuk lebih jelasnya coba anda pilih/klik salah satu gambar bendera terjemahan bahasa di sidebar saya.</p>
<p>Tapi untungnya ada <strong>kode Google Translate yang dapat dipasang di WordPress.com</strong> ini, langsung saja anda copy kode dibawah ini pada sidebar anda tanpa perlu merubah kodenya, kecuali yang dicetak <strong>merah</strong> diganti dengan alamat blog Anda. Kemudian paste-kan kode yang Anda copy pada <a href="http://bootingskoblog.wordpress.com/2009/02/21/menampilkan-widgets-text/" target="_blank">widget text</a>.</p>
<h2><strong>1. Google Translate dengan bendera persegi :</strong></h2>
<p><img src="image/png;base64,iVBORw0KGgoAAAANSUhEUgAAAB4AAAAUCAIAAAAVyRqTAAAGE0lEQVQ4jSWUSVCb9x2Gv4ljMDKYxVgg2UIYAQIJbLennnpoL8m5mWkPubaTGhxsExwnntqTZuklnel0pum0SY3jNoc6icHYYDYDNlnshiUxhH3ThhACgZbv+/7b7//2wHN+3+PzGK+++srkxLdT08+mp/43Ozsx98PU3OT3S9PzM5PTc98/f/7D5Pz0RHR64rv3379b7vz6ROVnHo/ZeXNzampmfmFmZmZpYXF5cWX2+fzcj0uL8ytzP84szM4sLSx2/uuWca2tDcyGJoA0hK2YBBiBARyQIGgBbiU7P33i8S1563uDjfhmHMxSAEEBJEloQAIaUJorYgCNjo4a11suIcNgKWUxTVIpoQEhYQlpMZszC7ks0pnMPzq/KfOE3XVDdX6MjiGdEZYNJUEkuK0VERFJBcXBLEg11jtgXG7vSJuWBHKkOEhCM66hoXEAwczCzO5++u+BSs98VW2fvxHDw8jkOGlJSkJzkA1YgKlJQHJuA+jvGzDevnrNytkaEEoSSWglLQUJzUkLDmEjnUImvdd5e8TlXfHWD/rPYngcOU4SypZagYik0pzAhSYixTgIg/eHjBsdV0Q6IyzbMrO2yHJlSlI2E6awbJ7jIgczjez+7sedYyc8K25fj7cOjx4jbVk5rhiHUMw2BeOMS86lklzaFoQeeDBofPDOdcVMQAKCYEqdBaTWSkEoCA0L2gTPbN/qHPH65ry1D5uDGH8M29Kgg5eSFiBJcw2hiZGyARobGzOuvvKb2e4HC/cHF+71rXT1RO/1hf7bF/t8MPJ5X6R7YPWLntU791L3+jc6bkyUnkpW+J65fPjgz8nPvlzs7l/58v5GV2+o+8FGV+9q98P1noHVrp6Vrp71B0P/ufau8TfjhScV3rni8mhhabSwOO4ojuYfizuKY8VFy/kvrhcVrh87vlxUES6uihd59kpqUuU1Gw7n2tGyjaLjoaMF4UJHqLhk7WhZqMAZcriWisoWSsqWj58YNwzjI+PI09PBsNefrDwdL/fsun0Jd+32SV/CU510e9MnfbsVvrCzJuaq23L54uWe9RLnlsub9FZvVVamKp377sq4u2K76vSO27fjrttyeWNuz2a197sjecZfDOMrV9lCaWG06GikwBEpcKzlFUQKHOH8w4n8I6kX83cO5UcLizZLi3ZKXtgrPmQ5y5OFxaE8RzS/cCe/cPuwYy0vP3y0ZD2vNJxXFskrDhUcix13fm0Yxoc/Obdw6fJmy+t7rZf3X7+SbO3Yan1jp60jfbEj29qe+V2b+ds2+/zFzZdeXnJWJDynZk9VsV/92vz9+b3zF7KvXci2tGUvte+0tKVa30i1tO+fv5RqubjX3j7+8kvGu++8R0xBaHANDa7BgQMFbEADkIDJNj++1V/V8MwbuHPmZ/h2ErZFnEETFAESWoEABTpA8yfjI8aVNy9pYtASnEMR2RJCgnFwG8wiqVXaBMtlbt58VupKnmwY9TTh0TPs55QtocFsUoK0AoQmpqUkkhpKjvT3Gxffe2uHzAyYqUkAQhKkgBIQDEKCwHMM0o7c/mTQWbF6yjPs9+FRL+ztNGVzxCwoBmHBssAs2BzMpizB7B++a/zp6h/0Xg4CkFASErCgbAgJDq0ggayGyXb+efPpiZObrurHNfUYGoaZI6YgAQnBCDhIJyCArITQ4w8HjD9e61DM5AoWISchAC6FUkKTFEJpgFk27FT09kdDLueap3q0JoiBEexvK57RWnOhbZISJJUNEpoxcFJK9/YNGtdvvAUQaaiD4moABEiluVIKCrAIVs785ObTsqqoO/Cw7iy+ego7LZV1sJdKK30gPYHUQTWHRp8YF9rbltfXtuOpRGR3K5KIhmOb8VA0vpHYjiVim7uhZHY1IZY3Zj78652qxv7qpr8HzqXudpmb66HIRjQc244l47GtRCKxFY/E47FQJLweia6Gol903zfK3ZX+YFN9bWOgoTnYdKY+6PcFavxNdYHG2gZvdXN14zlf09kzTc1VrrOG8cu8Qz/PO/wLrydYX+NvDjY3nAnWBv019Q31/gZ/XSAQ8DUFawJNgbM/dXmq/w8/RhiVlRhP3wAAAABJRU5ErkJggg==" alt="" /></p>
<p><strong>Bahasa Indonesia Ke Inggris :</strong></p>
<blockquote><p><code>&lt;a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&amp;amp;langpair=id|en&amp;amp;u=http://bootingskoblog.wordpress.com/"&gt; &lt;img src="http://bootingskoblog.files.wordpress.com/2009/01/inggris.jpg" title="English"&gt;&lt;/a&gt;</code></p></blockquote>
<p><strong>Bahasa </strong><strong>Indonesia Ke </strong><strong>Cina :</strong></p>
<blockquote><p><code>&lt;a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&amp;amp;langpair=id|zh-CN&amp;amp;u=http://bootingskoblog.wordpress.com/"&gt; &lt;img src="http://bootingskoblog.files.wordpress.com/2009/01/cina1.jpg" title="Chinese"&gt;&lt;/a&gt;</code></p></blockquote>
<p><strong>Bahasa </strong><strong>Indonesia Ke </strong><strong>Korea :</strong></p>
<blockquote><p><code>&lt;a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&amp;amp;langpair=id|ko&amp;amp;u=http://bootingskoblog.wordpress.com/"&gt; &lt;img src="http://bootingskoblog.files.wordpress.com/2009/01/korea1.jpg" title="Korean"&gt;&lt;/a&gt;</code></p></blockquote>
<p><strong>Bahasa </strong><strong>Indonesia Ke </strong><strong>Jerman :</strong></p>
<blockquote><p><code>&lt;a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&amp;amp;langpair=id|de&amp;amp;u=http://bootingskoblog.wordpress.com/"&gt; &lt;img src="http://bootingskoblog.files.wordpress.com/2009/01/jerman.jpg" title="Germany"&gt;&lt;/a&gt;</code></p></blockquote>
<p><strong>Bahasa </strong><strong>Indonesia Ke </strong><strong>Perancis :</strong></p>
<blockquote><p><code>&lt;a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&amp;amp;langpair=id|fr&amp;amp;u=http://bootingskoblog.wordpress.com/"&gt; &lt;img src="http://bootingskoblog.files.wordpress.com/2009/01/prancis.jpg" title="France"&gt;&lt;/a&gt;</code></p></blockquote>
<p><strong>Bahasa </strong><strong>Indonesia Ke </strong><strong>Jepang :</strong></p>
<blockquote><p><code>&lt;a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&amp;amp;langpair=id|ja&amp;amp;u=http://bootingskoblog.wordpress.com/"&gt; &lt;img src="http://bootingskoblog.files.wordpress.com/2009/01/jepang.jpg" title="Japanese"&gt;&lt;/a&gt;</code></p></blockquote>
<h2><strong>2. Google Translate dengan bendera bundar :</strong></h2>
<p><img src="image/png;base64,iVBORw0KGgoAAAANSUhEUgAAABkAAAAZCAIAAABLixI0AAAEiklEQVQ4jb3VbUxTVxgH8NPL3QAB3YRl1hAIoUGX4NwcSzAZA4thotOWwrJoYiIFVIiLgbYiNIy3NjKVgKG8bQkvpXXJYKaltF8GdcBMEBiGwcYoAqW9be+9QEvf9V56uw8wljkR+bInz5fz5Zf/OcnzHAD+h9oLaPHQns/D6NyDh/Jj3s8+GHc69MB7tOAQQNuF8jaAWCEHGhJP/1xY8UerfPFHjUHVv9Cj+b25S/tVWe1HJ08FRewF0A4KDYCjUEjt0ZTxqnqjWosNj+LDY/jwKD40ig+P4r+MYcOjht6fRoTfiA4dj6MFvQr6BN73fdr52bYfTJqHpj6tRTVgUQ2gKu1GbxzNfVqT+uFMq7zj04wPA0Jfbn1A2yM9fvbPFrn+vnJJpkBkSrNMaZEpUXkvJu9F5b0WmdIsUyIy5ZJMob+vnGmUfvdxehz4T7p3ACwKP/yYL9I1dc1LpHpJl1EiM0tkaKMc/7vRRrlZIjNKZHpJ17xEqmvqeswXCffHvfh2GQH7e46kTZbXzVQ3zFVL9KImRNSMilpWxC1WcatN3GoVt66IW1BRCyJq1oua5qolM9UNk+V13UfSUqF9/0DhNFj0ZpQqkf2EJ54uEut4t5Z4NRb+7RX+HTv/rktQ6xbUugS1dv7dFf4dC//2Eq9Gx7s1XSR+whP3JbJL34gM2YqWEBD6bRCj79iZce6NqexiHbfEkCPEc8rsueXPcivJ3Kr1vCoyt+pZbqU9txzPKTPkCHXckqns4nHujb5jZ5oCYw9DwZtWJhzRHhyniEkaYV2ZzCjQca4hnOurmYXeLJ4vS+D/onijfVkCbxZvNbMQ4VzXca5NZhSMsK4oYpLaguNOwm8BAAAEQB78bnsgozssfjCBNZF8YTb5IpJyae0El2Dm+ZlX/an5/tQCf2q+n3mVYOatneAiKZdmky9OJF8YTGB1h8V3BDK+hMMBAACGoEr2+UelNZNV9YsNnZa2ntX2B84OxfNOpU+q8kvV/i7NZkvVPqnqeafS2aFYbX9gaetZbOicrKp/JKzhfcYCAAAYhiWNEhRDPV6Pf/fl8XowHKuoqNh8L6Gw1IQYnQ475fPtCqJ8PqfDjiDGy5fzNi02m61fXLBZV0mS2JVFkoTNap3T6ZKSkjat6Ojo4aFBHEO9HjdFUa8biqK8HvcyjmvU6oiIiE0LgqCvy8qMRsOazUoSrxuNJIg1m9VgWMrPz//XDDEYDO3AAGoxOx32dZLcEVonSafDjmGoUqmg0+kvjjebzZ6a+g3DUKfDThLEdpelKIokCKfDjuPY+NhYSkrKS3ZOQEAANzt7emoKRS1rNqvX4yZJgvL5KIryUxRFUZTPR5KE1+Nes1kxDJ34dZzD4dBo26xsGIZZLJZ2oN9oNCzjmM266nTY3S6Xx+1yu1xOh91mtS7juNFo0GjUTCZzW2irYmNjhcLSocHBxYV5kwlBUQuGoRhqMZuQ+adPB/r7i4oKIyMjd1C2CoKgqKioc+fOlty8ee9efUtzc31dnUDAT08/RafTd47zCheGYQja6eMB4C/0nIxXQRUp1wAAAABJRU5ErkJggg==" alt="" /></p>
<p><strong>Bahasa Inggris Ke Indonesia :</strong></p>
<blockquote><p><code>&lt;a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&amp;langpair=en|id&amp;u=http://bootingskoblog.wordpress.com/"&gt; &lt;img src="http://bootingskoblog.files.wordpress.com/2009/01/indonesian.png" title="Indonesian"&gt;&lt;/a&gt;</code></p></blockquote>
<p><strong>Bahasa </strong><strong>Indonesia Ke </strong><strong>Inggris :</strong></p>
<blockquote><p><code>&lt;a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&amp;amp;langpair=id|en&amp;amp;u=http://bootingskoblog.wordpress.com/"&gt; &lt;img src="http://i876.photobucket.com/albums/ab327/bootingskoblog/googletranslate/english.png" title="English"&gt;&lt;/a&gt;</code></p></blockquote>
<p><strong>Bahasa </strong><strong>Indonesia Ke </strong><strong>Cina :</strong></p>
<blockquote><p><code>&lt;a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&amp;amp;langpair=id|zh-CN&amp;amp;u=http://bootingskoblog.wordpress.com/"&gt; &lt;img src="http://i876.photobucket.com/albums/ab327/bootingskoblog/googletranslate/chinese.png" title="Chinese"&gt;&lt;/a&gt;</code></p></blockquote>
<p><strong>Bahasa </strong><strong>Indonesia Ke </strong><strong>Korea :</strong></p>
<blockquote><p><code>&lt;a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&amp;amp;langpair=id|ko&amp;amp;u=http://bootingskoblog.wordpress.com/"&gt; &lt;img src="http://i876.photobucket.com/albums/ab327/bootingskoblog/googletranslate/korean.png" title="Korean"&gt;&lt;/a&gt;</code></p></blockquote>
<p><strong>Bahasa </strong><strong>Indonesia Ke </strong><strong>Jerman :</strong></p>
<blockquote><p><code>&lt;a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&amp;amp;langpair=id|de&amp;amp;u=http://bootingskoblog.wordpress.com/"&gt; &lt;img src="http://i876.photobucket.com/albums/ab327/bootingskoblog/googletranslate/germany.png" title="Germany"&gt;&lt;/a&gt;</code></p></blockquote>
<p><strong>Bahasa </strong><strong>Indonesia Ke </strong><strong>Perancis :</strong></p>
<blockquote><p><code>&lt;a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&amp;amp;langpair=id|fr&amp;amp;u=http://bootingskoblog.wordpress.com/"&gt; &lt;img src="http://i876.photobucket.com/albums/ab327/bootingskoblog/googletranslate/france.png" title="France"&gt;&lt;/a&gt;</code></p></blockquote>
<p><strong>Bahasa </strong><strong>Indonesia Ke </strong><strong>Jepang :</strong></p>
<blockquote><p><code>&lt;a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&amp;amp;langpair=id|ja&amp;amp;u=http://bootingskoblog.wordpress.com/"&gt; &lt;img src="http://i876.photobucket.com/albums/ab327/bootingskoblog/googletranslate/japanese.png" title="Japanese"&gt;&lt;/a&gt;</code></p></blockquote>
<p><strong>Bahasa </strong><strong>Indonesia Ke </strong><strong>Arab :</strong></p>
<blockquote><p><code>&lt;a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&amp;amp;langpair=id|ar&amp;amp;u=http://bootingskoblog.wordpress.com/"&gt; &lt;img src="http://i876.photobucket.com/albums/ab327/bootingskoblog/googletranslate/arabian.png" title="Arabian"&gt;&lt;/a&gt;</code></p></blockquote>
<h2><strong>3. Bahasa Lain :</strong></h2>
<blockquote><p><code>&lt;a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&amp;amp;langpair=id|ar&amp;amp;u=http://bootingskoblog.wordpress.com/"&gt; Arabian&lt;/a&gt;</code></p>
<p><code>&lt;a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&amp;amp;langpair=id|bg&amp;amp;u=http://bootingskoblog.wordpress.com/"&gt; Bulgarian&lt;/a&gt;</code></p>
<p><code>&lt;a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&amp;amp;langpair=id|hr&amp;amp;u=http://bootingskoblog.wordpress.com/"&gt; Croatian&lt;/a&gt;</code></p>
<p><code>&lt;a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&amp;amp;langpair=id|cs&amp;amp;u=http://bootingskoblog.wordpress.com/"&gt; Czech&lt;/a&gt;</code></p>
<p><code>&lt;a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&amp;amp;langpair=id|da&amp;amp;u=http://bootingskoblog.wordpress.com/"&gt; Denmark&lt;/a&gt;</code></p>
<p><code>&lt;a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&amp;amp;langpair=id|nl&amp;amp;u=http://bootingskoblog.wordpress.com/"&gt; Dutch&lt;/a&gt;</code></p>
<p><code>&lt;a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&amp;amp;langpair=id|fi&amp;amp;u=http://bootingskoblog.wordpress.com/"&gt; Finnish&lt;/a&gt;</code></p>
<p><code>&lt;a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&amp;amp;langpair=id|el&amp;amp;u=http://bootingskoblog.wordpress.com/"&gt; Greek&lt;/a&gt;</code></p>
<p><code>&lt;a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&amp;amp;langpair=id|hi&amp;amp;u=http://bootingskoblog.wordpress.com/"&gt; Hindi&lt;/a&gt;</code></p>
<p><code>&lt;a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&amp;amp;langpair=id|it&amp;amp;u=http://bootingskoblog.wordpress.com/"&gt; Italy&lt;/a&gt;</code></p>
<p><code>&lt;a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&amp;amp;langpair=id|pt&amp;amp;u=http://bootingskoblog.wordpress.com/"&gt; Portuguese&lt;/a&gt;</code></p>
<p><code>&lt;a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&amp;amp;langpair=id|ro&amp;amp;u=http://bootingskoblog.wordpress.com/"&gt; Romanian&lt;/a&gt;</code></p>
<p><code>&lt;a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&amp;amp;langpair=id|ru&amp;amp;u=http://bootingskoblog.wordpress.com/"&gt; Rusian&lt;/a&gt;</code></p>
<p><code>&lt;a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&amp;amp;langpair=id|es&amp;amp;u=http://bootingskoblog.wordpress.com/"&gt; Spanish&lt;/a&gt;</code></p>
<p><code>&lt;a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&amp;amp;langpair=id|sv&amp;amp;u=http://bootingskoblog.wordpress.com/"&gt; Swedish&lt;/a&gt;</code></p></blockquote>
<br />Filed under: <a href='http://yogaparta.wordpress.com/category/application/'>Application</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yogaparta.wordpress.com/428/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yogaparta.wordpress.com/428/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yogaparta.wordpress.com/428/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yogaparta.wordpress.com/428/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yogaparta.wordpress.com/428/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yogaparta.wordpress.com/428/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yogaparta.wordpress.com/428/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yogaparta.wordpress.com/428/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yogaparta.wordpress.com/428/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yogaparta.wordpress.com/428/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yogaparta.wordpress.com/428/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yogaparta.wordpress.com/428/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yogaparta.wordpress.com/428/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yogaparta.wordpress.com/428/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yogaparta.wordpress.com&amp;blog=3900794&amp;post=428&amp;subd=yogaparta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yogaparta.wordpress.com/2011/05/15/memasang-google-translate-di-wordpress-anda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c0582d6501f8eeedfaf8520c4d3fa825?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yogaparta</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>medi[a]esthetic</title>
		<link>http://yogaparta.wordpress.com/2010/11/29/mediaesthetic/</link>
		<comments>http://yogaparta.wordpress.com/2010/11/29/mediaesthetic/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Nov 2010 07:58:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>seriyoga parta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yogaparta.wordpress.com/?p=403</guid>
		<description><![CDATA[Pameran Kelompok G-Five (tgl. 16 Desember 2010, di Tony Raka Art Gallery Mas Ubud Bali) Kurator  I Wayan Seriyoga Parta G-Five adalah kelompok perupa muda asal Bali yang menetap di Yogyakarta, mereka merupakan salah satu kelompok perupa yang eksistensinya terwadahi dalam perkembangan seni rupa kontemporer. Keanggotaan dari G-Five antara lain; Upadana, Valasara, Gede Putra, Ardika, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yogaparta.wordpress.com&amp;blog=3900794&amp;post=403&amp;subd=yogaparta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><a href="http://yogaparta.files.wordpress.com/2010/11/membakar-embun.jpg"><img class="size-full wp-image-404 aligncenter" title="MEMBAKAR EMBUN" src="http://yogaparta.files.wordpress.com/2010/11/membakar-embun.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p><strong>Pameran Kelompok G-Five</strong></p>
<p><strong>(tgl. 16 Desember 2010, di Tony Raka Art Gallery Mas Ubud Bali)<br />
</strong></p>
<p><strong>Kurator  I Wayan Seriyoga Parta</strong></p>
<p>G-Five adalah kelompok perupa muda asal Bali yang menetap di Yogyakarta, mereka merupakan salah satu kelompok perupa yang eksistensinya terwadahi dalam perkembangan seni rupa kontemporer. Keanggotaan dari G-Five antara lain; Upadana, Valasara, Gede Putra, Ardika, dan Legianta, adalah lima orang perupa muda yang sama-sama berasal dari daerah Gianyar Bali. Meskipun terbilang masih muda (<em>emerging artists</em>) masing-masing dari mereka telah cukup memiliki eksistensi dalam perhelatan seni rupa kontemporer dan sebetulnya tanpa berkelompok pun secara individu mereka tetap bisa eksis.  Akan tetapi kuatnya ikatan sosial yang merupakan geneologi kebudayaan asali mereka (Bali), membawa mereka untuk maju bersama-sama dalam menapaki medan seni rupa kontemporer dalam konteks yang lebih luas.</p>
<p>Kebersamaan dalam kelompok tidak serta merta kemudian membuat mereka menseragamkan kecenderungan  visual karya-karya mereka, kelompok dalam hal ini merupakan wadah untuk mempertemukan gagasan masing-masing yang berbeda-beda. Sehingga di dalam kelompok ini sesungguhnya individu-individu tersebut saling “mempertarungkan” ide dan gagasannya, perbedaan yang melekat sedari awal untuk selanjutnya menjadi kekuatan tersendiri, karena dapat menumbuhkan spirit untuk memacu persaingan positif dalam membuat capaian-capaian berkualitas.  Meskipun secara kelompok mereka tidak membuat sebuah kesepakatan secara konsepsi yang kemudian dapat diusung bersama, dalam amatan penulis secara implisit tetap ada yang mengikat mereka selain kesamaan asal, dan kesamaan itu terletak pada eksplorasi media yang mereka lakoni dalam berkarya dan kedekatan dalam cara mengungkapkan gagasan.</p>
<p>Eksplorasi masing-masing dari mereka dalam hal media dilakoni sejak awal mulai merintis karir menjadi seniman, Upadana yang berasal dari disiplin seni patung memiliki ketertarikan pada eksplorasi dengan berbagai material seperti; kayu, besi, resin, dan juga eksplorasi media dua dimensi dalam perjalanan awal kreativitasnya dia bahkan beberapa kali membuat projek <em>performance art</em>.  Berasal dari disiplin yang sama yaitu seni patung, Made Gede Putra memulai ketertarikannya pada ekplorasi yang menggabungkan dua material yang memiliki karakter berbeda seperti material batu dan kayu, dari eksplorasi media tersebut kemudian Gede Putra membangun rangkaian pemaknaan.</p>
<p>Sementara tiga peserta lainnya yang berasal dari disiplin seni lukis, juga memulai kreativitas mereka dengan menekuni ekpslorasi media tertentu. Legianta memilih tetap konsisten pada eksplorasi media dua dimensi dalam hal ini kanvas dengan memakai material cat paste merupakan campuran dari warna, serbuk khusus dan ditambah zat karet (<em>ruber</em>), dengan material tersebut ia membuat capaian-capaian teknik dan juga dalam hal tematik. Sementara Valasara mengeksplorasi media kanvas dia tak merasa cukup hanya melukis di kanvas, kain kanvas selanjutnya dia jahit untuk mendapatkan efek muncul (relief) dengan memakai lapisan spon (<em>dacron</em>) dapat disebut sebagai teknik <em>emboss. </em>Melalui eksplorasi awal tersebut dia mulai mengembangkan kecenderungan visualnya dan juga kontens dalam karya-karyanya.<em> </em>Ardika yang sedari awal hanya melukis dikanvas, dalam perkembangannya kemudian juga mulai meluaskan eksplorasinya pada media-media yang lain selain kanvas.</p>
<p>Secara metode, mereka mengawali kreativitas berkarya dengan mengeluti  eksplorasi media yang pada awalnya lebih difokuskan pada pengusaan yang bersifat teknikal kemudian diikuti dengan melatih kepekaan dalam hal mengolah atau mengkomposisi unsur-unsur visual. Sederhananya kreativitas tersebut diarahkan pada capaian-capaian estetis, yang dapat dilihat pada pencapaian awal karya-karya mereka. Terutama pada Valasara yang cukup lama mengesplorasi garis dan efek optikal begitu juga Upadana dan Gede Putra, karya-karya awal mereka sarat dengan kecenderungan eksplorasi estetik yang mengarah pada formalisme. Dalam perjalanannya kemudian, mereka memutuskan tidak mau terjebak pada satu kencenderungan tertentu.</p>
<p><a href="http://yogaparta.files.wordpress.com/2010/11/gede_1-depan.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-405" title="made gede putra" src="http://yogaparta.files.wordpress.com/2010/11/gede_1-depan.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p>Perkembangan yang menarik dari kekaryaan mereka adalah keuletan mereka dalam bereksplorasi media dua dimensi dan tiga dimensi hingga menemukan cara ungkap mereka masing-masing yang khas. Dapat dilihat dalam karya Gede Putra yang memakai material spon matras disusun melingkar dan dikombinasikan dengan material kayu dan batu. Melalui penggabungan kedua material yang secara kasat hanya menampilkan komposisi tersebut, Gede Putra membangun narasi tentang sesuatu yang alami dan yang pabrikan, atau katakanlah antara yang natural dengan teknologi modern. Gede Putra membangun rangkaian relasi pemaknaan melalui eksplorasi media yang telah lama ia geluti, media dalam menjadi sebuah metafor yang merepresentasikan nilai-nilai yang kontradiktif dalam aspek kehidupan.  Kontradiksi  eksis dan menjadi aspek penting dalam kehidupan, dalam istilah Hindu Bali disebut <em>rewa bhineda</em> hitam-putih, baik-buruk dan sebagainya, sesuatu yang kontras yang dia tunjukkan juga melalui karyanya.</p>
<p>Upadana membuat bentuk pohon dengan memakai material resin bening di atas kanvas putih, adalah sebuah komposisi bidang dan warna yang di dalamnya juga disisipkan dengan narasi perihal penghayatannya pada tumbuhan atau alam. Upadana menggali kembali ketertarikannya pada sesuatu yang natural, dan yang melankolis melalui karyanya kali ini, ia mencoba melakukan penjelajahan pada pengalaman-pengalaman estetis yang dia rasakan ketika berhadapan dengan fenomena alam yang menggugah perasaannya. Membawanya pada penjelajahan dalam tataran rasa, pada titik-titik tertentu pengalaman-pengalaman tersebut begitu berkesan baginya, kemudian dia terjemahkan dengan metafor pohon. Sejenak penghayatan Upadana mengingatkan kembali pada kecenderungan Romantisisme, kecenderungan karya-karya Romantisisme umumnya mengetengahkan sedikitnya dua sisi; puitik dan tragedi dan mengedepankan pada penghayatan yang dapat menggugah perasaan. Seniman Romantis mengungkapkannya dengan mengetengahkan fragmen-fragmen kejadian alam seperti <em>sunset</em> yang dramatik, atau gunung meletus dengan kekuatan maha dasyat. Cara ungkap Upadana tidak dramatik, cenderung lebih dekat dengan puitik, seperti pohon putih di atas kanvas putih ditambah dengan barisan api.</p>
<p><a href="http://yogaparta.files.wordpress.com/2010/11/kadek_1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-406" title="KADEK ARDIKA" src="http://yogaparta.files.wordpress.com/2010/11/kadek_1.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p>Ardika menampilkan sosok Twiti dari ikon popular dengan sebuah benda yang berbalut daging, dua komposisi obyek tersebut tidak secara langsung membuat narasi pemaknaan.  Ardika kembali menambahkan sebuah teks ‘<em>see u in the next sickness</em>’ lalu apa hubungannya dengan kedua objek tadi,  obyek berbentuk setengah lingkaran berwarna coklat berbalut daging dalam hal ini dimaksudkan dengan konsumsi dan kemudian dipertegas dengan teks sampai jumpa pada penderitaan dalam dendangan si burung Twiti. Konsumsi dalam konteks yang lebih luas bisa dimaksudkan sebagai kecenderungan konsumerisme, dan budaya konsumer memang telah menjangkiti manusia kontemporer. Aktivitas konsumsi penuh dengan penjejalan pada kebutuhan-kebutuhan yang dikonstruksi, sebuah kesadaran yang semu dengan membangkitkan hasrat untuk mengkonsumsi walaupun sebenarnya tidak terlalu butuh.  Managemen terhadap hasrat itu dikonstruksi melalui visual yang menggoda, dibumbuhi dengan janji-janji mengajak untuk mencoba suatu produk yang dijajakan. Ketika rangkaian kontruksi visual tersebut kemudian diganti penataannya untuk menyisipkan muatan kritis seperti dalam karya Ardika, sejenak auidens dibuat bertanya-tanya dan mungkin kebingungan mengenai makna yang dimaksudkan. Akan tetapi begitulah karya seni, kerap kali dibuat tidak langsung menunjuk pada makna yang dimaksud, sebelumnya dibuat  agar audiens bertanya-tanya, berpikir sejenak, langkah selanjutnya bisa mengevaluasi fenomena yang tengah terjadi dan telah menjadi keseharian bahkan telah menghegemoni. Baudrillard menyatakannya sebagai <em>simulacrum</em> dan kita hidup di dalam kesadaran simulasi tersebut  kenyataan-kenyataan yang telah terkonstruksi dan tanpa sadar kita larut dalam konstruksi tersebut.</p>
<p><a href="http://yogaparta.files.wordpress.com/2010/11/valasara_1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-407" title="VALASARA_1" src="http://yogaparta.files.wordpress.com/2010/11/valasara_1.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p>Sementara Valasara yang membuat sosok Barong dengan teknik <em>emboss</em> berwarna putih di kanvas yang juga berwarna putih, karya ini memperlihatkan dua kecenderungan tematik; 1. demistifikasi Barong, yang sejatinya penuh dengan aura mistis, 2. sublimasi Barong yang meriah dengan hiasan ukiran dan warna-warna gemerlap, menjadikannya lebih bersahaja dan sublim. Demistifikasi yang dimaksud adalah fenomena yang terjadi pada budaya Bali dalam konteks perkembangan pariwisata, yang mana Barong telah menjadi ikon dalam jualan pariwisata budaya, Barong yang merupakan sosok dihormati disakralkan pada kenyataannya mengalami desakralisasi demi kepentingan industri pariwisata. Barong kemudian mewujud ke dalam dua realitas; realitas religi dan realitas kebudayaan.  Dalam konteks kekaryaan Valasara yang dibuat lebih sederhana putih di atas putih sosok  Barong di sublimasi dalam penghayatan pribadinya, mencari kembali esensi dari Barong itu sendiri. Valasara membersihkan kembali Barong dari realitas budaya yang jamak dijalani dalam realitas yang terdistorsi dan cenderung dipahami pada tataran permukaan semata, padalah ada nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam sosok kreasi imajiner manusia Bali tersebut.</p>
<p><a href="http://yogaparta.files.wordpress.com/2010/11/legianta_1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-408" title="Legianta_1" src="http://yogaparta.files.wordpress.com/2010/11/legianta_1.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p>Sama hal nya juga pada Legianta yang sudah sejak lama menggeluti eksplorasi dengan teknik plototan warna kental yang disusun seperti efek jajan <em>Sarad</em> (jajan tradisional Bali yang dipakai sebagai sarana <em>upakara/banten</em>), melalui teknik itu dia membuat tokoh <em>creature</em> seperti tokoh <em>hero</em> dalam komik. Pada awalnya pencarian teknikal Legianta terlihat biasa-biasa saja, namun kemudian kekusyukannya pada eksplorasi media tersebut membuatnya menemukan ritme dari kinerja artistik berupa pengulangan-pengulangan garis  yang monoton dan monokromatik. Bertolak dari situlah dia kemudian membangun kontens dalam karyanya, sebagai makhluk sosial yang mempunyai kesadaran terhadap fenomena sosial di sekitarnya. Lagi-lagi narasi visual yang diungkapkan tidak secara langung merujuk pada fenome tertentu, Legianta membungkusnya dengan memakai sosok <em>creature</em> mirip robot dengan hiasan ornamentik memerankan sulap (<em>magic</em>) hal ini ditandai oleh teks dengan tulisan <em>‘bim salabim, abra kadabra’. </em>Dari konstruksi visual yang ditampilkan sepertinya Legianta sedang menurujuk pada femonema instans dalam budaya kontemporer, yang telah menjadi bagian dari realitas kehidupan masyarakat saat ini. Seperti itulah Legianta membangun relasi pemaknaan melalui konstruksi visual dalam karyanya, dan kecenderungan tersebut menjadi semacam kecenderungan bersama dalam kreativitas kekaryaan para eksponen dalam kelompok G-five.</p>
<p>Kekaryaan mereka secara umum memiliki intensi pada eksplorasi media untuk menampilkan nilai estetis, yaitu berupa kesadaran pada pengorganisasian aspek-aspek estetika.  Melalui eksplorasi itulah kemudian mereka membangun narasi-narasi tentang persoalan diri, sosial, budaya, modernitas, globalisasi dan juga tradisi serta lainnya, dengan  bahasa ungkap mereka masing-masing. Salah satunya  dengan metafor, di dalamnya narasi tidak tampil secara linier atau secara urutan-uratan cerita yang  jelas tetapi dengan menampilkan penggalan-penggalan yang berdiri sendiri. Ekplorasi kekaryaan mereka berkaitan dengan interpretasi dan pencerapan mereka terhadap tema atau persoalan yang diangkat untuk kemudian ditampilkan secara visual.</p>
<p>Bertolak dari eksplorasi media, mereka kemudian mengembangkan kreativitas masing-masing pada berbagai kecenderungan visual, mulai dari abstraksi, figuratif hingga realis, dengan tema dan kontens yang berbeda-beda. Dalam mengembangkan kecenderungan visual yang beragam tersebut mereka tetap memakai cara ungkap yang telah digeluti, sebuah eksplorasi yang pada awalnya yang lebih bersifat teknikal tersebut kemudian berkembang menjadi bahasa ungkap mereka masing-masing. Jika hal ini secara konsisten terus digeluti bahasa ungkap tersebut lambat  laun akan mengalami kematangan dalam elaborasi masing-masing dan nantinya tentu dapat menumbuhkan kekhasan dan karekter pada karya-karya mereka.</p>
<p>Kekhasan karekter visual menjadi wacana penting dalam perkembangan seni rupa modern terangkum dalam semangat untuk membuat kebaruan, otentisitas dan orisinalitas dalam karya. Terakumulasi dalam capaian-capaian yang kemudian menjadi aliran atau isme-isme, seniman modern berlomba-lomba untuk menemukan kekhasan masing-masing. Dalam wilayah pemikiran pergerakan ini didasari oleh dialektika Hegelianisme (tesis, anti tesis, sintesis, dan tesis baru). Sebuah pencapaian awal disebut  tesis di dalamnya pasti mengandung benih-benih kontradikif  dari benih inilah kemudian direspon oleh pencarian lainnya sehingga menghasilkan antitesi dan pencarian ini kemudian bersintesis hingga melahirkan capaian baru atau tesis baru. Dialektika itulah yang terjadi dalam pergerakan isme-isme dalam seni modern, semakin lama akselerasinya semakin kencang dari impresionisme dan berujung pada formalisme atau abstrakisme yang melampaui ruang dan waktu.</p>
<p>Dalam era seni rupa kontemporer ini pencarian pada kekhasan tersebut mulai ditinggalkan, tergerus dengan kecenderungan <em>anything goes</em>, <em>flatness</em>, dan yang cukup mengejala kecenderungan apropriasi. Apropriasi sederhanannya adalah mengambil dari sesuatu dan mengolahnya menjadi sesuatu yang lain (dalam modernism sesuatu itu menjadi yang baru), dalam perkembangannya terutama postmodern apropriasi kemudian menjadi “<em>copy – paste” </em>90% atau dengan sedikit pengolahan. Serta kecenderungan untuk melampaui teknik dengan alih-alih mengedepankan konsep namun bukan <em>konseptual art. </em>Berbagai<em> </em>kedencerungan tersebut saling bertarung “melegalkan” diri dengan nilai masing-masing, merespon keruntuhan nilai-nilai yang dulunya berlaku absolut.</p>
<p>Dialektika model Hegelian sudah ditinggalkan, akan tetapi menurut penulis tidak berarti semua nilai yang dilahirkan oleh dialektika tersebut kemudian harus sepenuhnya ditinggalkan, bagaimanapun kekhasan  tersebut tetap menjadi suatu nilai penting  sebuah karya seni. Meskipun Brillo Box (1995)-nya Warhol tidak ada bedanya dengan box sebenarnya dan kemudian Arthur Danto tergugah untuk membuat tesis <em>the end of the art</em>, sedikit tidaknya dia tetap memiliki kekhasan karena untuk pertama kalinya dijadikan karya sehingga kemudian disepakati oleh medan seni sebagai karya seni yang bernilai. Memang kekhasaannya bukan pada capaian yang bersifat teknikal, tapi lebih pada gagasannya.</p>
<p>Kekhasan atau dalam istilah modernnya otentisitas dan orisinalitas merupakan warisan nilai yang tidak harus ditolak apalagi dibuang, kedua hal tersebut tetap bisa menjadi nilai bagi kreativitas seniman untuk mendukung  capaian-capaian dalam kekaryaannya. Fenomena keterbukaan (<em>a zone of freedom</em>) seperti sekarang ini dimana berbagai nilai sacara bebas bertarung dalam mengejar eksistensi, sehingga nilai mengandung  relatifivitas yang tinggi. Perkembangan yang terbuka ini kadang juga membuat seniman kebingungan dan mengalami disorientasi. Untuk hal itu nilai-nilai dasar seperti capaian teknis dan nilai estetik atau hal-hal teknis  dalam seni dapat mengasah sensibilitas (<em>sensibility of art</em>) (disebut nilai tekstual selain nilai kontekstual),<em> </em>merupakan sebuah pijakan awal yang dapat mengantarkan kreativitas seniman ke gerbang yang lebih luas dan terbuka.</p>
<br />Filed under: <a href='http://yogaparta.wordpress.com/category/article/'>Article</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yogaparta.wordpress.com/403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yogaparta.wordpress.com/403/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yogaparta.wordpress.com/403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yogaparta.wordpress.com/403/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yogaparta.wordpress.com/403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yogaparta.wordpress.com/403/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yogaparta.wordpress.com/403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yogaparta.wordpress.com/403/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yogaparta.wordpress.com/403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yogaparta.wordpress.com/403/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yogaparta.wordpress.com/403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yogaparta.wordpress.com/403/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yogaparta.wordpress.com/403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yogaparta.wordpress.com/403/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yogaparta.wordpress.com&amp;blog=3900794&amp;post=403&amp;subd=yogaparta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yogaparta.wordpress.com/2010/11/29/mediaesthetic/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c0582d6501f8eeedfaf8520c4d3fa825?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yogaparta</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yogaparta.files.wordpress.com/2010/11/membakar-embun.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">MEMBAKAR EMBUN</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yogaparta.files.wordpress.com/2010/11/gede_1-depan.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">made gede putra</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yogaparta.files.wordpress.com/2010/11/kadek_1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">KADEK ARDIKA</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yogaparta.files.wordpress.com/2010/11/valasara_1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">VALASARA_1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yogaparta.files.wordpress.com/2010/11/legianta_1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Legianta_1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dimensi</title>
		<link>http://yogaparta.wordpress.com/2010/08/01/dimensi/</link>
		<comments>http://yogaparta.wordpress.com/2010/08/01/dimensi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Aug 2010 08:08:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>seriyoga parta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yogaparta.wordpress.com/?p=386</guid>
		<description><![CDATA[Kurator: I Wayan Seriyoga Parta Difinisi dimensi dalam ensiklopedia online, Wikipedia adalah sebagai berikut: Dalam penggunaan umum, dimensi berarti parameter atau pengukuran yang dibutuhkan untuk mendefinisikan sifat-sifat suatu objek—yaitu panjang, lebar, dan tinggi atau ukuran dan bentuk. Dalam matematika dan fisika, dimensi adalah parameter yang dibutuhkan untuk menggambarkan posisi dan sifat-sifat objek dalam suatu ruang. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yogaparta.wordpress.com&amp;blog=3900794&amp;post=386&amp;subd=yogaparta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://yogaparta.files.wordpress.com/2010/08/arief-tousiga-another-trace-of-the-action-stuff-600-x-4501.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-389" title="arief tousiga -  ANOTHER TRACE OF THE ACTION STUFF (600 x 450)" src="http://yogaparta.files.wordpress.com/2010/08/arief-tousiga-another-trace-of-the-action-stuff-600-x-4501.jpg?w=614" alt=""   /></a>Kurator: I Wayan Seriyoga Parta</strong></p>
<p>Difinisi dimensi dalam ensiklopedia online, Wikipedia adalah sebagai berikut:</p>
<p>Dalam penggunaan umum, <strong>dimensi</strong> berarti parameter atau pengukuran yang dibutuhkan untuk mendefinisikan sifat-sifat suatu objek—yaitu <a title="Panjang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Panjang">panjang</a>, <a title="Lebar" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Lebar">lebar</a>, dan <a title="Tinggi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tinggi">tinggi</a> atau <em><a title="Ukuran" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ukuran">ukuran</a> dan <a title="Bentuk" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bentuk">bentuk</a></em>. Dalam <a title="Matematika" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Matematika">matematika</a> dan <a title="Fisika" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Fisika">fisika</a>, <strong>dimensi</strong> adalah parameter yang dibutuhkan untuk menggambarkan posisi dan sifat-sifat objek dalam suatu <em>ruang</em>. Dalam konteks khusus, <a title="Satuan ukur" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Satuan_ukur">satuan ukur</a> dapat pula disebut &#8220;dimensi&#8221;—<em><a title="Meter" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Meter">meter</a></em> atau <em><a title="Inci" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Inci">inci</a></em> dalam model <a title="Geografi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Geografi">geografi</a>, atau <em><a title="Biaya" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Biaya">biaya</a></em> dan <em><a title="Harga" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Harga">harga</a></em> dalam model <a title="Ekonomi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ekonomi">ekonomi</a>. <a title="Waktu" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Waktu">Waktu</a> sering disebut sebagai &#8220;dimensi keempat&#8221;. <em>(</em><em><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dimensi">http://id.wikipedia.org/wiki/Dimensi</a></em><em>)</em></p>
<p>Dimensi memiliki lingkup pengertian yang luas, mulai dari fisikal (wujud: 2 dimensi, 2 dimensi), waktu/skuensial yang juga disebut sebagai dimensi ke-4  pergerakan waktu kita alami dalam kehidupan ini. Gerak dan perubahan menjadi salah satu penanda waktu, dalam film atau audio visual aspek waktu dapat kita lihat dalam durasinya. Dalam seni rupa dimensi menjadi dasar untuk mengelompokkan disiplin keilmuan; dapat dilihat dalam pemisahan seni rupa bersadarkan wujud antara lain seni 2 dimensi pada seni lukis dan seni 3 dimensi berupa patung. Pengelompokkan itu bahkan kemudian menjadi mainstrem dalam perkembangan seni rupa modern, yang meletakkan ekplorasi pada kedua dimensi medium tersebut sebagai fokus utama.</p>
<p><a href="http://yogaparta.files.wordpress.com/2010/08/kupersembahkan-untuk-m-tuhan-150x100cm-oil-on-canvas2010-450-x-600.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-390" title="Kupersembahkan untuk-M Tuhan, 150X100cm, oil on canvas,2010 (450 x 600)" src="http://yogaparta.files.wordpress.com/2010/08/kupersembahkan-untuk-m-tuhan-150x100cm-oil-on-canvas2010-450-x-600.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p>Berdasarkan dimensi yang terkategori tersebut kemudian memicu kreativitas untuk melampaui batasan-batasannya, kreativitas seniman tidak pernah dapat dibatasi sehingga kemudian muncul perluasan-perluasan seperti dalam seni instalasi, pengabungan berbagai media (<em>mixed media</em>), <em>performance art</em> yang melibatkan gerak dan ruang yang tidak terbatas. Perkembangan eksplorasi dimensi dalam medium karya, juga beriringan dengan perkembangan pada tataran wacana seni rupa, seperti dari modernisme ke posmodernisme. Perkembangan pada eksplorasi medium memicu pemikiran-pemikiran penting, Arthur C. Danto yang mengumandangkan pemikiran tentang <em>the end of art,</em> dalam analisisnya tentang karya <em>Brillo Box</em> (1995) Andy Warhol yang menampilkan <em>box </em>(kotak) yang sebenarnya, secara wujud visual karya ini tidak ada bedanya dengan benda aslinya, tapi <em>value of the art</em> berupa konsep yang dikandung dalam karya tersebut menjustifikasi perbedaan di antara keduanya. Konsep pemikiran tentang perkembang seni rupa dipicu oleh gejala visual (dimensi karya) dan begitu juga sebaliknya, eksplorasi karya kemudian juga merepresentasikan pemikiran yang tengah berkembang. Singkat kata, dimensi menjadi aspek penting dalam perkembangan seni rupa.</p>
<p>Dimensi sebagai tajuk dalam pameran ini dimaksudkan sebagai refleksi tentang peran medium sebagai aspek penting dalam perkembangan seni rupa hingga saat ini. Dimensi yang dalam konteks karya seni rupa termanifestasi dalam medium menampilkan berbagai perkembangan visual dan juga penggarapan secara teknik. Kerangka pameran ini tidak melibatkan diri pada silang sengkarut wacana seni rupa kontemporer yang sepertinya tidak akan pernah berujung pada kejelasan definitif. Konon seni rupa kontemporer tidak akan selesai dirumuskan, jadi dalam hemat penulis biarlah gejala visual yang direprsentasikan oleh karya-karya para seniman memberikan refleksi tentang nilai kontemporer yang dikandungnya. Karena perkembangan seni rupa kontemporer salah satunya ditandai dengan keragaman dimensi kekaryaan, dan keragaman itulah yang tengah dipresentasikan oleh perupa dan karya-karyanya dalam pameran ini.</p>
<p><a href="http://yogaparta.files.wordpress.com/2010/08/blue-string-600-x-493.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-391" title="blue string (600 x 493)" src="http://yogaparta.files.wordpress.com/2010/08/blue-string-600-x-493.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p>Pameran ini melibatkan seniman-seniman yang menggarap karya dari berbagai dimensi tersebut, mulai dari 2 dimensi yaitu lukisan, <em>mixed media</em>, seni patung sebagai wujud 3 dimensi dan juga perluasannya dalam bentuk seni instalasi. Selain dalam wujud fisik dimensi juga dapat dilihat dari konsep para seniman, dan tertuang dalam tema yang dihadirkan dalam karya. Dimensi tema memiliki konteks yang luas menyangkut fenomena sosial dan kebudayaaan.  Mereka adalah; Arief Tousiga, Bagus Indrayana, Diyanto, Dolorosa Sinaga, Harry Cahaya, Made Mahendra mangku, Made Pasek Kusumawijaya, Made Supena, Nyoman Wijaya, Putut Wahyu Widodo dan Wayan Sujana “Suklu”. Pameran ini bermaksud untuk melihat relasi-relasi perluasan dimensi tersebut, dan pencerapan oleh para seniman yang termanifestasi dalam konsep dan wujud visual-karya mereka. Kemudian masing-masing karya tersebut akan mencoba membangun jalinan komunikasi dengan para apresian dengan inteprestasinya masing-masing, karena karya seni miliki dimensi yang luas tidak saja bersifat fisik tapi juga psikis. Dalam wilayah yang sublim aspek psikis akan terjalin dengan sendirinya antara karya seni dan apresian, karena proses internalisasi. Indra dalam hal ini hanyalah pengantar pada penghayatan internalisasi tersebut, dan saya persilakan kepada para audiens menjalani proses tersebut.</p>
<p>Bandung Juli 2010</p>
<p><em>(Kuratorial teks pameran Dimensi, di El-canna Fine Art Jakarta, Juli-Agustus 2010</em>)<a href="http://yogaparta.files.wordpress.com/2010/08/harry-cahaya_re-integrated-senses2-130x150cm-oil-on-canvas2010-600-x-525.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-388" title="harry cahaya_re-integrated senses#2, 130X150Cm, oil on canvas,2010 (600 x 525)" src="http://yogaparta.files.wordpress.com/2010/08/harry-cahaya_re-integrated-senses2-130x150cm-oil-on-canvas2010-600-x-525.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<br />Filed under: <a href='http://yogaparta.wordpress.com/category/journal/'>Journal</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yogaparta.wordpress.com/386/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yogaparta.wordpress.com/386/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yogaparta.wordpress.com/386/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yogaparta.wordpress.com/386/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yogaparta.wordpress.com/386/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yogaparta.wordpress.com/386/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yogaparta.wordpress.com/386/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yogaparta.wordpress.com/386/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yogaparta.wordpress.com/386/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yogaparta.wordpress.com/386/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yogaparta.wordpress.com/386/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yogaparta.wordpress.com/386/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yogaparta.wordpress.com/386/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yogaparta.wordpress.com/386/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yogaparta.wordpress.com&amp;blog=3900794&amp;post=386&amp;subd=yogaparta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yogaparta.wordpress.com/2010/08/01/dimensi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c0582d6501f8eeedfaf8520c4d3fa825?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yogaparta</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yogaparta.files.wordpress.com/2010/08/arief-tousiga-another-trace-of-the-action-stuff-600-x-4501.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">arief tousiga -  ANOTHER TRACE OF THE ACTION STUFF (600 x 450)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yogaparta.files.wordpress.com/2010/08/kupersembahkan-untuk-m-tuhan-150x100cm-oil-on-canvas2010-450-x-600.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Kupersembahkan untuk-M Tuhan, 150X100cm, oil on canvas,2010 (450 x 600)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yogaparta.files.wordpress.com/2010/08/blue-string-600-x-493.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">blue string (600 x 493)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yogaparta.files.wordpress.com/2010/08/harry-cahaya_re-integrated-senses2-130x150cm-oil-on-canvas2010-600-x-525.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">harry cahaya_re-integrated senses#2, 130X150Cm, oil on canvas,2010 (600 x 525)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>“EKSPRESI KAYU”: Mengurai Kembali Terminologi Kriya</title>
		<link>http://yogaparta.wordpress.com/2010/06/02/%e2%80%9cekspresi-kayu%e2%80%9d-mengurai-kembali-terminologi-kriya/</link>
		<comments>http://yogaparta.wordpress.com/2010/06/02/%e2%80%9cekspresi-kayu%e2%80%9d-mengurai-kembali-terminologi-kriya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Jun 2010 00:32:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>seriyoga parta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kriya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yogaparta.wordpress.com/?p=352</guid>
		<description><![CDATA[Semakin intennya pameran yang diselenggarakan oleh seniman (mahasiswa) Kriya dalam beberapa waktu belakangan ini, pada tahap pertama menyiratkan adanya keinginan dari seniman kriya untuk ikut mendinamisasi perhelatan seni rupa. Akan tetapi bagaimana dengan pergerakan karya-karyanya sendiri ? Apakah para seniman kriya akan terus terjebak dengan kungkungan diseputar kategori dan batasan-batasan dimensional maupun material, yang kembali [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yogaparta.wordpress.com&amp;blog=3900794&amp;post=352&amp;subd=yogaparta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong><em>Semakin intennya  pameran yang diselenggarakan oleh seniman (mahasiswa) Kriya dalam  beberapa waktu belakangan ini, pada tahap pertama menyiratkan adanya  keinginan dari seniman kriya untuk ikut mendinamisasi perhelatan seni  rupa. Akan tetapi bagaimana dengan pergerakan karya-karyanya sendiri ?  Apakah para seniman kriya akan  terus terjebak dengan  kungkungan diseputar kategori dan batasan-batasan dimensional maupun  material, yang kembali hanya akan membatasi ruang kretifitas ?</em></p>
<p>Setelah pameran “  Shadow” yang diselenggarakan oleh mahasiswa jurusan Kriya ISI Denpasar  yang tergabung dalam K 2000, pada bulan Maret – April 2004 lalu. Kini  dengan jumlah yang lebih banyak mereka kembali menggelar pameran bersama  dengan judul yang kembali menggelitik yaitu “Ekspresi Kayu”. Pameran  ini diikuti oleh kurang lebih 26 orang mahasiswa Kriya dari angkatan  2000 – 2003, dengan mengambil Museum Sidik Jari Denpasar sebagai tempat  untuk merepresentasikan karya-karya terbaru mereka selama enam bulan  terakhir. Pameran akan digelar mulai dari tanggal 18 September sampai  dengan 2 Oktober 2004.</p>
<p>Penggambilan <em>angle</em> “Ekspresi Kayu” dalam pameran ini dilandasi dengan menggunakan  pendekatan medium, salah satu benang merah untuk mengidentifikasi kriya  adalah melalui mediumnya seperti; kayu, keramik, logam, serat, fiber,  dan sebagainya. Penjudulan ini menandakan usaha untuk keluar dari  ketidakjelasan lingkup istilah kriya, yang kerap memunculkan perdebatan  yang cenderung mengkonotasikan kriya hanya sebagai seni rendahan, dan  kerajinan semata. Karena sampai sekarang istilah kriya di samping belum  begitu populer, sepertinya masih belum begitu dimengerti oleh sebagaian  masyarakat seni dan terlebih lagi masyarakat luas. Hal itu tentunya  sangat wajar, karena dalam lingkungan akademis sendiri pembahasan dan  perdebatan tentang karya kriya ini masih belum terakumulasi dengan  jelas, sehingga kerap menimbulkan masalah dalam orientasi sistem  pengajaran di akademis.</p>
<p>Kriya adalah istilah  yang digali dari budaya  masa lalu di Indonesia, pada  awalnya merupakan sebuah terminologi yang melingkupi seluruh praktek  seni di Indonesia. Dalam usaha mengenali konteks budaya etnik masa lalu  mungkin istilah ini masih relevan.  Namun seperti diketahui  dalam mengidentifikasi seni di Indonesia selama ini istilah kriya  tidaklah eksis, yang lebih eksis justru istilah seni rupa. Di samping  itu telah menjadi hal yang kaprah dan telah terkonvensi bahwa seni rupa  selama ini diterjemahkan dari istilah <em>fine art</em> (seni murni) dalam  bahasa Inggris. Sehingga dapat ditengarai penjurusan seperti seni murni  dan kriya dalam akademi seni rupa di Indonesia jelas berlandaskan pada  dikotomi <em>art – craft</em> seperti dalam seni modern di Barat.</p>
<p>Maka hadirlah  fakultas/jurusan seni murni dan desain yang melingkupi seni lukis,  patung, dan juga desain. Di sisi lain hadir juga jurusan Kriya, yang  ketika menilik ke Barat mendapat padanan dengan <em>craft</em>. Ketika  dipadankan dengan <em>craft</em> di Barat, kriya cenderung akan berada  pada wilayah heirarkis antara dikotomi <em>art </em>dan <em>craft</em>.  Secara sadar atau tidak ketika mengadopsi pola dan wacana art-<em>craft</em> Barat kita telah berada pada wilayah yang ahistoris dan cenderung  merugikan, karena seting yang yang melatar belakanginya sangat berbeda.  Di Barat pergerakan <em>craft</em> bukan hanya dalam tataran visual  semata, namun perlu dilihat pergerakan paradigma dan pergulatan wacana  dalam perjalanan historisnya.</p>
<p>Karena dalam perjalanan  <em>craft</em> di Barat kemudian muncul perlawanan-perlawanan seperti  gerakan <em>art and craft movment</em> atau di Eropa yang merupakan reaksi  atas lahirnya masyarakat industri Barat yang dimotori oleh John Ruskin  dan Robert Morris. Gerakan ini kemudian memberi berpengaruh melahirkan  profesi desainer sebagai bentuk aplikasi “pertukangan” pada  industri. Belakangan resistensi <em>craft</em> hadir dengan mangadopsi  maupun dengan meluluhkan diri dalam term modern atau kontemporer. <em>Craft</em> tetap tidak dapat masuk dalam wacana <em>art world. </em>Sedangkan di  Indonesia yang namanya masyarakat industri itu tidak pernah ada, dan  juga tidak ada debat yang intens mengikuti perkembangan kriya.</p>
<p>Dalam konteks inilah  kemudian terminologi kriya kehilangan lingkupnya dalam mewadahi seni  rupa Indonesia. Istilah kriya sendiri mimiliki sepektrum begitu luas dan  sering menimbulkan “bias” sehingga kemudian dibutuhkan pemahaman pada  konteks pembicaraan. Ketika Istilah kriya ditujukan untuk memberi  intensi pada kategori praktek visual tertentu yang memiliki kebedaan,  lingkup wilayah kriya menjadi tidak jelas karena kemudian sulit sekali  menarik batas yang rigid dengan bidang seni yang lain. Sehingga kriya  sering berada dalam wilayah yang “ambigu”, dalam batasan-batasan  katagori antara seni dan desain, hal ini terjadi justru ketika seni rupa  didudukan dalam <em>frame</em> seni modern (<em>fine art</em>).</p>
<p>Kriya dalam lingkup  pendidikan selama ini memang <em>take for grated</em> diterima begitu  saja, usaha-usaha pengkajian secara kritispun sepertinya selalu  dimentahkan dengan rumitnya sistem kurikulum yang sangat centralistik.  Padahal pendidikan kriya (seni) yang ada di masing-masing wilayah di  Indonsesia memiliki <em>local problem</em> sendiri-sendiri  yang tidak selalu bisa diputuskan secara general tanpa memeriksa  setingnya, dan belum tentu masih relevan dalam konteks pada masa  sekarang. Salah satunya seperti saya sebutkan tadi adalah masih minimnya  pemahaman masyarakat mengenai istilah kriya. Sampai saat ini benang  merah kemudian yang dapat ditarik untuk melihat kriya adalah pada  wilayah mediumnya, dan intensitas teknisnya yang disebut <em>craftmanship</em>.</p>
<p>Mekipun lewat studi  komparasi seperti ini cenderung menjadikan persoalan kriya sangat <em>complicated,</em> tetapi saya tidak mengharapkan seniman/mahasiswa kriya benjadi tambah  bingung, fesimis, apalagi frustrasi dalam menapaki perjalanan kretifnya.  Namun sebaliknya dapat semakin terbuka dan selalu berusaha menganalisis  bidang yang sedang dijalaninya. Satu hal yang patut diketahui, dalam  konteks seni rupa Indonesia dan umumnya di Negara non-Barat dimana kriya  tidak mengalami desakan yang begitu kuat seperti yang dialami <em>craft</em> di Barat, justru karena “ambigu” itulah kriya/seniman dapat dengan  leluasa bergerak dan bukan tidak memungkinkan untuk melampui kategori  yang disandangnya. Dalam tataran visual sesungguhnya karya-karya seniman  kriya dalam medan seni rupa Indonesia selama ini tidak pernah  dipermasalahkan jika bersanding dengan karya lukis ataupun patung. Hanya  skat dalam wilayah akademislah yang kemudian menjadikan karya/seniman  kriya cenderung ekslusif tanpa berusaha memahami medan yang sedang  dihadapi.</p>
<p>Kembali pada pertanyaan  yang diajukan pada awal tadi, menyimak karya-karya dalam pameran ini  sepertinya ada permasalahan klasik yang masih dihadapi para  peserta. Sampai saat ini umunya para peserta masih disibukkan dalam  pecarian <em>subject matter</em>, sementara pengolahan bentuk, komposisi,  dan pewarnaanya masih seperti itu-itu saja.Menurut hemat saya masalahnya  bukan hanya pada keotentikan,atau keanehan <em>subject matter</em>. Ada  ruang-ruang kosong yang masih terlupakan seperti mempermainkan karakter  material, baik aplikasi, atau manipulasi, pewarnaan yang lebih pop  misalnya. Wujud bukankah tidak harus dua dimensional, bisa insatalasi,  site spesifik, objeck, bahkan patung sekalipun. Format pameran  sepertinya harus diperhitungkan juga mungkin bisa diformat dalam bentuk  gerakan pembaharuan misalnya, agar tidak semata-mata hanya sekedar  hadir.</p>
<p><strong><em>w. seriyoga  parta. </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<br />Filed under: <a href='http://yogaparta.wordpress.com/category/kriya/'>Kriya</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yogaparta.wordpress.com/352/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yogaparta.wordpress.com/352/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yogaparta.wordpress.com/352/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yogaparta.wordpress.com/352/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yogaparta.wordpress.com/352/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yogaparta.wordpress.com/352/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yogaparta.wordpress.com/352/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yogaparta.wordpress.com/352/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yogaparta.wordpress.com/352/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yogaparta.wordpress.com/352/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yogaparta.wordpress.com/352/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yogaparta.wordpress.com/352/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yogaparta.wordpress.com/352/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yogaparta.wordpress.com/352/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yogaparta.wordpress.com&amp;blog=3900794&amp;post=352&amp;subd=yogaparta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yogaparta.wordpress.com/2010/06/02/%e2%80%9cekspresi-kayu%e2%80%9d-mengurai-kembali-terminologi-kriya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c0582d6501f8eeedfaf8520c4d3fa825?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yogaparta</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>REPOSISI SENI KRIYA: (Memacu Perkembangan Karya-Karya Kriya Mutahir)</title>
		<link>http://yogaparta.wordpress.com/2010/06/02/reposisi-seni-kriya-memacu-perkembangan-karya-karya-kriya-mutahir/</link>
		<comments>http://yogaparta.wordpress.com/2010/06/02/reposisi-seni-kriya-memacu-perkembangan-karya-karya-kriya-mutahir/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Jun 2010 00:30:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>seriyoga parta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kriya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yogaparta.wordpress.com/?p=349</guid>
		<description><![CDATA[Istilah kriya secara intensif mulai diperkenalkan dalam dunia akademis. Dalam usahanya untuk memasyarakatkan dan mereposisi diri, kriya dihadapkan berbebagai persoalan dan steriotif yang mendudukkan kriya sebagai seni rendahan dan termajinalkan dalam pembahasan seni rupa (seni murni). Adanya persepsi bahwa kriya tak lebih merupakan seni terapan, seni dekoratif, bahkan kerajinan karena hanya mengabdi pada kaidah keterampilan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yogaparta.wordpress.com&amp;blog=3900794&amp;post=349&amp;subd=yogaparta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Istilah kriya secara intensif mulai  diperkenalkan dalam dunia akademis. Dalam usahanya untuk memasyarakatkan  dan mereposisi diri, kriya dihadapkan berbebagai persoalan dan  steriotif yang mendudukkan kriya sebagai seni rendahan dan termajinalkan  dalam pembahasan seni rupa (seni murni). Adanya persepsi bahwa kriya  tak lebih merupakan seni terapan, seni dekoratif, bahkan kerajinan  karena hanya mengabdi pada kaidah keterampilan penanganan teknis, yang  nilainya berada di bawah dan tidak pantas dipadankan dengan seni rupa –  seni lukis dan patung. Persepsi ini diwariskan oleh dikotomi <em>fine art</em> (seni murni) seni lukis, seni patung, dan arsitektur atas <em>craft </em>dalam seni modern Barat. Namun situasi di Indonesia  tidaklah seeksterm di Barat dimana <em>craft</em> sangat termarjinalkan  dianggap bukan seni, dan tidak diberi kesempatan masuk  dalam pembahasan <em>fine art</em>. Seperti halnya negara-negara di luar  mainstrem Barat, maka seni modern yang masuk ke Indonesia tidak  sepenuhnya merupakan adopsi kaku dari seni modern Barat. Karena  mengalami mediasi dengan muatan-muatan lokal yang kerap menghasilkan  bentuk-bentuk yang hibrid yang menjadikan seni modern Indonesia sangat  sulit untuk diidentifikasi dengan kacamata baku seni modern Barat,  hal ini disebabkan oleh bekerjanya nilai-nilai lokal. (Jim  Supangkat, Bentara Kompas, 7 Juli 2000) Seni modern yang mono–linear  (terpusat) dan menjunjung nilai universalitas cenderung tidak mengakui  hadirnya seni-seni dengan capaian sejenis yang berkembang di luar  mainsterm Barat.</p>
<p>Dan ketika mengadopsi istilah seni  kontemporer, meskipun dirasakan lebih menguntungkan – seni kontemporer  Indonesia kembali dihadapkan pada persoalan paradigmatik. Karena  kehadiran seni kontemporer di Barat merupakan perlawanan atas seni  modern dengan hegemoni universalismenya, dan tradisi <em>high art (high  cultur) </em>didukung oleh dominannya peran infrastruktur dalam  menentukan standar nilai. Sementara perkembangan seni kontemporer  Indonesia lebih dipicu oleh perlawanan terhadap kesewenangan kekuasaan  (rezim) dalam kehidupan bernegara sehingga lebih berimpak  politis. Bukan perlawanan pada kekuasaan di lingkungan seni  rupa, karena infrastruktur yang ada tidak pernah mampu untuk melakukan  dominasi apalagi memberlakukakn stantard nilai yang absolut.  Dalam usahanya melakukan pemetaan dan pembacaannya atas seni rupa  (lokal) Jim mengajukan beberapa sulosi, salah satunya adalah usaha  de-labelisasi terhadap wacana lokal tesebut.</p>
<p>Dalam usaha ini sesungguhnya kesempatan  baik untuk melakukan pembacaan kembali pada seni kriya yang selama ini  terabaikan dalam setiap pemabahasan seni rupa di tanah air. Sebuah  kenyataan istilah ini digali dari nilai lokal di masa lalu, untuk  menggangkat seni-seni tradisi yang sangat beragam tersebar di seluruh  tanah air yang jenisnya mencapai ribuan. Yang masih dilingkupi alam  pemikiran metafisis seperti; kesenian Dayak. Asmat, Toraja, dan masih  banyak lagi yang tidak terpengaruh oleh modernitas atau memang  mempertahankan diri dari arus modernisasi.</p>
<p>Berkaitan dengan  tujuan tersebut kriya kemudian dihadapkan pada dua kenyataan, disatu  sisi menjadi konservatif sebagai penjaga dan mempertahankan nilai-nilai  lokal (tradisi), sedang disisi lain dituntut untuk bisa progress  mengikuti perkembangan dan pergerakan seni rupa (<em>visual art</em>) –  jika nantinya tidak ingin hanya menjadi museum hidup. Upaya ini sebenarnya  sudah digiatkan terutama dalam seni keramik hadirnya nama  F. Widayanto, atau Hildawati serta yang lain, serta dengan  diintensipkannya pewacanan oleh kritikus kriya seperti Asmudjo sebagai  sebuah usaha memacu perkembangan seni keramik di Indonesia. Sedangkan di  Bali ada Agus Mulyadi yang dengan sangat antusias memacu pewacaan seni  keramik di media masa.</p>
<p>Selain medium  keramik kriya mempunyai lingkup yang cukup luas, meliputi; Kayu, Batu.  Logam, Serat (tekstil). Tidak seperti seni keramik seni ukir (kriya)  kayu sepertinya belum mendapatkan perhatian yang serius terutama dalam  hal pewacanaan, baik dari kritikus maupun senimannya sendiri. Sebuah  kenyataan bahwa bidang seni ini telah menggairahkan perekonomian di Bali  khususnya yang berbasis pada pariwisata budaya. Salah satu institusi  yang sampai saat ini masih dengan setia mengembangkan kriya kayu adalah  STSI Denpasar yang sekarang sudah menggabungkan diri dengan PSSRD  Udayana dan menjelma menjadi ISI Denpasar di samping ISI Yogyakarya,  ITB, IKJ, dan STSI yang tersebar di beberapa kota di tanah air. Selama  satu setengah dasa warsa institusi ini telah melahirkan puluhan sarjana  kriya. Namun sayang setelah keluar dari akademis para seniman kriya  menghilang ditelan bumi, sepertinya enggan menampakkan diri dan sama  sekali tidak berusaha tampil baik dalam penciptaan maupun pengkajian.  Kemudian bisa dilihat hampir tidak ada seniman dari disiplin kriya yang  dapat bersaing dalam konstelasi seni rupa. Beberapa yang mencoba eksis  adalah mereka yang mendapat kesempatan duduk dalam institusi (menjadi  dosen).</p>
<p>Mereka mengembangkan  karya-karya individual yang lebih mengetengahkan ekspresi – estetik  daripada kriya yang berbasis pada seni terapan dan kebergunaan  (kebermanfaatan) yang kemudian dikatagorikan sebagai &#8220;kriya seni&#8221;.  Dengan sedikit optimisme secara perlahan seni ukir (kriya) kayu mutahir  hadir dalam Pameran Seni Rupa Menyambut ISI Denpasar. Fenomena  yang menarik adalah munculnya kecenderungan untuk melakukan penggalian  pada wilayah dua dimensi dan melakukan eksperimen –mengkombinasikan kayu  dengan media yang lain seperti kanvas, teknik pahatan dengan melukis  dengan warna yang ekspresif atau penegakan karakter bahan. Daripada  menjelajahi kemungkinan-kemungkinan pada wilayah tiga dimensi – yang  sudah meluas dari instalasi sampai pada konsep ruang yang lebih  luas seperti <em>earthwork</em> (<em>earth art</em>).</p>
<p>Pola  pemikiran seperti itu sangat dipengaruhi oleh konvensi yang dibentuk  oleh seniman kriya sendiri untuk membedakan diri dengan seni lukis (dua  dimensi) dan seni patung (tiga dimensi). Disini kriya memposisikan diri  berada dalam batasan-batasan dimensi tersebut– yang mempunyai wilayah di  tengah-tengah antara dua dimensi dan tiga dimensi (semi tiga dimensi)  berbentuk relief. Mempunyai pretensi ketebalan tertentu (berupa relief)  tetapi menjauhkan diri dari representasi tiga dimensi (artinya lebih  signifikan dengan satu sisi atau penampakan) berbeda dengan seni tiga  dimensi (patung) – yang memiliki keterpaduan dalam panampakan segala  sisi mendapat pertimbangan. Kenyataan ini dapat disimak dalam karya I Md  Supartha “ Tertarik” dari kayu Suar, “ WWW. Information.Com karya Ketut  Mudia, dan karya Wayan Suarjana “ Bermain”, meskipun wujudnya tiga  dimensi, namun representasinya hanya pada satu sisi hanya dapat  dinikmati dari depan –tampak samping dan tampak belakangnya tidak  menjadi sesuatu yang penting.</p>
<p>Sementara pada karya  Komang Widnyana “Bumi” dan Sidaarsa” Melamun” –menampakkan pencarian  pada wujud dua dimensi capaian yang dekat dengan seni lukis.  Kecenderungan ini semakin menguat dalam satu tahun belakangan ini bahkan  tidak tanggung-tanggung menggunakan kanvas dengan menggabungkan teknik  pahat dan melukis. Mereka seolah-olah ingin menyampaikan bahwa  dengan kemampuan mengolah bahan (<em>craftsmanshi</em>p) yang mereka  miliki dapat bersaing dengan karya-karya seni lukis.</p>
<p>Meninjau kembali  difinisi kriya tidak lain lebih mengacu pada penguasaan dan kemampuan  penanganan teknis istilah lainnya <em>craftsmanship</em> dan ini adalah  modal dasar, karena dalam perkembangan seni rupa asfek tersebut  sepertinya semakin terabaikan. Sehingga kerap terjadi ketimpangan antara  capaian visual (teks) dan muatan konteks serta kandungan isi (konteks).  Di samping permasalahan konseptual kriya juga di hadapkan pada belum  atau minimnya infrasruktur, galeri, museum, institusi seni dan satu lagi  adalah pengkaji (kritikus) yang diharapkan dapat melakukan pembacaan  dan pemetaan karya kriya dan mencari paradigma bagi perkembangan kriya.</p>
<p><strong>Seriyoga  Parta</strong><strong><em> </em></strong></p>
<p><em>Tulisan idimuat di Bali Post Minggu, 7  September 2003</em></p>
<br />Filed under: <a href='http://yogaparta.wordpress.com/category/kriya/'>Kriya</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yogaparta.wordpress.com/349/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yogaparta.wordpress.com/349/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yogaparta.wordpress.com/349/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yogaparta.wordpress.com/349/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yogaparta.wordpress.com/349/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yogaparta.wordpress.com/349/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yogaparta.wordpress.com/349/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yogaparta.wordpress.com/349/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yogaparta.wordpress.com/349/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yogaparta.wordpress.com/349/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yogaparta.wordpress.com/349/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yogaparta.wordpress.com/349/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yogaparta.wordpress.com/349/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yogaparta.wordpress.com/349/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yogaparta.wordpress.com&amp;blog=3900794&amp;post=349&amp;subd=yogaparta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yogaparta.wordpress.com/2010/06/02/reposisi-seni-kriya-memacu-perkembangan-karya-karya-kriya-mutahir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c0582d6501f8eeedfaf8520c4d3fa825?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yogaparta</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SURAT TERBUKA UNTUK JURUSAN KRIYA ISI DENPASAR</title>
		<link>http://yogaparta.wordpress.com/2010/06/02/oleh-w-seriyoga-parta-mahasiswa-s-2-fsrd-itb-kehadiran-kriya-pada-jenjang-pendidikan-adalah-sebuah-upaya-mengangkat-kriya-dari-hanya-sebagai-artefak-warisan-masa-lalu-untuk-menjadikannya-sebaga/</link>
		<comments>http://yogaparta.wordpress.com/2010/06/02/oleh-w-seriyoga-parta-mahasiswa-s-2-fsrd-itb-kehadiran-kriya-pada-jenjang-pendidikan-adalah-sebuah-upaya-mengangkat-kriya-dari-hanya-sebagai-artefak-warisan-masa-lalu-untuk-menjadikannya-sebaga/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Jun 2010 00:28:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>seriyoga parta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kriya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yogaparta.wordpress.com/?p=344</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: I Wayan Seriyoga Parta Sebagai alumni jurusan Seni Kriya penulis merasa miris melihat perkembangan yang terjadi di Jurusan Seni Kriya ISI Denpasar yang terancam berada dalam ambang kemunduran dan bukan kemajuan. Beberapa indikator yang bisa dipakai melihat realitas ini adalah (1) semakin minimnya minat mahasiswa untuk memilih jurusan Seni Kriya (2) persoalan klasik mengenai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yogaparta.wordpress.com&amp;blog=3900794&amp;post=344&amp;subd=yogaparta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://yogaparta.files.wordpress.com/2008/11/karya-griawan.jpg"></a></p>
<p><strong>Oleh: I Wayan Seriyoga Parta</strong></p>
<p>Sebagai alumni jurusan Seni Kriya  penulis merasa miris melihat perkembangan yang terjadi di Jurusan Seni  Kriya ISI Denpasar yang terancam berada dalam ambang kemunduran dan  bukan kemajuan. Beberapa indikator yang bisa dipakai melihat realitas  ini adalah (1) semakin minimnya minat mahasiswa untuk memilih jurusan  Seni Kriya (2) persoalan klasik mengenai orientasi kekaryaan kriya  antara ke seni murni dan desain, batasan-batasan material wujud  (dimensional) hingga kini masih saja menjadi faktor penghambat  perkembangan seni kriya. Dan anehnya dengan semakin banyaknya dosen yang  studi S-2 di Jawa (ISI Yogyakarta) ternyata tidak mampu merumuskan  jalan keluar bagi persoalan ini.</p>
<p>Dalam tulisan Muka Pendet, Membongkar Karya Kriya TA Mahasiswa, Minggu, 29  Juni 2008. Pak Muka mempertanyakan kelanjutan  karya-karya mahasiswa kriya yang mengarah pada seni murni, yang pada  akhirnya setelah selesai studi lebih banyak “menguap” (menghilang) dari  pada eksis dalam medan seni. Pak Muka juga mengeluhkan kenapa mahasiswa  tidak menoleh ke desain yang pada realitasnya lebih dapat aplikatif  dengan pangsa kerja. Dalam setiap tulisan tentang kriya yang penulis  tampilkan di Bali Post pada tahun 2004-2006 sepertinya sudah cukup  panjang lebar mengurai persoalan ini. Dalam sebuah tulisan tentang karya  TA mahasiswa Kriya 2006 penulis pernah memberi perbandingan sebenarnya  karya-karya murni yang dibuat mahasiswa kriya sangat bisa eksis delam  percaturan seni rupa kontemporer. Seperti yang penulis contohkan dalam  kutipan pameran “Object Hood” 2005 di Yogyakarta. Tulisan tersebut juga  sempat ditanggapi oleh dosen Kriya Keramik Agus Mulyadi Utomo yang pada  intinya mengatakan kondisi kriya di lembaga pendidikan tidak dapat  diperbandingkan dengan term kurasi sebuah pameran.</p>
<p>Tiga tahun telah berlalu dan sekarang  ketika terjadi Bom ke- 3 seni rupa kontemporer Indonesia, karya-karya  yang menggarap <em>object </em>menjadi salah satu kecenderungan dari  karya-karya perupa kontemporer. Kurator Amudjo J. Irianto mengatakannya  sebagai “<em>contingent object</em>” dan yang mencetuskan kecenderungan  itu adalah Kelompok Jendela di Yogyakarta, dan yang lebih penting lagi  salah satu perupa yang inten di dalamnya adalah Handy Wirman jebolan  jurusan Seni Kriya ISI Yogyakarta. Perupa lain yang namanya  tidak  asing dalam percaturan seni rupa kotemporer Indonesia adalah Hardiman  Rajab dosen yang Kriya dai IKJ Jakarta yang juga membuat karya <em>object</em> berupa “koper tua” dari besi atau kayu. Atau yang lebih dekat lagi  Wayan Sujana (Suklu) dosen seni rupa ISI Denpasar yang menggelar pameran  dengan judul “<em>Reading Object</em>” di Gaya Artspace Ubud Bali tgl 26  Juli-26 Agustus 2008.</p>
<p>Kalau masih kurang silahkan cari di  mesin pencari Google atau Yahoo, kita akan temukan puluhan dan bahkan  ratusan karya-karya yang menampilkan intensitas Kriya. Kalau masih  kurang kita bisa cari dengan kata kunci <em>contemporary craft</em> maka  akan muncul puluhan alamat web yang mengetengahkan perkembangan <em>contemporary  craft</em> (kriya kontemporer) dari di dunia dengan kecenderungan yang  beragam baik karya dan juga perkembangan wacananya.</p>
<p>Begitu banyaknya informasi dan begitu terbukanya seni  kontemporer seperti sekarang ini dengan berbagai kecenderungan. Mengapa  realitas yang terjadi pada institusi kriya dalam perguruan tinggi  seperti ISI Denpasar dan sebagian besar pada Institusi Kriya yang lain,  menghadapi persoalan yang klasik. Hal ini membuktikan ada yang salah  dalam sistem pendidikan kriya kita, dalam hemat penulis persoalannya  bukan semata-mata pada kurikulum dengan ada undang-undang  desentralisasi dan otonomi semua sistem dalam pemerintahan dan tentunya  juga pendidikan, telah diberikan keleluasaan dalam menyusun kurikulum  sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Bukankah kurikulum adalah pattern  saja, yang menentukan bagaimana kurikulum itu memberikan pengaruh yang  nyata bagi sistem pendidikan tergantung pada elemen-elemen penggeraknya.  Dalam hal ini berada ditangan dosen sendiri sebagai mediator yang  menjadi mediator sistem tersebut pada mahasiswa.</p>
<p>Keadaan akan menjadi lebih parah jika mahasiswanya tidak  mencoba mencari wawasan di luar dan membangun daya kritis maka  siap-siaplah menjadi korban dalam sistem ini. Dan kini hadir persoalan  baru ketika Seni Kriya kini dijadikan rumpun induk yang mewadahi  disiplin selain material kriya seperti kayu dan sebaginya, juga Seni  Rupa dan Desain. Hal ini dapat dilihat dalam surat edaran yang  dikeluarkan oleh DIKTI dalam kodifikasi rumpun keilmuan yang akan  disertifikasi sebagai implementasi UU Guru dan Dosen. Melihat realitas  yang berlangsung di Jurusan Seni Kriya ISI Denpasar, penulis merasa  tergelitik untuk mengurai kembali persoalan Kriya ini sembari berharap  munculnya kesadaran dari para pengajar Kriya untuk mencari jalan keluar  dari persoalan eksoterik ini…!</p>
<p><em>(Penulis adalah alumni STSI/ISI  Denpasar Th. 2003, dan kini Menjadi Dosen Kriya UNG, dan sedang menempuh  program Magister di Sekolah Pasca Sarjana FSRD ITB)</em></p>
<br />Filed under: <a href='http://yogaparta.wordpress.com/category/kriya/'>Kriya</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yogaparta.wordpress.com/344/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yogaparta.wordpress.com/344/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yogaparta.wordpress.com/344/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yogaparta.wordpress.com/344/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yogaparta.wordpress.com/344/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yogaparta.wordpress.com/344/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yogaparta.wordpress.com/344/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yogaparta.wordpress.com/344/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yogaparta.wordpress.com/344/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yogaparta.wordpress.com/344/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yogaparta.wordpress.com/344/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yogaparta.wordpress.com/344/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yogaparta.wordpress.com/344/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yogaparta.wordpress.com/344/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yogaparta.wordpress.com&amp;blog=3900794&amp;post=344&amp;subd=yogaparta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yogaparta.wordpress.com/2010/06/02/oleh-w-seriyoga-parta-mahasiswa-s-2-fsrd-itb-kehadiran-kriya-pada-jenjang-pendidikan-adalah-sebuah-upaya-mengangkat-kriya-dari-hanya-sebagai-artefak-warisan-masa-lalu-untuk-menjadikannya-sebaga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c0582d6501f8eeedfaf8520c4d3fa825?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yogaparta</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MENCARI JEJAK-JEJAK PERKEMBANGAN: PAMERAN KRIYA SENI K. 2000</title>
		<link>http://yogaparta.wordpress.com/2010/06/02/mencari-jejak-jejak-perkembangan-pameran-kriya-seni-k-2000/</link>
		<comments>http://yogaparta.wordpress.com/2010/06/02/mencari-jejak-jejak-perkembangan-pameran-kriya-seni-k-2000/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Jun 2010 00:23:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>seriyoga parta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kriya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yogaparta.wordpress.com/?p=336</guid>
		<description><![CDATA[Pameran karya kriya seni di Bali memang sangat jarang terutama dari teman-teman kriya di STSI Denpasar, setelah pameran kelompok kriya seni (KRIS) STSI Denpasar tahun 1999 di Museum Sidik Jari. Bisa dicatat beberapa pemeran kriya lainnya oleh kelompok Dua Satu di Barong Galeri, dan beberapa kali pameran angkatan, pameran Tugas Akhir dan Solidaritas Kriya, serta [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yogaparta.wordpress.com&amp;blog=3900794&amp;post=336&amp;subd=yogaparta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pameran karya kriya seni  di Bali memang sangat jarang terutama dari teman-teman kriya di STSI  Denpasar, setelah pameran kelompok kriya seni (KRIS) STSI Denpasar tahun  1999 di Museum Sidik Jari. Bisa dicatat beberapa pemeran  kriya lainnya oleh kelompok Dua Satu di Barong Galeri, dan beberapa kali  pameran angkatan, pameran Tugas Akhir dan Solidaritas Kriya, serta  pameran Dosen Seni Rupa STSI Denpasar di Museum Rudana  beberapa waktu lalu. Selain itu ada beberapa pameran oleh teman-teman  Kriya Seni dari ISI Yogyakarta dan Kriya Keramik Unud. Dalam  perkembangannya yang sporadis, kali ini kriya hadir dalam pameran Kriya  Seni Kelompok K. 2000 yang menggelar karya-karya mereka di Art Center  Denpasar, mereka terdiri atas 9 orang mahasiswa jurusan Kriya STSI  Denpasar.</p>
<p>Melihat karya-karya mereka ada sedikit nafas yang  mengembirakan bagi perkembangan kriya seni. Kecenderungan pendistorsian  bentuk masih terasa mendominasi pengolahan karya-karya mereka, yang  mengambil <em>subjeck matter </em>antara lain; ikan, ayam, singa, kodok,  burung dan wanita. Penampilan karyanya memang cukup <em>perfect</em> terlihat keseriusan mereka dalam menggarap. Nyoman Widnyana mencoba  mengkombinasikan kayu dengan kanvas, potongan figur wanita yang  terbungkus kain dari bahan kayu ia tempel diatas kanvas dan direspon  dengan warna, penempelan ini terlihat relatif berhasil. Figur  wanita yang ditampilkannya terlihat seperti patung Nuarta  yang futuristik. Penampilan yang hampir sama juga terlihat dalam  karya-karya yang lain, namun material yang dipakai bukan kanvas seperti:  Nyoman Budiarta yang mengangkat keeksoterikan tari Bali, dalam karyanya  Budiarta menerapkan warna-warna yang ekpresif untuk mendukung karakter  tari Bali yang penuh gerak karakter bahan (kayu) sudah tidak penting  lagi baginya. Wayan Suarjana yang mengangkat burung Elang.</p>
<p>Sementara Sila Adnyana terlihat dengan setia  mengolah figur wanita yang terpiuh. Disini Sila berusaha mengolah bahan,  karakter bahan sangat dipentingkan dengan mempertahankan serat dan  tesktur kayu untuk mengimbangi bentuk yang sederhana. Sementara Gumantra  masih setia dengan Singanya yang mengalami stiilirisasi, Sudarma dengan  Ayam-ayamnya, Nyoman Sadia sekarang malah beralih dari Lumba-lumba  ke-Angsa, dan Agus Juliana dengan ikan-ikannya. Sementara yang lain  masih asik dengan permasalahan diseputar bentuk dan tema-tema eksoteris,  Dewa Nyoman Mandirawan mencoba mengangkat penomena sosial dengan  memakai Kodok sebagai simbulisasi dengan gayanya yang karikatural.  Seperti dalam karya yang berjudul “Lemahnya Kaki Hukum” disini  membuat seekor Katak yang telah didistorsi sedang diinjak  oleh sebuah sepatu boot, menyiratkan tentang kesewang-wenangan aparat  penegak hukum yang cenderung menindas yang lemah, bukan malah  sebaliknya. Tampilan karya Dewa sangat eksperimental dengan memakai  ayaman bambu, warna hijau kusam dan tekstur yang kasar. Bagaimana dengan  yang lain apakah tidak terketuk hatinya dengan penomena sosial yang  terjadi diseputar kehidupan kita ?.</p>
<p>Secara umum pengolahan dan pencaharian yang  ditampilkan sudah cukup beragam, namun masih merupakan penerusan dari  kecenderungan kriya sebelumnya tidak ada perombakan yang dramatis, dan  tidak ada usaha untuk memperluaskan medium (selain kayu). Penggalian  masih diseputar dua dimensi dengan ketebalan relatif yang sering disebut  <em>out relief</em> (atau relief timbul), belum ada yang mencoba mengolah  permasalahan tiga dimensional (patung). Sehingga masih ada yang  mempermasalahkan karya-karya mereka sebagai lukisan atau bukan,  permasalahan klaim-mengklaim diseputar batasan (katagori) merupakan  masalah yang tidak pernah selesai, walaupun dunia seni rupa saat ini  notebene sudah tanpa batasan lagi dengan hadirnya <em>performace,  instalasi, video art,</em> dan <em>new</em> media lainnya. Memang  permasalahan kriya seni selama ini berada dalam himpitan  antara batasan dua dimensi dan tiga dimensi, dan antara seni murni dan  seni terapan (<em>applide</em>). Apakah salah jika penampilan karya kriya  seperti lukisan ? hal itu sah-sah saja, tapi sudahkah teman-teman sadar  diwilayah mana sedang bermain dan siapa-siapa yang ada didalamnya, serta  memahami sejauhmana penggalian dan pencapaian diwilayah itu ?. Justru  dalam kepungan diantara batasan-batasan tersebut merupakan  celah pencaharian bagi teman-teman, tentunya dengan penjelasan yang  rasional, bukankah seni sudah sangat-sangat flural !</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>W. Seriyoga Parta </strong></p>
<p><em>Tulisan ini dimuat di Bali Post Minggu, 8  Juni 2003</em></p>
<p><em> </em></p>
<br />Filed under: <a href='http://yogaparta.wordpress.com/category/kriya/'>Kriya</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yogaparta.wordpress.com/336/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yogaparta.wordpress.com/336/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yogaparta.wordpress.com/336/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yogaparta.wordpress.com/336/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yogaparta.wordpress.com/336/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yogaparta.wordpress.com/336/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yogaparta.wordpress.com/336/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yogaparta.wordpress.com/336/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yogaparta.wordpress.com/336/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yogaparta.wordpress.com/336/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yogaparta.wordpress.com/336/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yogaparta.wordpress.com/336/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yogaparta.wordpress.com/336/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yogaparta.wordpress.com/336/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yogaparta.wordpress.com&amp;blog=3900794&amp;post=336&amp;subd=yogaparta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yogaparta.wordpress.com/2010/06/02/mencari-jejak-jejak-perkembangan-pameran-kriya-seni-k-2000/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c0582d6501f8eeedfaf8520c4d3fa825?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yogaparta</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KAYU – KAYU TERPIUH: (Catatan dari Pameran Tugas Akhir Mahasiswa ISI Denpasar)</title>
		<link>http://yogaparta.wordpress.com/2010/06/02/kayu-%e2%80%93-kayu-terpiuh-catatan-dari-pameran-tugas-akhir-mahasiswa-isi-denpasar/</link>
		<comments>http://yogaparta.wordpress.com/2010/06/02/kayu-%e2%80%93-kayu-terpiuh-catatan-dari-pameran-tugas-akhir-mahasiswa-isi-denpasar/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Jun 2010 00:20:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>seriyoga parta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kriya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yogaparta.wordpress.com/?p=334</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Seriyoga Parta Selama ini karya seniman dari disiplin kriya selalu absent dalam konstelasi perkembangan seni rupa (Bali, bahkan Indonesia) sedangkan bidang kesenian ini telah hadir dalam beberapa dekade khususnya dalam pendidikan seni di Tanah Air. Kriya dalam perkembangannya yang terakhir mencoba memasuki wilayah seni murni (art for art sich), karena basisnya selama ini lebih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yogaparta.wordpress.com&amp;blog=3900794&amp;post=334&amp;subd=yogaparta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: </strong><strong>Seriyoga Parta</strong></p>
<p><em>Selama ini karya  seniman  dari disiplin kriya selalu absent dalam konstelasi perkembangan seni  rupa (Bali, bahkan Indonesia) sedangkan bidang kesenian ini telah hadir  dalam beberapa dekade khususnya dalam pendidikan seni di Tanah Air.  Kriya dalam perkembangannya yang terakhir mencoba memasuki wilayah seni  murni (art for art sich), karena basisnya selama ini lebih  berkonsentrasi pada seni terapan. Maka hadirlah yang disebut sebagai  katagori kriya seni artinya kriya yang mengedepankan ekspresi – estetik  dalam pewujudannya, untuk memisahkan diri dari kriya yang mempunyai  basis pada seni pakai dalam katagori kriya terapan (apllaid art).  Pemisahan tersebut bertujuan untuk menjelaskan posisi kriya yang selama  ini sepertinya selalu terbaikan dalam pembahasan seni rupa. Sebagai  wujud resistensi seni kriya dari tekanan seni modern yang dikotomis dan  memarjinalkan (craft) seni kriya.</em></p>
<p>Sekarang kondisinya  telah berubah, dimana seni modern telah diberontaki, didekonstruksi,  maka hadirlah karya-karya kontemporer (postmo) yang melampaui  batasan-batasan, dan merombak dikotomi seni modern yang <em>high art </em>dan  seni rupa hadir dalam bingkai<em> visua lart</em>. Artinya kesempatan  telah terbuka bagi karya/seniman termasuk dari basik kriya untuk  bertarung dalam suasana kontemporarisme yang menggusung fluralitas dalam  berkesenian. Akan tetapi sampai saat ini seni/seniman dari disiplin  kriya sepertinya masih enggan untuk menampakkan diri. Berkenaan dengan  situasi tersebut sangat dibutuhkan sebuah usaha untuk menghidupkan  kembali semangat yang telah hilang itu, salah satunya adalah lewat even  pameran. Karena lewat pameran kita dapat membuktikan diri masih bisa  eksis bersaing dengan teman-teman dari disiplin seni yang lain (lukis,  patung, grafis, <em>perfonmace art, video art </em>dan<em> new media</em>/multi  media yang lain).</p>
<p>Namun pameran yang dilaksanakan seniman kriyapun  sangat minim, salah satu wahana untuk melihat dan membaca kehadiran  karya dari disiplin kriya adalah lewat pameran TA. (Tugas Akhir).  Seperti dalam pameran TA. ISI Denpasar yang baru saja dibuka tanggal, 7  Januari 2004 ini, hadir karya-karya 7 orang mahasiswa jurusan kriya yang  sedang menyelesaikan studinya. Sebagai mahasiswa yang sedang menumpuh  Ujian Akhir kesarjanaan mereka dituntut dengan yang namanya konsep  penciptaan dalam berkarya. Adapun subjek matter yang mereka angkat mulai  dari Perempuan (manusia), Kuda, Ular, Ikan, dan Notasi Balok.</p>
<p>Mereka antara lain, I  Ketut Sidaarsa, berusaha mangangkat problematika kehidupan remaja lewat  ikon-ikon seperti jarum suntik, narkoba, sampai sek bebas yang merupakan  ikon pergaulan anak muda sekarang. Sidaarsa berusaha memadukan material  kayu dan objek <em>ready made </em>dengan teknik melukis mengunakan warna  cat minyak. Karya-karyanya menyiratkan kemuraman meskipun mengunakan  warna-warna panas seperti merah, bentuk yang liris menjadikan pengolahan  (deformasi) yang dilakukannya menjadikan karya lemah dan kurang  bertenaga. Hal ini mungkin dimaksudkan untuk menyiratkan kemuraman  dibalik gemerlapnya kehidupan anak muda jaman sekarang. Sangat  kontradiksi dengan kehidupan anak muda yang penuh dengan kegemerlapan,  party, dan melonjak-lonjak, mungkin akan jauh lebih menarik jika  ditampilkan dengan agak nge-Pop. I Made Budi Adnyana hadir dengan  ikan-ikannya yang karikatural memparodikan perilaku manusia  yang sedang memancing, main sky, berjemur, atau naik perahu layaknya  nelayan. Lewat parodi ikan-ikan tersebut rupa-rupannya Budi bermaksud  menyampaikan komentarnya atas ekspoitasi laut yang dilakukan manusia,  metode ini akan sangat menarik sendainya bisa diolah dengan material dan  pengayaan yang lebih kaya daripada harus terjebak pada satu tampilan  yang sepertinya diulang-ulang.</p>
<p>Anthonius Toni Anin mencoba bereksplorasi dengan  bentuk-bentuk primitif, ide tersebut sebenarnya dapat menghasilkan  pengembangan yang menarik. Seperti bagaimana Picasso mengadopsi karater  naïf dari bentuk-bentuk patung dan topeng Afrika untuk menampilkan shock  dalam karekter figur lukisannya dan idenya akan Kubisme. Namun sayang  sepertinya Anton tidak melihat potensi itu dan terjebak dengan  pengolahan yang akhirnya cenderung hanya menjadi sangat dekoratif. I  Wayan Suranta mencoba sesuatu yang lain dengan mengangkat <em>subject   matter</em> notasi balok salah satu karyanya  yang  menarik adalah Gitar yang di-<em>blow up</em> dengan ukuran yang lumayan  besar mencapai 2 m, dan dikombinasikan dengan besi untuk  mengambarkan irama nada yang bergerak mengitari Gitar.  Sebenarnya banyak ekplorasi yang dapat dilakukan dari subjek yang  sederhana ini, dengan insatalasi misalnya, seperti salah seorang seniman  dari Amerika yang menempelkan not lagu pada seluruh dinding ruang  pameran, atau dengan mengkombinasikan dengan suara (musik), dari pada  harus terjebak pada bentuk relief. Sementara I Wayan Adi  Sustawan, Imarun A.A. Lalus (Andre) dan I Made Sunarta Abdi N. sama-sama  melakukan penyederhanaan bentuk yang disebut dengan pemihuhan. Sustawan  mengangkat gerak tubuh wanita, Andre dengan kehidupan remajanya, dan  Sunarta mengolah bentuk Kuda menjadi bentuk yang mirip ular, karakter  Kuda yang perkasa terdistorsi menjadi sangat liris. Tidak ada salahnya  mengangkat kembali penyederhanaan bentuk ini yang sudah lama mengejala  dalam seni patung, Bali, Indonesia, Dunia, bahkan dalam pasar kerajinan  seperti di Ubud tetapi pertanyaannya inovasi apa yang dapat mereka  lakukan supaya tidak terjebak hanya menjadi pengulang-pengulang  (derivat) belaka ?.</p>
<p>Pemiuhan ini diambil dari kata dasar tepiuh,  istilah ini pernah dipakai oleh Jim Supangkat untuk menganalisis  karya-karya patung yang menggali penyedehanaan bentuk dalam perkembangan  seni patung modern Indonesia. Gaya pemihuan (kita sebut saja gaya)  muncul dan sempat merebak pada tahun 70-awal 90 an terutama dalam dunia  akademis dikalangan pematung-pematung dari STSRI (ISI) Yogyakarta dan  ITB Bandung. Fenomena ini sekaligus menandai perkembangan seni patung  modern Indonesia. Sedang di Bali mode telah dikenal dari th 40-an dari  pemahat lokal yang lebih dimotivasi lewat pesanan, dan konon gaya ini  mendapat pengaruh dari patung-patung mexico yang diperkenalkan oleh W  Spies dan seniman Mexico yang datang ke Bali. Karena Bali sejak dari  pemerintahan kolonial telah disetting untuk menjadi daerah pariwisata  karena memiliki potensi kebudayan, kesenian, dan kehidupan relegius yang  unik, yang bagi orang luar (Barat) dianggap sangat eksotis. Itulah  alasan mengapa akhirnya orang-orang luar pada berdatangan ke Bali  termasuk seniman-seniman untuk melihat “surga dunia”.</p>
<p>Perkembangan ini tidak lain juga dipicu dari  kesuksesan pematung Hennry Moor dengan patung figuratifnya yang  menyederhanakan bentuk mancari esensi dari bentuk manusia kedalam  pengolahan formal. Moor adalah salah satu pematung besar dalam  perkembangan seni patung modern barat. Kecenderungan menggali esensi  bentuk tersebut rupa-rupanya juga menginspirasi mahasiswa STSI (sekarang  ISI Denpasar ) dalam berkarya, fenomena ini di STSI (sekarang ISI)  memang sudah marak dilakoni oleh sebagian besar mahasiswa kriya dari  awal th 90-an dan semakin menjadi-jadi pada akhir th 90 sampai di th  2000-an ini. Ada dua kesimpulan yang dapat ditarik dari fenomena ini,  satu sisi penggalian ini merupakan obsesi mengejar esensi bentuk yang  pada titik ekstremnya membebaskan bentuk dari ikatan di luar seni rupa  (mencari bentuk demi bentuk itu sendiri) yang diwarisi dari formalisme  dalam seni modern. Sedangkan disisi lain merupakan kilah bagi ketidak  mampuan secara teknik untuk membuat bentuk yang realis, hal  ini akan sangat nampak jika tidak dibarengi dengan pemahaman dari apa  yang ingin dikejar,serta mengetahui dan memahami konsep nilai historis  dari gaya yang diambil.</p>
<p>Dibandingkan  dengan kawan-kawan meraka dari seni lukis, karya-karya 7 mahasiswa  kriya ini jauh lebih baik minimal dari segi teknis dan keterampilan (<em>craftsmanship</em>).  Bangkit rupa realistik merupakan satu indikasi betapa pentingnya  ketermpilan (<em>craftsmanship)</em> dalam era kontemporer yang mensahkan  segala bentuk pencaharian. Tentunya harus dibarengi dengan gagasan,  sehingga tidak terjebak pada <em>craftsmanship </em> belaka.  Seminimal apapun usaha mereka ini patutlah dihargai, karena tidak dapat  ditampikkan juga benturan-benturan antara keinginan untuk bebas dan  represifnya sistem bimbingan yang mereka alami dalam proses  menyelesaikan Tugas Akhir ini. Paling tidak ini adalah sebuah awalan  yang bagus untuk memasuki dunia seni (<em>art world</em>) yang sebenarnya,  dalam bingkai visual art dengan segala kebebasan, tanpa  belenggu, tanpa harus terbebani dengan wacana dikotomi lagi untuk  bereksplorasi sebebas-bebasnya. Pertanyaan saya adakah dari 7  teman-teman ini merasa tertarik untuk memasukinya, atau kembali harus  membiarkan semangat itu hilang dengan sendirinya ?. Sehingga semakin  menegaskan bahwa seniman dari basik kriya memang tidak pernah akan bisa  bersaing atau paling tidak mengikuti hiruk-pikuknya perkembangan seni  rupa. Kalau memang itu yang terjadi, kemudian untuk apa ada jurusan seni  kriya, untuk apa ada katagori kriya seni (kriya murni)?</p>
<p><strong> </strong></p>
<br />Filed under: <a href='http://yogaparta.wordpress.com/category/kriya/'>Kriya</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yogaparta.wordpress.com/334/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yogaparta.wordpress.com/334/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yogaparta.wordpress.com/334/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yogaparta.wordpress.com/334/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yogaparta.wordpress.com/334/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yogaparta.wordpress.com/334/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yogaparta.wordpress.com/334/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yogaparta.wordpress.com/334/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yogaparta.wordpress.com/334/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yogaparta.wordpress.com/334/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yogaparta.wordpress.com/334/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yogaparta.wordpress.com/334/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yogaparta.wordpress.com/334/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yogaparta.wordpress.com/334/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yogaparta.wordpress.com&amp;blog=3900794&amp;post=334&amp;subd=yogaparta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yogaparta.wordpress.com/2010/06/02/kayu-%e2%80%93-kayu-terpiuh-catatan-dari-pameran-tugas-akhir-mahasiswa-isi-denpasar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c0582d6501f8eeedfaf8520c4d3fa825?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yogaparta</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BEBERAPA CATATAN UNTUK KRIYA ; DALAM PAMERAN TUGAS AKHIR (TA) 2005 ISI DENPASAR</title>
		<link>http://yogaparta.wordpress.com/2010/06/02/beberapa-catatan-untuk-kriya-dalam-pameran-tugas-akhir-ta-2005-isi-denpasar/</link>
		<comments>http://yogaparta.wordpress.com/2010/06/02/beberapa-catatan-untuk-kriya-dalam-pameran-tugas-akhir-ta-2005-isi-denpasar/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Jun 2010 00:17:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>seriyoga parta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kriya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yogaparta.wordpress.com/?p=331</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Seriyoga Parta Jika dalam art world di Barat craft mengalami resistensi akibat dikotomi yang kuat dalam masa seni modern, sehingga kemudian menghadirkan craft art movement, atau bentuk-bentuk yang hybrid seperti modern craft atau contemporary craft. Masih digunakannya label craft dalam hal ini menunjukkan adanya resistensi untuk membedakan lingkup craft dengan art walaupun dalam prakteknya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yogaparta.wordpress.com&amp;blog=3900794&amp;post=331&amp;subd=yogaparta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Seriyoga Parta</strong></p>
<p>Jika dalam <em>art world </em>di Barat <em>craft </em>mengalami  resistensi akibat dikotomi yang kuat dalam masa seni modern, sehingga  kemudian menghadirkan <em>craft art movement</em>, atau bentuk-bentuk yang  <em>hybrid </em>seperti <em>modern craft </em>atau <em>contemporary craft</em>.   Masih digunakannya label <em>craft</em> dalam hal ini  menunjukkan adanya resistensi untuk membedakan lingkup <em>craft</em> dengan <em>art</em> walaupun dalam prakteknya tidak lain mengadopsi kaidah  <em>fine art</em>. Artinya intensi penciptaannya lebih ditujukan kepada  seni untuk seni. Sedangkan di Indonesia –bisa dikatakan <em>art</em> <em>world </em>lokalnya tidak seperti di Barat, dimana kriya tidak mengalami  tekanan dikotomi dari seni murni (lukis, dan patung). Dan kini lebih  menyuruk lagi di ISI Denpasar khususnya dalam pameran Tugas Akhir  Kesarjaan (TA) yang digelar di Art Centre Denpasar, yang diikuti oleh 6  orang calon sarjana kriya. Resistensi yang terjadi berupa pengekslusian  diri, namun ironisnya tanpa pernah mampertimbangkan medan seni yang  lebih luas. Hal ini bisa dilihat dari tahun ke tahun, karya-karya yang  hadir dari STSI/ISI Denpasar sepertinya bergerak dalam siklus yang  sangat lamban, karena saking lambannya pergerakan yang terjadi nyaris  tidak dapat diidentifikasi.</p>
<p>Permasalahan klasik yang menjadi titik berat dari karya-karya  yang dihadirkan masih hanya diseputar, kebentukkan, pemilihan subject  matter, dan beberapa sepertinya masih mempunyai masalah pada persoalan  teknis. Lihatlah karya-karya Fiktor J.A Isu yang inspirasi dari cinta, I  Nyoman Murya dengan mengambil inspirasi dari ikan hias atau karya  I Nyoman Sudarma, yang berebut subjek mater dengan I Made Agus Suryawan  yang mengangkat ayam sebagai sumber inspirasi. Karya Agus digarap  dengan sangat telaten dan difinishing dengan baik dan ferfeks. Begitu  juga karya I Wayan Suardana yang mengangkat persolan diseputar prilaku  anak-anak, I Ketut Muliartajaya dengan ekspresi gerak kudanya, I Komang  Widnyana dengan wanitanya yang erotik, dan I Nyoman Budi<em>a</em>rta  dengan gemulai gerak tari Olegnya.</p>
<p>Sementara I Made Guntur yang mengangkat proses kelahiran dalam  beberapa karya cukup eksploratif dalam penggalian kebentukan.  Karya-karya yang digelar dalam pameran ini sebagian besar tidak  sepertinya tidak bisa keluar dari bingkai lirisisme. Kecenderungan yang  diwarisi dari th 90-an ini terus dilakoni sampai saat ini dan ironisnya  tidak pernah muncul usaha untuk mempertanyakan apalagi  mempermasalahkannya sebagai bahasa ungkap yang sahih di kalangan seniman  kriya khususnya di ISI Denpasar. Akan tetapi kesungguhan dan kerja  keras mereka dalam mengarap karya-karya dalam rangka menyelesaikan tugas  akhir ini patutlah dihargai, walaupun karya-karya ini mungkin menjadi  karya “<em>master piece” </em>(karya terakhir) mereka. Karena besar  kemungkinan setelah tamat mereka akan meninggalkan kerja kreatif ini,  sungguh ironis memang. Tapi begitulah kenyataannya setelah bersusah  payah selama empat setengah tahun menyelesaikan 140 lebih SKS, akhirnya  ditinggalkan begitu saja.</p>
<p>Baiklah kita kembali mencoba  melihat persoalan <em>craft</em> di Barat. Jika dalam era  modern <em>craft</em> mengalami tekanan dari <em>fine art</em>, maka  sekarang dalam era pasca modern ini kriya mulai mendapatkan angin segar.  Seperti diungkapkan oleh Sue Rowley (salah satu kritikus yang konsen  dengan wacana kriya dalam era pasca modern<em>) “ pada  prinsipnya, pasca modernisme membawa sikap yang lebih positif terhadap  kriya bila dibandingkan dengan modernisme. – banyak seniman, termasuk  juga seniman instalasi dan tekstil, mengunakan “kriya”  justru  untuk melakukan refleksi kritis atas pertanyaan pembentukan sosial  serta pengalaman temporal dalam konteks ekonomi politik global yang kini  muncul… ”</em>. Kriya dibicarakan disini adalah dalam konteks tradisi  yang dalam era pasca modern ini berfungsi sebagai ciri kreatifitas  alternatif berbasis –komunitas, yang resisten terhadap ide modernis  tentang genius yang heroik jelas Sue Rowley lebih lanjut.</p>
<p>Hal ini dapat dilihat dari  maraknya pameran-pameran yang berbasis <em>craft</em> seperti Bienale atau  Trienale <em>Craft</em> baik di Amerika, Jepang dan Australia ditahun  belakangan ini. Begitu juga di Indonesia sendiri pada th 1998  diselenggarakan dua pameran sekaligus “Pola Hias Dalam Seni Kontemporer <em>“ </em><strong>Makna yang Berlapis-lapis</strong><em>” </em> yang  dikuratori oleh Merryn Gates, dan Mengungkap Rupa Dekoratif, Makna yang  Berlapis, yang dikuratori oleh Jim Supangkat dan Asmujdo J. Irianto yang  disponsori oleh Asialink, Canberra School of <em>Art</em> Gallery, dan  Australian National University. Yang menarik dalam pameran ini adalah  upaya untuk mengangkat pola hias (ornamen) dalam karya seni kontemporer.  Setahun kemudian, pada tahun1999 ada pameran Media dalam Media,  Instalasi Sebagai Media Ekspresi, di Galeri national Jakarta , yang  menampilkan karya-karya instalasi dari keramik, kayu, bambu, tekstil dan  logam yang kebanyakan memiliki kecenderungan dekoratif.</p>
<p>Pada th 2002 di Galeri Nasional  Jakarta  kembali diselenggarakan pameran bertajuk <em>Contemporary  Japanese Crafts, </em>yang menyajikan karya-karya keramik, tekstil,  kayu, serat, dan logam. Demikian pula dalam Cp–Open Biennale yang juga  diselenggarakan di Galeri Nasional Jakarta  th 2003, juga  mencampurkan karya-karya yang digolongkan kriya atau kriya seni dengan  karya dalam lingkup <em>fine art</em>. Belum lama ini di Yogyakarta juga  digelar pameran Kriya Kontemporer yang bertajuk <em>“Object Hood”</em> di  Gedung Sosietet, Taman Budaya Yogya, atau pameran yang bertajuk “Art  Portable” oleh Aditya Novali yang seorang arsitek di Cp-Art Space  Jakarta beberapa  bulan yang lalu. Menghadirkan karya-karya  yang sebagian besar memakai material kayu dengan kualitas <em>craftsmanship</em> yang sangat tinggi. Hingga pameran Seniman Keramik Muda se-Indonesia  yang baru saja berakhir di Galeri Nasional Jakarta . Hadirnya seniman  dari basis kriya seperti Hendrawan Rianto, F. Widayanto, Nia dan Agus  Ismoyo, Anusapati, Nur Sudiati, Hardiman Rajab, Asmujdo J Irianto sampai  Handy Wirman S. dalam berbagai perhelatan seni rupa di tanah air  menunjukkan perkembangan yang signifikan dari disiplin bidang ini.</p>
<p>Pertanyaan yang muncul kemudian,  sadarkah mahasiswa dan terutama para dosennya akan pergerakan dan  perkembangan ini ? Namun yang jelas dari berbagai diskusi  sampai saat ini “mereka” sepertinya masih dibingungkan pada masalah  kebentukan, dan kalim diseputar batasan wilayah dimensionaL. <em>Key word</em>-nya  adalah, bagaimana kalau seniman kriya membuat karya tiga dimensi  bukankah itu patung? Ini adalah persolan esoteris yang  seharusnya sudah ditinggalkan, karena hampir 30 th yang lalu tepatnya th  1975, Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB) telah meretas batasan-batasan  tersebut.</p>
<p>Keadaan ini sekaligus  menyiratkan bahwa wacana <em>craft</em> di Indonesia terlebih lagi dalam  lingkup akademis masih sangat sederhana dibandingkan sofistikasi wacana <em>craft</em> di Barat, merujuk pada pernyataan Asmudjo J Irianto (seniman keramik,  kurator, dan dosen di ITB Bandung) dalam sebuah esainya. Ini berarti  wacana kriya di sini tidak jalan, bisa dikatakan tidak ada debat yang  intens antara <em>craft </em>dan <em>art</em>.  Lalu apa yang  harus dilakukan untuk menyikapi persoalan ini? Lebih lanjut Asmudjo  menjelaskan <em>”wacana dan konsep yang diproduksi oleh perguruan tinggi  seni rupa, yang dalam hal ini masih cukup dominan  menjalankan  prinsip-prinsip seni rupa modern ala Barat, bisa segara diperiksa. Kita  juga dapat mengacu pada perbincangan di luar perguruan tinggi seni,  dalam hal ini ada dua kemungkinan, <strong>pertama;</strong> dengan memeriksa  perbincangan pada wilayah fenomena praktek yang diasumsikan oleh  perguruan tinggi sebagai wilayah craft. <strong>Kedua;</strong> memeriksa apa yang  ditetapkan sebagai craft oleh masyarakat.” </em>Saya kira ini  membutuhkan konsen dari segenap elemen yang merasa berkepentingan dengan  persoalan kriya, terutama para dosen dan yang lebih penting lagi  mahasiswa sebagai agen dari perubahan.</p>
<p><strong> </strong></p>
<br />Filed under: <a href='http://yogaparta.wordpress.com/category/kriya/'>Kriya</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yogaparta.wordpress.com/331/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yogaparta.wordpress.com/331/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yogaparta.wordpress.com/331/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yogaparta.wordpress.com/331/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yogaparta.wordpress.com/331/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yogaparta.wordpress.com/331/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yogaparta.wordpress.com/331/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yogaparta.wordpress.com/331/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yogaparta.wordpress.com/331/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yogaparta.wordpress.com/331/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yogaparta.wordpress.com/331/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yogaparta.wordpress.com/331/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yogaparta.wordpress.com/331/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yogaparta.wordpress.com/331/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yogaparta.wordpress.com&amp;blog=3900794&amp;post=331&amp;subd=yogaparta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yogaparta.wordpress.com/2010/06/02/beberapa-catatan-untuk-kriya-dalam-pameran-tugas-akhir-ta-2005-isi-denpasar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c0582d6501f8eeedfaf8520c4d3fa825?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yogaparta</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
