Oleh: I Wayan Seriyoga Parta*
Kiki Rizki Rahardiyan (Kibas) adalah seniman muda lulusan FSRD ITB Bandung yang kini menjadi salah satu seniman muda yang sedang memarakkan perkembangan seni rupa kontemporer Bandung. Dalam karya-karyanya banyak mengangkat benda-benda keseharian yang remeh-temeh seperti; tanaman, terong, daun, roti, pipa, makanan, kaleng, botol, mesin dan benda-benda lainnya. Obyek-obyek tersebut dia potret untuk kemudian dikomposisikan, disusun, menjadi sesuatu yang “lain”, obyek-obyek tidak saja dia gambarkan secara mimetik namun hasil pengkomposisian yang dibuatnya berhasil memunculkan sebuah pemaknaan yang baru.
Secara visual dalam karya ini ada beberapa obyek antara lain; sebuah mesin chainsaw berwarna hitam. Pada bagian stik pita rantainya terdapat tulisan; CRAFTSMAN 18”yang tertera dalam mesin chainsaw ini menandakan ukuran/tipe mesin tersebut. Obyek kedua, sekotak makanan kaleng kornet sapi, Pada bagian atas terdapat susunan bilah-bilah panjang berwarna hijau yang mungkin agak sulit identifikasi namun jika dilihat lebih detail terdapat pucuk-pucuk daun menandakannya sebagai batang tanaman. Pada bagian bawah terdapat tulisan resemble a dragonfly.
Mensin chainsaw (gergaji), kaleng kornet sapi, disusun dalam posisi terbalik dan dalam komposisi yang horisontal dan ditambah dengan susunan batang tanaman pada bagian atas dapat dilihat menyerupai sayap, gerigi gerjaji yang tajam mengasosiasikan pada gigi-gerigi tajam (makhluk), daging kornet dapat diasosiasikan sebagai daging yang melindunggi otot dan saraf dalam struktur tubuh (badan) mahluk hidup (binatang, manusia). Struktur gergaji dari besi dan kaleng kornet menyiratkan kulit yang keras dari mahluk yang diasosiasikan oleh tanda-tanda dalam karya ini. Sementara susunan batang tanaman yang secara sekilas memberi kesan sayap serasa dipertegas dengan karakter elastis dari batang tanaman tersebut yang bisa dilengkungkan semakin memperkuat asosiasi kita bahwa itu memang seperti sayap.
Namun sampai ditataran ini masih belum ada kejelasan mahluk apa kiranya yang dimaksudkan, ketika menoleh ke bagian bawah pada teks resemble a dragonfly, yang dapat diterjemahkan sebagai; “seperti naga” kita seperti dihantarkan pada mahkluk yang ingin diasosiasikan oleh sang seniman. Letwat eks ini pembaca dapat diarahkan bahwa yang dimaksud adalah Naga, mahluk berupa ular bersayap memiliki gigi yang tajam seperti gergaji, kulit yang keras seperti logam (besi/baja) dan memiliki sayap seperti burung yang menjadikannya bisa terbang diangkasa. Lagi-lagi hal ini sudah dipersiapkan oleh sang seniman obyek gergaji dan kaleng kornet yang mengambang dan bahkan berada dalam posisi yang terbalik namun tidak jatuh. Sang seniman menampilkan benda gerjaji yang memiliki bobot yang tidaklah ringan begitu pula kornet kaleng yang tidak tumpah, mampu melawan kaidah gravitasi karena ditopang oleh “sayap”-susunan batang tanaman. Latar belakang kuning terang yang flat datar tidak terdapat landspace ataupun awan, memberi penegasan walaupun kita semua mahfum dengan sosok naga ini, namun sebetulnya mahkluk ini hanyalah imajiner dia terlahir dari mitologi Tiongkok. Dari ratusan tahun yang lalu menyebar keseluruh dunia lewat perkembangan kebudayaan.
Sampai disini sesungguhnya rangkaian tanda yang melahirkan makna “baru” dalam karya Kibas tidaklah berhenti. Sosok Naga sendiri mengandung persoalan baru, kehadirannya sebagai mitos dalam kebudayaan Tiongkok mengandung persoalan. Pada bilah sisi yang lain Naga dapat diasosiasi bagi kebangkitan China sebagai kekuatan baru tidak saja dalam ekonomi-kapitalis Timur setelah Jepang dan Korea dan kini juga India. Dan juga sebagai kekuatan baru dalam perkembangan kebudayaan terutama seni rupa kontemporer. Memberi angin segar pada perkembangan seni rupa kontemporer terutama di wilayah Asia dan mampu mencuri perhatian Barat (yang dulu mendudukkan dirinya sebagai “pusat” perkembangan Modern).
Barthes adalah pemikir semiotika yang memberi penekakan pada makna denotasi dan konotasi, mitos menurut Barthes dikonstruksi pada kedua tataran tersebut. “Mitos menaturalisasikan konotasi, yaitu menjadikan konotasi seakan-akan sebagai denotasi. Mitos mentransformasikan sejarah (history) menjadi alam (nature)” seperti hanya sosok naga yang susungguhnya lahir dari wilayah imanatif manifestasi pemikiran ideal sebuah kebudayaan. Ia mengandung makna-makna simbolik perihal kehidupan, dari proses regenosiasi, benturan, penaklukan dan juga perlawanan mitos naga hadir menjadi produk budaya yang dikenal secara luas. Dan kebudayaan pendukungnya-Cina- hingga kini terus menghidupkan mitos tersebut sebagai kekuatan budaya yang dapat memberikan landasan bagi gerak-laju dan semangat bagi kelompok masyarakat (society) penopangnya.
Meskipun bersifat subyektif sesungguhnya karya ini mengandung muatan yang terkait dengan kesadaran obyektif, karena dihasilkan oleh internalisasi pribadi seniman secara visual ia kerap terbungkus dalam tanda-tanda yang kelihatannya sederhana dan sangat pribadi dan sering sulit/tidak terbaca. Karya Kibas begitu dia kerap dipanggil menyerap nafas contemporary arts yang identik dengan surface (permukaan), ringan, sekilas mudah dimengerti karena mengangkat ikon-ikon contemporary culture ternyata juga mengandung ruang reflektif.
*Penulis adalah, Staf Pengajar Seni Rupa UNG, Mahasiswa Pascasarjana FSRD ITB Bandung angkatan 2008

0 Responses to “Makna yang Berlapis Pada Karya “The Flying of Chainsaw # 2””