Oleh: W. Seriyoga Parta, (Mahasiswa S-2 FSRD ITB)

Kehadiran kriya pada jenjang pendidikan adalah sebuah upaya mengangkat kriya dari hanya sebagai artefak warisan masa lalu, untuk menjadikannya sebagai seni yang masih bisa eksis dan terhormat sekaligus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman. Ini adalah tugas berat insan kriya.

Perubahan senantiasa menyertai setiap gerak laju perkembangan zaman, praktek seni kriya yang pada awalnya sarat dengan nilai fungsional, kini dalam prakteknya khususnya di akademis seni kriya mengalami pergeseran orientasi penciptaan. Sebagian dari kriya kemudian menjadi hanya karya untuk pajangan semata dengan kata lain semata-mata seni untuk seni. Pergerakan ini kemudian melahirkan kategori-kategori dalam tubuh kriya, kategori tersebut antara lain kriya seni, dan desain kriya. Dalam kategori kriya seni penciptaan kriya diarahkan pada seni murni (fine art), sementara dalam kategori yang lain kriya menyerap kaidah desain dan kecenderungan karyanya mengarah ke fungsional.

Walaupun pilihan telah disediakan bagi para kriyawan, pada kenyataannya dalam praktek kriya di perguruan tinggi umumnya mahasiswa dan bahkan dosen kriya lebih berminat untuk membuat karya bebas dalam artian tidak fungsional. Fenomena kriya {seni} berlangsung sejak lama terutama bisa dilihat dalam Tugas Akhir mahasiswa. Jika ditelisik dari sejarahnya karya kriya sesungguhnya terkandung nilai seni (estetik) dan juga nilai fungsi yang utuh dan padu di dalamnya, contohnya dapat dilihat dalam keris.

Seperti yang kita ketahui dalam penjabaran disiplin seni rupa pada pendidikan dibedakan menjadi dua seni murni dan seni terapan, yang termasuk dalam seni murni yaitu; seni lukis, seni patung dan seni grafis. Sedangkan yang termasuk dalam seni terapan antara lain desain. Dan seni kriya yang kemudian menempati posisi berada dalam irisan dari kedua disiplin tersebut.

Seni murni jelas menghasilkan seniman lukis pematung dan pengrafis yang karya-karya mereka masuk dalam mekanisme institusi seni modern, yaitu: galeri dan museum di dalamnya ada jaringan infrastruktur seperti: penulis, kritikus, kurator yang membangun dan menjaga nilai dari karya, serta didukung oleh keberadaan galeri yang dibelakangnya tentunya bekerja mekanisme pasar sebagai penopang nilai. Begitu juga disiplin desain memiliki alur yang jelas, melahirkan desainer profesional baik dalam grafis desain (DKV), desain interior dan desain produk, memiliki pangsa pasar kerja yang jelas mereka kemudian diserap oleh dunia advertesing atau properti.

Sementara seni kriya yang kemudian bergerak pada himpitan antara seni murni dan desain. Dipersilakan untuk memilih, namun diantara kedua pilihan tersebut tak ada satupun diantara keduanya yang dengan sukses dimasuki oleh para kriyawan kita. Bagi yang berkarya murni karya-karya mereka kemudian terbukti tidak mampu bersaing dengan seni lukis dan patung. Dan yang memilih membuat karya-karya fungsional ternyata juga kurang begitu mampu bersaing dengan karya-karya dari para desain interior dan desain produk. Sementara dalam realitas yang lain mereka yang dikategorikan sebagai perajin tanpa harus mengenyam pendidikan kriya, jauh lebih mampu mengikuti perkembangan pasar kerajinan {kriya} baik di dalam maupun luar negeri.

Ada apa gerangan dengan institusi kriya kita? Dalam sebuah essai di media masa lokal belum lama ini seorang dosen kriya mengeluhkan kondisi mahasiswa kriya yang cenderung lebih memilih membuat karya seni (nonfungsional), namun pada akhirnya aktivitas kekaryaan mereka hanya berhenti pada Tugas Akhir saja. Kemudian setelah lulus mahasiswa kriya tidak siap (kelimpungan) dalam menghadapi persaingan pada medan yang mereka hadapi. Ini persolan yang dihadapi oleh institusi kriya saat ini. Di sisi lain, kini kriya merupakan mata pelajaran wajib bagi siswa tingkat dasar hingga menengah. Namun, animo siswa untuk memasuksi jurusan kriya dari waktu kewaktu cenderung semakin menurun, semua ini merupakan persoalan besar yang dihadapi institusi kriya di tanah air.

Keluhan dosen tersebut menurut hemat penulis seharusnya diarahkan pada dirinya sendiri sebagai pengajar seni kriya dan institusi kriya. Mengapa kemudian mahasiswa yang mereka hasilkan ternyata tidak siap menghadapi pangsa kerja, menjadi disainer kriya yang menghasilkan karya fungsional yang mampu bersaing atau karya non fungsional bersaing pada medan seni rupa. Kondisi mahasiswa tersebut adalah cerminan dari kegagalan insitusi kriya mempersiapkan lulusannya dalam penghadapi persaingan yang kemudian harus hadapi. Mahasiswa dalam hal ini adalah korban dari ketidakberhasilan institusi kriya itu sendiri, mahasiswa yang seharusnya dibimbing dengan baik bukan malah dikeluhkan.

Dalam prakteknya, mahasiswa kriya umumnya diberikan keleluasan memilih konsentrasi yang mereka minati, akan tetapi tidak ditopang dengan bimbingan yang maksimal dari dosen sesuai dengan pilihan tersebut. Misalnya pilihan untuk berkarya nonfungsional mahasiswa dibebaskan untuk bereksplorasi menurut minat mereka, namun tidak ditopang dengan wawasan terhadap medan seni rupa, serta perkembangan yang terjadi di dalamnya. Hingga analisis yang bisa melahirkan strategi untuk bisa memasuki dan kemudian bisa eksis dalam medan seni rupa, adalah suatu yang asing bagi mahasiswa kriya dan tentunya juga pengajarnya sendiri. Sehingga wajar jika kemudian karya dan pameran yang umumnya dilaksanakan dari disiplin seni kriya hanya berbicara sendiri dan terasa masturbasi sendiri.

Sudah saatnya intitusi kriya bercermin pada diri sendiri dan melihat realitas, harus dilakukan pengkajian terhadap sistem di dalam institusi kriya, mulai dari kurikulum dan implementasinya pada tataran praktek dalam perkuliahan. Orientasi kriya harus dipertajam sehingga mampu mengarahkan dan mempersiapkan lulusannya menjadi profesional dibidangnya. Keberadaan seni kriya yang berada pada titik sumbu antara seni murni dan desain seharusnya dimaknai sebagai keuntungan/potensi bukan masalah. Karena dalam prakteknya kedua pelajaran tentang kaidah seni dan desain diberikan pada mahasiswa kriya, ditambah lagi penguasaan teknis/craftmenship yang wajib dimiliki insan kriya adalah modal. Dengan modal tersebut insan kriya memiliki keleluasaan bergerak dan bahkan bisa menghasilkan bentuk hibrida dari perpaduan keduanya. Dosen dalam hal ini seharusnya bertugas memberi pendampingan dan bimbingan benar sehingga pilihan yang diambil mahasiswa dapat berhasil maksimal. Bukan malah mengeluh pada anak didiknya sendiri, jika merasa tidak mampu tidak ada salahnya mendatangkan narasumber frofesional sesuai bidang yang diinginkan. Karena keberhasilan dan kesuksesan mahasiswa pasca kuliah adalah kesuksesan institusi itu sendiri.***


8 Responses to “MENGUGAT INSTITUSI KRIYA PADA PERGURUAN TINGGI”


  1. 1 Nur
    November 20, 2008 at 1:41 pm

    aha,..bru bisa d’liat BLOG nya…=)
    bagus dech bisa ngasih masukan buat saya …GOOD LUCK pak yoga…ntar konsep blog saya jg mo d tukar kpd yg lebih ilmiah jga dech…lbih seru dan berilmu gtu!

  2. 2 Irvan A. Noe'man
    June 14, 2009 at 1:57 pm

    Kriya berbasis produk desain, adalah yang diperlukan sekarang.
    Pendidikan di tingkat perguruan tinggu harus, memperluas wawasan akan pentingnya kriya berbasis produk desain.

    • 3 yogaparta
      June 14, 2009 at 4:11 pm

      halo mas irvan..terimakasih atas responnya…
      saya pikir para pelaku kriya terutama di perguruan tinggi harus punya rangcangan strategis untuk mengarahkan kriya sesuai dengan spirit zaman..jika tidak mau tanggung–hadir tak jelas dan output jadi kebingungan menghadapi realitas di luar kampus yang menuntut profesionalitas..

  3. June 18, 2009 at 5:30 am

    Kenyataan kriya pada saat ini cuckup membingungkan, saya setuju dengan pendapat saudara Seriyogaparta..bahwa keberhasilan dan kesuksesan mahasiswa yang bergelut dibidang ini adalah jg merupakan tanggung jawab para pembimbing kriya yang dalam hal ini dalah dosen yang bersangkutan. Heribertus Joseph B, (Mahasiswa Kriya ISI Denpasar)

    • 5 yogaparta
      June 18, 2009 at 3:29 pm

      sebetulnya anda (kita) tidak usah bingung, ketidak jelasan kriya kalo kita mau bilang seperti itu, justru menguntungkan kita..saya sebagai alumnus kriya tidak pernah menyesal, kini saya menulis tentang kriya, jadi kurator seni rupa, dan juga dosen kriya..intinya adalah kesadaran anda&kawan2, tak usah mengeluh, tapi bangun sikap kritis dan berbuatlah sesuatu…! saya tunggu movement ada….

  4. June 18, 2009 at 6:41 am

    Tanggapan buat saudara Irvan A,Noe’man atas pernyataannya diatas: “Kriya berbasis produk Desain”, yang bagi saya (yg berkcimpung dlm bidang ini) rasanya blom mnemukan titik temu. Pernyataan saya skedar utk dicari pemecahannya, seandainya aktualisasi kriya yg digeluti hampir sebagian mahasiswa kriya, lebih ditekankan pada Kekriyaan yang sarat Ekspresi. Pertanyaannya, bagaimanakah menyatukan antara kriya berbasis produk desain dengan Kriya yg lebih menekankan syarat Ekspresi?? waduh..aku smakin tambah bingung ni..Heribertus Joseph B. (Mahasiswa ISI Denpasar)

    • 7 yogaparta
      June 18, 2009 at 3:38 pm

      ini saya kira masalah klasik kriya dari dulu, masih terus mempersoalkan seni murni dan terapan, padahal dalam kenyataan sekarang sangat sulit membedakan secara jelas seni murni dan desain misalnya, kita ambil saya perkembangan seni rupa kontemporer sekarang semuanya masuk dan tidak ada batasannya. begitu juga desain, sangat banyak yang art sekali dan fungsi adalah kedua.. bukan lagi form follow function,itu kredo lama..kenyataan disekitar kita telah melesat jauh..nah kalau kawan2 akademis tidak pandai untuk merumuskan strategi visi dan misi kriya saat ini, ya hari gini masih bingung apa kata dunia…hehehe

  5. June 22, 2009 at 2:25 am

    Benar Bung!! Ternyata dunia menertawakan saya..hehe..seharusnya kita sebagai masyarakat akademis yg bergelut dibidang kriya, semestinya tak perlu bingung menghadapi realita kriya pada saat sekarang, coba kita kembali pada hati nurani kita masing2 dengan dua pilihan trsebut, (Karena sejatinya kriya berada ditengah persimpangan, antara kriya sbg seni murni dan kriya sbg produk desain). Skarang kita tinggal milih yg mana harus kita manuti brdasarkan ide dan nurani kita. Sedikit ni mengutip tesis pendidikan kriya dr Imam Buchori yg mngatakan: “Apabila seni Kriya semakin dekat dengan wilayah desain, maka akan terasa semakin jauh dengan seni murni, otomatis pola pikir desain yg rasional-fungsional akan semakin kental. Sebaliknya semakin dekat dengan wilayah seni murni maka semakin besar pula intesitas ekspresi estetiknya” Ok Bung Yoga…gw baru puas skrng.. Salam.


Leave a Reply




Authors

My Frofile

Sejak tahun 2006 menjadi tenaga pengajar tetap seni rupa/kriya pada Universitas Negeri Gorontalo, selain mengajar juga aktif menulis dan menjadi kurator untuk pameran seni rupa. Kini sedang menempuh pendidikan Magister Seni Rupa di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung

 

December 2009
M T W T F S S
« Nov    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Categories

Recent Comments

yogaparta on MENGENAL ORNAMEN
jon on MENGENAL ORNAMEN
ariestya dwi on Pengertian Seni Kriya
yogaparta on “SHADOW”: PAMERAN KELOMPOK K.…
yogaparta on Pengertian Seni Kriya

Blog Stats

  • 30,337