Oleh: I Wayan Seriyoga Parta
Sebagai alumni jurusan Seni Kriya penulis merasa miris melihat perkembangan yang terjadi di Jurusan Seni Kriya ISI Denpasar yang terancam berada dalam ambang kemunduran dan bukan kemajuan. Beberapa indikator yang bisa dipakai melihat realitas ini adalah (1) semakin minimnya minat mahasiswa untuk memilih jurusan Seni Kriya (2) persoalan klasik mengenai orientasi kekaryaan kriya antara ke seni murni dan desain, batasan-batasan material wujud (dimensional) hingga kini masih saja menjadi faktor penghambat perkembangan seni kriya. Dan anehnya dengan semakin banyaknya dosen yang studi S-2 di Jawa (ISI Yogyakarta) ternyata tidak mampu merumuskan jalan keluar bagi persoalan ini.
Dalam tulisan Muka Pendet, Membongkar Karya Kriya TA Mahasiswa, Minggu, 29 Juni 2008. Pak Muka mempertanyakan kelanjutan karya-karya mahasiswa kriya yang mengarah pada seni murni, yang pada akhirnya setelah selesai studi lebih banyak “menguap” (menghilang) dari pada eksis dalam medan seni. Pak Muka juga mengeluhkan kenapa mahasiswa tidak menoleh ke desain yang pada realitasnya lebih dapat aplikatif dengan pangsa kerja. Dalam setiap tulisan tentang kriya yang penulis tampilkan di Bali Post pada tahun 2004-2006 sepertinya sudah cukup panjang lebar mengurai persoalan ini. Dalam sebuah tulisan tentang karya TA mahasiswa Kriya 2006 penulis pernah memberi perbandingan sebenarnya karya-karya murni yang dibuat mahasiswa kriya sangat bisa eksis delam percaturan seni rupa kontemporer. Seperti yang penulis contohkan dalam kutipan pameran “Object Hood” 2005 di Yogyakarta. Tulisan tersebut juga sempat ditanggapi oleh dosen Kriya Keramik Agus Mulyadi Utomo yang pada intinya mengatakan kondisi kriya di lembaga pendidikan tidak dapat diperbandingkan dengan term kurasi sebuah pameran.
Tiga tahun telah berlalu dan sekarang ketika terjadi Bom ke- 3 seni rupa kontemporer Indonesia, karya-karya yang menggarap object menjadi salah satu kecenderungan dari karya-karya perupa kontemporer. Kurator Amudjo J. Irianto mengatakannya sebagai “contingent object” dan yang mencetuskan kecenderungan itu adalah Kelompok Jendela di Yogyakarta, dan yang lebih penting lagi salah satu perupa yang inten di dalamnya adalah Handy Wirman jebolan jurusan Seni Kriya ISI Yogyakarta. Perupa lain yang namanya tidak asing dalam percaturan seni rupa kotemporer Indonesia adalah Hardiman Rajab dosen yang Kriya dai IKJ Jakarta yang juga membuat karya object berupa “koper tua” dari besi atau kayu. Atau yang lebih dekat lagi Wayan Sujana (Suklu) dosen seni rupa ISI Denpasar yang menggelar pameran dengan judul “Reading Object” di Gaya Artspace Ubud Bali tgl 26 Juli-26 Agustus 2008.
Kalau masih kurang silahkan cari di mesin pencari Google atau Yahoo, kita akan temukan puluhan dan bahkan ratusan karya-karya yang menampilkan intensitas Kriya. Kalau masih kurang kita bisa cari dengan kata kunci contemporary craft maka akan muncul puluhan alamat web yang mengetengahkan perkembangan contemporary craft (kriya kontemporer) dari di dunia dengan kecenderungan yang beragam baik karya dan juga perkembangan wacananya.
Begitu banyaknya informasi dan begitu terbukanya seni kontemporer seperti sekarang ini dengan berbagai kecenderungan. Mengapa realitas yang terjadi pada institusi kriya dalam perguruan tinggi seperti ISI Denpasar dan sebagian besar pada Institusi Kriya yang lain, menghadapi persoalan yang klasik. Hal ini membuktikan ada yang salah dalam sistem pendidikan kriya kita, dalam hemat penulis persoalannya bukan semata-mata pada kurikulum dengan ada undang-undang desentralisasi dan otonomi semua sistem dalam pemerintahan dan tentunya juga pendidikan, telah diberikan keleluasaan dalam menyusun kurikulum sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Bukankah kurikulum adalah pattern saja, yang menentukan bagaimana kurikulum itu memberikan pengaruh yang nyata bagi sistem pendidikan tergantung pada elemen-elemen penggeraknya. Dalam hal ini berada ditangan dosen sendiri sebagai mediator yang menjadi mediator sistem tersebut pada mahasiswa.
Keadaan akan menjadi lebih parah jika mahasiswanya tidak mencoba mencari wawasan di luar dan membangun daya kritis maka siap-siaplah menjadi korban dalam sistem ini. Dan kini hadir persoalan baru ketika Seni Kriya kini dijadikan rumpun induk yang mewadahi disiplin selain material kriya seperti kayu dan sebaginya, juga Seni Rupa dan Desain. Hal ini dapat dilihat dalam surat edaran yang dikeluarkan oleh DIKTI dalam kodifikasi rumpun keilmuan yang akan disertifikasi sebagai implementasi UU Guru dan Dosen. Melihat realitas yang berlangsung di Jurusan Seni Kriya ISI Denpasar, penulis merasa tergelitik untuk mengurai kembali persoalan Kriya ini sembari berharap munculnya kesadaran dari para pengajar Kriya untuk mencari jalan keluar dari persoalan eksoterik ini…!
(Penulis adalah alumni STSI/ISI Denpasar Th. 2003, dan kini Menjadi Dosen Kriya UNG, dan sedang menempuh program Magister di Sekolah Pasca Sarjana FSRD ITB)

Saya selaku partisipan mahasiswa kriya diIsi Denpasar cukup mengakui dengan pendapat saudara seriyogaparta, memang kenyataannya demikian, kalau aktualisasi kriya yg dibuat oleh mahasiswa kriya ISI Denpasar terasa mandek, tidak berkembang, miskin ide apalagi menyoal permainan bahan. Sebenarnya gampang saja menilai,mencari benang merahnya, mengapa mahasiswa ISI denpasar khususnya yg berkomputen dlm bidang ini terasa mandek berjalan dalam menekuni bidangnnya, jawabannya ya ini:
1, Mahasiswa kriya di ISI Denpasar kurang membuka diri dengan hasil-hasil seni (kususnya dibidang kriya) yang berkembang diluar kampus, baik yg berskala nasional maupun internasioanal.
2. Minimnya minat mahasiswa kriya ISI denpasar terhadap budaya membaca, sehingga jelas saja pikirannya hanya sekitar lingkungannya saja…ibarat “Katak dalam tampurung”..hehe,,sehingga membentuk manusia yg kurang berwawasan luas, kurang kritis, membeo…Maap gw bukan mnyindir lo..emang knyataannya demikian…haha lagi..
3. Mahasiswa kriya ISI denpasar “kurang berahi”..eh salah! Kurang berani menyuarakan ide2 yang lebih kritis misal yang berbau politis, atau sosial..kenyataan konsep karya-karyanya hanya ikan saja..burung saja..dari amfibi sampe pada binatang melata..pada hal dibanding aku yang berasal dari masyarakat primitiv kemampuan atau skill tman-tman mahasiswa dari daerah ini luar biasa..jempol jari tangan ma jempol kaki brani gw acungin setinggi langit.
4. Terakhir ni…kita kembali lagi pada Dosen-dosen kriya, menejemen pengajaran kriya kayak gimana seh?? Blom gw nyinggung mngnai masalah pnanganan karya-karya kriya yg katanya untuk koleksi kampus,tapi knyataannya dibiarkan mubasir..ibarat sampah disudut2 ruangan…Ingat loh, majunya bidang ini seharusnya didukung juga dengan pengharagaan yang besar terhadap karya-karya terbaik mahasiswa, bukan malah dijadikan sampah ruangan. Ok…
Kayaknya cuman itu saja jawabannya,,Salam bwt saudara Seriyogaparta. dari Heribertus Joseph B. (Mahasiswa Kriya ISI Denpasar).
intinya saya kira saudara dan kawan2 harus proaktif mencari dan membuat trobosan bagi diri dan kawan2 kriya di ISI, pengalaman saya sejak menjadi mahasiswa kriya STSI tahun 2000 saya mulai membangun sikap kritis dengan kawan2 mahasiswa walaupun jumlah kami perangkatan tidak sampai 10 orang, kami mulai mengkritisi dosen2 dan kebijakan kampus pada kriya. (anda bisa cari opini tentang saya terutama pada dosen2 dari STSI). tidak hanya dikalangan kriya saya aktif berkumpul dab berdiskusi dengan kawan seni lukis hingga akhirnya saya bergabung dengan komunitas Klinik Seni Taxu dan pada akhirnya konsen menulis dan menjadi kurator.. dikampus (UNG) saya berusaha memacu mahasiswa, namun sayang mahasiswa saya tidak ada yang bisa kritis..semoga anda bisa memulai di ISI Denpasar dengan kawan2 di sana, saya kira kawan2 dosen tidak akan menghalangi anda…salam untuk p muka, suardana dkk dosen2 kriya di sana…
Bung Yoga..kayaknya empat point tsb rasanya masih kurang, aq tambahin lagi yach..(tentang mengurai benang merah kriya diISI Denpasar). Biar respon masyarakat khususnya yg mnggeluti bidang ini tanggapannya makin seru ajah..tapi aq mohon maaf dulu..tulisanku ini bukan menjelekan institusi, tp merupakan suatu bentuk instrospeksi kita bersama, sebab memang kriya akademis di ISI Denpasar demikian adanya. Ok to the point yach??….
5. dst……………………..Masyarakat kriya akademis di ISI Denpasar agaknya masih masih begitu terkungkungnya dgn seni2 masa lampau yg berlandaskan pada pakem2 tradisi, masih begitu terbuainya dgn segala konsep seni adiluhung yg sangat kuat meresap dlm sanubari serta sulit utk ditinggalkan dan dimasak atau dikemas kembali dalam kostum baru yg selaras dan sesuai dgn jiwa zamannya. Sebab suapan2 seni tradisional yg tidak terkontrol dan tidak selaras dengan perkembangan zaman akan membentuk pribadi2 yg terasing, terisolisasi jika mereka harus terjun kekancah kehidupan sosial yg mendunia. Hal semacam itu tidak lebih dari membelenggu mereka dr kemerdekaan berkreasi yg tentunya akan berakibat fatal bagi tujuan pendidikan yg diharapkn.
6. Kurangnya melakukan diskusi2 seni yg berkaitan dgn seni kriya…..ingatan saya pd bebrapa tahun yg lalu ada semacam diskusi yg dibawakn oleh dua narasumber dr ISI Denpasar,(Bpk Suardana dan Bpk Suardina di RRI Denpasar) yg membahas ttg Kriya dan persoalannya.. itu merupakan langkah bagus, tapi tidak back to kampus dgn melakukan diskusi2 secara kontinyu.
7. Dan ini yg terakhir dan bersifat umum yg jg perlu dikaji…yaitu, rendahnya kritik terhadap seni kriya yg disebabkan oleh besarnya arogansi kaum kritisi dan seni rupawan yg lebih mengetengahkan seni lukis dan seni patung dari pd seni kriya. Sebagai akibat dr ulah kaum kritisi yg demikian itu tingkat apresiasi masyarakat terhadap seni kriya terasa sangat terabaikan. Ok Bung Yoga..kayaknya itu dulu, nanti lain kesempatan baru kita obok2 lagi benang2 kusutnya biar makin tambah ramai ajah blognya ni..Salam saya.
wah sori banget sampai lupa,..
ok, makasih atas tanggapan anda yang sangat antusias..
kalau bisa, dibarengi dengan aksi dong biar tidak hanya omong saja..tunjukkan karya2 dan sikap kritis anda,saya siap mendukung..
salam