I Wayan Seriyoga Parta
Meskipun telah hadir cukup lama lingkup istilah kriya dalam pendidikan tinggi masih terus dalam pembahasan dan pengkajian, terlebih lagi dikalangan masyarakat umum banyak yang belum mengetahui secara jelas pengertian kriya. Kondisi itu memang tidak dapat dihindari karena istilah kriya berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu dari kasanah budaya Jawa. Dalam Baoesastra Djawa, W.J.S. Purwadarminta disebutkan “makna kria atau kriya itu, pakaryan, pengawen, tukang”, dari pengertian ini Prof. Sudjoko merangkum makna kriya menjadi, “kriya adalah seni rupa atau seniman (khusus juru rupa), terutama dalam bidang benda pakai”.(Sudjoko dalam Asmudjo J. Irianto, 2000)
Berkaca dari pengertian tersebut kita dapatkan istilah kriya ternyata tidak serta merta memberikan gambaran tentang wujud karyanya (tidak seperti halnya seni lukis atau seni patung), namun lebih tertuju pada keprofesiannya dan untuk mendukung keprofesian itu didukung oleh ketrampilan (skill). Berbeda dengan seni lukis dalam pengertiannya langsung tersirat teknik (melukis dengan cat) dan wujudnya berupa dua dimensi. Begitupun dengan seni patung di dalamnya sudah tersirat teknik (pahat/cetak) dengan material padat dan bentuk tiga dimensi.
Jadi bisa dikatakan makna kriya sangat sederhana dan tesis awal yang dapat kita tarik kutipan di atas adalah semua hasil karya manusia yang diciptakan dengan ketrampilan adalah kriya. Maka dari itu beraneka ragam hasil karya manusia sejak zaman pra sejarah seperti zaman Batu, Logam, dan seterusnya hingga masa kerajaan yang berupa artefak adalah bagian seni kriya masa lalu dengan beragam bentuk dan fungsinya. Pada zaman pra sejarah manusia belum mengenal kesenian, manusia zaman itu hanya membuat sesuatu benda/barang untuk menunjang kebutuhan hidup mereka, kebutuhan ini meliputi kebutuhan hidup sehari-hari. Barang-barang tersebut pada dasarnya memiliki fungsi dan kegunaan praktis.
Barang-barang (artefak) tersebut antara lain peralatan berburu berupa kapak dari batu dan tulang. Hingga kemudian perlahan-lahan muncul kesadaran spiritual, berupa kepercayaan manusia dengan kekuatan di luar mereka (alam) dan rasa penghormatan kepada roh nenek moyang. Dari kepercayaan tersebut lahir coretan/torehan pada dinding-dinding gua dan motif-motif untuk menghiasi tubuh serta barang-barang dalam prosesi ritual atau pemujaan-pemujaan. Bentuk-bentuk dan gambar-gambar sederhana tersebut kelak dikemudian hari dimasukan sebagai bentuk ekspresi manusia yang melahirkan cikal bakal dari ”seni”. Sebuah kecenderungan membuat barang/aktivitas yang tidak diniatkan pada keguaan yang bersifat praktis, tapi untuk kepentingan spiritual.
Seiring dengan waktu dari beberapa artefak tersebut mulai muncul hiasan sederhana yang awalnya dilakukan tanpa disengaja. Misalnya dalam membuat tembikar tidak sengaja ditempelkan dengan kain/kulit pohon sehingga muncul guratan-guratan yang dihasilkan oleh cetakan kain/kulit kayu berupa motif sederhana. Dalam perkembangan berikutnya dapat merangsang daya kreativitas manusia untuk membuat hiasan sederhana. Pada jaman paleolithikum (batu tengah), muncul peningggalan berupa; perhiasan dari batu, tulang dan tembikar yang memperlihatkan adanya bentuk hiasan-hiasan juga masih sangat sederhana.
Dimulailah tradisi seni yaitu kecenderungan menghias pada benda-benda yang dulunya hanya dibuat demi kepentingan fungsi semata. Kemudian semakin berkembang pada saat masuknya budaya Donson pada jaman perunggu yang melahirkan karya-karya logam berupa Candrasa, Nekara (moko), dan perhiasan dari logam yang dikerjakan dengan teknik yang lebih mutahir dari jaman sebelumnya.
Logam terutama perunggu adalah material yang keras, sehingga untuk mengolahnya menjadi karya seni diperlukan keahlian mulai dari pengecoran hingga proses menempa ukiran dengan bentuk ornamen yang rumit. Peninggalan benda-benda praserah dari jaman logam telah menunjukkan kemajuan teknologi manusia dalam mengolah material logam yang keras menjadi karya seni yang unik dan estetik. Ditambah dengan kreativitas yang tinggi untuk menciptakan bentuk dan motif hias yang diolah dari bentuk-bentuk natural (alam) terinspirasi dari lingkungan sekitar mereka. Fenomena tersebut merupakan cikal bakal yang selanjutnya akan melahirkan tradisi menghias (seni ornamen/seni ukir dalam tradisi kriya), dan selanjutnya terus berkembang menjadi semakin sempurna seperti yang kita warisi sekarang ini dalam bentuk seni ukir dengan ornamen yang beragam terbentang sepanjang nusantara.
Tradisi itu semakin berkembang ketika pengaruh Hindu-Budha mulai memasuki Indonesia yang dikenal dengan jaman purba. Melahirkan seni pahat relief dan seni patung yang berdasarkan pada mitologi Hindu dan Budha, yang dipahatkan pada bangunan istana dan tempat suci seperti kuil dan candi-candi serta patung-patung perwujudan Dewa Hindu dan Budha. Pada masa Hindu-Budha seni kriya tumbuh subur di Indonesia. Hingga surutnya dominasi Hindu, yang ditandai dengan runtuhnya kerajaan Majapahit seiring mulai menguatnya ajaran Islam yang masuk ke Indonesia. Meskipun kemudian membawa kemunduran bagi kriya, namun pengaruh seni Hindu dalam bentuk seni ukir masih terasa. Hal ini dapat dilihat pada bangunan Masjid yang masih bercirikan arsitektur pra Islam seperti pada; masjid Kudus dan Demak, serta kuburan para raja atau para wali yang umumnya berlokasi dekat dengan Masjid.
Jejak-jejak kebudayaan Hindu dan Budha kini masih dapat saksikan pada bangunan-bangunan candi seperti: candi Borobudur, Perambanan, dan masih banyak lagi candi-candi Hindu-Budha lainnya di Jawa. Perkembangan yang masih berlanjut sampai sekarang dapat kita saksikan pada kebudayaan Hindu di Bali. Dimana seluruh entitas kesenian yang bernafaskan Hindu terus berkembang dan senantiasa mengalami proses kreasi menjadikan keseniannya hidup penuh dinamika.
Peninggalan-peninggalan tersebut menandakan praktek seni kriya telah eksis sejak jaman pra sejarah. Berupa karya seni etnik tradisional seperti: Keris, Arca, Seni Ukir Bali, Jepara, patung Asmat, seni ukir Toraja, Topeng Dayak Kalimantan, Seni Serat/Tenun dari Flores dan masih banyak lagi terbentang di sepanjang Nusantara.
Widagdo menyatakan; ”dalam sejarah kebudayaan kria selalu menyatu dengan upaya manusia untuk menghadapi tantangan demi kelangsungan aksistensinya, sehingga produk-produk kria yang merupakan artefak hasil karya manusia adalah saksi dan bukti dari tingkat peradaban yang dicapai manusia pada kurun waktu itu”. (Widagdo,1999:1-2) Lebih lanjut menurut Widagdo kriya adalah terjemahan dalam bentuk fisikal dari ide-ide budaya dan aktivitas budaya manusia pada jamannya.
Dari tradisi membuat artefak kebudayaan kemudian diwarisi menjadi kesenian tradisional. Uraian di atas dapat dirumuskan bahwa penciptaan kriya pada awalnya didasari oleh keinginan untuk membuat benda untuk kepentingan manusia sesuai dengan jamannya. Karya kriya diwujudkan dengan ketrampilan mengolah bahan-bahan yang tersedia di alam, yang memiliki kegunaan untuk memenuhi kebutuhan material dan spiritual manusia sesuai jamannya. Bentuk dan hiasan yang terdapat di dalamnya mengandung makna dan simbol-simbol tertentu. Artinya dalam kriya selain tersurat ketrampilan teknik juga tersirat nilai “estetika”, sehingga melahirkan karya-karya yang monumental sepanjang sejarah. Estetika dalam hal ini merupakan harmoni antara nilai spiritual, simbolis, dan sekaligus juga nilai fungsional.
Fungsional dalam konteks ini dapat dijabarkan menjadi; fungsi yang bersifat elementer (pokok), seperti kebutuhan untuk menunjang kehidupan sehari-hari, dan kebutuhan spiritual serta dikemudian hari juga kebutuhan akan diri (prestise).
Kriya dalam hubungannya sebagai penanda status yang bernilai simbolis lahir sejak masa kerajaan, golongan bangsawan dikalangan istana tentunya membutuhkan benda-benda yang bisa mendukung nilai kebangsawanan mereka, mulai dari pakaian, tempat tinggal, perlengkapan rumah, sampai pernik-pernik perhiasan tubuh. Sehingga pada masa itu praktek kriya (tridisi dalam istana) dibedakan dengan kerajinan (tradisi yang tumbuh di luar istana), baik secara kedudukan dan nilai serta kualitas perwujudannya.
Tanda-tanda kriya sebagai penanda status, salah satunya dapat kita saksikan pada pakaian adat tradisional dari para raja dan bangsawan dari kerajaan-kerajaan disetiap daerah di Indonesia. Pakaian itu umumnya berisikan pernik-pernik yang spesifik dan masing-masing mengandung makna simbolik dengan “bahasa rupa” yang berbeda ditiap daerah. Terlebih lagi pada jaman modern sekarang ini kebutuhan akan status menjadi sangat penting. Makanya manusia modern tidak akan segan-segan untuk mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk mengejar status diri dengan memiliki (mengoleksi) benda-benda seni termasuk karya-karya kriya yang berkualitas tinggi.
Ditambah lagi dengan munculnya kesadaran bahwa karya seni dapat dijadikan bentuk investasi yang nantinya nilainya akan semakin lama akan semakin tinggi. Kini dalam perkembangan pariwisata budaya karya kriya berfungsi sebagai penanda identitas dan dikomsumsi sebagai cendramata (sovenir).
Ketika Indonesia mengalami resesi ekonomi pada tahun 1997, industri yang berskala kecil menengah terutama dibidang non migas dapat menopang perekonomian nasional, salah satu industri tersebut adalah industri kriya atau yang lebih dikenal sebagai kerajinan. Industri kriya dapat berkembang seiring dengan perkembangan industri pariwisata budaya, yang banyak menyerap produk-produk kriya sebagai souvenir/cendramata yang dikonsumsi oleh parawisatawan yang datang berkunjung.
Ketika wisatawan berkunjung ke suatu daerah maka ia menginginkan sebuah penanda yang dapat mereka bawa ketempat asalnya, produk kriya berfungsi sebagai tanda bahwa mereka pernah datang berkunjung ke daerah tersebut. Dalam hal ini produk kriya merupakan penanda identitas budaya, yang perkembangannya semakin pesat hingga saat ini masih menjadi komoditi unggulan untuk dieksport ke berbagai negara di belahan dunia. Mereka menyukai produk kriya Indonesia karena memiliki keragaman dan keunikan serta dikerjakan dengan tangan (hand made) yang didukung oleh ketrampilan teknik yang tinggi, sehingga menghasilkan karya kriya yang berkualitas.
Kriya kini telah memasuki wilayah “pasar budaya” memimjam istilah Bourdieu, kebudayaan kita kenal sebagai hasil karya sang subyek (manusia) kini telah luluh menjadi obyek yang kemudian dapat “diperdagangkan”. Itulah kekuatan yang dimiliki seni kriya dan menjadikannya eksis hingga saat ini. Seni kriya sekarang mendapatkan penegasan dan pengembangan ketika seni kriya hadir dalam wadah pendidikan baik ditingkat menengah maupun pada pendidikan tinggi.
Demikianlah gambaran awal mengenai seni kriya, pembahasan berikut akan mencoba menjabarkan mengenai pergulatan pendapat yang mencoba menguraikan perkembangan seni kriya dari berbagai pendekatan. Pergulatan pemikiran dari para ahli seni menandai dinamika perkembangan seni kriya dimasa modern dalam wilayah teoritis dan praktis.
0 Responses to “Tinjauan Sejarah Seni Kriya”