Menyoal Pembacaan Terhadap Seni Rupa


Oleh : I Wayan Seriyoga Parta, S.Sn

Persoalan pembacaan karya seni rupa adalah persoalan yang gampang-gampang susah, terutama dalam kancah seni rupa yang disebut dengan wilayah seni rupa kontemporer atau kerap disebut juga dengan posmodernisme ini. Dimana pemaknaan tidak lagi merupakan wilayah absolut yang ditentukan oleh si pekarya sebagai titik sentral dan menentukan makna tunggal bagi pembacaan. Menyoal perihal posisi seniman dalam kaitannya dengan proses pemaknaan karya Nirwan Dewanto dalam sebuah tulisannya mengungkapkan; demikianlah si seniman tak membayang-bayangi karyanya, melainkan surut kebelakang, ke balik panggung. Begitu selesai mencipta–atau membuat, sebab seniman juga pengrajin–matilah si pengarang, maka tampillah si pemandang menjadi pencipta ke dua. Kreasipun mengalami re-kreasi. Inilah situasi yang disebut sebagai the death of the author, kematian sang pengarang kata Roland Barthes, dimana ”teks” tidak berhenti setelah diciptakan. “Teks” kemudian berpeluang mengalami “re-kreasi” kembali, namun bukan lagi oleh si pencipta melainkan si pengamat, atau apresian, menurut Derida teks tidak harus tunduk pada satu makna saja, ia bisa di “dekonstruksi” dalam hal ini teks dibiarkan “terbuka” sehingga mempunyai makna yang berubah-ubah.

Karya seni rupa sebagai teks kemudian juga berpeluang dibaca dari beberapa sudut pembacaan sekaligus. Terbukanya pembacaan terhadap seni rupa memberikan ruang bagi praktek seni rupa modern dari luar mainstream Barat, yang lebih bersifat “paradigmatik” memimjam analisis Jim Supangkat. Seni rupa modern tersebut bersifat dualisme, dari sudut kerupaan menyerap kaidah seni modern namun sekaligus juga tetap mengangkat konteks nilai lokal. Seni modern ini bukanlah seni modern dalam pemahaman seperti di Barat, akan tetapi juga tidak serta merta bagian atau kelanjutan dari seni tradisi. Inilah seni rupa modern lang lain, yang tidak seperti seni avant garde. Seni modern dengan semangat ‘avant garde’ menetapkan kebaruan nilai seni adalah sejalan dengan pergerakan science yang memiliki makna tunggal dan berlaku universal. Ini terangkum dalam avant-garde otentik yang mencoba terus memurnikan seni dari konteks sosialnya dan melepaskan secara total kungkungan dari medan sosial yang melingkupinya. Sehingga lahirlah diktum l’art four art apa yang kita sebut sebagai seni untuk seni atau fine art (seni murni). Jika seni avant garde mengkiritisi medan sosialnya dengan meninggalkan segala ikatan-ikatan dengannya, sementara seni modern yang berkembang di luar Barat cenderung berdamai dengan medan sosialnya. Seni tradisi yang diyakini oleh seni avant garde adalah sesuatu yang stagnan dan harus ditinggalkan karena berlawanan dengan semangat pencarian kebaruan, di luar Barat kita sebut saja Indonesia malah berusaha “diperbaharui” dengan spirit pencangkokan diantara keduanya.

Menyimak situasi tersebut, menjadikan para pembaca dari Barat mulai mengkaji kembali paham yang selama ini mereka yakini sebagai sesuatu yang sahih. Perubahanpun terjadi dan mewarnai perspektif berkesenian dan sekaligus pembacaan terhadapnya. Serta didukung dengan hadirnya para pemikir-pemikir dari luar Barat yang memberikan pemahaman berbeda terhadap situasi terjadi pada seni rupa di luar Barat. Seni yang secara massif mencoba meninggalkan medan sosial itu dan meyakini secara penuh nilai yang berlaku universal, yang menjadi terlalu angkuh dan mulai kehilangan spirit untuk terus menerus mengejar kebaruan menyadiri adanya batas dalam pencarian tersebut. Kebaruan menjadi muskil ketika segala celah pencarian sudah dijajagi, dalam kejenuhan tersebut maka seni rupa dianggap telah “selesai” (the end of art) ungkap Arthur Danto seorang pemikir dari Amerika. Dalam hal ini yang dikatakan Danto bukanlah seni rupa telah berakhir, dan seni rupa tidak ada lagi, the end yang dimaksudkan dalam hal ini adalah berakhirnya seni avant garde dengan segala semangat kebaruan yang otentik itu. Hal ini menandakan perubahan besar telah terjadi dalam seni modern Barat.
Seni modern Barat yang selama ini meniadakan nilai-nilai yang sejenis yang berkembang di luar Barat dengan konteks yang berbeda, yang mereka anggap gagal menterjemahkan nilai yang universal tersebut. Ternyata eksis dalam ranah yang berbeda dan mulai menohokkan dirinya ke “pusat”, dan menuntut sebuah pembacaan yang berbeda. Yang kemudian ternyata menghadirkan tawaran yang lebih “fresh”. Kesulitan terjadi ketika para pembaca dari Barat mencermati seni modern yang tumbuh dan berkembang di luar Barat, seni ini sebetulnya mengadopsi nilai-nilai seni modern yang universal dan mengalami kolaborasi dengan nilai-nilai lokal. Menghadapi kenyataan tersebut, kemudian para pembaca seni mulai mengkaji kembali keyakinan mereka mengenai nilai yang mereka anggap berlaku universal itu. Muncul kemudian wacana tentang “Multi Modernisme” seni modern yang lain yang didasari oleh semangat keberagam (flural). Tesis ini muncul karena diyakini bahwa seni modern dengan nilai universalnya telah meletakkan dasar bagi pencarian seni rupa yang berlaku diseluruh dunia, penyebarannya seiring dengan terserapnya nilai-nilai modernitas diakibatkan modernisasi negara-negara di dunia. Dan tidak ada yang dapat membendung hal ini, karena masuknya paham modernisme inilah yang juga memunculkan wacana tentang Barat dan Timur, pada seni rupa di luar Barat itu sendiri. Situasi ini disebut Jim Supangkat sebagai sesuatu yang telah ”terbentuk” dan begitu sulit untuk mencari siapa sebenarnya yang membentuk nilai tersebut. Pertanyaan mengenai siapa yang membentuk situasi itu kini tidak lagi merupakan persoalan yang urgent untuk selalu dipermasalahkan, karena situasi ini telah “terbentuk” oleh sebuah “kesepakatan” kata Jim Supangkat kembali. Sehingga pemikiran bipolar yang secara terus menerus mempermasalahkan antara dikotomi Barat dan timur dalam hal ini tidak penting lagi untuk dipersoalkan.

Sesuai dengan hakekat seni yang selalu mengejar kebedaan (bukan keotentikan) dan perubahan terus-menerus, maka tidak hayal nilai yang dulunya dianggap sahih kini harus dibongkar kembali. Sehingga kemudian hadir beragam pembacaan terhadap karya seni-rupa yang menggunakan beragam disiplin ilmu diluar seni rupa. Pembacaan yang beragam ini menjadikan seni rupa menjadi kaya dengan tafsirnya masing-masing. Perlu diingat keragaman pembacaan tersebut hadir karena teksnya sendiri memiliki nilai yang tidak lagi memadai dibaca hanya dari satu sisi pembacaan saja. Namun yang terjadi kemudian pembacaan tersebut akhirnya berdiri sendiri dan terus mengalami dinamika bahkan malah terlihat semakin asik sendiri dengan dunianya, yang cenderung akhirnya meninggalkan teks (karya) yang dibacanya. Sehingga kerap kita dapati tulisan seni rupa yang begitu asik membahas narasi yang dikandung karya tersebut apalagi ketika semakin dikaitkan dengan konteks yang melingkupi narasi itu. Dalam hal ini bukan hanya seniman saja yang kemudian surut kebelakang panggung seperti kata Nirwan Dewanto, akan tetapi karya kemudian juga ikut surut kebelakang karena tugasnya telah selesai sebagai kasus, yang hadir kemudian adalah narasi yang semakin melambung dengan maknanya yang dapat berubah-ubah sesuai konteks pembacaan. Konsekwensinya adalah tiadanya lagi bisa ditetapkan sebuah frame terhadap sebuah pembacaan karya seni. Situasi ini menjadikan para penikmat kerap dibingungkan oleh pembacaan pada sebuah karya seni. Pun ketika berbalik dan menuntut kembali pembacaan terhadap aspek-aspek formal, karya seni kembali dibayangi kemuskilan untuk memurnikan seni tanpa melihat aspek nilai kontekstual yang dikandungnya.

Hal ini jelas merupakan sebuah persoalan terutama bagi seni rupa yang berada di luar Barat,, yang cenderung tidak menyerap sepenuhnya nilai-nilai dan konteks historis seni modern Barat beserta pergerakannya hingga menjadi seperti saat ini. Yang terjadi kemudian adalah pemahaman yang terputus-putus atau bahkan tidak ada pemahaman sama sekali terhadap seni rupa itu sendiri. Persoalan ini menyeruak dibalik riuhnya dinamika seni rupa Bali saat ini, dalam beberapa diskusi yang terjadi pelaku seni rupa umumnya masih dilingkupi ketidak jelasan mengenai situasi yang sedang mereka hadapi. Misalnya darimana karya-seni rupa harus dibaca apakah dari sisi teksnya atau konteksnya, perdebatan kemudian terjadi untuk mempertentang kedua hal ini. Belum lagi persoalan bagaimana mengenai seni rupa Bali modern yang “konon masih kelanjutan dari seni tradisi”. Sehingga enggan disebut sebagai seni yang modern.

Persoalan pembacaan kini sudah seharusnya menjadi perhatian serius oleh para pemikir seni rupa, karena ini berkaitan dengan mediasi pemahaman terhadap seni itu sendiri oleh medan seni rupa dan terlebih lagi medan sosial yang lebih luas. Hadirnya pembacaan yang beragam dari beragam pespektif terhadap seni rupa belakangan ini memberi pengayaan pada seni rupa. Namun keragaman pembacan tersebut kembali menuai persoalan, ketika medan seni tidak menyadari dasar dari kehadiran pembacaan tersebut. Sehingga apresian/penikmat dan bahkan perupa kerap dibingungkan oleh pembacaan terhadap karya yang tiba-tiba begitu memukau dalam wacana namun minim dalam visual, ataupun sebaliknya. Mereka akhirnya bertanya-tanya, dan persoalan akan terus melingkupi mereka jika tidak pernah (minimnya) dialektika terhadap pembacaan-pembacaan tersebut. Seperti yang telah saya paparkan tadi persoalan ini membutuhkan kerangka pembacaan historis yang mau tidak mau harus ulang alik antara yang dipahami di Barat dan yang terjadi di dalam konteks lokal itu sendiri, sehingga sekali lagi pertentangan yang bipolar antara yang Barat dan yang Timur dalam hal ini tidak akan banyak membantu. Karena kedua nilai itu senyatanya telah diserap dalam karya-karya seni rupa kita, sehingga dibutuhkan sebuah pembacaan yang lebih holistik untuk membedah keberadaannya. Pembacaan seperti ini tentunya juga tidak akan luput dari persoalan, karena masyarakat akan sangat sulit untuk memahami karya seni, namun apa boleh buat situasi tuna acuan tidak dapat terus dibiarkan mengambang.

Tulisan ini dimuat dalam majalah seni rupa SUARDI th 2005, Bali

One thought on “Menyoal Pembacaan Terhadap Seni Rupa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s