Bandung Contemporary Painting


dimas1-442-x-450

I wayan Seriyoga Parta

Seni lukis Bandung kini sedang mengalami era kebangkitan dari persemayamannya yang cukup lama. Jika dulu seni rupa (seni lukis dan patung) Bandung khusunya ITB dianggap sebagai “laboratorium” barat karena sangat bersandar pada formalisme Barat. Tahun 2000-an seni rupa Bandung dikenal sebagai daerah persemaian seni transmedia, seni media baru seperti; instlasi, video art, performance, happening, seni-seni “jeprut” kata seniman Bandung. Pada waktu itu seni lukis kurang mendapat ruang, dianggap “tidak keren”, “tidak kontemporer”, ditambah lagi dengan tiadanya pasar yang mau berpihak ke Bandung lengkaplah sudah seni lukis memang terbabat habis waktu itu, sehingga memang wajar kebanyakan seniman muda Bandung memilih menyimpan kuasnya dan menggeluti seni transmedia. Dengan menggeluti seni transmedia mereka memiliki peluang untuk menbangun jaringan dengan seniman transmedia di luar negeri dan dapat bekerjasama, diundang ke luar.

Namun dibalik kemeriahan seni transmedia pada waktu itu ada juga sekelompok seniman muda (mahasiswa tinggak dua) yang mempunyai pemikiran yang berbeda, dalam kemaruknya seni media baru dan transmedia. Mereka memilih lebih menekuni seni lukis (seni konvensional) yang waktu itu hampir ditinggalkan, mereka membuat happening yang cukup fenomenal membakar karya-karya mereka dan menklarasikan diri sebagai kelompok AbstraX. Pembakaran lukisan mereka yang merupakan hasil didikan dari lembaga tempat mereka mengasah daya kreatif, dimaknai sebagai sebuah deklarasi (manifesto) seni. Yang dapat dibaca sebagai usaha mereka untuk mempersoalkan kembali seni formalis (abstrak) Bandung, peristiwa ini memberi ingatan kembali perihal eksistensi seni lukis abstrak Bandung yang sempat berjaya sampai th 1980-an. Momen ini mereka pakai untuk mendeklarasikan diri kembali ke seni lukis, namun bukan seni abstrak-formalis yang dulu sangat lekat dengan Bandung.

Pilihan ini tentunya tidaklah mudah, namun tiadanya infrastruktur yang menopang karya-karya mereka waktu itu membuat mereka malah memiliki semangat yang tinggi untuk membutikan seni lukis Bandung sebetulnya bisa eksis. Secara perlahan tapi pasti mereka mulai menapaki eksistensi mencari peluang pameran ke galeri-galeri yang tempatnya di Jakarta.

Dari segi karya mereka menampilkan kecenderungan baru dari seni formalisme Bandung, tidak ada sedikitpun abtraksi dalam karya-karya mereka. Mereka dengan sadar memakai peralatan digital seperti kamera dan proyektor/OHP untuk membantu proses berkarya yang sebagian besar menekuni realis. Waktupun berjalan, kini seni lukis Bandung tumbuh bak jamur dimusin hujan dan ditopang oleh tumbuhnya infrastruktur (galeri-galeri) baru di Jakarta yang mulai mengalihkan perhatiannya ke Bandung. Seni lukis Bandung yang menampilkan sesuatu yang fress dengan serta-merta terserap dalam haru biru perkembangan seni rupa kontemporer. Jika dulu yang dikenal sebagai seni kontemporer adalah seni media baru dan transmedia, kini seni lukis Bandung yang juga berapiliasi dengan memanfaatkan teknologi digital (kamera, proyektor) sebagai bagian dari proses seni lukis. Maka seni lukis Bandung kini bisa membuktikan eksistensinya kembali.

One thought on “Bandung Contemporary Painting

  1. arts have spread in the blood of every human being, each work is created, bound to various kinds of beauty in every sense of meaning scratches caused in some form of media, and here I really enjoy the flow of creativity that creates art and groove of each character itself.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s