Eksistensi Ruang Alternatif Dalam Medan Seni Rupa Indonesia


karya wayan suja
karya wayan suja

Oleh: I Wayan Seriyoga Parta[1]

Tidak berlebihan jika kita katakan bahwa dinamika perkembangan seni rupa Indonesia dalam lima tahun terakhir ini identik dengan pertumbuhan ruang-ruang alternatif diberbagai daerah. Gemuruh kehadiran ruang alternatif sangat terasa di th 2000-an ini. Mereka muncul bak jamur di musim hujan ketika yang satu mulai meredup dan layu dengan cepat akan muncul yang baru baik dengan visi yang sama atapun berbeda, dan juga disertai dengan munculnya figur-figur baru/muda. Ruang-ruang alternatif ini dibentuk oleh seniman/kelompok seniman muda, yang mereka hadirkan tidak semata-mata hanya sebuah komunitas, namun juga ruang pameran, dan berbagi kegiatan yang meliputi; pameran, workshop, diskusi dan penyelenggaraan kegiatan seni rupa lainnya.

Dalam kaitan pertumbuhan ruang alternatif ini Amanda Katherine Rath mengungkapkan “dalam konteks Indonesia “ruang seni alternatif” urban bisa dipandang sebagai kelanjutan konsep dasar sistem sanggar maupun sebagai representasi masyarakat yang kian terintregrasi ke dalam jaringan internasional (temasuk kapitalisme lintas bangsa)”[2]. Berbeda dengan kelompok/sanggar yang lebih ideologis dengan semangat nasionalisme seperti yang tejadi pada th 30-an sampai 60-n, yang bisa dilihat dari Persagi atau yang lebih ideologis Sanggar Bumi Tarung yang sangat sosialis. Ruang/ komunitas alternatif umumnya konsen dengan persoalan fenomena masyarakat urban dan penyebaran lintas budaya-lintas bangsa-globalisasi.

Ruang-ruang alternatif ini tersebar dikantung-kantung kesenian, di Yogyakarta, Jakarta, Bandung, Bali, Semarang, Malang, serta tidak menutup kemungkinan terdapat di daerah lain (luar Jawa dan Bali) dalam lingkup wilayah propinsi seperti Sumatera yang akhir-akhir ini mulai menunjukkan gelagat kebangkitan. Dengan menyebut diantaranya adalah Rumah Seni Cemeti, Gelaran Budaya, Mes 56, Rumah Seni Muara, hingga Parking Space di Yogyakarta, atau dari Barak Galeri, Pabriek Galeri, di Bandung dan kemudian hadir Rumah Proses, hingga Common Room, atau Room no.1, If Veneu dan yag lain. Ruang Rupa Jakarta, Klinik Seni Taxu Bali, atau Ktok Project Semarang, bahkan Komunitas Belanak di Padang. Mereka umumnya memakai pola yang sama, bersifat inisiatif dan mempunyai ruang untuk mempresentasikan karya-karya mereka. Femonema ini bahkan mungkin juga muncul daerah-daerah seperti; Kalimantan, Sulawesi, hanya saja aktivitas mereka tidak pernah terekspose sampai ketingkat nasional, atau belum adanya usaha/kesadaran untuk membuat jaringan dalam lingkup yang lebih luas.

Satu sisi menarik dari fenomena ruang alternatif ini adalah, umumnya ruang tersebut dibentuk, dikelola dan dijalankan langsung oleh seniman muda yang juga tetap aktif berkarya, sehingga kegiatan merangkap-rangkap profesi sudah menjadi hal biasa bagi mereka. Artinya seniman selain berkarya, juga kadang bentindak sebagai kurator, penulis, membuat penerbitan dan kegiatan lainnya. Berkaitan dengan pertumbuhan ruang alternatif ini, Asmudjo memberikan sebuah perbandingan, “di negara maju dengan infrastruktur seni rupanya yang canggih, ruang dan galeri alternatif berperan menampung suara dan praktek seni rupa yang terpinggirkan karena tak sesuai dengan kanon museum besar”[3]. Namun perbandingan tersebut ternyata tidak begitu relevan dalam kasus berdirinya ruang alternatif di Indonesia, dimana infrastruktur seni modern seperti Museum sama sekali tidak mempunyai “kuasa” terhadap nilai seperti di Barat. Jangankan dominasi, banyak yang bertanya-tanya adakah museum seni rupa modern di Indonesia?

Jika dominasi itu tidak terjadi di sini, mengapa kini banyak tumbuh ruang alternatif di Indonesia? apa sebenarnya yang memicu pertumbuhan ruang/komunitas alternatif di Indonesia? Atau apakah pantas ruang-ruang tersebut dikatakan sebagai ruang alternatif? Kalau ya, alternatif terhadap apa?

Untuk menjawab berbagai pertanyaan yang muncul, marilah kita simak terlebih dahulu makna alternatif itu sendiri, dengan kembali mengutif uraian dari Asmudjo,sebagai berikut:

“dalam konteks ruang atau galeri alternatif, terkandung pengertian pilihan yang berbeda dengan yang dominan. Namun mencari yang dominan bisa jadi sulit dalam konteks perkembngan seni rupa di Indonesia. Maka yang dapat dikonstruk sebagai dominan dalam konteks Indonesia tak lain adalah galeri komersial, pada akhir th 80-an dan awal th 90-an merajalela dengan citarasa yang miskin dan tak secuilpun membuka ruangnya pada praktek seni yang eksperimental. Tanpa keberadaan museum yang tak dilatari oleh kepentingan komersial, maka wajah seni rupa Indonesia ketika itu ditentukan oleh kiprah galeri komersial yang sudah pasti mengedepankan keuntungan komersial.”[4]

Pernyataan Asmudjo sejalan dengan kemunculan Cemeti sebagai ruang alternatif pertama sejak 17 th lalu yang memunculkan kecenderungan praktek kreatif berbeda dengan yang dipamerkan di galeri komersial. Kemunculan Cemeti mengusung perlawanan terhadap galeri komersial, ini ditunjukkan dari karya-karya yang dipamerkannya adalah karya ekperimental, serta keberhasilan mereka dalam memasarkan karya-karya tersebut. Itu merupakan bentuk resistensi Cemeti terhadap praktek pasar di galeri komersial. Penting melihat bagaimana Cemeti tetap ajeg sebagai ruang alternatif hingga saat ini. Kemampuan bertahan hidup merupakan persoalan penting dalam pasang surutnya kemunculan ruang alternatif.

Seperti dikemukakan oleh Amanda Katherine Rath, “kehadiran seni-seni atau ruang alternatif di Indonesia bukan karena posisinya sebagai garda depan. Namun kepentingan mereka justru terletak pada strategi pertahanan hidup ini (kadang mewujud menjadi strategi permanen seumur hidup)”[5]. Memang persoalan untuk bertahan hidup adalah masalah yang umumnya dialami oleh ruang alternatif di Indonesia yang hidup dengan biaya sendiri dari para anggotanya. Berbeda dengan ruang alternatif yang tumbuh di negara maju dimana keberadaan ruang alternatif justru mendapat sokongan formal dari pemerintah, maupun dari pihak swasta atau lembaga donor (foundation). Karena mereka sadar karya-karya eksperimental sangat sulit dijual, di samping motivasi utamanya juga bukan agar laku dijual.

Melihat perbedaan konteks yang terjadi di Barat dengan yang terjadi di Indonesia, sepertinya tidak proporsional menuntut ruang alternatif harus bertahan hidup selamanya. “Secara retorik, dalam konteks seni rupa kontemporer ruang alternatif yang baik adalah ruang yang kegiatannya tak mudah diduga, unpredictable, termasuk rentang kehadirannya. Sehingga, menilai keberadaan ruang alternatif seyogyanya tidak hanya melihat dari daya tahannya, tetapi lebih melihat motif dan kesadaran mengenai keberadaannya”[6].

Persoalan menarik yang muncul kemudian ketika galeri komersial, mulai mengakomodasi praktek seni alternatif, dengan menggelar karya-karya di luar konvensi pasar pada umumnya. Sepintas hal ini mirip dengan strategi yang dilakukan Museum di Barat ketika mereka mulai mendapat perlawanan dari ruang alternatif. Kita bisa mengambil contoh salah satunya, seperti: Cemara Galeri di Jakarta, Langgeng Galeri Magelang, dan belakangan Galeri Semarang dan banyak lagi galeri yang baru muncul, yang mulai mengakomodasi karya-karya eksperimental (tidak marketable) yang didukung dengan keterlibatan para kurator muda-indefenden. Jika dalam ruang-ruang alternatif pada umumnya praktek seni eksperimental ini bersifat swadaya dan tidak dibayar, artinya mereka sendiri harus mengeluarkan dana untuk even yang digelar. Maka dalam galeri seperti Nadi, Langgeng dan yang lain senimannya didanai dan mendapat fasilitas, hal ini segera akan memalingkan perhatian seniman dari ruang alternatif untuk melirik galeri komersial.

Ketika museum seni modern di Barat mengadopsi seni alternatif muncul kedasaran tidak saja dari infrastruktur seni modern, namun dari masyarakat yang menyadari pentingnya mempertahankan kehadiran ruang alternatif sebagai mediasi dari kanon-kanon yang tidak tersentuh oleh seni modern. Sehingga akhirnya kehadiran mereka sepenuhnya dibiaya oleh pemerintah atau swasta, dalam bentuk hibah dari yayasan (foundation) seperti; Ford, Toyota, dan sebagainya. Pertanyaan yang muncul kemudian apakah yang mendasari munculnya kecenderungan mengakomodasi seni alternatif oleh galeri komersial di Indonesia juga didasari oleh pemikiran seperti museum seni modern di Barat? Sepertinya tidak, mereka yang menggerakan galerinya dengan melibatkan dana yang cukup besar, tentunya akan berpikir rasional dengan pengeluaran dan pemasukan yang mereka dapatkan pada saat menggelar sebuah even pameran. Kita bisa melihat motivasi ini lebih mirip sebagai sekedar ikut arus trend seni kontemporer semata. Tidak seperti dalam kanon seni modern seperti di Barat yang menyadari penuh ruang-ruang itu sangat berarti bagi dinamika perkembangan medan seni rupa.

Seiring dengan waktu kemudian banyak diantara ruang-ruang alternatif ini tidak dapat bertahan lama, kini gaung mereka tidak lagi semarak seperti tahun-sebelumnya. Persoalan utama umumnya dikarenakan masalah pendanaan, besarnya running cost yang mereka keluarkan setiap bulan dalam mengelola ruang menjadikan banyak dari ruang-ruang alternatif terpaksa “tiarap”. Memang tidak ada yang mengharuskan ruang/komunitas ini bertahan lama, seperti kata Asmudjo yang juga pernah mengolala Pabriek Galeri di Bandung, karena seminimal apapun umurnya mereka telah memberikan kontribusi yang sangat besar bagi perkembangan seni rupa kontemporer. Terbukti kemudian praktek kreatif mereka telah mampu membuka perspektif “baru” bagi galeri komersial yang kini mulai membuka ruang galerinya bagi praktek kreatif yang lebih bersifat eksperimental. Hal ini membuktikan dengan eksisnya ruang alternatif selama ini kemudian mampu memberikan sebuah alur yang berbeda bagi perkembangan seni kontemporer di Indonesia. Secara eksplisit ataupun implisit praktek yang mereka hadirkan adalah reaksi dari selera yang “minim” pasar seni rupa Indonesia selama ini.

Itulah sebuah bentuk sikap kritis mereka terhadap situasi yang terjadi dalam pasar seni rupa, dan jika kemudian praktek kreatif mereka diapresiasi oleh infrastruktur yang lebih establish dalam jaringan pasar atau institusi seni rupa baik di dalam maupun dari luar negeri. Ini adalah sebuah konsekwensi logis dari dinamika yang mereka munculkan sebelumnya, semuanya kemudian tergantung bagaimana mereka menyikapi situasi tersebut. Yang perlu diperhatikan selanjutnya bagaimana mereka dapat bermain dalam medan baru dengan pemain-pemain baru di dalamnya, bagaimana mereka tetap eksis dengan daya tawar (bargaining position) terhadap infrastruktur besar itu.

Dalam melihat keterkaitan posisi ruang alternatif dengan arus dominan, adalah persoalan yang harus diperhatikan oleh pegiat ruang alternatif, karena perjalanan waktu akan menunjukkan bagaimana mereka meletakkan posisi tawar mereka dalam konstelasi tersebut. Ktok project yang digagas oleh seniman muda dari Semarang yang awalnya adalah inisiatif beberapa mahasiswa seni rupa UNNES yang penuh semangat berusaha membuat dinamika dalam medan seni rupa Semarang sedari dua tahun ini. Even pameran eksperimental yang bertajuk “K to K Project” di ruang-ruang yang tidak konvensional (maksudnya galeri), seperti rumah kos-kosan dan ruang publik, dengan karya-karya beragam tidak ada batasan medium mulai dari lukisan, komik, instalasi, foto, stensil, video, performance dan sebagainya. Mulai dari Ktok project #1 sampai dengan ke #5 yang merepresentasikan persoalan-persoalan yang mereka hadapi bersama dalam keseharian. Kini mereka telah masuk jaringan persoalan medan ruang alternatif yang tumbuh subur dalam pergulatan seni rupa kontemporer di Indonesia.

Kembali menyoal keberadaan dan persoalan ruang/komunitas alternatif yang ada di Indonesia, tentunya harus kembali disadari bahwa situasi yang dihadapi tidaklah sama dengan persoalan ruang/komunitas alternatif yang tumbuh di negara maju. Dimana umumnya mereka mendapat biaya dari pemerintah atau lembaga donor (foundation). Ruang alternatif di Indonesia terus berjuang untuk eksis dalam berbagai tekanan persoalan seperti masalah pendaan yang kian tinggi dan sulit. Jika ingin tetap eksis, mereka tentunya harus pandai-pandai melakukan negosiasi antara kepentingan mereka dan kepentingan kanon besar seperti lembaga donor internasional, atau bahkan dengan galeri komersial. Atau malah pasang pungung dan bersikeras berjalan sesuai dengan frame mereka sendiri, kalau mau disadari sesungguhnya komunitas/ruang alternatif tidak bisa lepas dari benturan kepentingan tersebut. Bagi yang berhasil menggaid dana dari lembaga donor internasional semacam Ruang Rupa misalnya, mereka jelas akan berneosiasi terhadap kepentingan lembaga pendonor tersebut.

Persoalan ini ternyata sudah disadari oleh para eksponen Ktok Project mereka menyadari persoalan negosiasi itu penting untuk menentukan langkah kedepannya, dengan mengajak eksponennya untuk selalu “positifive thinking” , dalam menghadapi jaringan (sistem) yang ada di luar mereka[7]. Hal ini terbukti dalam waktu setahun project yang mereka laksanakan telah mendapat asupan dana dari foundation luar, tentu sebuah langkah yang strategis dalam melaksanakan aksi dan reaksi.

Karena sesungguhnya tidak ada yang nirkepentingan, kuncinya adalah bagaimana bersikap di dalamnya, tentunya sikap kritis dan kemandirian haruslah tetap tumbuh dalam diri para pegiat ruang alternatif. Namun yang lebih penting adalah, kehadiran ruang alternatif harus diakui telah menjadi tempat studi baru bagi seniman muda yang memiliki kegerahan terhadap mandulnya sistem pendidikan seni yang cenderung masih kaku dalam batasan silabus yang ketat dan yang selalu ketinggalan dalam menyikapi kecenderungan kreatifitas seniman muda yang terus bergejolak.

Kontribusi yang telah mereka lakukan untuk mendinamisisasikan seni rupa kontemporer Indonesia adalah nilai yang patut dicatat, karena kemunculan mereka adalah indefenden dan membiayai praktek kreatif mereka dengan biaya sendiri. Tidak ada yang bertanggung jawab terhadap mereka, dan mereka tidak harus bertanggungjawab terhadap apa yang telah mereka lakukan. Mereka berhak sepenuhnya terhadap diri mereka sendiri, apapun wajah mereka nanti, selalu akan kita tunggu, sembari berharap kejutan-kejutan akan selalu hadir. Kesadaran akan pentingnya ruang alternatif dalam mendinamisasi perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia, sudah seharusnya disadari oleh segenap infrastruktur dan suprastruktur seni rupa di Indonesia.

Daftar Rujukan

Amanda Katherine Rath, Perihal Ruang Alternatif dan Ruang Seni Altrnatif/Altered-natives & Altered –space. Jurnal Karbon no 5, Februari 2002, Ruang Rupa Jakarta

Asmudjo J Irianto, “Ruang Alternatif, Yang Mana ?”, SURAT, vol. 19 Februari-April 2004, Yayasan Seni Cemeti, Yogyakarta

BYAR Creative Industry, Bundel konsep Ktok project dan kliping Seni Rupa Semarang 2004-2007



[1] Penulis adalah mantan pegiat komunitas alternatif “Klinik Seni Taxu”, sejak tahun 2006 mengundurkan diri dari anggota komunitas dan hijrah ke Gorontalo menjadi tenaga pengajar di jurusan Teknik Kriya UNG.

[2] Lihat, Amanda Katherine Rath, Perihal Ruang Alternatif dan Ruang Seni Alterrnatif/Altered-natives & Altered –space. Jurnal Karbon no 5, Februari 2002, Ruang Rupa Jakarta

[3] Lihat, Asmudjo J Irianto, “Ruang Alternatif, Yang Mana ?”, SURAT, Yayasan Seni Cemeti, vol. 19 Februari-April 2004

[4] Asmudjo J. Irianto, Ibid, p. 7

[5] Lihat Amanda Katherine Rath, Op cit, p. 8

[6] Asmudjo J. Irianto, Ibid

[7] Lihat, M. Salafi Handoyo dan Ratri Inayatul B. dalam konsep Ktok Project #3, April 2007 “ Drak Browrn Sofa, Video Sistem: Video Ego dan Sistem”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s