Tumbilotohe: Instalasi Lampu dari Gorontalo


tumbilotohe9

tumbilotohe11

Wayan Seriyoga Parta*

Tombilotohe adalah tradisi dalam masyarakat Gorontalo yang dilaksanakan secara rutin bertepatan pada hari ke-27 setiap bulan Ramadhan. Pada malam hari ke-27 ini Gorontalo diterangi berbagai instalasi lampu-lampu dari botol minyak tanah. Pada awalnya pemasangan lampu hanya diniatkan sebagai penerangan bagi masyarakat menuju ke Masjid saat melaksanakan solat Taraweh-berjamaah, pada malam ke-27 dibulan ramadhan kondisinya sangat gelap karena bertepatan dengan bulan mati. Istilah Tumbilotohe sendiri terdiri dari dua suku kata “Tumbilo” yang artinya sepadan dengan kata “menyalakan” atau sering dikatakan “pasang”, dan kata Tohe yang artinya sepadan dengan “lampu”. Jadi Tumbilotohe berarti “menyalakan/pasang lampu” (Noval S. 2007)

Seiring dengan waktu tradisi sederhana ini akhirnya berkembang, lampu-lampu dipasang di jalan tidak lagi hanya berfungsi sebagai penerangan. Terutama semenjak Gorontalo melepaskan diri dari Sulawesi Utara dan menjadi propinsi baru, tradisi Tumbilotohe ini dirayakan semakin semarak. Masyarakat dengan penuh semangat menyambut dan merancang tradisi ini sedari jauh-jauh hari mereka sengaja menyimpan minyak tanah, mengingat jumlah bahan bakar yang diperlukan pada acara malam pasang lampu ini dalam jumlah yang sangat besar ada ribuan dan mungkin puluhan ribu lampu minyak akan dipasang. Pemerintah pun aktif memberi mendukung lawatan akbar tahunan ini dengan memberikan subsidi minyak dan sekaligus juga menggelar instalasi lampu di areal dinas masing-masing.

Pada malam Tumbilotohe Gorontalo seperti terbakar dan dipenuhi asap hitam lampu minyak tanah. Instalasi lampu minyak tanah disusun dalam komposisi dan bentuk yang beragam, ada yang digelar dihalaman dan juga digantung bahkan juga disusun di atas sungai. Dengan kreativitas dari masyarakat melahirkan berbagai susunan lampu yang dipasang kian beragam bentuk. Bahkan instalasi lampu-lampu tersbut juga kerap disisipi dengan pesan-pesan tertentu.

Pada sebuah lokasi susunan lampu bertuliskan ”VITAS”, ”234” dan ”OLAMI DEBO TE FADEL”. Tulisan VITAS dan 234 karena dua perusahan tersebut menjadi sponsor dalam instalasi lampu yang dibuat. Tulisan OLAMI DEBO TE FADEL (sepadan artinya dengan ”Kami Tetap Ke Fadel”), ketika menjalang PILGUB Gorontalo 2007 instalasi lampu minyak tanah ini menjadi ajang dukungan masyarakat terhadap gubernur Fadel Mohammad dan juga bagi Cagub lainnya. Di lain tempat ekspresi yang sama ditampilkan dalam lampu-lampu yang disusun pada tanah lapang yang menampilkan bentuk berupa kapal dan tulisan ENJOY FADEL– GUSNAR. Memberi dukungan pada calon pilihan mereka. Di lokasi lainnya lagi ada instalasi lampu-lampu disusun pada sebuah tanah lapang dengan menampilakn tulisan ucapan ”SELAMAT IDUL FITRI”.

Dari waktu kewaktu Tumbilotohe ini menjadi tradisi yang dirayakan dengan penuh sukacita dan semakin meriah, masyarakat Gorontalo menumpahkan segenap kreativitasnya dalam membuat instalasi lampu yang unik dan menarik. Inilah bentuk ekspresi seni kolektif masyarakat Gorontalo. Bahkan Tradisi Tumbilotohe ini tidak saja dirayakan di Gorontalo sendiri, tetapi juga oleh masyarakat Gorontalo yang merantau di daerah-daerah lain. Kedepan sangat mungkin acara ini dikembangkan menjadi semacam festival tahunan yang digarap dan dirancang secara matang sehingga bisa menjadi daya tarik tersendiri untuk daerah otonomi yang baru berumur tujuh tahun ini.

Penulis adalah Dosen Seni Rupa Universitas Negeri Gorontalo, kini sedang menempuh program Magister FSRD ITB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s