Pameran Bandung Expanding


Seni lukis Bandung kini sedang mengalami era kebangkitan dari persemayamannya yang cukup lama. Jika sebelumnya seni rupa (seni lukis dan patung) Bandung khususnya Institut Teknologi Bandung (ITB) dianggap sebagai “laboratorium Barat” karena sangat mengadopsi kaidah formalisme Barat. Tahun 2000-an medan seni rupa Bandung lebih dikenal sebagai daerah persemaian seni intermedia seperti; instalasi, video art, performance, happening art, atau kombinasi silang antar media-media tersebut yang umumnya tidak bersifat konvesional disebut juga media ”baru”. Sebuah pergerakan yang mewarnai semangat untuk melampaui seni dengan medium-medium konvensional seperti; seni lukis dan patung yang menjadi  medium utama dalam seni tinggi-Modernisme. Perkembangan medium ini salah satu yang menandai berakhirnya seni Modern atau pasca-modern.

Seiring dengan semangat pasca-modern yang menguat pada waktu itu, seni lukis kurang mendapat ruang, dianggap “tidak keren”, “tidak kontemporer”, ditambah lagi dengan tiadanya pasar yang berpihak ke Bandung lengkaplah sudah seni lukis memang tenggelam dalam kurun waktu itu, sehingga memang wajar kebanyakan seniman muda Bandung memilih menyimpan kuasnya dan memilih seni intermedia. Dengan menggeluti seni intermedia mereka lebih mudah terhubung dengan jejaring pegiat seni intermedia dari berbagai negara lain–sebuah peluang eksistensi yang lebih menjanjikan.

Seiring dengan berjalannya waktu, sejak tahun tiga tahun belakangan ini terjadi perubahan yang tidak terduga sebelumnya, seni lukis Bandung tumbuh dengan ditandai oleh kehadiran seniman-seniman muda yang penuh semangat. Kehadiran mereka tidak dengan sertamerta dapat dimaknai sebagai antitesis dari kondisi seni rupa Bandung awal tahun 2000-an. Kehadiran mereka dengan penuh semangat untuk melakukan pencarian pada medium konvensional seperti hal nya seni lukis, justru untuk menampilkan realitas yang sedang dihadapi dimana teknologi terutama media audio visual kini telah mempengaruhi sebagian besar kehidupan mereka (kita pada umumnya).

Karya-karya mereka menampilkan kecenderungan visual berbeda dari seni formalisme Bandung. Para seniman muda di Bandung dengan sadar memakai peralatan digital seperti kamera dan proyektor/OHP tidak saja sebagai alat untuk membantu proses berkarya, akan tetapi juga merupakan bagian yang mempengaruhi ide ke-karya-an mereka. Walaupun gaya seni lukis abstrak tidak lagi terlihat dalam visualisasi karya-karya seniman muda Bandung yang kini lebih memilih rupa realis. Akan tetapi pendekatan yang mereka terapkan dalam kekaryaan sesungguhnya tidak lepas dari pencarian sebelumnya (seni abstrak) yaitu pencarian pada wilayah estetika. Jika sebelumnya para senior mereka yang menenggelamkan diri mereka pada penggalian esensi kebentukan (form) sebagaimana penggalian para penganut estetika-esensialis sejak Cezanne, Matisse, dipertegas oleh  Braque dan Picasso lewat kubisme dan berujung pada seni abstrak dan turunannya.

Para seniman muda ini sesungguhnya tidak berpaling dari pencarian estetika, yang berbeda adalah dalam pilihan visualisasi yang kini pada wujud representasional. Soal pilihan ini juga menandai pergeseran cara pandang para seniman muda Bandung dalam memaknai medium seni lukis, dalam persinggungannya dengan medium-medium yang lainnya. Bagi mereka medium apapun kini memiliki tempat yang sama, jika kini mereka memilih medium seni lukis karena mereka melihat ada persoalan yang bisa disemaikan di atas bidang kanvas, lewat goresan bulu-bulu kuas yang halus, lewat kepekatan–figmen warna yang memberikan berbagai kemungkinan sensasi visual. Serta yang terpenting soal, bagaimana memanfaatkan semua potensi seni lukis untuk mengungkapkan persoalan-persoalan visual dalam hal ini mengacu pada persoalan estetika.

Kurator Rizky A Zaelani memberi catatan, bahwa; ”banyak seniman muda (di) Bandung yang tak hirau dengan masalah isu sosial-politik dan praktek budaya lokal dalam kaitannya sebagai manifestasi prinsip-prinsip ’perbedaan’ budaya.”  Lebih lanjut Rizky menegaskan;

[…] sikap para seniman untuk menetapkan semacam jarak terhadap persoalan-persoalan konkret sosial-politik maupun praktek budaya lokal ini bisa bermakna politis. Makna politis (political) ini tidak dengan cara ’menyerap’ isu-konflik sosial atau praktek politik yang terjadi tersebut secara langsung, tetapi justru dengan cara berputar: melalui pernyataan makna ’ambiguitas’ seni dalam kelangsungan praktek masyarakat kontemporer yang dihidupi prinsip logika konsumerisme[1].

Soal pengambilan jarak ini saya kira penting untuk memaknai praktek seni lukis Bandung khususnya saat ini, mereka yang tumbuh dan dibesarkan oleh logika budaya konsumerisme, disaat HP (Hand Phone) adalah sahabat karib yang selalu ada disaku, dimana media internet seperti Facebook adalah ruang gaul yang tidak perduli soal jarak dan waktu. Saat dimana relitas yang kita hadapi kini sesungguhnya adalah hiperrealitas, mereka berada di-antara (in-betwen) persoalan-persoalan, atau bahkan bukan persoalan namun bagian yang sudah biasa dalam kehidupan mereka. Maka setidaknya bagi seniman muda ini seni lukis kini masih menyisakan ruang bagi mereka untuk ”keluar sejenak” dari realitas sosial yang mereka jalani, saya kira apa yang mereka lakukan bukan perlawanan dalam arti sebenarnya mungkin sebagai bentuk eskapisme. Dengan kembali berkutat pada bersoalan seni lukis (estetika) menjelajahi sisi historis, mengambil, mencomot, dari teks masa lalu menghadirkannya kembali dengan cara apropriasi adalah salah satu cara mereka untuk berkomunikasi lagi dengan masa lalu tidak perduli darimana teks-teks itu berasal.

Pameran yang berjudul Bandung Expanding ini, menampilkan 16 orang seniman muda yang seluruhnya mengenyam pendidikan di Fakultas Seni Rupa Institut Teknologi Bandung, latar pendidikan mereka sangat berpengaruh pada pilihan kekaryaan yang kini sedang mereka geluti. Bagi mereka mereduksi realitas dalam pergumulan ke-bentuk-an (fromalisme-abstrak) bukan satu-satunya yang harus dijalani, menurut mereka realitas-obyektif juga menyimpan potensi abstraksi tanpa harus direduksi secara ekstrim. Ketika realitas direkam melalui kamera, dicetak dalam kertas foto, tampil dalam layar virtual, ditranspormasikan lewat proyektor, realitas telah mengalami proses pembenaman dan pemampatan telebih lagi jika dipermainkan dalam teknologi digital, dicrop, diperjelas, dikaburkan dan sebagainya. Maka makna yang ditampilkan bisa berubah-ubah, walaupun awalnya berasal dari satu sumber.

Iman Sapari mereduksi persoalan representasi pada titik yang sangat ekstrem sebagai bagian dari pencariannya mengejar peranan cahaya dalam eksistensi sebuah realitas. Cahayalah yang menjadikan obyek itu ada (nyata), kadar cahaya yang menimpa suatu benda akan mempengaruhi representasi benda tersebut. Cahaya yang dimaksud Iman bukan cahaya matahari seperti yang dikejar oleh kaum Impresionis dulu, cahaya dalam kesadaran Iman adalah cahaya atifisial cahaya buatan yang dihasilkan teknologi yang setiap saat kita lihat dan karenanyalah kita merasa ”hidup”.

Dadan Setiawan yang melakukan percarian visual pada representasi low pixel kamera HP dengan resolusi yang minim kamera HP, dan diperbesar (zoom) pada saat direpresentasikan pada bidang kanvas, obyek yang umumnya berupa landscape yang ditampilkan Dadan menjadi terdistorsi. Melihat karya Dadan sejenak kita terbayang karya-karya pointilis dalam impresionisme, walaupun terlihat ada intensitas Dadan pada karya-karya impresionis. Namun sejatinya karya Dadan lebih mendekatkan kita pada persoalan representasi dalam era teknologi virtual ini, dimana apa yang dicerap kini bukanlah kenyataan obyektif akan tetapi representasi. Representasi tersebut sarat dengan distorsi-distorsi, jadi kenyataan yang kita hadapi saat ini adalah kenyataan yang telah terdistorsi yang ditampilkan sebagai sebuah kebenaran.

Harry Cahaya menampilkan lapis-lapis pencerapan kita dalam melihat realitas, yang ia tampilkan lewat representasi laut, jika dikejar secara isi laut mengandung metafor yang sangat luas sangat tergantung siapa dan bagaimana orang memaknainya. Termasuk juga pengalaman pada masing-masing pribadi yang melihatnya. Karya-karya Harry berada pada keambiguannya dalam menampilkan maksud senimannya dua lapisan persoalan dalam karyanya, pertama realitas representasi image seperti yang telah dipaparkan tadi dan lapisan kedua adalah relitas yang dibangun dari buih-buih ombak yang ditampilkannya menempel seolah-olah menjadi bagian dari image laut sebelumnya. Yang kedua ini sesungguhnya adalah upaya Harry untuk menampilkan bahwa yang dia tampilkan ini adalah dua kolase image yang dimampatkan dalam satu bentuk representasi.

Persoalan seperti halnya yang menjadi penggalian Harry tampaknya lebih konkret pada karya Yadi Juliansyah (Ogun nama panggilannya) yang menampilkan potret laki-laki dan perempuan dengan wajah lebam, bengkak sama seperti Harry, Yadi juga menampilkan dua lapisan persoalan representasi dalam karyanya. Pertama adalah soal potret yang sengaja dia pilih anonim (tidak jelas siapa orangnya) dengan wajah bengkak, mungkin karena dipukul atau jatuh akibat kecelakaan, serta kemungkinan-kemungkinan lainnya. Potret-potret ini bisa dimaknai dengan kekerasan, dan sebagainya yang jelas dia menunjuk pada aksi dan peristiwa. Lapisan kedua adalah soal goresan dan cipratan warna yang ditimpakan pada potret ini yang jelas juga menambahkan satu persoalan lain, karya Yadi dan Harry menampilkan pejajaran dua persoalan yang berbeda dalam sebuah representasi visual.

Senada dengan mereka, Beni Sasmito (Benzig) menawarkan sebuah lapisan persoalan yang lain dengan menjajarkan dua buah teks yang sangat berbeda tumpang tindih membuka persepsi. Teks pertama lukisan dengan gaya Moi Indie yang menggambarkan panorama gunung Tangkuban Perahu di  Jawa Barat, lapisan ke dua adalah teks dalam arti sebenarnya yang berupa tulisan dan ikon yang mengantarkan ingatan kita pada sofware pemutar lagu (Mp3) di komputer yaitu Winamp. Komposisi tulisan yang tampil dengan memakai tipologi yang selalu dibuat Benzig sendiri, penjajaran atau juxtapose dalam karya Benzig sebangun dengan karya Harry dan Yadi. Fenomena penjajaran-tumpang tindih berbagai citraan, ikon, singkatnya antara teks adalah fenomena dalam budaya visual yang umum dalam keseharian kita, persepsi kita kini sangat berlapis-lapis. Terbentuk dari berbagai potongan-potongan informasi yang setiap saat kita cerap.

Cecep Moch. Taufik menampilkan estetikasi kehidupan konsumer dengan pemilikan mobil-mobil berkelas, mobil yang sejatinya adalah alat transportasi kini telah melampui fungsinya. Cecep merekam kilatan dan pantulan bodi mobil, menampilkan keindahan dari obyek fetis tersebut, tidaknya sekedar merekam Cecep memainkan posisinya sebagai sang pengamat dengan mengambil angel-angel tertentu. Angel yang berbeda dengan representasi untuk kepentingan mengiklankan produk itu, dalam angel-angel Cecep menampilkan efek-efek pantulan yang direpresentasikan bodi-bodi mobil yang berkilap menjadi seperti cermin. Dalam hal ini Cecep tidak terlalu mementingkan merek dan gengsi yang dimiliki mobil-mobil tersebut sebagai alat dari eksistensi kelompok masyarakat tertentu. Ini artinya Cecep tidak terlalu berpretensi untuk menampilkan pesan-kontekstual-kritis, Cecep menunjukkan bahwa mobil-mobil tersebut sesungguhnya adalah obyek estetis-yang indah.

Muhhamad Jabar Dipanegara, menampilkan crofing mulut yang menganga dihiasi dengan formasi gigi-gigi, mulut adalah salah bagian vital dari tubuh yang menjadi pintu bagi transpormasi energi yang berasal dari makanan. Selain itu adalah alat komunikasi dan juga menjadi wilayah yang mengalami estetikasi, dipakaikan versing, variasi kawat gigi yang berlapiskan berlian. Mulut dengan kombinasi warna merah dan putih adalah obyek estetis diluar fungsi-fungsinya inilah yang sedang ditampilkan oleh Jabar dalam karyanya. Teguh A. Priyanto tertarik dengan kancing baju benda kecil yang selalu lekat di badan (baju), kancing ini dia lukis dengan teknis drawing dengan memakai pulpen.

Sementara Agus Budiman menampilkan komposisi obyek-obyek yang dipungutknya dari berbagai sumber, untuk kemudian direkonstruksi menjadi sebuah komposisi. Keterkaitan diantara obyek-obyek inilah yang memunculkan pemaknaan. Karya-karya mereka sesungguhnya menampilkan perkembangan pencarian kebentukan (form) yang tidak mengarah pada esensialis bentuk (formalisme). Namun lebih pada pencarian bentuk-bentuk yang memberi sensasi estetik dan menstimulasi makna (meaning), makna dalam hal ini bukanlah semata-mata narasi.

Ferry Widiantoro, Henry Parulian, Rangga Oka Dimitri, dalam karya-karnya melakukan apropriasi dengan teks-teks yang mereka pinjam, ambil, comot dari karya sebelumnya yang pada umumnya dihasilkan oleh para maestro. Ferry mencoba melakukan rekontekstualisasi terhadap karya-karya Hendry Matisse, dia mencoba menjelajah ruang dan waktu saat Matisse melukis model distudionya. Ferry mengenalkan perkembangan obyek-obyek paling modern pada Matisse dengan melukiskan kembali lukisan Matisse dan meletakkan obyek-obyek baru di dalamnya seperti, botol teh, saus, dan terutama Laptop. Dia juga menunjukkan adanya perbedaan jarak dan waktu dalam proses itu, yang dibedakan dengan dua lapisan yang berbeda, rekaulang karya Matisse yang berusaha mengkopi karya aslinya dan obyek-obyek baru yang dia tampilkan dengan warna transparan dan putih.

Henry Paulian mengambil struktur karya para maestro salah satunya Michael Anggelo untuk kemudian dia ganti dengan dirinya sendiri. Dalam spirit yang sama Rangga Oka Dimitri yang memperkenalkan sebuah nama pena, Herde namanya yang diambil dari nama inisial kreator komik Prancis Tintin. Herde merupakan pengucapan dalam bahasa Perancis ”R D”, dan RD adalah singgakatan dari Rangga Dimitri (RD). Jika Henry memakai teknis hitam putih charcoal, maka Herde dengan sengaja mengambil presentasi komik untuk karyanya. Karya Herde kali ini adalah alegori dari teks komik tintin dengan seting dan ceritanya tentang Raden Saleh.

Kecenderungan alegori kerap ditampilkan oleh karya-karya pasca-modern, dalam upaya melakukan kritik soal otentisitas dan orisinalitas berupa inovasi secara menerus untuk mengejar ke-baruan. Kaum pasca modernis mengkritisi usaha untuk mengejar kebaruan dalam seni modern adalah usaha yang absurd, karena sesungguhnya ia tidak pernah akan sepenuhnya baru. Sebuah teks tidak bisa menelepaskan dirinya dari teks-teks sebelumnya seperti diungkap Julia Kristeva, yang ada hanya usaha untuk selalu membedakan diri secara menerus. Prinsip berbeda (diferent) lebih bermakna membedakan diri dari yang lain dan lebih lanjut menampikkan yang lain (other), menjadi kata kunci dalam seni modern. Jika semangat seni modern mementingkan kebedaan maka semangat alegori dan apropriasi[2] meletakkan diri sebagai bagian dari teks yang menjadi rujukannya. Dua kecenderungan ini sangat lekat dalam seni pasca modern, kerap tampil dalam bentuk parodi, kitcsh, penggabungan yang eklektik atau hibrid.

Priyangga, dan M. Reggie Aquara, sama-sama mengambil obyek untuk karyanya dari mengcapture image dari potongan film. Sekali lagi ada persoalan waktu yang coba ditampilkan dalam karya-karya mereka, waktu yang dipotong sehingga image yang tampil kini keluar dan kehilangan konteksnya. Walaupun sama-sama mengambil film, terdapat perbedaan diantara keduanya Reggie mengambil image dari film-film tentang seniman seperti; Michael Anggelo, Jackson Pollock, Andy Warlhol dan Francisco De Goya dalam karya ini. Sementara Priyangga tidak mementingkan harus film tentang seniman, karena yang menjadi wilayah garapannya bukan pada siapa yang direpresentasikan, melainkan pada transisi atau pergantian waktu dalam film yang jika dicapture akan terlihat ada dua buah scene yang menghasilkan tumpukan gambar. Transisi inilah yang coba ditampilkan Priyangga, sehingga dalam karyanya sarat menampilkan soal transisi antar waktu. Sementara Reggie menampilkan terjemahan bahasa sebagai bagian yang penting dalam karyanya, karena dalam penerjahaman ini ada proses pencarian makna dan konteks dalam potongan image yang sangat cair dalam identifikasi. Penampilan teks terjemahan oleh Reggie berfungsi menjangkar si image pada konteksnya, memberi penanda padanya sebagai potongan adengan bukan image foto.

Erik Pauhrizi, menampilkan citraan-citraan yang ambil dari sumber-sumber di internet berupa figur-figur yang tidak jelas lagi indentitas mereka dan semakin menjadi kabur ketika dimanipulasi dalam media digital. Pauh sedang mempersoalkan image dan citra yang kerap hadir dalam keseharian kita didedahkan oleh media massa, media audio visual dan tidak terlalu penting bagi kita untuk tahu siapa dan apa citraan itu. Ketika citraan-citraan itu hadir secara terus menerus pada keseharian kita, secara tidak langsung mereka telah masuk dan mengendap dalam ketidaksadaran kita. Sehingga sangat mungkin akan mempengaruhi wilayah kesadaran, dalam kontek ini Pauh sedang melakukan subversi pada citraan-citraan itu memiuhkannya untuk mengaburkan identitasnya yang sejatinya juga tidak terlalu jelas dan penting bagi kita. Menipulasi citraan ini yang menyebabkan kekaburan,  justru menjadikan pemaknaan itu terasa relevan untuk dilakukan.

Moch. Rizal Fauzi dalam karyanya menampilkan pendekatan psikologi Freudian untuk menjelaskan prilaku manusia yang sangat dipengaruhi oleh alam bawah sadarnya (Id). Manusia memiliki lapis-lapis kepribadian yang sangat terselubung mengendap dalam dunia bawah sadar subconciusness, ini adalah potensi yang tidak selalu muncul pada perilaku keseharian manusia. Rizal mencoba menggambarkan fenomena tersebut dengan membuat sosok-sosok manusia hibrid yang dianalogkan dengan binatang Hiena, sebagai metafor untuk mewaliki kerakusan dan kelicikan untuk mewujudkan keinginan-keinginan manusia yang sanggup berbuat apa saja demi mencapainya.

Meskipun tidak berpretensi menampilkan secara general, setidak-tidaknya dari irisan dalam pameran ini kita bisa melihat perkembangan seni lukis Bandung yang kini tengah membuktikan eksistensinya kembali.

I Wayan Seriyoga Parta

Bandung, Maret 2009


[1] Lihat, Rizky A. Zaelani dalam Modest and Codes tulisan dalam pengantar Pameran delapan seniman Bandung di Oka’s Gallery, Lodtunduh Ubud, September-Oktober 2008

[2] Lihat, Asmudjo Jono Irianto, dalam Pengantar Pameran Trans Allegory, Roemah Roepa Galeri Jakarta, Tgl 13-28 Februari 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s