John Wood: Antara Microsoft dan Ribuan Perpustakaan


Titik cerita, perubahan, dan pilihan hidup itu dimulai dari satu putaran perjalanan liburan ke Himalaya. Sesaat menjadi ”Brahman”, menjauh dari kejaran kerja yang nyaris menyita seluruh waktunya.

Room to Read's John Wood '89 distributing books to eager readers in NepalRoom to Read’s John Wood ’89 distributing books to eager readers in Nepal

John Wood adalah seorang eksekutif perusahaan komputer terbesar sejagad, Microsoft, yang membawahi pemasaran di kawasan Asia Pasifik. Di Himalaya, 21 hari ia memaksakan diri putus dari matarantai kapital yang menjelujuri perhatiannya tiada henti: tanpa e-mail, dering panggil telepon, pertemuan, dan pulang-pergi kerja.

Bertahun-tahun rutinitas itu dijalankannya: gaya hidup komando seorang prajurit korporat di mana liburan hanya buat orang-orang yang lemah. Dalam falsafah parakomando korporat itu, prajurit kapital sejati adalah mereka yang terus bekerja di akhir pekan, terbang ratusan ribu mil, membangun kerajaan-kerajaan mini demi kebesaran patung raksasa Microsoft.

Tapi kini ia di Himalaya. Yang ia kerjakan adalah berjalan dan terus berjalan menyusur jalanan setapak menuju ketinggian. Dingin. Sepi. Juga buku catatan harian—yang kelak menjadi bahan mentah untuk biografi perjalanannya yang sangat terkenal: Leaving Microsoft to Change the World.

Buku harian itu menjadi semacam pandu rekam setiap langkah kaki yang tertanam di ceruk pasir putih yang dikepit salju. Di buku harian itu pula ia dirasuki suara-suara halus filsuf Soren Kierkegaard: ”Tak ada sesuatu pun yang begitu ditakuti setiap manusia seperti halnya mengetahui seberapa besar dia mampu melakukan dan menjadi.”

Dalam karavan itu ia terus bertanya pada hatinya yang disesap lengang. Dan pasase Dalai Lama di The Art of Happiness yang dikantunginya memberinya secupet rasa damai: “Ketika kita memberikan sesuatu, kita sebenarnya memperoleh sesuatu balasannya: kebahagiaan.

Jika kita harus menggunakan uang kita sekadar untuk membeli barang-barang buat diri kita sendiri, tak akan ada akhirnya. Memperoleh sesuatu tak akan menghasilkan kebahagiaan sejati, sebab kita tak akan pernah memiliki perahu yang paling besar, mobil paling bagus, dan akan terikat pada siklus materialis yang abadi.

Tapi, kalau kita memberikan sesuatu bagi mereka yang kurang beruntung, kita tak akan memperoleh sesuatu sebagai balasan kecuali perasaan hangat dalam hati kita dan pengetahuan yang kita miliki dalam otak kita bahwa kita telah menjadikan dunia sebuah tempat yang lebih baik.”

Keramahan memang diterimanya dari setiap warga yang ditemuinya. Tapi di balik keramahan itu, tersembul ironi. Di sana tertanam angka buta huruf dengan angka yang nyaris absolut. Di sana, di jalur Annapurna, di dukuh Bahudanda yang dilewati Sungai Marsyendi, memang terdapat satu sekolah.

Di pagi itu John diajak berkeliling sekolah berlantai tanah yang terlalu sesak buat 450 anak “belajar” di dalamnya. Dan John masgul di bawah plang dengan cetakan yang sangat meyakinkan: “Perpustakaan Sekolah”. Karena apa yang disebut perpustakaan itu hanyalah sebuah ruang lengang tanpa buku. Ruang yang seperti diciptakan dengan nyala harapan bahwa suatu ketika ada peri yang menitip buku-bukunya buat anak-anak Bahudanda.

Dan momentum saat John pulang itulah meluncur sebaris harapan yang dikatakan sang kepala sekolah yang kelak membalik posisi berdiri John Wood di atas pentas karirnya: “Barangkali, Pak, suatu hari Anda akan kembali dengan buku-buku.”

Dan sepanjang perjalanan, John membayangkan datangnya hari itu: Menaikkan beberapa ratus buku ke punggung yak-yak sewaan dengan barisan panjang.

Tapi setiap pilihan membutuhkan keputusan yang berani; sebagaimana tradisi Microsoft yang dibangun dua doktrin yang mesti diresapi setiap prajurit korporatnya: ”Jadilah besar atau pulanglah” dan ”Tujuan berani akan menarik orang-orang berani”. Dan di antara harapan akan hadirnya buku-buku di sebuah dukuh di balik-balik batu di ketinggian bumi yang jauh dari jangkauan peradaban modern, John Wood mengambil ikrar: Meninggalkan Microsoft yang telah memberinya segala-gala. Gaji yang memberinya angka tabungan yang berlimpah untuk jaminan hari tua, prestise, jaringan pertemanan mahaluas, serta jabatan mentereng sebagai eksekutif—jabatan yang didamba begitu banyak petualang kerja.

John memilih menjadi kurir buku-buku buat anak-anak Nepal—dan juga negeri-negeri yang terpental dari pergaulan dunia karena dikeram kebodohan dan kemiskinan. Atas pilihan itu John tidak hanya melihat tabungannya meluncur ke titik nol, tapi juga kehilangan pacar yang tak memahami jalan pikirannya.

Tak banyak kita temui sosok yang berani seperti John Wood ini. Yang mengikuti keyakinannya yang menyala-nyala bahwa jalan buku adalah serupa lorong harapan yang membuka jalan pembebasan.

Mula-mula diteguhkannya dirinya sendiri: “Saya membangun sekolah dan perpustakaan di komunitas-komunitas miskin di Nepal.” Dia tahu, untuk mengajak orang lain bertindak yang sama, maka ia harus terlihat meyakinkan. Yang diyakinkannya pertama kali adalah orang tuanya dan tetangga-tetangganya di San Fransisco. Gelombang pertama ini berhasil mengumpulkan banyak buku dan menjadi langkah pertama John mewujudkan mimpinya: Memimpin sebarisan yak-yak pengangkut buku ke puncak Himalaya.

Langkah itu membawa John mendirikan lembaga amal yang menaungi dirinya dan barisan panjang yak-yak pengangkut buku. Ia menamai lembaga amal itu dengan ROOM TO READ atau Ruang Baca. Bagi John, salah satu keterampilan yang mutlak dimiliki oleh lembaga amal adalah kemampuan menjual visinya, model bisnisnya, dan program-programnya kepada donatur-donatur potensial.

Yang lebih penting lagi adalah perencanaan keuangan yang terbuka dan jangan sekali-kali membiarkan cash flow negatif. Ketatnya John dalam soal pengurusan kapital ini lantaran doktrin pendidikan yang sudah dijalaninya untuk memelototi model-model cash flow serupa intensitas seorang siswa Rabbini mempelajari Kitab Taurat.

Selain itu, John amat berpantang membangun lembaga amalnya dengan teknik “Tangisan Panjang Sally Stuthers”. Teknik ini—dan biasanya kerap dijual lembaga filantropik—mengeksploitasi dan memperlihatkan foto-foto anak yang dikerubungi malapetaka atau keluarga gizi yang berbaring dalam debu.

Bagi John, teknik ini alih-alih mengangkat harkat kaum miskin, tapi justru merendahkan martabatnya. Room To Read mengambil jalan sebaliknya. Memberi obor harapan dan pendar optimisme dengan menampilkan foto-foto anak dari sebuah pusat kota kecil dengan memakai toga kelulusan yang kedodoran, gambar seorang gadis kecil yang sudah bisa menyunggingkan senyum setelah operasi sumbing, atau potret petani-petani di lahan tandus Honduras yang bangga dengan sumur barunya.

Prinsip itu dipegang kuat oleh John dan tim yang dibangunnya. Di halaman muka situsnya, http://www.roomtoread.org, memang ditampilkan angka-angka yang menandai ketunaan: “There are over 76 million children of primary-school age who are not enrolled in school. Of the 774 million adults in the world who cannot read or write, 64 % are women. Of the world’s 76 million children out-of-school children of primary age, over 80% live in rural areas”. Namun foto-foto di latar situs itu adalah anak-anak sekolah dasar yang mengepit buku dan memperlihatkan seutas tipis senyumnya.

Room To Read memang membeber data kemiskinan, tapi bukan untuk menjual kemelaratan dan kesengsaraan, melainkan memberi arah bagi pijakan perjuangan “menumpasnya” dengan jalan buku, perpustakaan, dan ketersediaan gedung sekolah bagi anak-anak. Itu semua terwujud berkat hasrat filantropik John yang menggebu disertai keahliannya mengorganisasi sebuah tim yang bukannya anti kapital, tapi bagaimana mengelola cash-flow kapital itu dengan baik dan transparan.

Teknik itu kemudian melahirkan kepercayaan. Hanya kepercayaan yang bisa mendorong donatur-donatur yang menyebar di daratan Amerika, Eropa, bahkan Hongkong itu untuk menitipkan hartanya untuk digunakan sebagaimana mestinya.

John, dititimangsa ini, berhasil membuktikan doktrin yang diyakini oleh setiap prajurit korporat di Microsoft: “”tujuan berani akan menarik orang-orang berani”. Tapi doktrin itu kini bukan untuk kemahamuliaan patung porselen raksasa Microsoft, melainkan untuk warga dunia selatan yang papah.

John kini tak hanya membayangkan memimpin sebarisan yak-yak pengangkut buku ke puncak Himalaya, tapi juga ia berhasil memimpin sebuah tim dan sejumlah besar donatur potensial membangun lilin kecil literasi. Dan pastinya John telah tunaikan janji kepada kepala sekolah Bahudanda. John pulang. Tapi ia tak hanya pulang dengan membawa buku-buku di atas punggung yak-yak, tapi juga ia dan Room To Read hingga 2009—atau sesudah 10 tahun berjuang dari titik nol di ketinggian Himalaya—telah berhasil membangun 8.500 perpustakaan dan ribuan sekolah. Bukan hanya di Nepal, tapi Vietnam, Srilanka, dan Kamboja. (Muhidin M Dahlan)

Tulisan ini disobek dari buku Para Penggila Buku terbitan Indonesia Buku

Sumber: http://indonesiabuku.com/?p=952

Diposting oleh sasa on Jul 10th, 2009 di topik Perpustakaan, Tokoh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s