Imagination


W Seriyoga Parta (kurator)

“Karya seni dimengerti Freud sebagai pemuasan keinginan pada taraf imajiner, sama halnya seperti mimpi dan gejala neurotis. Dan seperti mimpi dan gejala neurotis pula, karya seni merupakan suatu kompromi antara berbagai kecenderungan tak sadar”. (K. Bertens 2006: 26)

Perkembangan peradaban manusia yang sedemikian maju saat ini tentunya tidak muncul dengan serta merta begitu saja, tidak lain karena pemikiran (akal) manusia yang lambat laun berkembang–mengembangkan ilmu pengetahuan. Kalau bicara tentang pemikiran (ilmu) tentunya yang terbayang adalah daya nalar atau sesuatu yang berhubungan rasio atau logika. Selain logika ada sesuatu yang lain dalam diri manusia yang juga menjadi faktor pendorong dalam perkembangan tersebut, yaitu peran hasrat yang mengendap di dalam dunia bawah sadar manusia.

Sudah sejak lama, dari masa Plato hingga Deskartes hasrat terpinggirkan dari ranah pengetahuan, ”Aristoteles menyebutnya komponen rendah dari jiwa yang harus dikontrol ketat oleh rasio. Plato menuduhnya sebagai gangguan badani yang mencengah kita memalingkan wajah dari matahari kebenaran”. (Donny Gahral Adian, 2005)  Klimaknya adalah magnum opus Deskartes yaitu Cogito Ergo Sum (karena aku berpikir maka aku ada).

Berkat perkembangan psikonalisa, hasrat yang hidup di alam bawah sadar manusia yang cukup lama tidak disadari memiliki peran dalam mempengaruhi alam sadar manusia (conciusness) termasuk rasio, pada akhirnya dapat terungkap. Hasrat tumbuh subur dalam bawah sadar manusia karenanya jugalah manusia merasakan hidup, hasrat tumbuh dalam fantasi dan imajinasi merupakan sebuah anugrah luar biasa yang diberikan pada manusia. Daya imajinasi berperan sangat penting dalam perkembangan peradaban manusia, contohnya bisa dilihat mulai dari seni gambar sejak masa prasejarah manusia—sebuah rahasia yang tersimpan ribuan tahun pada dinding goa-goa prasejarah.

Berbagai penelitian telah dilakukan tentang sebab manusia prasejarah membuat gambar-gambar di goa-goa. Dalam film dokumenter how art made the world yang dibuat oleh BBC diperlihatkan betapa gambar-gambar tersebut menyimpan sejuta misteri yang dapat menjelaskan, mengapa dalam perkembangan kita di zaman sekarang ini dipenuhi oleh jejalan image-image dari yang still [tetap/diam (foto)] sampai motion image [gambar bergerak (video/film)], dalam layar kaca atau liquid (LCD) yang kini telah menjadi bagian integral dalam kehidupan kita.

Semua itu berawal dari gambar-gambar manusia prasejarah, dan gambar tersebut terjadi karena adanya daya imajinasi dalam diri manusia. Kala itu rasio belumlah berkembang. Peran imajinasi juga dapat ditemukan dalam perkembangan kebudayaan yang melahirkan kesenian pada sepanjang sejarah peradaban manusia. Khususnya dalam seni rupa, imajinasi adalah kata kunci yang memicu perkembangan, dari lukisan gua-gua prasejarah berlanjut pada lukisan-lukisan pipih seperti dalam lukisan tradisi, dengan imajinasi kemudian berkembang lukisan-lukisan Yunani—Romawi yang mulai menemukan ide yang mulai berpijak pada anatomi manusia.

Sampai akhirnya kemudian Barat menemukan teori memisisme (Plato) yang melahirkan realisme, seiring menguatnya rasio. Dimana kenyataan di alam menjadi rujukan utama untuk ditampilkan pada bidang kanvas, bidang kanvas segi empat dimaknai sebagai sebuah cermin/jendela untuk melihat realitas di alam. Dalam kenyataannya seni rupa (lukis) tidaklah pernah hanya menjadi penyalin realitas, dengan imajinasi Cazanne menemukan adanya struktur dialam berupa rangkaian geometri dan menjadi cikal bakal kubisme.

Dari Cazanne, bukan secara kebetulan Picasso kemudian terimpresi oleh seni primitif yang sangat imajinatif—bebas dari representasi realitas, sehingga munculah ide tentang kubisme dan terus berlanjut pada pencarian esensialis hingga melahirkan abstrak—formalisme. Jack Pollock menolak kinerja yang terlalu analitik dalam belenggu kubisme, dan ia membebaskan diri dari ikatan dan membebaskan imaji dari beban apapun, muncullah goresan-goresan kusut penuh silang sengkarut. Lepas dan bebas, sebagaimana halnya anak kecil mulai menggores yang  muncul adalah goresan benang kusut—konon itulah imaji yang muncul di otak si anak dan akan semakin berkembang pelan-pelan memunculkan imej-imej seiring pengalaman yang dicerapnya dari lingkungan.

Pameran ini bermaksud mengajak para perupa, kembali menyadari peran penting imajinasi bagi gerak laku kreatif mereka. Perkembangan imej visual dengan didukung oleh perangkat canggih komputer, kita rasakan hampir menghimpit kreativitas seniman. Sedari perkembangan teknologi fotografi hingga digital seperti saat ini, seniman—realis akhirnya mengamini foto dengan menunjukkan bahwa kemampuan keterampilan tangan mampu menyaingi keakuratan teknologi semacam fotografi.

Ketika berkembang mesin pintar komputer yang merupakan kopian dari sistem kerja otak manusia karena itu disebut sebagai artificial intelligent, memindai kode-kode binary untuk menjadi representasi visual. Yang di dalamnya juga berkembang perangkat yang menggantikan semua material untuk menggambar. Seniman kembali mengamini perangkat tersebut untuk membuat karya seni lukis, belakangan kita kerap saksikan lukisan yang menampilkan representasi olah digital photoshop dilukis kembali dalam kanvas-kanvas seniman.

Tapi haruskah karya seni lukis berpedoman pada perangkat-perangkat tersebut? Tidak tentunya, semua itu hanya alat (toll) tanpa imaji dengan daya kreatif tool tersebut tidak akan mengghasilkan apa-apa. Dalam proyek pameran ini seniman diajak kembali menyadari daya maha dasyat yang ada dalam diri mereka sebuah anugrah yang luar biasa–bahkan dapat mengubah dunia.

Ketika dihayati secara mendalam, imajinasi akan menghasilkan bahasa ungkap yang beragam dari para seniman, dan kita akan diajak menikmati imaji-imaji yang muncul kepermukaan. Menyambung petikan pendapat Freud yang telah dikutif pada awal pembahasan ini, “yang khusus bagi karya seni adalah bahwa kompromi itu serasi dengan aspirasi yang dialami orang lain, sehingga keinginan mereka untuk sebagian dipuaskan pula”. (K. Bertens 2006: 26)

Bandung Januari 2010

Teks Pengantar Kurasi Pameran “IMAGINATION, di Vanessa Artlink, 30 Januari 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s