Seni Abstrak (Bali) Bangkit Lagi?


Oleh I Wayan Seriyoga Parta

Tulisan ini telah dimuat di Harian Balipost Minggu, 12 Desember 2009  http://balipost.com

KESADARAN para seniman Bali akan ruang dan komposisi sangat lekat dari karya-karya tradisi atau pramodern hingga saat ini. Jika umumnya dalam karya seni tradisional Bali kesadaran itu bersifat unconscious, terejawantahkan secara langsung dalam gerak aktivitas kesenian yang mereka laksanakan. Umumnya ruang dan komposisi bersifat simbolik dalam artian memiliki nilai.

Seni rupa Bali pramodern sangat terkait dengan entitas agama Hindu, seni adalah bagian inheren kehidupan keagamaan. Karena itu konstruksi visual seperti pembagian ruang dalam seni lukis wayang misalnya memiliki nilai filosofis dan simbolik.

Jakob Sumardjo, pemikir seni yang gigih menggali konsepsi filosofis seni rupa Indonesia dalam bukunya “Estetika Paradoks” menjelaskan, simbol dalam seni pramodern di Indonesia adalah tanda kehadiran yang transenden. Acuan simbol bukan konotasi gagasan (rasio), dan pengalaman manusia (rasa), akan tetapi hadirnya daya-daya (power) atau energi adikodrati. Simbol adalah tanda kehadiran “yang absolut” itu. Inilah sebabnya simbol-simbol presentasional Indonesia tidak memperdulikan benda seni itu “indah” atau “menyenangkan”, tapi berguna dalam praksis menghadirkan yang transenden tadi.

Dalam seni rupa pramodern tidak dikenal perspektif linear ala Barat, semua figur, benda, tampak utuh baik jauh ataupun dekat cara wimba ini yang disebut Primadi Tambrani sebagai RWD (ruang-waktu-datar).

Seni rupa Bali pramodern lahir dari interaksi sinergis perkembangan kebudayan yang dibawa oleh kebudayaan Hindu-Majapahit yang hingga kini masih diwarisi oleh Bali. Kebudayaan Bali tidaklah statis, seiring perkembangan zaman datangnya berbagai pengaruh dan persentuhan dengan modernisme pun tak terhindarkan.

Dalam perkembangan selanjutnya terutama pada generasi seniman akademis, yang mulai berkenalan dengan kaidah-kaidah seni rupa modern dari Barat yang mengajarkan tentang dasar-dasar seni rupa dan komposisi secara formal Barat, terjadi perubahan dalam cara ungkap karya-karya seniman Bali.

Awal perkembangan generasi akademis ini dapat dilihat dalam sosok dan karya-karya almarhum I Nyoman Tusan yang menempuh pendidikan seni rupa di ITB Bandung pada 1954-1960. Jurusan Seni Rupa Institut Teknologi Bandung yang kala itu menggariskan metode penciptaan seni rupa pada kaidah-kaidah formalisme (baca abstrakisme), membuat I Nyoman Tusan mengangkat simbol-simbol budaya Bali yaitu lamak (tamiang) dalam ekspresi karya-karyanya yang kuat menampilkan komposisi garis, warna dan tekstur.

Berlanjut dengan kehadiran lebih banyak seniman Bali yang mengenyam pendidikan seni rupa di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, seperti di antaranya I Nyoman Gunarsa, Pande Gede Supada, I Wayan Sika, I Made Wianta, Made Budiana, I Nyoman Erawan hingga Putu Sutawijaya dan masih banyak lagi. Mereka umumnya mengembangkan pola yang kurang lebih sama dengan yang telah dirintis I Nyoman Tusan.

Seni modern dalam perkembangannya melahirkan sikap kritisisme terhadap medan sosial seni ketika dikumandangkannya otonomi seni. Seni modern praktis kemudian melepaskan keterikatannya dengan persoalan sosial yang melingkupi seni dan seniman, meliputi empati pada kehidupan sosial masyarakat, patronase dari awalnya gereja dan berikutnya kaum borjuis.

Seni rupa kemudian dengan tegas menyatakan diri tidak mengabdi pada siapa dan apapun, selain pada dirinya sendiri, demikianlah seni modern lahir dan berkembanglah isme-isme (gaya) dari impresionisme, kubisme, hingga berujung pada abstrakisme. Motivasi kelahiran isme-isme tersebut bersifat ideologis, dengan semangat kebaruan melampui pencapaian dalam isme sebelumnya, inilah semangat garis depan (avant garde) yang mendasari perkembangan seni modern.

Sudjojono memulai tradisi kritisisme yang menjadi dasar perkembangan seni modern di Indonesia. Kritisisme Sudjojono sedari awal tidaklah ditujukan pada gaya atau bahasa rupa yaitu realis-naturalis yang dikembangkan para seniman mooi indie, namun pada tema yang ditampilkan. Ia pun menegaskan, “mereka barangkali cerdas dari segi tekniknya, akan tetapi lukisan-lukisan mereka tidak berjiwa, sebab mereka hanya orang yang berdiri di luar hidupnya”. Selanjutnya Sudjojono mengetengahkan lahirnya generasi baru yang membawa sebuah idealisme, menampilkan semangat perjuangan dan ketertindasan bangsa Indonesia atas penjajahan kolonial Belanda.

Namun begitu, sejatinya modernisme yang diserap oleh pada umumnya seniman di Indonesia, tidaklah sepenuhnya mengadopsi konsep modernisme. Ditambah lagi Modernis (M-kapital) jelas-jelas membedakan diri dengan modernisme (m-kecil). Jim Supangkat dalam sebuah tulisannya menggungkapkan, “Modernisme ternyata idealisme yang tidak cukup kukuh atau jelas untuk bisa membangun pengaruh di seluruh dunia. Yang terjadi adalah beberapa pokok pikirannya meluas bersama proses modernisasi dunia dan kemudian menghasilkan berbagai modernisme yang berbeda”.

Persoalan estetika dalam seni rupa Indonesia pada hemat penulis tidak menyerap sepenuhnya konsep seni rupa modern, yang mana fenomena estetika kemudian bergerak dari persoalan keindahan menuju filsafat seni yang berujung pada seni itu sendiri sebagai fenomena estetik. Maka estetika dalam seni rupa modern di Indonesia justru tidak pernah sepenuhnya hanya berbicara dalam konteks fenomena estetika semata.

Bahkan dalam seni abstrak sekalipun, beberapa di antaranya seperti Ahmad Sadali dan AD Firous yang dengan sadar memasukkan nilai-nilai keindahan yang bersifat religius dari nilai-nilai keislaman. Begitu juga pada karya-karya I Nyoman Tusan yang telah dijabarkan pada pembahasaan ini. Hingga perkembangan seni abstrak (ekspresionis) yang dikembangkan oleh seniman muda Bali di tahun 1980-1990-an, mereka dengan sadar melakukan pencarian pada idiom-idiom rupa dalam seni budaya Bali yang berlandaskan pada ajaran Hindu di Bali.

Kedasaran ini terasa kuat dalam karya-karya seniman Bali yang melukis secara abstraksi, mereka tumbuh dari ranah akademis dimana mereka diperkenalkan dengan kaidah-kaidah formal dan estetika seni rupa modern. Seperti halnya dalam perkembangan seni modern Indonesia, prinsip-prinsip modernisme tersebut tidak dianut sebagai ideologi, apalagi ideologi seni rupa yang berujung pada formalisme seperti di Barat.

Spirit inilah yang mendasari perkembangan seni lukis yang melakukan abstraksi bentuk yang berkembang di Bali sejak tahun 1980-1990-an yang menyerap spirit penggalian esensi seni modern. Akan tetapi tidak secara penuh menyerap prinsip avant garde, sehingga menjadikan karya-karya abtraksi ini justru sarat dengan muatan-muatan kultural dan spiritual. Presentasi karya-karya mereka menghadirkan nilai-nilai simbolik, dan juga metafora.

Ketika seni rupa kontemporer merayakan kecenderungan representasi serta meninggalkan upaya dalam mencari yang esensi, karya-karya abstraksi masih dengan setia digeluti oleh beberapa seniman Bali. Pertanyaanya, mengapa hal ini terjadi? Asumsi penulis; sesungguhnya bawah sadar seniman Bali akan ruang terus diwarisi bahkan dalam generasi seniman kontemporer sekalipun, dan inilah yang memunculkan kekhasan karya-karya abstraksi dari seniman Bali. Dalam beberapa hal sangat sulit mereka ejawantahkan ke dalam karya-karya representatif (realisme).

Jadi, ada geneologi didalam perkembangan dan struktur ruang dalam karya-karya seniman Bali yang menekuni abstraksi serta masih dapat ditelusuri jejaknya dari karya-karya sebelumnya. Pada suatu waktu fenomena itu akan kembali muncul ke permukaan dalam spirit multiplisitas ruang kontemporer itu sendiri.

* Penulis adalah Staf Pengajar di Universitas Negeri Gorontalo, kini sedang menyelesaikan studi di Program Magister Seni Rupa Institut Teknologi Bandung.

One thought on “Seni Abstrak (Bali) Bangkit Lagi?

  1. ga, saranku, cobalah untuk memangkas pembacan2 dari masa lalu🙂 seakan-akan menggali-gali kisah lama yang notabene tidak cukup signifikan di masa “a-historis” saat ini.
    memang mengingat-ingat kisah2 “tuak labuh” adalah ciri khas generasi kita kawan. namun kini sepertinya garis peradaban dan pemahaman sudah bergeser… saatnya kita juga ikut tuk bergeser, tidak mudah, tapi dibutuhkan hati yang terbuka.
    saatnya kita kembali ke jalanan, saatnya kita kembali berinteraksi dengan realitas, mari tinggalkan onani menara gading!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s