Dari Eksplorasi Medium Kepersoalan Konteks


(Pameran Made Wiguna Valasara dan Wayan Upadana)

di Bentara Budaya Yogyakarta, Juni 2010

Karya Valasara

Oleh : I Wayan Seriyoga Parta

Made Wiguna Valasara dan Wayan Upadana adalah dua perupa muda asal Bali yang mengenyam pendidikan formal di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dan setelah selesai mengikuti perkuliahan mereka memilih menetap dan berkarya di sana. Karya-karya mereka menampilkan eksplorasi material dan olah unsur-unsur formal seni rupa. Mereka merupakan generasi yang garapan visualnya terbebas dari representasi ke-Bali-an,  berbeda dengan generasi tahun 80 hingga tahun 90-an yang secara sadar melakukan eksplorasi pada nilai-nilai budaya (Bali), melalui bahasa visual yang didominasi oleh abstraksi.

Representasi yang menampilkan perihal identitas budaya Bali tersebut, sempat mendominasi dan memberi stigma bahwa seni rupa Bali selalu terkungkung dalam koridor “identitas”. Sehingga dalam dalam perkembangan akhir tahun 90-an hingga awal 2000-an  banyak para perupa muda Bali mulai mengkritisi diri dan sedapat mungkin berusaha melakukan eksplorasi  estetik  yang tidak lagi menampilkan representasi identitas budaya, melalui ideom-ideom budaya Bali.

Bersama beberapa perupa lainnya baik segenerasi maupun generasi sebelum mereka, Upadana dan Valasara hadir dalam eksplorasi estetik yang nir-identitas (Bali). Mereka memilih mengembangkan basis kreativitasnya pada eksplorasi estetik yang lebih universal yaitu mengolah aspek-aspek dasar unsur rupa, dengan mengolah material dan medium baik dua dimensi maupun tiga dimensi. Karya-karya Upadana kerap menampilkan penjajaran sinergis antara material yang berbeda, seperti kayu dan logam.  Wiguna Valasara, sangat intens dalam mengeksplorasi garis dan bidang yang menghasilkan efek optikal, ditimbulkan oleh eksplorasi material kanvas yang dijahit dengan memasukkan dacron (spons pelapis)  di dalamnya sehingga menghasilkan efek emboss.

Kekaryaan mereka segera memberikan nuansa yang berbeda bagi perkembangan seni rupa Bali sebelum, yang riuh bertabur  unsur-unsur rupa–digali dari kasanah rupa dalam seni budaya Bali.  Untuk beberapa waktu kehadiran karya-karya Upadana dan Valasara yang clear, formal, dan sekaligus juga menampilkan sensibilitas material dalam mengetengahkan nilai estetik. Valasara sangat konsen dalam mengeksplorasi berbagai komposisi garis dengan tampilan emboss dan menggabungkan berbagai material seperti; tali snar, kain bercorak, kayu/bambu hingga logam kedalam karya-karyanya. Upadana yang berasal dari jurusan seni patung, melakukan eksplorasi pada material seperti: kayu, batu, logam, resin (fiberglass), serta material lainnya yang dengan sengaja dia gabungkan, untuk kepentingan eksplorasi estetiknya.

Karya-karya mereka menampilkan pengolahan visual yang lebih terfokus pada eksplorasi estetik, dan minim dengan muatan kontekstual. Kehadiran mereka segera disambut dalam perkembangan seni rupa kontemporer (Indonesia), yang cenderung tidak lagi menampilkan penggalian identitas budaya (yang jamaknya sering dimaknai sebagai usaha menggali dari warisan tradisi budaya). Perkembangan seni rupa kontemporer, memberi keleluasaan ruang dalam berbagai eksplorasi intermedium dan tema, gaya dan eksplorasi lainnya.

Dari intensitas mereka (Upadana dan Palasara) dalam mengeksplorasi medium dan nilai estetik, dalam pameran bersama ini mereka justru menyisipkan muatan kontekstual dalam karya-karya yang ditampilkan. Muatan kontekstual itu merupakan sebentuk penyikapan “kritis” terhadap tanah kelahiran mereka yaitu Bali dengan kebudayaan dan keseniannya. Meskipun kesadaran kritis terhadap Bali (yang telah menjelma menjadi daerah terdepan dalam perkembangan pariwisata budaya dengan implikasi positif dan negatifnya)  telah dilakoni oleh jamak seniman muda Bali.

Karya-karya kedua perupa muda asal Bali ini, mampu menampilkan kebedaan cara/bahasa ungkap dalam merepresentasikan muatan kontekstual, dengan karya-karya para pendahulu mereka. Mereka memakai bahasa rupa yang dihasilkan melalui eksplorasi medium yang cukup lama dilakoni oleh masing-masing. Telah mendapat apresiasi yang cukup antusias melalui karya-karya dengan eksplorasi estetik dan keluar dari unsur-unsur budaya rupa Bali, tidak membuat mereka kemudian melupakan daerah asalnya. Seni rupa Bali dengan stigma yang kuat dengan representasi identitas memang tidaklah harus dihindari, karena sejatinya stigma itu bermata dua; bisa jadi momok dan sekaligus kembali bisa jadi potensi.

Semuanya itu dalam hemat penulis, bermuara pada cara menyikapi wacana yang ada, kekhasan bahasa rupa seni rupa Bali pada perkembangan tahun 1990-an, yang didominasi oleh abstraksi memang terlalu membuat nyaman banyak seniman Bali dalam jangka waktu yang cukup lama. Karena dilakoni secara massif dan bertahan cukup lama, jelas memberikan kesan visual yang menjenuhkan, dan sepertinya tidak ada alternatif yang lain. Kehadiran Upadana dan Valasara melalui pameran ini, dalam upaya merefres kembali kejenuhan visual tersebut dengan penggalian visual yang mereka lakoni.

Lihatlah, Rangda dan Barong dalam karya Valasara yang diwujudkan dengan teknik emboss, dengan warna dominan kain kanvas polos (putih) dan sedikit aksen pada bagian tertentu yang dilukis dengan warna akrilik. Barong dan Rangda dalam karya Valasara hadir dalam rupa yang sederhana (berwarna putih), dicerabut dari kemeriahan warnanya, hiasan ukiran serta penggabungan material; kayu, kulit, rambut/bulu,kain, warna, yang kesemuanya didekor dengan gemerlap. Valasara menghadirkan barong yang terkamuplase, dalam dominasi warna putih. Dalam karya lainnya Valasara menampilkan Barong yang terbuat dari kantong plastik kemasan yang bermerek dagang, serta tapel (kepala) yang terbuat dari susunan tempelan berbagai kertas kemasan produk. Disisi yang lain Upadana membuat sosok Rangda yang sedang berendam di bak mandi dengan satu lutut kaki menekuk keluar dari air.

Representasi Barong dan Rangda yang notebene adalah sosok sakral dalam relegiusitas Hindu Bali, kini ditampilkan keluar dari kerangka kesakralan tersebut. Perkembangan pariwisata budaya Bali sendiri telah melahirkan konvensi yang mendua mengenai sosok barong dan rangda ini, oleh masyarakat Bali kedua sosok keramat ini telah dibedakan antara yang sakral dan yang profan. Pembedaan itu menyangkut tempat, ruang dan waktu (desa,kala,patre) menyangkut, dimana dan dalam konteks apa kedua sosok tersebut dihadirkan. Bersifat sakral ketika Barong dan Rangda dibuat, ditempatkan dan dipentaskan di pura untuk kepentingan agama dan menjadi profan jika dibuat, ditempatkan dan ditampilkan di ruang pertunjukkan khusus (di luar pura) dan untuk kepentingan pariwisata budaya.

Perbedaan antara kedua konteks tersebut juga dibedakan sedari dibuat, kalau untuk di pura Barong dan Rangda sebagai sungsungan (junjungan) umat dibuat dengan penanggalan waktu khusus dimulai dan diakhiri dengan upacara. Sementara yang untuk kepentingan “jualan” budaya untuk kepentingan pariwisata, dibuat tanpa melalui prosesi apapun dan diproduksi secara masal. Jadi membicarakan kedua sosok tersebut dalam budaya Bali, harus dibedakan dulu dalam konteks yang mana. Sebagai pewaris budaya Bali, Upadana dan Valasara tentunya memahami perbedaan itu, dalam pameran ini mereka sedang mempersoalkan budaya Bali yang berkembang menjadi produk pariwisata yang tentunya memberikan pengaruh signifikan pada cara orang Bali memahami tradisi budaya mereka.

Melalui konvensi pembedaan tersebut, masyarakat Bali mengembangkan prosfek komersial budaya untuk kepentingan ekonomi. Kondisi ini, tentunya juga mempengaruhi cara memahami tradisi, sebuah upacara besar keagamaan kini sejak awal sudah dipersiapkan untuk menarik wisatawan untuk dapat menyaksikan secara langsung upacara tersebut. Sebut saja sebuah upacara besar pengabenan (pelebon) di Puri yang pasti dirayakan secara besar-besaran dengan menghabiskan dana miliaran dan bahkan triyunan rupiah, setahun sebelumnya telah dipromosikan dalam agenda kunjungan wisata. Bertujuan untuk menarik minat wisatawan untuk datang berlibur sekaligus dapat menyaksikan sebuah upacara besar yang kemungkinan puluhan tahun baru dapat disaksikan.

Karena telah sebelumnya bekerjasama dengan berbagai agen perjalanan wisata, alhasil upacara besar itu disamping mengeluarkan biaya yang sangat mahal, inkam yang didapat juga sepadan untuk menutupi biaya dan tidak mungkin malah mendapat untung. Hal itu bisa terjadi karena kerjasama yang sinergis dengan pariwisata di Bali, itulah kompleksitas budaya Bali saat ini. Karya-karya mereka tidak dapat dibilang sedang menampilkan sebuah parodi karena, parodi itu sendiri sesungguhnya tengah berlangsung dan dilakoni oleh masyarakat Bali sendiri dalam naungan industri komersial pariwisata budaya.

Dari karya-karya yang mereka tampilkan dapat dilihat bahwa mereka hanya menampilkan cuplikan fenomena yang tengah berlangsung dari tanah kelahiran mereka, dengan cara yang estetik. Karya-karya tersebut tidak sedang menampilkan dampak (baik positif maupun negatif) tidak juga dalam kerangka pengagungan budaya, penyikapan mereka menurut penulis direpresentasikan dalam modus estetik. Sepertinya sesuai dengan judul pameran ini “sensous object”, atau dapat disebut sensibilitas medium dalam menghadirkan nilai estetik. Bukan berarti konteks itu gagal, konteks tetap hadir hadir ikon budaya yang tampil oleh para senimannya, konteks tersebut kemudian tidak terlalu mereka batasi akan tetapi dibiarkan “terbuka” dengan pemaknaan.

Karya Upadana

Konteks sosio kultural yang melatar belakangi kehidupan sosial perupa, merupakan aspek penting dalam mengiringi perjalanan kreativitas berkeseniannya. Namun pemahaman dan penyikapan terhadap konteks itu, ditentukan oleh cara perupa menampilkan dalam karya-karyanya. Sebagai seniman muda mereka menunjukkan sebuah eksplorasi menarik tidak saja untuk disaksikan, namun juga tersisip nilai-nilai kontekstual.

Penulis akan tutup uraian pedamping ini, dengan menampilkan pendapat mereka perihal kesadaran kembali pada konteks budaya Bali. Valasara melalui pesan singkat (sms) yang cukup panjang, menulis:

Latar belakang budaya sangat penting bagi saya, selain karena lingkungan asal saya yang masih kentalakan budaya Balinya, juga karena secara sadar saya rasakan ketika di Jogja yang mampu membedakan diri saya dengan seniman dari daerah lain ya karena salah satu saya mempunyai latar belakang yang kuat  dibanding daerah lain. Dasar yang saya rasa tidak pernah ada batasnya untuk diolah. Yang saya tampilkan bukan tradisi yang kuno baik dari cerita maupun ekskusi visual, jadi bagi saya itu yang membedakan karya saya adalah perspektif tentang tradisi. Kita sadar akan pentingnya sesuatu ketika berada jauh darinya, kita mampu melihat detail ketika dalam jarak jauh. Begitulah yang saya rasa dan sadari akan latar belakang budaya Bali ketika berada jauh dari pusat budaya tersebut.

Dalam pendapat yang senada, Upadana mengungkapkan sebagai berikut:

Latar belakang budaya bagi saya masih penting, karena Bali sebagai tempat kelahiran saya merupakan spirit yang selalu menjadi akar dalam setiap karya saya. Keadaan alam dan budayanya menjadi inspirasi maupun permasalahan yang selalu membuat kegelisahan. Walaupun saat ini saya tinggal di Jogja (di luar Bali) saya masih tetap merasakan tradisi itu, dan meskipun secara ekplorasi visual mengalami pergeseran sesuai dengan personal saya, akan tetapi secara makna dan spiritnya masih mengandung unsur nilai-nilai tradisi Bali, karena tradisi bagi saya bukan masalah ruang semata akan tetapi lebih pada prilaku.

Selamat Berpameran,..

Bandung Mei 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s