Dialog Dalam Ruang


(Karya-karya Made Mahendra Mangku)

Oleh : I Wayan Seriyoga Parta

Seni abstrak kini hadir kembali memberikan nuansa dalam perkembangan seni rupa kontemporer, yang didominasi oleh representasi-image, sehingga cenderung menampilkan sensasi visual (visual pleasure). Sementara, pencarian pada wilayah esensi rupa cenderung mulai diabaikan. Kondisi itu beriringan dengan fenomena jejalan dari berbagi citraan yang menghimpit disetiap sudut kehidupan kita saat ini. Mulai dari papan iklan/billboard (yang kini hadir dalam bentuk digital image), iklan elektronik (tv, internet) dan bahkan melalui gadget personal seperti hand phone. Demikian massifnya imej-imej itu mendera kehidupan keseharian kita, memberikan sensasi visual dan dengan begitu cepat mempengaruhi persepsi indrawi kita.

Dibalik jejalan berbagai citraan dengan berbagai tawarannya itu, karya seni abstrak justru hadir dengan menampilkan imaji nir-representasi realitas, tidak memanjakan mata dengan berbagai citraan realitas/hiperrealitas. Melalui penjelajahan dan pengorganisasian unsur-unsur rupa yang paling esensi seperti; garis, bidang, warna, tekstur dan juga ruang, karya abstrak memberikan ruang, untuk sejenak berpaling dari berbagai jejalan citraan yang tengah mengepung. Untuk memasuki ruang imaji, persepsi, dan asosiasi personal yang lahir melalui pengolahan dan pengkomposisian unsur-unsur rupa. Karya cipta si pelukis dalam hal ini berperan sebagai penghantar (referent) untuk lahirnya perseptual image yang muncul dalam ruang imaji masing-masing dari kita.

Dari fenomena tersebut, kini hadir kembali Made Mahendra Mangku sosok seniman Bali yang dengan setia menggeluti bahasa rupa abstrak sejak tahun 1992, dengan pameran tunggalnya yang  berjudul “Dialog Dalam Ruang” bertempat di Tembi Contemporary South East Asian Art Yogyakarta. Laki-laki kelahiran 1972 asal Sukawati ini memulai karir kesenimanannya dengan serius sejak dari bangku kuliah di jurusan seni lukis, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Hingga saat ini, berbagai pengalaman pameran telah diikutinya, beberapa penghargaan juga dia dapatkan diantaranya seperti; Finalis Philip Morris Indonesia Art Award (1996-1998), Penghargaan dari Kementrian Pendidikan Kebudayaan RI (1998).

Karya-karya abstrak Mangku menampilkan komposisi ruang yang khas, tidak seperti dalam karya-karya dengan kosmologi Bali yang umumnya selalu berusaha untuk mengolah seluruh bidang karya. Sehingga secara komposisional cenderung berusaha memenuhi bidang kanvas, karena setiap sudut berusaha untuk dimaknai dengan narasi tertentu. Kreativitas dalam kekaryaan Mahendra Mangku adalah sebaliknya, karyanya selalu menampilkan pengolahan komposisi ruang yang sebagian besar justru dia biarkan terhampar kosong atau hanya dengan warna latar saja. Dalam pengolahan dan mengkomposisi warna, dia kerap kali membiarkan hamparan warna yang cukup luas mengiringi komposisi; goresan kuas, atau gumpalan warna yang menjadi pusat dalam karyanya.

Pada karya-karya Mangku ruang menjadi elemen yang sangat penting, melalui ruang  ia mendialogkan pengalaman personal yang sedang dirasakannya. Pengalaman-pengalaman perihal bebagai aspek dalam kehidupan sosial masyarakat, atau pengalaman menjadi bagian dari masyarakat adat dimana ia harus selalu terlibat dalam kegiatan-kegiatan adat, dan upacara Hindu Bali. Keterlibatan sosial yang paling berkesan baginya adalah sebagai penari topeng bondres yang kerap tampil dalam pertunjukan pada kegiatan upacara adat.

Pertunjukan bondres selalu menampilkan lawakan-lawakan baik dengan topengnya yang lucu maupun dialog-dialog yang dimainkan. Menurut Mangku; lelucon yang dia mainkan dalam pentas topeng merupakan media yang netral untuk menyampaikan berbagai hal terutama kritik sosial dengan kemasan bahasa yang lucu. Dalam pertunjukan itu, ia kerap kali menampilkan kritik sosial dengan cara yang kocak, sehingga membuat penonton tertawa terpingkal-pingkal, walaupun isi dialog tersebut mengkritik prilaku masyarakat sendiri.

Pengalaman tersebut, baginya sejajar dengan bahasa rupa abstrak yang dipilihnya sebagai medium ekspresi, dengan menampilkan esensi rupa sebagai unsur utama. Bahasa abstrak memberinya keleluasan untuk menampilkan berbagai hal yang tengah ia rasakan secara lebih netral, yang diterjemahkan dalam goresan-garis, warna, serta diorganisasikan dalam komposisi tertentu. Melalui bahasa abstrak Mangku dengan leluasa menampilkan berbagai hal dalam visualitas yang mengandung metafor. Lihatlah karya Mencari Cahaya 2010, akrilik di atas kanvas, 145x135cm, menampilkan lelehan warna merah yang meliuk seperti ular, menuju sebidang warna putih pada bagian atas dengan lelehan hitam,  di atas hamparan warna biru bernuansa kehitam-hitaman mengisi sebagaian besar bidang kanvas.

Mencari Cahaya,2010,acrylik diatas kanvas,145x135cm

Di dalam karya ini terkandung muatan metafor perihal sebuah perjalanan untuk mengapai cahaya, cahaya kerap kali dipakai sebagai metafor pengharapan, keluhuran, serta sesuatu  yang terang, berlawanan dengan yang gelap dan gelap identik dengan metafor keterjerababan/kesesatan. Dapat dimaknai sebagai perjalanan yang memiliki muatan spiritualitas. Jika diamati secara seksama secara komposisional karya-karya Mangku memang selalu menampilkan komposisi vertikal dan horisantal, secara kosmologi Hindu kerap disimbolkan dengan tapak dara [+] rwa bhineda (baik-buruk, atas-bawah) dapat pula dimaknai dalam konsep alam atau buana (alit dan agung) mikro dan makro –kosmos.

Menyangkut hubungan manusia dengan yang di atas (Tuhan) dan hubungan dengan sesama manusia, serta dengan alam. Perihal kecenderungan ini, Mangku menyampaikan bahwa proses berkarya baginya adalah “sebuah aktivitas yang sejajar dengan ibadah”. Sebuah proses yang dijalaninya dengan kekhusyukan, sama seperti halnya ketika ia menjalani kegitan ibadah (ngayah) di pura, ngayah didasarkan pada bakti karma (perbuatan tulus iklas).

Dalam karya Mangku, kosmologi Hindu Bali, tidak ditampilkannya dengan mengangkat bentuk rupa ikon/simbolika secara apa adanya, melainkan digali pada ranah filosofinya untuk kemudian dia olah dalam sebuah komposisi unsur-unsur rupa. Unsur rupa, berupa simbol, ikon atau indeks yang berhubungan dengan  religiusitas Hindu Bali sangat minim bahkan hampir nihil dalam karya Mangku, kondisi ini menjadikan penggalian karya-karyanya lebih menampilkan penghayatan yang sublim tentang spiritualitas.

Penulis Arif B. Prasetyo dalam sebuah ulasannya perihal penghayatan dalam karya Mangku, menyatakan; “visi kreatif Mahendra Mangku juga diresapi oleh ikhtiar pemaknaan terhadap akar-akar budaya Bali yang bernilai universal, seperti prinsip keseimbangan dan relasi harmonis Manusia-Tuhan-Alam”[i]. Hal itu terjadi, melalui pengalaman kulturalnya atas Bali sehingga membawanya pada penghayatan yang lebih mendalam perihal nilai-nilai spiritualitas yang lebih bersifat universal.

Mungkin sudah mengakar dalam diri Mahendra Mangku, bahwa ruang sejatinya adalah wilayah yang penuh makna, kosong bukan berarti kemudian tak bermakna. Pada tataran olah rupa Mangku dapat dikatakan telah mendekonstruksi  konvensi dalam seni lukis tradisional Bali yang menampilkan ruang sebagai medan narasi, sehingga komposisi cenderung penuh. Sedapat mungkin tidak ada ruang dibiarkan kosong, karena yang diutamakan adalah bagaimana narasi dapat tampil seutuhnya, dalam hal ini pengolahan komposisional bukanlah tujuan. Karena itu seniman Bali tradisional pada umumnya (terkecuali Gusti Nyoman Lempad) berada dalam kesadaran narasi, dan bukan pada olah rupa.

Bebeda halnya bagi Mahendra Mangku yang telah terpapar oleh karya-karya modern khususnya abstrak, melalui pendidikan formal di ISI Yogyakarta. Meskipun telah menyerap pendidikan formal–modern tidak pernah menjadikan dirinya sebagai penganut avant gardisme, karena tradisi budaya (Bali) masih merupakan entitas yang penting baginya. Namun secara visual, tak dapat dipungkiri penghayatan olah rupa abstrak yang dia geluti hingga saat ini, merupakan warisan modernisme yang secara sadar ia padukan dengan penghayatannya pada wilayah kultural Bali. Tempat kelahirannya dan tempat dia tinggal saat ini dan untuk seterusnya serta berinteraksi secara sosial . Itulah sebuah penghayatan ruang dalam dialog personal seorang seniman Mahendra Mangku.

Untuk selanjutnya ruang dialog itu pun bergerak dari dialog personal menjadi ruang dialog bagi tumbuhnya persepsi-persepsi personal yang lain dari para penikmat karyanya. Ruang dialog yang personal itu, sekaligus juga netral dengan berbagai penafsiran subyektif dari siapapun yang menikmatinya, karena melalui ruang itu juga seorang Mahendra Mangku hendak menjalin komunikasi dengan kita dan anda.

Denpasar Mei 2010

Tulisan Pengantar Pameran Tunggal Made Madendra Mangku, di Tembi Contemporary Art Yogyakarta Juni 2010


[i] Arif B. Prasetyo, pameran Tunggal Mahendra Mangku – Cat Air pada Kertas, di Griya Santrian Gallery Sanur Bali, 4 Mei – 30 Juni 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s