“SHADOW”: PAMERAN KELOMPOK K. 2000


Kelompok Kriya K 2000 adalah salah satu dari sedikit kelompok dari disiplin Kriya yang intens melakukan pameran. Di tahun 2004 ini kembali mereka menggelar pameran bersama di gedung Kriya, Taman Budaya, Art Centre Denpasar, pameran berlangsung dari tanggal 27 Maret sampai dengan …April 2004. Dalam formulasi yang baru, dengan hadirnya wajah-wajah baru dari anggkatan di bawahnya, mereka menggelar puluhan karya terbarunya dengan mengambil subjek matter yang cukup beragam.

Dalam pamerannya kali ini mereka tidak mengusung sebuah tema khusus, selain hanya menyodorkan sebuah judul yang cukup aneh dan cukup mengundang tanya Shadow. Dilihat artinya dalam kamus shadow mempunyai arti; bayangan, bayang-bayang, membanyangi, membuntuti. Kaitannya dengan pameran ini adalah bagaimana meraka dan mungkin hampir pada setiap mahasiswa kriya bahkan konsep pendidikan kriya (kalau boleh digeneralisir), yaitu perasaan terbayang-bayangi oleh katagori dan kaidah-kaidah tentang bagaimana mendudukkan bidang kriya. Apakah harus berorientasi seni untuk seni, ataukah harus fungsional, atau berbentuk dua dimensional, ataukah tiga dimensi. Ketika berorientasi sebagai seni untuk seni kemudian apa bedanya dengan seni murni, mengapa mesti ada kriya didepan seni (kriya seni) bukankah istilah kriya yang mendapat padanan craft dalam bahasa Inggris cenderung mengalami dikotomi dalam seni modern. Kalapun berorientasi fungsional menjadi lebih dekat dengan desain. Sehingga tidak salah ketika Martina Margretts dan Alison Britton mengungkapkan “dalam 20 tahun terakhir, kriya memperlihatkan kawasan abu-abu di antara seni rupa dan desain”, hal senada juga terlontar dari Imam Buchori seorang pakar desain dari ITB.

Ketika kriya berwujud dua dimensi lalu apa bedanya dengan lukisan, apakah karena mediumnya kayu dan memakai pahat, bukankah sekarang seni lukis-pun telah melampaui material kanvas dan cat. Ketika berwujud tiga dimensi, kemudian apa bedanya dengan patung yang juga menggunaan material dan teknik sama. Ada pihak yang mengatakan hasil kriya bisa patung, dan seniman patung-pun berseru menolak bidangnya disebut kriya (karena cenderung berkonotasi rendahan). Karena mempunyai nilai historis yang berbeda dengan kriya (craft) dan mendapat pengesahan dalam lingkup seni rupa modern, sementara craft tidak atau lebih rendah. Apakah dengan lebih menekankan pada nilai craftmanship atau keterampilannya? Bukankah dapat kembali terjerumus hanya menjadi kerajinan, yang juga dihindari oleh kriya karena bukan hanya berdasar pada rajin semata. Pertanyaan yang muncul kemudian bukankah dalam seni lukis, seni patung juga mempertimbangkan keterampilan atau kemampuan skil (craftmenship), apakah dengan begitu harus diberikan imbuhan kata kriya – lukis, atau kriya – patung. Bayang-bayang seperti itulah kira-kira yang menbayangi para mahasiswa ini yang akhirnya terepresentasikan dalam karya-karya dan pemikiran mereka.

Persoalan-persoalan tersebut memang terasa sangat pelik dan seolah-olah tidak memberikan ruang gerak bagi kriya untuk melakukan eksplorasi. Ketika kriya ditempatkan dalam cara pandang modernisme yang dikotomis, persoalan-persoalan tadi akan selalu membanyangi dan menempatkan kriya secara heirarkis. Walaupun dalam praktek yang berlangsung dalam seni rupa modern Indonesia dan umumnya yang terjadi di dunia ketiga, dikotomi seni modern itu sebetulnya tidak pernah sehierarkis seperti yang terjadi di Barat. Hal ini terbukti dengan tidak terlalu terusiknya kehadiran karya-karya seniman disiplin kriya dalam perkembangan seni rupa Indonesia. Begitu juga dengan seni-seni tradisi yang tetap bisa hidup terutama dalam naungan religiusitas (Agama), adat, dan pariwisata yang merupakan salah satu faktor yang signifikan, seperti di Bali, Toraja, Yogya, Asmat Papua dan yang lainnya. Yang menjadi masalah kemudian adalah hancurnya infrastruktur dari seni tradisi tersebut, ketika paradigma seni modern datang dan diadopsi dalam Institusi pendidikan tinggi seni di Tanah Air.

Seiring dengan runtuhnya dominasi seni modern dalam era pasca modern ini, merupakan angin segar bagi seni yang terpingirkan seperti kriya untuk bangkit tanpa harus dibebani permasalahan-permasalahan seperti yang telah dipaparkan tadi. Kembali mengutif Martina Margetts, “kalau post-modernisme bisa disebut membawa manfaat, maka manfaat itu dapat dilihat pada perkembangan kriya”. Post-modernisme menurut Margetts telah membuka batas-batas seni rupa, desain, dan kriya, yang lama terpaku pada standar konservatif modernisme. Kriya etnik yang sudah lama tersingkir, tiba-tiba menjadi sumber perkembangan yang penting. Di sini Martina menaruh harapan yang besar terhadap kriya untuk bangkit dalam era keterbukaan, yang multikultur dan mangusung fluralitas post-modernisme. Artinya kesempatan telah terbuka bagi kriya untuk berekplorasi seluas-luasnya, mulai dari yang mengangkat tradisi, bahkan sampai ragam hias sekalipun.

Bagi yang mencoba berekplorasi dengan dua dimensional (dengan kanvas) seperti: Wayan Suarjana, Wayan Aris Susila dengan mengambil metafor burung Elang, Nyoman Widnyana dengan mengangkat figur wanita atau Nyoman Sadia yang cenderung melakukan penggalian ke wilayah formal, tidak perlu di pusingkan lagi dengan tuduhan disebut sebagai lukisan. Tentunya dengan satu catatan bahwa mereka juga harus tahu dan menyadari medan yang dihadapi. Sehingga harus siap dan juga mengetahui siapa-siapa saja, serta sejauhmana pencapaian-pencapaian yang telah dilalui wilayah itu. Meskipun orisinalitas bukan lagi sesuatu pokok dan cenderung menjadi eksoteris dalam wacana seni era pasca modern ini, namun kita tidak dapat menampikkan akan tetap pentingnya aspek ini untuk sedikit mencari kebedaan dan sedikit nilai lebih dari capaian sebelumnya. Karena tentunya kita tidak ingin terjebak hanya menjadi pengulang (derivate) belaka, bagaimanapun kita tetap menginginkan adanya sebuah perubahan untuk tidak mengatakan sebuah kemajuan bukankah kita tidak ingin hanya merupakan bagian dari masa lalu. Juga untuk yang ingin mengangkat tradisi dekoratif, atau bahkan ragam hias seperti: Dewa Gd. Mandirawan dengan kaligrafi huruf sansekerta yang bernafaskan Hindu, A.A. Putra Yasa, yang mengambil ide dari ragam hias, Wayan Wicana, yang mengangkat stilisasi Singa, Nyoman Laba, Ketut Sutama, Made Darmika, dengan deformasi ikan.

Ragam hias (pola hias) sering disebut seni dekoratif (decorative art) sempat mengalami masa gemilang pada masa Barroque diawal abad ke-16 di Francis. Ditandai dengan munculnya kecenderungan membuat dekorasi yang berlebihan pada benda-benda pakai. Namun akhirnya mengalami masa surutan pada masa yang disebut Rococo sekitar pertengan abad ke-17 dimana perilaku menghias itu mengalami – stagnan – dan akhirnya hanya diulang-ulang secara terus-menerus manjadi sangat membosankan. Sehingga akhirnya muncul sebuah kebencian akan prilaku yang gila hiasan dan dikatagorikan sebagai perilaku “primitive” yang disamakan dengan perilaku mentato tubuh dan dianggap sebagai selera rendahan. Kemudian sekitar pertengahan abad ke19 kriya berkembang ke era Art Neuveau dan Deco yang ditandai dengan gerakan Bauhaus di Jerman.

Sebuah perbandingan yang kiranya cukup menarik untuk di ketengahkan disini adalah munculnya kembali penerapan pola hias dalam seni kontemporer. Dalam pameran yang bertajuk Pola Hias Dalam Seni Kontenporer Makna yang Berlapis-lapis pada th 1998, yang dikuratori oleh Merryn Gates. Menghadirkan sembilan seniman maupun kelompok yang bekerja mengembangkan pola hias (ornament), dari –menetap, serta berkarya di Australia acara ini disponsori oleh Asialink, Canberra School of Art Gallery, dan Australian National University. Dalam pengantar kuratorialnya Merryn mengungkapkan “pola hias adalah istilah yang luas dan sebenarnya mencakup apa yang kita sebut dengan Abstraksi. Kendati pola hias muncul juga dalam seni kontemporer, istilah ini sering dikaitkan dengan kriya dan desain.” Yang menarik dalam pameran ini adalah upaya untuk mengangkat pola hias (ornament) dalam karya seni kontemporer. Dari karya yang dihadirkan ternyata sangat jauh dari representasi ornamen dari masa lalu, melalui tangan-tangan para seniman ini ornament hadir dalam citra yang sangat kontemporer dengan warna-warna yang cerah. Sebagai contoh Damon Moon dan Steven Goldate mengolah pola ormanen dalam computernya menggunakan program 3D, yang mengambil bentuk guci/kendi keramik Cina yang tersohor.

Pemaparan tadi merupakan sebuah illustrasi dan perbandingan betapa luasnya ruang lingkup yang dapat dijelajahi oleh seniman kriya terutama bagi teman-teman yang sedang berpameran ini. Dari segi kualitas pencapaian dalam karya, terus terang harus saya katakan bahwa teman-teman masih minim terutama dalam gagasan. Padahal gagasan ini merupakan faktor penting agar tidak terjebak pada sensasi visual semata yang cenderung menjadi eksoteris. Tapi satu hal potensi skil (craftmenship) yang rata-rata telah dikuasai, merupakan modal dasar untuk berkarya yang lebih baik tentunya.

Seriyoga Parta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s