BEBERAPA CATATAN UNTUK KRIYA ; DALAM PAMERAN TUGAS AKHIR (TA) 2005 ISI DENPASAR


Oleh: Seriyoga Parta

Jika dalam art world di Barat craft mengalami resistensi akibat dikotomi yang kuat dalam masa seni modern, sehingga kemudian menghadirkan craft art movement, atau bentuk-bentuk yang hybrid seperti modern craft atau contemporary craft. Masih digunakannya label craft dalam hal ini menunjukkan adanya resistensi untuk membedakan lingkup craft dengan art walaupun dalam prakteknya tidak lain mengadopsi kaidah fine art. Artinya intensi penciptaannya lebih ditujukan kepada seni untuk seni. Sedangkan di Indonesia –bisa dikatakan art world lokalnya tidak seperti di Barat, dimana kriya tidak mengalami tekanan dikotomi dari seni murni (lukis, dan patung). Dan kini lebih menyuruk lagi di ISI Denpasar khususnya dalam pameran Tugas Akhir Kesarjaan (TA) yang digelar di Art Centre Denpasar, yang diikuti oleh 6 orang calon sarjana kriya. Resistensi yang terjadi berupa pengekslusian diri, namun ironisnya tanpa pernah mampertimbangkan medan seni yang lebih luas. Hal ini bisa dilihat dari tahun ke tahun, karya-karya yang hadir dari STSI/ISI Denpasar sepertinya bergerak dalam siklus yang sangat lamban, karena saking lambannya pergerakan yang terjadi nyaris tidak dapat diidentifikasi.

Permasalahan klasik yang menjadi titik berat dari karya-karya yang dihadirkan masih hanya diseputar, kebentukkan, pemilihan subject matter, dan beberapa sepertinya masih mempunyai masalah pada persoalan teknis. Lihatlah karya-karya Fiktor J.A Isu yang inspirasi dari cinta, I Nyoman Murya dengan mengambil inspirasi dari ikan hias atau karya I Nyoman Sudarma, yang berebut subjek mater dengan I Made Agus Suryawan yang mengangkat ayam sebagai sumber inspirasi. Karya Agus digarap dengan sangat telaten dan difinishing dengan baik dan ferfeks. Begitu juga karya I Wayan Suardana yang mengangkat persolan diseputar prilaku anak-anak, I Ketut Muliartajaya dengan ekspresi gerak kudanya, I Komang Widnyana dengan wanitanya yang erotik, dan I Nyoman Budiarta dengan gemulai gerak tari Olegnya.

Sementara I Made Guntur yang mengangkat proses kelahiran dalam beberapa karya cukup eksploratif dalam penggalian kebentukan. Karya-karya yang digelar dalam pameran ini sebagian besar tidak sepertinya tidak bisa keluar dari bingkai lirisisme. Kecenderungan yang diwarisi dari th 90-an ini terus dilakoni sampai saat ini dan ironisnya tidak pernah muncul usaha untuk mempertanyakan apalagi mempermasalahkannya sebagai bahasa ungkap yang sahih di kalangan seniman kriya khususnya di ISI Denpasar. Akan tetapi kesungguhan dan kerja keras mereka dalam mengarap karya-karya dalam rangka menyelesaikan tugas akhir ini patutlah dihargai, walaupun karya-karya ini mungkin menjadi karya “master piece” (karya terakhir) mereka. Karena besar kemungkinan setelah tamat mereka akan meninggalkan kerja kreatif ini, sungguh ironis memang. Tapi begitulah kenyataannya setelah bersusah payah selama empat setengah tahun menyelesaikan 140 lebih SKS, akhirnya ditinggalkan begitu saja.

Baiklah kita kembali mencoba melihat persoalan craft di Barat. Jika dalam era modern craft mengalami tekanan dari fine art, maka sekarang dalam era pasca modern ini kriya mulai mendapatkan angin segar. Seperti diungkapkan oleh Sue Rowley (salah satu kritikus yang konsen dengan wacana kriya dalam era pasca modern) “ pada prinsipnya, pasca modernisme membawa sikap yang lebih positif terhadap kriya bila dibandingkan dengan modernisme. – banyak seniman, termasuk juga seniman instalasi dan tekstil, mengunakan “kriya” justru untuk melakukan refleksi kritis atas pertanyaan pembentukan sosial serta pengalaman temporal dalam konteks ekonomi politik global yang kini muncul… ”. Kriya dibicarakan disini adalah dalam konteks tradisi yang dalam era pasca modern ini berfungsi sebagai ciri kreatifitas alternatif berbasis –komunitas, yang resisten terhadap ide modernis tentang genius yang heroik jelas Sue Rowley lebih lanjut.

Hal ini dapat dilihat dari maraknya pameran-pameran yang berbasis craft seperti Bienale atau Trienale Craft baik di Amerika, Jepang dan Australia ditahun belakangan ini. Begitu juga di Indonesia sendiri pada th 1998 diselenggarakan dua pameran sekaligus “Pola Hias Dalam Seni Kontemporer Makna yang Berlapis-lapis yang dikuratori oleh Merryn Gates, dan Mengungkap Rupa Dekoratif, Makna yang Berlapis, yang dikuratori oleh Jim Supangkat dan Asmujdo J. Irianto yang disponsori oleh Asialink, Canberra School of Art Gallery, dan Australian National University. Yang menarik dalam pameran ini adalah upaya untuk mengangkat pola hias (ornamen) dalam karya seni kontemporer. Setahun kemudian, pada tahun1999 ada pameran Media dalam Media, Instalasi Sebagai Media Ekspresi, di Galeri national Jakarta , yang menampilkan karya-karya instalasi dari keramik, kayu, bambu, tekstil dan logam yang kebanyakan memiliki kecenderungan dekoratif.

Pada th 2002 di Galeri Nasional Jakarta kembali diselenggarakan pameran bertajuk Contemporary Japanese Crafts, yang menyajikan karya-karya keramik, tekstil, kayu, serat, dan logam. Demikian pula dalam Cp–Open Biennale yang juga diselenggarakan di Galeri Nasional Jakarta th 2003, juga mencampurkan karya-karya yang digolongkan kriya atau kriya seni dengan karya dalam lingkup fine art. Belum lama ini di Yogyakarta juga digelar pameran Kriya Kontemporer yang bertajuk “Object Hood” di Gedung Sosietet, Taman Budaya Yogya, atau pameran yang bertajuk “Art Portable” oleh Aditya Novali yang seorang arsitek di Cp-Art Space Jakarta beberapa bulan yang lalu. Menghadirkan karya-karya yang sebagian besar memakai material kayu dengan kualitas craftsmanship yang sangat tinggi. Hingga pameran Seniman Keramik Muda se-Indonesia yang baru saja berakhir di Galeri Nasional Jakarta . Hadirnya seniman dari basis kriya seperti Hendrawan Rianto, F. Widayanto, Nia dan Agus Ismoyo, Anusapati, Nur Sudiati, Hardiman Rajab, Asmujdo J Irianto sampai Handy Wirman S. dalam berbagai perhelatan seni rupa di tanah air menunjukkan perkembangan yang signifikan dari disiplin bidang ini.

Pertanyaan yang muncul kemudian, sadarkah mahasiswa dan terutama para dosennya akan pergerakan dan perkembangan ini ? Namun yang jelas dari berbagai diskusi sampai saat ini “mereka” sepertinya masih dibingungkan pada masalah kebentukan, dan kalim diseputar batasan wilayah dimensionaL. Key word-nya adalah, bagaimana kalau seniman kriya membuat karya tiga dimensi bukankah itu patung? Ini adalah persolan esoteris yang seharusnya sudah ditinggalkan, karena hampir 30 th yang lalu tepatnya th 1975, Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB) telah meretas batasan-batasan tersebut.

Keadaan ini sekaligus menyiratkan bahwa wacana craft di Indonesia terlebih lagi dalam lingkup akademis masih sangat sederhana dibandingkan sofistikasi wacana craft di Barat, merujuk pada pernyataan Asmudjo J Irianto (seniman keramik, kurator, dan dosen di ITB Bandung) dalam sebuah esainya. Ini berarti wacana kriya di sini tidak jalan, bisa dikatakan tidak ada debat yang intens antara craft dan art. Lalu apa yang harus dilakukan untuk menyikapi persoalan ini? Lebih lanjut Asmudjo menjelaskan ”wacana dan konsep yang diproduksi oleh perguruan tinggi seni rupa, yang dalam hal ini masih cukup dominan menjalankan prinsip-prinsip seni rupa modern ala Barat, bisa segara diperiksa. Kita juga dapat mengacu pada perbincangan di luar perguruan tinggi seni, dalam hal ini ada dua kemungkinan, pertama; dengan memeriksa perbincangan pada wilayah fenomena praktek yang diasumsikan oleh perguruan tinggi sebagai wilayah craft. Kedua; memeriksa apa yang ditetapkan sebagai craft oleh masyarakat.” Saya kira ini membutuhkan konsen dari segenap elemen yang merasa berkepentingan dengan persoalan kriya, terutama para dosen dan yang lebih penting lagi mahasiswa sebagai agen dari perubahan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s