KAYU – KAYU TERPIUH: (Catatan dari Pameran Tugas Akhir Mahasiswa ISI Denpasar)


Oleh: Seriyoga Parta

Selama ini karya seniman dari disiplin kriya selalu absent dalam konstelasi perkembangan seni rupa (Bali, bahkan Indonesia) sedangkan bidang kesenian ini telah hadir dalam beberapa dekade khususnya dalam pendidikan seni di Tanah Air. Kriya dalam perkembangannya yang terakhir mencoba memasuki wilayah seni murni (art for art sich), karena basisnya selama ini lebih berkonsentrasi pada seni terapan. Maka hadirlah yang disebut sebagai katagori kriya seni artinya kriya yang mengedepankan ekspresi – estetik dalam pewujudannya, untuk memisahkan diri dari kriya yang mempunyai basis pada seni pakai dalam katagori kriya terapan (apllaid art). Pemisahan tersebut bertujuan untuk menjelaskan posisi kriya yang selama ini sepertinya selalu terbaikan dalam pembahasan seni rupa. Sebagai wujud resistensi seni kriya dari tekanan seni modern yang dikotomis dan memarjinalkan (craft) seni kriya.

Sekarang kondisinya telah berubah, dimana seni modern telah diberontaki, didekonstruksi, maka hadirlah karya-karya kontemporer (postmo) yang melampaui batasan-batasan, dan merombak dikotomi seni modern yang high art dan seni rupa hadir dalam bingkai visua lart. Artinya kesempatan telah terbuka bagi karya/seniman termasuk dari basik kriya untuk bertarung dalam suasana kontemporarisme yang menggusung fluralitas dalam berkesenian. Akan tetapi sampai saat ini seni/seniman dari disiplin kriya sepertinya masih enggan untuk menampakkan diri. Berkenaan dengan situasi tersebut sangat dibutuhkan sebuah usaha untuk menghidupkan kembali semangat yang telah hilang itu, salah satunya adalah lewat even pameran. Karena lewat pameran kita dapat membuktikan diri masih bisa eksis bersaing dengan teman-teman dari disiplin seni yang lain (lukis, patung, grafis, perfonmace art, video art dan new media/multi media yang lain).

Namun pameran yang dilaksanakan seniman kriyapun sangat minim, salah satu wahana untuk melihat dan membaca kehadiran karya dari disiplin kriya adalah lewat pameran TA. (Tugas Akhir). Seperti dalam pameran TA. ISI Denpasar yang baru saja dibuka tanggal, 7 Januari 2004 ini, hadir karya-karya 7 orang mahasiswa jurusan kriya yang sedang menyelesaikan studinya. Sebagai mahasiswa yang sedang menumpuh Ujian Akhir kesarjanaan mereka dituntut dengan yang namanya konsep penciptaan dalam berkarya. Adapun subjek matter yang mereka angkat mulai dari Perempuan (manusia), Kuda, Ular, Ikan, dan Notasi Balok.

Mereka antara lain, I Ketut Sidaarsa, berusaha mangangkat problematika kehidupan remaja lewat ikon-ikon seperti jarum suntik, narkoba, sampai sek bebas yang merupakan ikon pergaulan anak muda sekarang. Sidaarsa berusaha memadukan material kayu dan objek ready made dengan teknik melukis mengunakan warna cat minyak. Karya-karyanya menyiratkan kemuraman meskipun mengunakan warna-warna panas seperti merah, bentuk yang liris menjadikan pengolahan (deformasi) yang dilakukannya menjadikan karya lemah dan kurang bertenaga. Hal ini mungkin dimaksudkan untuk menyiratkan kemuraman dibalik gemerlapnya kehidupan anak muda jaman sekarang. Sangat kontradiksi dengan kehidupan anak muda yang penuh dengan kegemerlapan, party, dan melonjak-lonjak, mungkin akan jauh lebih menarik jika ditampilkan dengan agak nge-Pop. I Made Budi Adnyana hadir dengan ikan-ikannya yang karikatural memparodikan perilaku manusia yang sedang memancing, main sky, berjemur, atau naik perahu layaknya nelayan. Lewat parodi ikan-ikan tersebut rupa-rupannya Budi bermaksud menyampaikan komentarnya atas ekspoitasi laut yang dilakukan manusia, metode ini akan sangat menarik sendainya bisa diolah dengan material dan pengayaan yang lebih kaya daripada harus terjebak pada satu tampilan yang sepertinya diulang-ulang.

Anthonius Toni Anin mencoba bereksplorasi dengan bentuk-bentuk primitif, ide tersebut sebenarnya dapat menghasilkan pengembangan yang menarik. Seperti bagaimana Picasso mengadopsi karater naïf dari bentuk-bentuk patung dan topeng Afrika untuk menampilkan shock dalam karekter figur lukisannya dan idenya akan Kubisme. Namun sayang sepertinya Anton tidak melihat potensi itu dan terjebak dengan pengolahan yang akhirnya cenderung hanya menjadi sangat dekoratif. I Wayan Suranta mencoba sesuatu yang lain dengan mengangkat subject matter notasi balok salah satu karyanya yang menarik adalah Gitar yang di-blow up dengan ukuran yang lumayan besar mencapai 2 m, dan dikombinasikan dengan besi untuk mengambarkan irama nada yang bergerak mengitari Gitar. Sebenarnya banyak ekplorasi yang dapat dilakukan dari subjek yang sederhana ini, dengan insatalasi misalnya, seperti salah seorang seniman dari Amerika yang menempelkan not lagu pada seluruh dinding ruang pameran, atau dengan mengkombinasikan dengan suara (musik), dari pada harus terjebak pada bentuk relief. Sementara I Wayan Adi Sustawan, Imarun A.A. Lalus (Andre) dan I Made Sunarta Abdi N. sama-sama melakukan penyederhanaan bentuk yang disebut dengan pemihuhan. Sustawan mengangkat gerak tubuh wanita, Andre dengan kehidupan remajanya, dan Sunarta mengolah bentuk Kuda menjadi bentuk yang mirip ular, karakter Kuda yang perkasa terdistorsi menjadi sangat liris. Tidak ada salahnya mengangkat kembali penyederhanaan bentuk ini yang sudah lama mengejala dalam seni patung, Bali, Indonesia, Dunia, bahkan dalam pasar kerajinan seperti di Ubud tetapi pertanyaannya inovasi apa yang dapat mereka lakukan supaya tidak terjebak hanya menjadi pengulang-pengulang (derivat) belaka ?.

Pemiuhan ini diambil dari kata dasar tepiuh, istilah ini pernah dipakai oleh Jim Supangkat untuk menganalisis karya-karya patung yang menggali penyedehanaan bentuk dalam perkembangan seni patung modern Indonesia. Gaya pemihuan (kita sebut saja gaya) muncul dan sempat merebak pada tahun 70-awal 90 an terutama dalam dunia akademis dikalangan pematung-pematung dari STSRI (ISI) Yogyakarta dan ITB Bandung. Fenomena ini sekaligus menandai perkembangan seni patung modern Indonesia. Sedang di Bali mode telah dikenal dari th 40-an dari pemahat lokal yang lebih dimotivasi lewat pesanan, dan konon gaya ini mendapat pengaruh dari patung-patung mexico yang diperkenalkan oleh W Spies dan seniman Mexico yang datang ke Bali. Karena Bali sejak dari pemerintahan kolonial telah disetting untuk menjadi daerah pariwisata karena memiliki potensi kebudayan, kesenian, dan kehidupan relegius yang unik, yang bagi orang luar (Barat) dianggap sangat eksotis. Itulah alasan mengapa akhirnya orang-orang luar pada berdatangan ke Bali termasuk seniman-seniman untuk melihat “surga dunia”.

Perkembangan ini tidak lain juga dipicu dari kesuksesan pematung Hennry Moor dengan patung figuratifnya yang menyederhanakan bentuk mancari esensi dari bentuk manusia kedalam pengolahan formal. Moor adalah salah satu pematung besar dalam perkembangan seni patung modern barat. Kecenderungan menggali esensi bentuk tersebut rupa-rupanya juga menginspirasi mahasiswa STSI (sekarang ISI Denpasar ) dalam berkarya, fenomena ini di STSI (sekarang ISI) memang sudah marak dilakoni oleh sebagian besar mahasiswa kriya dari awal th 90-an dan semakin menjadi-jadi pada akhir th 90 sampai di th 2000-an ini. Ada dua kesimpulan yang dapat ditarik dari fenomena ini, satu sisi penggalian ini merupakan obsesi mengejar esensi bentuk yang pada titik ekstremnya membebaskan bentuk dari ikatan di luar seni rupa (mencari bentuk demi bentuk itu sendiri) yang diwarisi dari formalisme dalam seni modern. Sedangkan disisi lain merupakan kilah bagi ketidak mampuan secara teknik untuk membuat bentuk yang realis, hal ini akan sangat nampak jika tidak dibarengi dengan pemahaman dari apa yang ingin dikejar,serta mengetahui dan memahami konsep nilai historis dari gaya yang diambil.

Dibandingkan dengan kawan-kawan meraka dari seni lukis, karya-karya 7 mahasiswa kriya ini jauh lebih baik minimal dari segi teknis dan keterampilan (craftsmanship). Bangkit rupa realistik merupakan satu indikasi betapa pentingnya ketermpilan (craftsmanship) dalam era kontemporer yang mensahkan segala bentuk pencaharian. Tentunya harus dibarengi dengan gagasan, sehingga tidak terjebak pada craftsmanship belaka. Seminimal apapun usaha mereka ini patutlah dihargai, karena tidak dapat ditampikkan juga benturan-benturan antara keinginan untuk bebas dan represifnya sistem bimbingan yang mereka alami dalam proses menyelesaikan Tugas Akhir ini. Paling tidak ini adalah sebuah awalan yang bagus untuk memasuki dunia seni (art world) yang sebenarnya, dalam bingkai visual art dengan segala kebebasan, tanpa belenggu, tanpa harus terbebani dengan wacana dikotomi lagi untuk bereksplorasi sebebas-bebasnya. Pertanyaan saya adakah dari 7 teman-teman ini merasa tertarik untuk memasukinya, atau kembali harus membiarkan semangat itu hilang dengan sendirinya ?. Sehingga semakin menegaskan bahwa seniman dari basik kriya memang tidak pernah akan bisa bersaing atau paling tidak mengikuti hiruk-pikuknya perkembangan seni rupa. Kalau memang itu yang terjadi, kemudian untuk apa ada jurusan seni kriya, untuk apa ada katagori kriya seni (kriya murni)?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s