LINE~TALK


Pameran Tunggal I Wayan Sujana “suklu”

I Wayan Seriyoga Parta (Kurator)

I Wayan Sujana yang akrab dipanggil Suklu (merupakan singkatan Sujana dari Klungkung) adalah figur yang selalu gelisah, melalui karyanya Suklu menumpahkan kegelisahannya mengenai persoalan yang tengah ia rasakan dalam dirinya dan persoalan sosial budaya yang mengiringi gerak kreatifnya.

Masa-masa awal tonggak karirnya saat masih menjadi mahasiswa th 1992-1997, ketika itu Orde Baru sedang berkuasa. Pemerintah saat itu masih merumuskan identitas nasional (Indonesia) yang merupakan puncak-puncak kebudayaan daerah. Para seniman umumnya merespon kebijakan tersebut dengan menggali ideom-ideom kebudayaan lokal daerah asal masing masing. Seniman Bali (terutama yang mengenyam pendidikan seni rupa di Jogjakarta) menggali dari kasanah budaya Bali, dan mengambil ekstraksi dari spirit budaya ibu mereka. Untuk diekspresikan dalam gaya-gaya modern,terutama ekspresionis maupun abstraksi.

Suklu yang juga tumbuh dalam arus gelombang modernis tersebut melalui bangku akademis Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Denpasar. Pada awal kekaryaannya sangat dipengaruhi gaya tradisional Ubud. Dalam perkembangan kekaryaannya Suklu melakukan perngolahan deformasi pada figur manusia (perempuan). Suklu yang mempunyai persoalan dengan figur perempuan dalam hal ini ibu, menampilkan figur-figur perempuan  lewat karakter deformatif.

Pergerakan wacana identiter kala itu, umumnya disikapi seniman dengan menggali kekayaan kebudayaan daerah, di Bali dimotori oleh SDI (Sanggar Dewata Indonesia) perkumpulan seniman Bali yang menuntut ilmu seni di STSRI/ISI Yogyakarta. Mengangkat simbol,ikon, atau indeks  yang digali dari kasanah budaya seperti, poleng (warna hitam putih) dengan filosofi rwa bhineda, gerak ekspresif tari Bali (Nyoman Gunarsa), sprit puing-puing ngaben (Nyoman Erawan), aksara Bali, dan masih banyak lagi.

Dalam wacana identiter tersebut, Suklu menawarkan sebuah pencarian yang berbeda, berupa pergolakan persoalan dirinya tentang sosok ibu yang sedari bayi telah meninggalkannya. Kesejarahan ini membekas dalam dirinya dan pada awal pencarian kreatifnya sebagai seniman, hasratnya pada sosok perempuan (ibu) semakin menguat kemudian diterjemahkan melalui karyanya. Hartanto dalam buku Siluet Perempuan I Wayan Sujana (Suklu) th 2000 menjelaskan; “sebagai seorang anak yang ditinggal ibunya sejak kecil, tentu Sujana menyimpan kerinduan-kerinduan absurd yang sulit untuk diterjemahkan dalam kata.[..]Ketika ia kian menyadari arti kehidupan dan proses prokreasi tiada henti”.[i]

Perihal kehadiran figur-figur perempuan dalam karya-karyanya Suklu sendiri mengungkapkan; ”disetiap kesempatan saya melakukan sket-sket yang muncul orang meditasi, santai, mengejar, mencium, bersetubuh, bercakap-cakap dengan binatang dan banyak lagi, bisa dikenal semuanya figur atau orang perempuan”. Lebih lanjut Suklu menjelaskan; ”saya tidak tahu persis apakah bentuk-bentuk yang muncul adalah tanda dari apa yang ingin saya sampaikan namun pasti saya merasa lepas, setelah semua keluar menampakkan diri pada kanvas atau pada sket-sket saya”.[ii]

Mungkin bagi sebagian pihak pergulatan Suklu ini dimaknai terlalu melankolis dan tidak “avant garde”. Tapi sesungguhnya Suklu adalah salah satu perupa muda yang mampu memberikan wajah berbeda dalam perkembangan seni modern Bali th 1990-an, yang secara masif mengamini wacana identiter dengan menggali dari kasanah budaya Bali. Suklu seakan memberi alternatif bahwa persoalan identitas tersebut tidak harus digali dari simbol, ikon, atau indeks dari latar budaya semata, akan tetapi bisa muncul justru dari konflik diri seniman sendiri.

Suklu menyadari persoalan dirinya dengan perempuan mengandung permasalahan yang sangat kompleks, melalui figur perempuan dia kemudian bisa berbicara banyak tentang persoalan kebudayaan, persoalan, gender, dominasi laki-laki atas perempuan. Dalam teori psikoanalisis Freud dijelaskan: ”isi ketidaksadaran mencangkup pikiran, perasaan, keinginan, dan impuls-impuls yang–dalam bahasa psikoanalisis–ditekan keluar kesadaran–dan masuk ke alam bawah sadar untuk kemudian mengendap di dalam ketidaksadaran”.[iii]

Kondisi kehilangan sosok ibu yang di alami pada masa kecil oleh Suklu, kemudian menoreh sebuah catatan mendalam dalam dunia bawah sadarnya. Pada saatnya kemudian, seiring dengan pergerakan kreatif Suklu memunculkan impuls-impuls yang tanpa sadar menggerakan tangannya untuk menorehkan figur perempuan ke dalam karya-karyanya.

Suklu sesungguhnya berada dalam aras yang melampaui wacana identiter ala seniman (Bali) th 90-an. Suklu berada dalam ranah yang tidak saja mengagungkan budaya lokal melakukan ekstraksi dari ideom-ideom budaya dan menampilkannya secara simbolik. Dengan mengangkat konflik diri Suklu serasa menemukan sebuah kunci untuk memasuki persoalan yang lebih luas dalam konteks kebudayaan. Mengenai persoalan perempuan dalam karya-karyanya, Suklu pernah berucap dalam bungkusan kata-kata puitis;“siapa bilang perempuan tidak mampu, menebar wacana emansipasi, awan-awan ditembus dengan mata panah bermuka dua, lencana kaum adam direbut dihempas dalam mimpinya”[iv].

Pergulatannya dengan konflik diri dan persoalan perempuan secara intens dia geluti hingga kini memberi warna sendiri bagi eksistensi kreatif seorang Suklu. Kreativitas Suklu merupakan pengejawantahan hasratnya pada figur seorang ibu yang sejak bayi telah menjadi sang liyan baginya. Perasaan kehilangan itu semakin kuat mempengaruhi diri Suklu ketika menjalani proses kreativitasnya terutama sejak tahun 1998-dan hingga kini, dalam figur perempuan dengan berbagai ragam wujud kerap hadir dalam karya-karyanya.

Muncul kembali, pada karya-karya berseri dalam pameran tunggalnya kali ini yang diberi judul ”Unconcious Visual” yang ditandai dari  angka menyertai judul tersebut. Saat ini karya-karya Suklu tampil lebih bersahaja dengan hanya memakai material charcoal di atas kanvas coklat yang tanpa warna dasar, memberikan nuansa alami pada karyanya. Warna kain kanvas coklat dipadu dengan hitam bernuansa khas arang charcoal, dan goresan garis-garis berirama membentuk figur-figur perempuan yang dikomposisikan tumpang-tindih. Meskipun karya-karya seri Unconcious Visual terlihat agak berbeda dengan karya-karyanya terhadulu seperti seri perempuan-perempuan ekspresif, ataupun karya repetitif-meditatif dan seri penggabungan antara keduanya.

Penulis merasa perlu sedikit menyinggung perihal karya repetitif-meditatif Suklu, karena memiliki relasi dengan kekaryaannya dalam seri Unconcious Visual ini. Pada saat memantapkan diri pada penggalian persoalan perempuan, ditahun 2000 dia menawarkan sebuah pencarian baru yang dia sebut sebagai “repetitif meditatif” yang merupakan upaya mentransfer metode meditasi pada karya seni lukis.

Konsep repetisisi garis tersebut terinspirasi dari metode meditasi, dentingan genta dari pendeta (pedanda dan pemangku) yang berulang-ulang (repetitif) memberikan suasana yang tenang dalam prosesi upacara Hindu. Tesis awal Suklu repetisi tersebut bisa menjadi metode dan bahkan dapat direpresentasikan secara visual dalam karya seni lukis. Mulailah ia membuat eksperimentasi dengan berbagai cat untuk menerapkan teknik repetisi dalam karyanya, repetisi identik dengan sesuatu yang stabil dan stagnan. Menyadari hal itu Suklu memilih garis lengkung untuk direpetisi dan disusun dalam berbagai warna yang tumpang tindih membuat sebuah ritme dan menghasilkan tampilan optik.

Suklu menemukan spirit meditasi sesungguhnya bukanlah duduk diam memusatkan pikiran, meditasi juga adalah bagian dari gerak aktifitas yang dilakukan dengan sungguh-sungguh. Dia menyatakan terinspirasi dari sosok pendeta Ida Pendanda Sidemen tokoh agama dan juga intektual Hindu, yang menjadikan seluruh aktifitas kesehariannya sebagai bagian dari meditasi. Dilaksanakan dengan tulus, berserah, sehingga apapun aktivitas yang dijalani tidak dimaknai sebagai beban. Penemuan ”barunya” pada repetisi-meditatif tidak menyurutkan hasrat Suklu pada figur perempuan, karya-karyanya tahun 2005-2009 dan hinga kini, Suklu kembali menampilkan hasrat tersebut yang dipadukan dengan repetisi garis.

Freud mengatakan sesungguhnya alam psikis ”sebuah hasil dari suatu konflik antara daya-daya tertentu”. Salah satu bentuk perwujudan konflik alam psikis menurut Freud adalah melalui mimpi,“keadaan di mana si subyek ingin beristirahat dari aktivitas-aktivitasnya–psikis maupun fisis–sudah mencapai taraf minimal. Dalam keadaan seperti itu represi menjadi kendor dan apa yang direpresikan dapat masuk dalam kesadaran”[v].

Dalam kekaryaan Suklu bawah sadar yang terepresi tersebut hadir melalui karya-karyanya. Proses berkarya seniman (Suklu) mengendorkan kungkungan kesadaran (pikiran) dan memberikan ruang yang luas bagi insting dan sensibilitas rasa menumpahkan wujudnya. Pada kondisi ini represi sesungguhnya juga mengalami taraf minimal karena seniman membebaskan diri dari tekanan, aturan sosial yang mengikatnya.

Karya-karya meditatif Suklu membuat sebuah metode tersendiri dengan memakai susunan garis lengkung berwarna dan berstektur, memakai semacam rumusan pengulangan secara konstan. Sehingga memberi efek seperti meditatif. Dalam perkembangan selanjutnya efek repetitif tersebut, dikembangkan oleh Suklu menjadi hanya sebagai elemen artistik dan kadang tampil menjadi latar belakang dalam karyanya.

Kini dalam karya seri Unconcious Visual, Suklu mencoba menampilkan pencariannya yang terbaru dengan garis-garis puitik yang dapat dilihat masih berbentuk tubuh perempuan. Kemudian diulang-ulang tertumpuk dalam komposisi yang tumpang tindih. Di sini Suklu terlihat  masih mencoba menampilkan benang merah dari pencariannya tentang figur perempuan dan pengulangan garis (repetitif). Fenomena dalam kekaryaan Suklu menandakan betapapun hasrat pada suatu saat tertentu direpresi sehingga tertahan dalam alam bawah sadar (unconcius), pada suatu waktu dia akan mencari jalan untuk keluar.

Fenomena alam bawah sadar bersifat acak, dan pada kekaryaan Suklu tertumpuk dengan pengalaman penciptaan kekaryaannya terdahulu. Kesemuanya itu kemudian tumpah ruah dalam penghayatan yang ’baru’ melalui karya-karya ekspresi garis ini. Pada suatu waktu, Suklu menyampaikan bahwa ”lingkup kreativitas kekaryaannya selama ini yang tidak hanya terbatas pada medium dua dimensi, tapi juga tiga dimensional yang meliputi seni instalasi, performance art bahkan art proyek yang melibatkan banyak audien”. Ketika berinteraksi dengan seniman dari berbagai displin ilmu seni yang berbeda, serta audiens yang juga dengan antusias merespon dan mengikuti art proyek yang pernah dibuatnya. Ternyata memberi impuls-impuls yang sangat positif pada kreativitasnya, gejolak kreativitas dan imajinasinya semakin meluap dan bergelora.

Garis yang silang sengkarut dan saling bertumpuk atau tepatnya saling berkaitan, pada hemat penulis dapat dimaknai sebagai usaha Suklu menampilkan keterkaitan yang berdimensi luas dalam gerak kreativitasnya selama ini. Garis-garis tersebut, tidak saja dimaksudkan sebagai sebuah komposisional, atau nilai-nilai formal estetik semata. Didalamnya ada sebuah penghayatan yang mendalam seorang Suklu tentang makna keterkaitan dirinya dengan berbagai aspek di luar dirinya, yang sejatinya sangat erat mempengaruhi gerak laju kreativitasnya selama ini.

Jadi, garis dalam karya Suklu tidak saja memerankan dirinya sebagai fenomena estetik (yang berbicara tentang, gerak, komposisi dan bentuk) semata, garis dalam hal ini bertutur perihal penggalian kekaryaan seorang Suklu. Garis memerankan dirinya sebagai medium untuk bertutur perihal kegelisahan dalam diri sang seniman, karena itulah penulis menyatakannya sebagai garis yang bertutur (line talk). Ada kandugan nilai-nilai yang bersifat subyektif yang disisipkan oleh Suklu melalui fenomena komposisi garis dalam karyanya.

Denpasar Maret 2010


[i] Dalam otobiografi Suklu pada buku Siluet Perempuan, Sketsa-sketsa I Wayan Sujana (Skulu), yang ditulis oleh Putu Wirata Dwikora dan Hartanto, Forum Apresiasi Kebudayaan Bali th 2000, p. 45

[ii] Suklu Ibid, p. 70

[iii] Dalam Bagus Taufik Dwiko NP, 2005, Sigmund Freud Tentang Leonardo Da Vinci, Teks-teks Kunci Estetika,  Galang Press, Yogyakarta

[iv] Suklu, Op cit. p. 73

[v]Baca; K. Bertens, 1982, dalam kata pengantar buku Psikoanalisis Sigmund Freud, Gramedia Pustaka Jakarta, hal 16

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s