MENCARI JEJAK-JEJAK PERKEMBANGAN: PAMERAN KRIYA SENI K. 2000


Pameran karya kriya seni di Bali memang sangat jarang terutama dari teman-teman kriya di STSI Denpasar, setelah pameran kelompok kriya seni (KRIS) STSI Denpasar tahun 1999 di Museum Sidik Jari. Bisa dicatat beberapa pemeran kriya lainnya oleh kelompok Dua Satu di Barong Galeri, dan beberapa kali pameran angkatan, pameran Tugas Akhir dan Solidaritas Kriya, serta pameran Dosen Seni Rupa STSI Denpasar di Museum Rudana beberapa waktu lalu. Selain itu ada beberapa pameran oleh teman-teman Kriya Seni dari ISI Yogyakarta dan Kriya Keramik Unud. Dalam perkembangannya yang sporadis, kali ini kriya hadir dalam pameran Kriya Seni Kelompok K. 2000 yang menggelar karya-karya mereka di Art Center Denpasar, mereka terdiri atas 9 orang mahasiswa jurusan Kriya STSI Denpasar.

Melihat karya-karya mereka ada sedikit nafas yang mengembirakan bagi perkembangan kriya seni. Kecenderungan pendistorsian bentuk masih terasa mendominasi pengolahan karya-karya mereka, yang mengambil subjeck matter antara lain; ikan, ayam, singa, kodok, burung dan wanita. Penampilan karyanya memang cukup perfect terlihat keseriusan mereka dalam menggarap. Nyoman Widnyana mencoba mengkombinasikan kayu dengan kanvas, potongan figur wanita yang terbungkus kain dari bahan kayu ia tempel diatas kanvas dan direspon dengan warna, penempelan ini terlihat relatif berhasil. Figur wanita yang ditampilkannya terlihat seperti patung Nuarta yang futuristik. Penampilan yang hampir sama juga terlihat dalam karya-karya yang lain, namun material yang dipakai bukan kanvas seperti: Nyoman Budiarta yang mengangkat keeksoterikan tari Bali, dalam karyanya Budiarta menerapkan warna-warna yang ekpresif untuk mendukung karakter tari Bali yang penuh gerak karakter bahan (kayu) sudah tidak penting lagi baginya. Wayan Suarjana yang mengangkat burung Elang.

Sementara Sila Adnyana terlihat dengan setia mengolah figur wanita yang terpiuh. Disini Sila berusaha mengolah bahan, karakter bahan sangat dipentingkan dengan mempertahankan serat dan tesktur kayu untuk mengimbangi bentuk yang sederhana. Sementara Gumantra masih setia dengan Singanya yang mengalami stiilirisasi, Sudarma dengan Ayam-ayamnya, Nyoman Sadia sekarang malah beralih dari Lumba-lumba ke-Angsa, dan Agus Juliana dengan ikan-ikannya. Sementara yang lain masih asik dengan permasalahan diseputar bentuk dan tema-tema eksoteris, Dewa Nyoman Mandirawan mencoba mengangkat penomena sosial dengan memakai Kodok sebagai simbulisasi dengan gayanya yang karikatural. Seperti dalam karya yang berjudul “Lemahnya Kaki Hukum” disini membuat seekor Katak yang telah didistorsi sedang diinjak oleh sebuah sepatu boot, menyiratkan tentang kesewang-wenangan aparat penegak hukum yang cenderung menindas yang lemah, bukan malah sebaliknya. Tampilan karya Dewa sangat eksperimental dengan memakai ayaman bambu, warna hijau kusam dan tekstur yang kasar. Bagaimana dengan yang lain apakah tidak terketuk hatinya dengan penomena sosial yang terjadi diseputar kehidupan kita ?.

Secara umum pengolahan dan pencaharian yang ditampilkan sudah cukup beragam, namun masih merupakan penerusan dari kecenderungan kriya sebelumnya tidak ada perombakan yang dramatis, dan tidak ada usaha untuk memperluaskan medium (selain kayu). Penggalian masih diseputar dua dimensi dengan ketebalan relatif yang sering disebut out relief (atau relief timbul), belum ada yang mencoba mengolah permasalahan tiga dimensional (patung). Sehingga masih ada yang mempermasalahkan karya-karya mereka sebagai lukisan atau bukan, permasalahan klaim-mengklaim diseputar batasan (katagori) merupakan masalah yang tidak pernah selesai, walaupun dunia seni rupa saat ini notebene sudah tanpa batasan lagi dengan hadirnya performace, instalasi, video art, dan new media lainnya. Memang permasalahan kriya seni selama ini berada dalam himpitan antara batasan dua dimensi dan tiga dimensi, dan antara seni murni dan seni terapan (applide). Apakah salah jika penampilan karya kriya seperti lukisan ? hal itu sah-sah saja, tapi sudahkah teman-teman sadar diwilayah mana sedang bermain dan siapa-siapa yang ada didalamnya, serta memahami sejauhmana penggalian dan pencapaian diwilayah itu ?. Justru dalam kepungan diantara batasan-batasan tersebut merupakan celah pencaharian bagi teman-teman, tentunya dengan penjelasan yang rasional, bukankah seni sudah sangat-sangat flural !

W. Seriyoga Parta

Tulisan ini dimuat di Bali Post Minggu, 8 Juni 2003

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s