BINA RUPA TUNGGAL RAGA


Sebuah Usaha Menguak Batasan Konvensional Seni Kriya di Ranah Akademis

Oleh: I Wayan Seriyoga Parta

 

Di tahun 2010 ini jurusan Seni Kriya ISI Denpasar mengagas sebuah pameran bersama dengan melibatkan para dosen, mahasiswa, alumnus dan bekerjasama dengan jurusan Seni Patung, serta kelompok pematung B.I.A.S.A (Bali IndonesiA Sculptures Association). Pameran ini yang bertajuk “Bina Rupa Tunggal Raga”, yang maksudnya adalah; seni kriya walaupun memiliki perbedaan dalam disiplin ilmu dengan seni patung namun sejatinya adalah berasal dari satu rumpun yang sama. Perihal perbedaan yang dimaksud berikut akan dikaji secara ringkas dari aspek kesejarahan terutama di Barat sebagai referensi bagi bahasan ini.

Menelisik pada kesejarahan seni rupa di Barat, seni atau art berasal dari istilah techne bahasa Yunani yang berarti kecakapan dalam berolah medium, kecakapan tersebut mewadahi kemampuan teknik atau craftsmanship, ide, dan sensibilitas estetis. Dalam bahasa Jawa kuno kecakapan ini dapat dipadankan dengan istilah kagunan, dan baik techne maupun kagunan mewadahi lingkup bidang yang luas meliputi seni pahat; relief dan tiga dimensional, seni mengambar, seni bangunan, seni musik, seni suara atau tembang, dan juga seni gerak atau tari. Perkembangan selanjutnya terdapat pemisahan yang terwadahi dalam artes liberalles[i] yaitu rumpun seni yang tidak secara langung berhubungan dengan nilai fungsional dan artes servilles yaitu rumpun seni yang lebih bersifat fungsional. Dari rumpun artes liberalles inilah yang kemudian melahirkan pekembangan art atau fine art, art for art sake (seni untuk seni) didasari oleh semangat avant garde dalam seni rupa modern yang secara tajam memisahkan diri dari tujuan yang bersifat fungsional dan juga segala ikatan dengan medan sosial. Perkembangan ini memiliki kesejarahan yang panjang dan penuh dengan dinamika, yang bertolak dari pemikiran pasca pencerahan atau renaissans yang kemudian membawa terobosan-terobosan dasyat dalam perkembangan seni rupa hingga mencapai puncaknya pada seni rupa Modern.

Dalam seni rupa modern dapat dilihat pemisahan yang dikotomis antara fine art yang pada awalnya hanya mencangkup seni lukis, seni patung dan seni grafis pada pekembangan selanjutnya dimasukkan arsitektur dan craft yang digolongkan sebagai applied art, serta terlebih lagi seni tradisional (folk art) yang dikategorikan sebagai artefak kebudayaan (material culture). Dikotomi seni rupa Modern (M kapital untuk menandai mainstream oleh Eropa dan Amerika) ternyata tidak hanya pada craft dan seni tradisi, namun juga pada seni rupa modern di luar Barat yang tumbuh dari modernitas berasal dari Barat dan bersentuhan dengan konteks-konteks lokal. Kondisi tersebut pernah dialami langsung oleh seni rupa modern Indonesia pada saat pameran KIAS tahun 1992 di Amerika Serikat dengan ditolaknya pameran karya-karya seni rupa Indonesia di museum Modern Art di sana. Dalam anggapan medan seni rupa di Amerika karya-karya seni rupa Indonesia hanya varian saja tidak mengandung otentisitas dan orisinalitas karena itu tidak layak dimasukkan dalam seni rupa modern.

Hans Belting (2009), menjelaskan paradigma modernisme (Barat) selama ini memakai standar ganda dengan tidak mengakui praksis modernitas dalam perkembangan seni rupa modern di luar Barat, ia menyatakan bahwa; ”[…]even those who were modern in their art but lived outside the West, were not admitted to the ranks of official art history”.[ii] Karenanya seni Modern Barat sering disebut hanya dimiliki oleh seniman dengan ras Anglo American and white male yaitu laki-laki kulit putih dengan ras Eropa dan Amerika, dan tidak untuk seniman dari luar Barat. Untuk selanjutnya seni rupa modern berkembang dalam institution of modern art dalam menentukan value of the art (nilai karya seni rupa modern), institusi tersebut terdiri dari, museum, kurator, kritik seni, sejarawan seni, dan juga galeri serta balai lelang (auction) serta dukungan modal kapital yang kuat dari negara dan kaum borjuis. Melalui institusi inilah nilai sebuah karya dan reputasi senimannya dibangun, kurator mewacanakannya, kritikus seni mengkritisi capaian instrinstik dan ekstrinsik karya seni, sejarawan seni kemudian memetakannya dalam bangunan sejarah dan karya-karya yang bernilai tinggi ditempatkan dalam museum dan dipublikasikan dalam buku, jurnal, hingga majalah seni rupa sehingga menjadi referensi penting.

Situasinya jauh berbeda dalam perkembangan seni rupa postmodern atau seni rupa kontemporer, yang mengusung keterbukaan (pluralitas), merangkul berbagai keragaman seni rupa global termasuk praksis-praksis seni rupa yang sebelumnya terpinggirkan dalam dikotomi seni rupa Modern. Runtuhnya dominasi yang absolut seni rupa modern dimulai tandai dengan perkembangan seni postmodern yang mengkritisi dan mengobrak-abrik tatanan dalam mainstream modernisme. Filsuf dan penulis seni rupa Arthur C. Danto menyatakan dengan the end of art[iii], Hans Belting menyatakan the end of history of art[iv], konotasi the end yang disuarakan oleh kedua penulis berpengaruh tersebut bukan berarti seni rupa telah berakhir. Inti persoalan dari bahasan mereka adalah berakhirnya dominasi yang absolut dari seni Modern dalam menentukan standar nilai yang notabene sangat subyektif hanya untuk Barat. Kondisi postmodern membawa perubahan besar dalam tatanan seni rupa dunia, dimana value of the art (nilai karya seni) kini telah menjadi begitu terbuka, dan tidak lagi absolut ditangan institusi seni rupa modern.

Seni rupa memasuki arena yang sangat terbuka dalam perkembangan kontemporer Julian Stallabrass menyebutnya dengan a zone of fredom[v], salah satunya adalah menglobalnya mekanisme nilai yang dibentuk oleh institusi pasar atau market value. Dalam institusi pasar seniman dinaungi oleh art management yang mempromosikan dan mencarikan saluran bagi karya seniman, dan didukung oleh modal kapital yang cukup besar bahkan juga didukung oleh konsultan artistik umumnya penulis atau kurator yang mendampingi seniman dalam menggodok  ide-ide kreatifnya. Karyanya diwacanakan dengan baik dipamerkan pada galeri dengan publikasi yang bagus mulai dari katalog, reviu di media massa dan majalah seni rupa dan sebelumnya publikasi pameran tersebut telah diiklankan pada majalah seni rupa.

Kurang lebih seperti itulah kondisi institusi pasar saat ini dalam konteks perkembangan seni rupa kontemporer, jadi tidaklah sesederhana hanya membicarakan idealisme individual seniman semata yang kini mungkin terlalu eksoterik dan konvensional. Namun sebaliknya sarat dengan konspirasi seperti kata Baudlirard dan fenomena ini merupakan tantangan besar bagi institusi pendidikan seni rupa yang sebagian besar masih berada dalam zona konvensional. Sudah saatnya lembaga pendidikan seni rupa termasuk kriya, kini mulai serius memikirkan sebuah rancangan strategis dalam mengahadapi perkembangan yang begitu dasyat pada medan seni rupa di luar pendidikan.

Berikut kembali pada ide keterbukaan yang dicetuskan dari jurusan Seni Kriya ISI Denpasar pada pameran ini, sesungguhnya hanyalah bagian kecil dari zona terbuka dalam konstelasi seni rupa kontemporer. Pameran ini menampilkan keragaman praksis kekaryaan dari basis ide dari kasanah tradisi hingga modern, dengan medium dua dimensi, tiga dimensi, dan teknik pahat, cetak. Hal ini merupakan sebuah awalan yang baik untuk memulai langkah selanjutnya dalam menghadapi perkembangan dalam era keterbukaan. Konvensi yang selama ini dianut dalam dunia pendidikan haruslah kaji kembali, kriya memiliki modal dengan dasar keterampilan atau craftmanship adalah potensi yang dapat lebih dikembangkan lebih jauh lagi. Baik pada wilayah seni, atau aspek fungsional, atau pun dalam aspek desain. Patut diingat kembali kriya yang pada masa pra-modern dengan intensi kecakapan merupakan induk yang mewadahi praksis seni visual (rupa), seperti halnya dengan craft yang dijelaskan oleh Terry Smith sebagai berikut; ”in view of the fact that, throughout Central Europe and European Asia, the past is returning to power with a vengence, let us return to the pre-modern, when craft was king of the art”.[vi]

Fenomena lainnya di balik zona keterbukaan seni rupa kontemporer adalah, munculnya sebuah aliansi dari para penulis, teoritikus dan sejarawan seni rupa dunia yang mulai terlibat kembali dalam pemetaan seni rupa kontemporer. Untuk mengimbangi penetrasi pasar yang semakin dominan. Perihal ini dapat dilihat dalam bahasan Hans Belting penulis seni rupa, sejarawan seni dan kurator dari berbagai belahan dunia dalam The Global Art World[vii] melalui payung ZKM Center for Art and Media yang berkedudukan di Jerman. Aliansi ini merupakan sebentuk usaha nyata dalam merealisasikan pluralitas seni rupa kontemporer, tanpa dikotomi pusat-pinggiran, karena semua perkembangan seni rupa di berbagai negara di dunia diberikan ruang yang sama untuk mewacanakan sendiri perkembangan medan seni rupa mereka dengan konteksnya masing-masing.

Salah satu topik bahasan yang dikembangkan dalam forum dunia tersebut adalah wacana post etnik, dimana akan diretasnya sekat antara karya seni dengan material culture (kategori artefak) yang selama ini dibedakan dalam wadah museum seni rupa modern-kontemporer dan museum etnografi untuk kemudian akan diwadahi dalam Global Art Museum. Wacana ini tentunya dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan kekaryaan yang berbasis pada nilai-nilai tradisi etnik yang direpresentasikan oleh sebagian besar karya seni patung terutama oleh kelompok B.I.A.S.A. Sejak berdiri di tahun 2002, kelompok B.I.A.S.A telah menggelar pameran rutin tiap tahunan tidak saja di Bali namun juga hingga ke luar negeri dan kelompok ini mampu merangkul berbagai seniman baik dari yang otodidak hingga berlatar belakang akademis. Sudah tepat jika jurusan Seni Kriya ISI Denpasar menggalang kerjasama dengan kelompok B.I.A.S.A., yang telah memulai sebuah usaha real dalam meretas perbedaan yang melatarbelakangi berbagai seniman di Bali dan merangkulnya dalam sebuah wadah, seperti halnya konsep yang ditawarkan dalam pameran ini.

Wacana post etnik bisa menjadi sebuah kesempatan baik bagi seniman yang berkarya dengan basis ide dari kasanah tradisi-etnis untuk menafsirkannya ke dalam karya-karya mereka, dalam konteks perkembangan seni rupa kontemporer. Karena kepopuleran seni tradisi Bali yang tersohor di luar negeri pada umumnya berada dalam wadah museum etnografi tersebut, dimasukkan sebagai artefak kebudayaan (material culture) dan bukan the work of art (karya seni). Dalam hemat penulis sudah saatnya akademisi dari disiplin kriya mempertimbangkan perkembangan ini, sehingga kerjasama dengan kelompok seniman seperti BIASA ataupun seniman lainnya yang mengembangkan kekaryaannya dari ranah nilai-nilai tradisi etnis, nantinya juga dapat berperan dalam kajian tersebut. Pergerakan ini merupakan angin segar bagi institusi seni seperti jurusan Seni Kriya yang tidak saja mengembangkan praksis kekaryaan namun juga praksis dalam wilayah teoritis, untuk menyumbangkan pewacanaan mengenai perkembangan seni dengan basis kekriyaan dalam wujud dua ataupun tiga dimensi seperti yang ditampilkan dalam pameran ini.

Demikianlah pengantar ini dengan segala keterbatasannya, penulis diniatkan untuk memberikan sebuah gambaran yang sederhana mengenai perkembangan seni rupa di luar dinding akademis, sehingga dapat memberikan sumbangan wacana bagi pengembangan jurusan Kriya ISI Denpasar yang telah memulai program baik ini. Jurusan Seni Kriya ISI Denpasar sebagai lembaga akademis yang didukung sumber daya manusia dengan kapasitas para akademisi yang tentunya memiliki kompetensi dibidangnya, baik ranah teori maupun praksis kekaryaan. Adalah lembaga yang berkompeten dalam mendukung perkembangan seni yang berbasis kekriyaan, dengan wujud dua dimensional (relief), tiga dimensional (patung), atau pun dengan intensitas fungsional. Usaha awal untuk membuka sekat-sekat yang terlalu membatasi ruang gerak para seniman dengan basis kekriyaan yang tertuang menjadi tema central dalam pameran ini, merupakan usaha yang baik dan patut didorong agar dapat berlanjutan. Sebagai wujud pengejawantahan dari Tri Dharma Perguruan Tinggi maka dari itu dukungan yang serius dari lembaga ISI Denpasar sangat mutlak diperlukan. Sehingga nantinya dapat memberikan sumbangan tidak saja pada kasanah akademis namun perkembangan seni kriya Bali dan juga medan seni rupa yang lebih luas, baik dalam bentuk praksis kekaryaan dan juga pengembangan wacana dan teori seni.

Yogyakarta, September 2010


[i] Thomas Munro , 1996, membahasnya dengan sangat komperhensip dalam The Arts and Their Interrelations: Revised and Enlarged Edition, The Press of Case Western Reserve University; Cleveland and London

 

[ii] Hans Belting dalam The Global Art World, Hatje Cantz Verlag, Germany, Edited by Hans Belting and Andrea Buddensieg, P. 55

 

[iii] Dalam Arthur C. Danto,  1997, After the End of Art,Contemporary Art and The Pale of History, Princeton University Press New Jersey

[iv] Lihat Hans Belting, 1995, The End of the History of Art, dalam Art History and Methods a Critical Antology, Paidon Press Limited, P. 291

[v] Dalam Julian Stallabrass, 2004, Contemporary Art, A Very Short Introduction, Oxford University Press New York, P. 1

 

[vi] Lihat Terry Smith, 1997,  Craft, Modernity and Postmodernity dalam Craft and Contemporary theory, Australian Council for the Arts, Australia, edited by Sue Rowley P. 27

[vii] Hans Belting dalam The Global Art World, op cit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s