SALVATION OF THE SOUL


Solo Presentation by Nyoman Erawan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Fathoming Cosmos #4, 2012, 100×135, Acrylic on Canvas

 

Menampilkan puluhan karya: Lukisan, Instalasi¸ Foto dan Video Performance Art

PEMBUKAAN PAMERAN :

26 Agustus 2012 │ Pukul: 19.00 WITA

Bertempat di TONI RAKA Art Gallery │ Ubud – BALI

 

Peresmian pameran akan disertai acara │Performance Art Ritus Wajah Digoreng-goreng

Oleh Nyoman Erawan

 

Dalam pameran ini, Nyoman Erawan juga akan meluncurkan buku pertamanya dengan judul: SALVATION OF THE SOUL

Nyoman Erawan

Dengan Penulis: Rizki Ahmad Zaelani dan I Wayan Seriyoga Parta

 

 

PENGANTAR

Kurun waktu kurang lebih tiga tahun terakhir (2009-2012),  Nyoman Erawan telah mengambil keputusan mengejutkan: ia menghadirkan gambaran wajah dan tubuh (Diri) di dalam lukisan-lukisan abstraknya. Bagi saya, keputusan itu adalah langkah perkembangan artistik yang menjanjikan persoalan menarik: Bagaimana gambaran sosok yang nampak ragawi itu mesti ada di dalam susunan dan konstruksi gagasan estetik yang bersifat abstrak?Dengan kekuatan abstraksi bentuk yang menonjol, bagi saya, Erawan tetap memahami efek-efek permainan warna yang dikerjakannya lebih utama dibanding soal kehadiran sosok wajah pada kanvasnya. Menurut saya, ke-ada-an mimik wajah, atau gambaran tentang sosok seseorang, di situ tidak secara persis berlaku sebagai subject matter selain jadi bagian dari keseluruhan yang menerangkan pergerakan dan efek kejutan warna. Seri lukisan–lukisan mutakhir ini, jelasnya, tidak dimaksudkan oleh Erawan sebagai perkembangan karya yang ingin menunjukkan persoalan tentang lukisan potret diri (self portrait painting).

 

Karya-karya Nyoman Erawan, baik ritus seni rupa, karya seni instalasi, seni video, maupun lukisan, bisa dipahami sebagai manifestasi ekspresi emosi dan pernyataan intuisi jiwa yang didasari keterlibatan tubuh-diri. Terutama pada karya-karya ritus seni rupa, ekspresi dan performance tubuh adalah manifes keterlibatan diri sekaligus berlaku sebagai tanda-tanda yang merepresentasikan sikap pemuliaan nilai-nilai kebahagian hidup melalui prinsip-prinsip keseimbangan. Seri lukisan-lukisan yang mengandung gambaran tubuh-diri bisa dianggap sebagai pilihan ekspresi Erawan dalam menyampaikan sikap, penilaian, atau renungannya  yang personal atas berbagai peristiwa hidup dan kejadian alam pada bingkai perspektif ke-ada-an manusia. Secara lebih fokus Erawan menunjukkan sikap, penilaian, dan renungan itu di dalam sebuah bangkai kanvas. Keadaan tubuh-diri dalam lukisan-lukisan Erawan bukanlah gambaran tentang tubuh dengan identitas sosial tertentu, juga bukan tubuh telanjang tanpa muatan nilai-nilai moral, selain tubuh dalam selubung kesadaran jiwa yang mendambakan nilai-nilai keutamaan dan keluhuran.  Tubuh itu adalah gambaran ‘Jiwatman’ (tubuh-badan yang terhubung dengan jiwa) yang tengah berusaha menyatakan realisasi dirinya sebagai ‘Atman’ (jiwa yang diciptakan dari percikan sinar kuasa sang Pencipta). Bagi saya, citra tubuh-diri pada lukisan-lukisan itu sekaligus merepresentasikan pengertian tentang keadaan tubuh manusia dalam sikap takzim di hadapan jagad raya (greatuniverse).

 

Kitab Upanishad telah menunjukan di mana, atau bagaimana, sejatinya jiwa bersemayam dalam tubuh-diri manusia,: “Ia adalah jiwa yang paling sempurna (Purusa), Ia adalah yang paling kecil, yang menguasai pengetahuan, yang bersembunyi dalam hati dan pikiran, mereka yang mengetahuinya menjadi abadi”. Jiwa yang sempurna adalah ‘Jiwatman’ yang menyadari ke-Ada-annya sebagai ‘Atman’. Makna terdalam dari pengertian ‘Moksa’ adalah pembebasan jiwa dari hukum ketetapan phunarbhawa (reinkarnasi) untuk selama-lamanya, agar jiwa kembali menempati tempat asal dan tujuannya yang sejati dan abadi (Paramaatman).  Untukmeraih keselamatan Moksa seseorang dituntut mencari dan menegakkan jalan keselamatan di dalam hidupnya, yaitu jalan yang mensucikan jiwa dari ikatan ‘karma’ dan tipuan ‘maya’ yang mengandung sifatnya sebagai  ‘awidya’ (kegelapan). Inilah yang dimaksud sebagai ‘mukti’ atau penyucian diri (jiwa). ‘Mukti’ tidak hanya bermakna bagi keselamatan seseorang di kehidupan abadi (nanti), tetapi juga kini di dunia yang bersifat fana. “Moksa juga dapat dicapai semasa hidup di dunia ini, namun terbatas kepada orang-orang yang sudah bebas dari keterikatan duniawian dan pasang surut serta duka-dukanya gelombang hidup. Sebagaimana halnya Maharsi yang telah bebas dari keinginan-keinginan menikmati keduniawian dan bekerja tanpa pamrih untuk kesejahteraan dunia. Moksa semasa hidup disebut ‘Jiwan Mukti”. Bagi saya, ekspresi seni Nyoman Erawan adalah salah satu manifestasi sikap ‘mukti’, bukan dengan caranya mengajarkan nilai-nilai agama (Hindu Bali) secara eksplanatif, melainkan melalui upaya menggali dan merayakan jiwa ajaran-ajarannya sebagai dasar sikap estetik yang patut.  Nyoman Erawan, sepertinya tak pernah jera, menunjukkan ekspresi seninya sebagai ‘tanda untuk mengingat’, sebagai pernyataan yang mengandung pertanyaan.

 

Bandung, Mei 2012

Rizki A. Zaelani

 

 

Short Biografi I Nyoman Erawan

 

 

Nyoman Erawan yang lahir tahun 1958 di Banjar Delodtangluk, Sukawati, Gianyar Bali, adalah seniman yang tumbuh dalam keluarga dan lingkungan masyarakat yang memegang teguh adat-istiadat dan budaya tradisi yang berakar dari nilai-nilai Hindu Bali. Bakat seninya tumbuh dari lingkungan Sukawati yang dikenal sebagai salah satu daerah pusat sentra dan juga pasar seni kerajinan di Bali. Dalam perjalanan waktu, bakat tersebut dengan sadar terus dia asah melalui pendidikan formal mulai dari Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Denpasar, kemudian dilanjutkan ke STSRI (tahun 1981-1987) sekarang Institut Seni Indonesia (ISI). Jogjakarta Perkenalannya dengan kaidah-kaidah seni rupa modern dari lembaga pendidikan ISI Jogjakarta berpengaruh besar bagi Nyoman Erawan dalam memahami seni rupa. Karya-karya Erawan tidak terbatas pada lukisan semata, ia juga berkarya dengan berbagai eksplorasi material yang diolah dalam médium instalasi, kemudian berkembang pada medium performance art dan happening art.

Perjalanan berkeseniannya yang relatif panjang dalam berbagai eksplorasi medium menjadikannya salah satu perupa yang memiliki posisi penting dalam perkembangan seni rupa Bali dan seni rupa Indonesia. Berbagai pernghargaan telah dia dapatkan beberapa diantaranya adalah; The Fist Prize dari The Phillip Morris Group of Companies Indonesia Art Award tahun 1994, dengan karyanya yang berjudul Kalpataru yang dibuat tahun 1993 kemudian menjadi wakil Indonesia untuk kompetisi di tingkat Asean. Erawan juga pernah mendapat peringkat ke-3 perupa terbaik tahun 1996, hasil jajak pendapat pengamat Seni Rupa Indonesia versi Majalah Gatra. Penghargaan dari Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia (MSPI), Millenium Art, Menyongsong Millenium ke- III tahun 1999. Penghargaan ”Wijaya Kesuma 2004” untuk pengabdi Seni Budaya dari Pemerintah Daerah Kabupaten Gianyar Bali.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s