THE GAZE OF RITUAL


PRESS RELEASE

Pameran Seni Rupa Pararupa Sukawati

The Gaze of Ritual

Bertempat di Bentara Budaya Bali │ Jl. Prof. IB. Mantra 88A, Bypass Ketewel  │di Buka Hari Sabtu, 29 September 2012 Jam 18.30 Wita │ Pameran berlangsung sampai tgl. 8 Oktober 2012, │ Kurator I Wayan Seriyoga Parta

Pameran dibuka oleh Dr. Jean Couteau │dimeriahkan dengan Musik Performace “Meh..Peh..Yeh..” oleh Pararupa Musik Sukawati

Pada acara penutupan tgl. 8 Oktober 2012 Jam 18.00 Wita akan di gelar diskusi seni rupa bertajuk “Quovadis Seni Rupa Bali” dengan Pembicara Dr. Jean Couteau dan I Wayan Kun Adnyana, M.Sn

 

The Gaze of Ritual

MENATAP RITUAL DALAM KEBUDAYAAN (BALI) KINI

    Menatap (gaze) adalah aktivifitas yang tidak hanya melihat, tapi melampaui (beyond) dari hal itu, dalam menatap ada keterlibatan perspektif tertentu, yang melibatkan proses berpikir dan analisis. Walter Benjamin (1892-1940) memberikan ilustrasi yang menarik tentang makna sebuah tatapan, dengan menyatakan “ketika kita melihat karya seni atau objek biasa, karya dan benda itulah yang secara khusus menanamkan kesan pada kita, kita menjadi terlibat dalam sebuah pertukaran tactile (bersifat menjamah)”. Jacques Lacan (1901-1981) menegaskan benda-benda di sekitar kita tidaklah bersifat fasif, “melainkan benar-benar memandang orang yang merasakan. Apa yang kita lihat senantiasa, dengan kata lain, sebuah fungsi dari apa dan bagaimana kita maksudkan untuk dilihat”. Benda-benda itu mengada seiring dengan persepsi, dan persepsi kita juga dikonstruksi berdasarkan nilai dan kesepakatan tentang benda-benda tersebut.

Ritual sering dihubungkan pada aktivitas kegiatan religi atau agama yang berhubungan dengan nilai-nilai spiritual dan moral. Dalam tradisi Hindu Bali, ritual berkaitan dengan aktivitas religi yang diwarisi dan dijalani masyarakat Bali sampai saat ini (ritual transenden). Aktivitas ritual transenden (spiritualitas) sejatinya bersifat personal yang mengangkut hubungan dan kepercayaan antara manusia dengan Tuhan. Melalui kepercayaan yang terinstitusi dalam sistem agama, spiritualitas tersebut menjadi aktivitas bersama yang melibatkan banyak person—sekumpulan umat yang menganut sistem kepercayaan (agama) tertentu. Aktivitas ritual dalam konteks ini bersifat aktivitas bersama-sama.

Tapi dalam pengertian yang lain, ritual juga memiliki lingkup yang lebih bersifat kebutuhan jasmaniah sehingga bersifat material artinya aktivitas-aktivitas biasa dalam keseharian seperti; ritual mandi, makan, ritual dalam hal berpenampilan. Terlebih dalam kebudayaan konsumer kini, tumbuh bebagai macam ritual yang berkaitan dengan aktivitas kehidupan material masyarakat (ritual imanen), yang berhubungan dengan aktivitas budaya konsumsi. Mengkonsumsi sesungguhnya adalah aktivitas personal, tetapi kekuatan mesin-mesin produksi konsumerisme melalui media representasional seperti iklan dijelaskan oleh Sindunata kini telah mendorong “nafsu-nafsu yang semula individual masuk ke dalam ranah publik, dan di sana mengubah dirinya menjadi kepentingan-kepentingan yang sifatnya lalu menjadi publik”.

Aktivitas tersebut sama-sama melibatkan masyarakat, dan hidup dalam rangkaian “habitus”(meminjam istilah Boudrilard) yang di dalamnya terdapat aturan etik dan atau konvensi-konvensi sosial. Konvensi-konvensi itu sering kali menjerumuskan individu-individu yang terlibat di dalamnya, kehilangan kontrol kedasaran diri dan menjelma menjadi individu yang larut dalam ketaksadaran kolektif.

Dalam konteks inilah, 6 seniman antara lain: Nyoman Erawan, Made Mahendra Mangku, Galung Wiratmaja, Wayan Wirawan, Made Wiguna Palasara dan Kadek Ardika yang tergabung dalam Para Rupa (Sukawati). Resepresentasi karya-karya enam perupa yang terlibat dalam pameran ini menampilkan tatapan mereka atas tema ritual, lahir dari intepretasi subyektif mereka, tapi menyimpan rangkaian keterkaitan nilai historis yang panjang dalam peradaban manusia. Juga manampilkan keragaman intepretasi yang lahir dari insight dan penyikapan kritis mereka terhadap fenomena kehidupan sosial dan spiritual yang dijalani sebagai bagian dari realitas sosial masyarakat.

Penyikapan kritis oleh para perupa dalam hal ini dapat dibedakan menjadi dua: 1. Kritisisme yang lebih menekankan pada nilai (dept structure), nilai meliputi; ide, aturan, etika, konvensi, yang ada pada ritual relegi (Hindu), dalam konteks ini para perupa mengangkat nilai-nilai luhur yang terkandung dalam filosofi ritual religi keagamaan, untuk mengugah kembali kesadaran masyarakat yang telah terkooptasi oleh budaya konsumerisme yang menjadikan mereka mulai alpa dengan nilai-nilai tersebut. Ke-2, kritisisme yang lebih menekanan pada representasinya (surface structure); yaitu bentuk visual yang tampak dan praksisnya. Nilai-nilai yang terkandung dalam ritual baik religi maupun ritual budaya konsumer, tentu melibatkan representasi visual baik berupa simbol, ikon, maupun lambang-lambang,dalam hal ini perupa mengambil secara kritis representasi-representasi tersebut untuk menggali makna-makna kritis yang tersingkap di baliknya. Baik dalam kerangka mengangkat kembali nilai-nilai luhur seperti dalam agama Hindu, maupun dalam kerangka memakainya sebagai media kritik, dengan merekonstruksi wujud-wujud representasi yang telah ada menjadi representasi dengan nilai dan makna baru yang tentu saja didasari oleh perspektif kritis.

Wayan Seriyoga Parta (kurator)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s