hidden connections*


Menelisik Tanda-tanda Visual dalam Karya Made Romi Sukadana

Imej barong, rangda, penari (topeng, baris dan pendet), wayang, dilukis di atas kardus bersanding dengan imej-imej produk seperti: cocacola, pocari sweat, pizza hut, dunkin donnuts, serta tanda-tanda (sign system) yang biasa dicantumkan dalam kardus. Imej-imej tersebut merupakan rangkaian tanda-tanda visual yang menghiasi kehidupan sosial masyarakat. Dimana tanda-tanda dari kebudayaan modern seperti imej pizza hut bersanding sejajar dan bertumpang tindih dengan imej barong ataupun rangda merupakan tanda-tanda yang berasal dari kebudayaan tradisional Bali. Fenomena visual itulah yang tengah digambarkan Made Romi Sukadana dalam karyanya dengan sentuhan artistik. Di dalamnya hal-hal paradok dan saling bertentangan hadir secara bersamaan dalam sebuah komposisi yang eklektik.
Lukisan-lukisan tersebut tidak dilukis pada material kardus sebenarnya, coretan pada kardus oleh Romi dipakai sebagai sumber—resource untuk mendukung eksplorasi estetiknya pada medium kanvas. Romi yang selama ini menekuni bahasa rupa realis melukis imej kardus tersebut di kanvas dan dikomposisikan dengan sedemikian rupa dengan imej-imej lainnya. Dalam penjelasan Romi, ide itu muncul pada saat sedang memperhatikan tumpukan kardus di studionya dan tanpa sengaja ia membuat coretan-coretan warna bekas melukis di atasnya, beserta coretan-sketsa dari pensil. Kegiatan yang awalnya iseng itu selanjutnya menumbuhkan keasikan tersendiri dan menggugah kreativitasnya untuk menjadikan kardus sebagai medium artistik, dan sekaligus sebagai sumber gagasan yang hendak diungkapkannya.
Permukaan kardus umumnya dihiasai dengan komposisi imej menggambarkan barang atau produk yang dikemas, seiring dengan evolusi visual kebudayaan kontemporer kemasan yang awalnya sederhana kemudian tampil dengan pengolahan grafis yang semakin bagus bertujuan untuk menarik perhatian. Kini aspek kemasan (packaging) mempunyai peran penting tidak saja untuk mengemas barang atau produk tapi juga memainkan peran dalam membangun citra (image branding) produk untuk ditawarkan kepada konsumen. Kardus yang sederhana dan terbuat dari kertas, ternyata memiliki lingkup persoalan yang luas, dan Romi pun menyadari bahwa banyak hal-hal unik dan menarik yang tersimpan di dalamnya. Hal ini menjadikannya tidak hanya merepresentasikan imej kardus yang dikomposisikan dengan imej-imej lainnya, karena selain imej produk pada permukaan kardus juga terdapat tanda—kode berupa keterangan yang harus diperhatikan sehubungan dengan kondisi produk yang dikemas di dalamnya.
Saat memperhatikan tanda-tanda berupa barisan huruf dan angka ataupun bidang-bidang persegi yang tidak lain adalah serangkaian kode-kode berisikan seperangkat aturan dalam sistem pengemasan (packing) barang yang terdapat dalam kardus, daya kreatif Romi pun semakin tergugah untuk mengkaji rangkaian kode itu melalui eksplorasi visual. Kode-kode itu meliputi aturan mengenai kondisi barang yang dimuat di dalamnya, seperti imej gelas retak merupakan penanda bahwa barang yang dikemas rentan terhadap benturan dan rawan pecah atau hancur, untuk mempertegasnya kerap disisipkan kalimat “jangan dibanting” atau “fragile” bahasa inggris, sehingga diharuskan untuk berhati-hati saat mengangkat, memindahkan, atau membukanya. Imej-imej sederhana dan teks tersebut telah menjadi semacam konvensi dan sudah umum menghiasi berbagai macam kardus kemasan.
Kode-kode itu hadir menyeruak begitu saja kehadapan “kita” berupa imej-imej sederhana dan susunan angka dan huruf yang sekilas terlihat sepele hingga tidak terlalu diperhatikan, bahkan mungkin saja dikira hanya sekedar hiasan belaka. Tanpa disadari kode-kode sederhana itu telah memberi dampak besar dalam mengatur kesadaran manusia kontemporer, contoh lainnya yang nampak sederhana adalah marka jalan sebagai bagian dari penunjuk lalu lintas yang terdiri dari garis, bidang dan bentuk, merupakan kode-kode mengenai aturan tata tertib berlalu lintas untuk mengatur ketertiban masyarakat dalam berkendara. Melanggar kode-kode tersebut, akan dapat mengakibatkan kecelakaan bagi para pemakai jalan dan tak jarang dapat berakibat fatal hingga menyebabkan hilangnya nyawa.
Tidak hanya dalam kemasan, berbagai macam kode visual dan verbal maupun berupa simbol kini telah semakin lekat dan melahirkan berbagai macam konvensi. Konvensi terdapat dalam berbagai wilayah kehidupan, begitu pun dengan kebudayaan tradisi yang lekat dengan dengan konvensi dan bahkan nilai-nilai yang direpresentasikan secara simbolik. Ambilah contoh barong dan rangda dalam konvensi masyarakat Hindu Bali merupakan simbol yang menandakan nilai-nilai kebaikan dan kejahatan, di dalam konvensi tersebut terdapat seperangkat kode-kode visual dan verbal yang berfungsi untuk menumbuhkan kedasaran reflektif umat terhadap nilai-nilai moral dan lebih lanjut menumbuhkan ketaatan terhadap aturan-aturan yang terkait di dalamnya.
Fenomena tersebut menandakan bahwa realitas kehidupan sosial manusia selama ini terikat oleh berbagai konvensi yang tersirat maupun tersurat, berupa set-set aturan yang terkonversikan dalam rangkaian sistem kode. Kode-kode tersebut bersifat hidden tersembunyi di balik tanda-tanda simbolik dan penuh dengan mitos seperti dalam kebudayaan tradisi, begitu juga halnya dengan sign system pada kebudayaan kontemporer yang terdapat di sekeliling kehidupan kita. Rangkaian kode-kode tersebut secara halus telah berperan dalam mengatur kesadaran “kita” melalui konvensi-konvensi yang disepakati secara umum. Jadi dapat dibayangkan betapa pentingnya peran sebuah tanda—kode yang kelihatannya sederhana dalam kesadaran manusia.
Praksis kreatif yang dijalani Romi dalam berkarya dapat menjadi sebuah kasus menarik. Karena dari suatu yang pada awalnya merupakan aktivitas iseng semata, tak dinyana kemudian membawa Romi pada sebuah kajian visual yang mengungkapkan rangkaian makna-makna yang tersimpan dari the hidden code yang menyimpan keterhubungan dalam konvensi-konvensi yang tersirat pada realitas sosial masyarakat. Melalui praksis kreatif itu, kita diingatkan bahwa karya seni dengan eksplorasi artistiknya tidak pernah berhenti hanya sebagai obyek estetik semata, di dalamnya juga menyimpan refleksi pemikiran seniman atas tanggapannya terhadap fenomena kehidupan. Jadi selain menampilkan visual—artistik karya seni juga merupakan medium yang dapat menggugah kesadaran untuk menelusuri nilai dan makna yang tak tampak dari sesuatu yang tampak secara nyata.

Tabanan, September 2012
Wayan Seriyoga Parta

*Judul ini terinspirasi dari buku Fritjot Capra, 2003, the Hidden Connections: A Science for Suistainable Living, terj. Adnya Primanda, Jalasutra Yogyakarta 2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s