“Spirit”ualitas Urban


Oleh: W. Seriyoga Parta 

Download E-Catalogue

Soulscape by Wayan Upadana

Dua kata ini, spiritualitas dan urban mengandung dimensi nilai dan makna tersendiri. Kini keduanya digabungkan sebagai tajuk untuk sebuah eksposisi bertempat di Sudakara Art Space Sanur. Sebuah pameran yang melibatkan belasan perupa yang berasal dari dua daerah, yaitu Bali dan Bandung. Dua lokus yang telah tumbuh menjadi kota besar dengan kekhasannya tersendiri. Mereka yang berasal dari Bandung adalah Dadan Setiawan, Guntur Timur, Muhammad Regie Aquara, Willy Himawan (asal Bali namun telah menetap di Bandung) dan Iman Sapari yang asal Bandung kini menetap dan berkarya di Bali. Dan, perupa asal Bali antara lain: Wayan Suja, Made Muliana “Bayak”, Wayan Upadana, Made Wiguna Valasara, Made Jaya Putra, dan Ngakan Ardana perupa asal Bali yang telah menetap di Yogyakarta dan berkarya di sana.

Kronik perjalanan kreativitas mereka yang saling silang melintasi kultur dan kebiasaan menjadi dasar bagi penghayatan terhadap laku kreativitas kesenirupaan masing-masing. Pertemuan yang dimulai dari diskusi panjang perihal kegelisahan tentang pergumulan kreativitas. Pergumulan yang khusuk, sebentuk penghayatan spiritualitas melalui pergulatan yang inten dengan ekspresi rupa, dengan ide-ide, dan nalar rupa.

Made Muliana

Persepsi Tentang Urban

Urban atau urbanitas oleh para perupa sebenarnya dimaknai juga tak jauh-jauh dari pengalaman berkreativitas dalam naungan institusi seni rupa modern. Namun begitu, istilah urban berkaitan dengan fenomena kota, yang di dalamnya memiliki karakteristik yang kerap disandingkan secara diametral dengan karakter desa. Pertumbuhan masyarakat kota yang heterogen, dengan berbagai karakteristik, salah satu yang menonjol adalah karakter rasionalitas—individual dan profesionalisme. Masyarakat kota sangat menyadari potensi diri diikat oleh kepentingan yang diatur di dalam sistim yang menekankan profesionalisme.

Pertumbuhan kota di  abad ke 20 ditandai oleh kondisi modernitas, yang dilandasi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, menekankan pada rasionalitas. Dari sistim pendidikan, sistim sosial, hingga sistim ekonomi—kapitalis. Aspek-aspek tersebut telah membawa perubahan pada cara pandang dan cara berpikir dan pola prilaku masyarakat. Kondisi modernitas menjadikannya berbeda dengan karakter masyarakat desa, yang masih terikat pada tradisi—kolektivitas dan adat istiadat. Dengan begitu istilah urban tidak hanya ditandai dengan migrasi penduduk dan perubahan demografis, tetapi juga ditandai dengan perubahan sistim yang berimplikasi pada pola perilaku dan kerangka berpikir masyarakat.

Perkembangan modernitas menjadi semakin kompleks dalam derap laju globalisasi, yang ternyata tak hanya membawa implikasi pada kerangka pertumbuhan kota dengan segenap fenomenanya. Laju globalisasi yang ditandai dengan perkembangan perekonomian yang berpijak pada kapitalisme, pada akhirnya justru merasuki struktur pedesaan. Pertumbuhan ekonomi kapitalis dengan melibatkan modal multinasional kini telah merambah desa. Jika dahulu kota identik sebagai daerah metropolitan, kini hadir istilah desa metropolitan, juga istilah desa global. Beberapa contohnya adalah fenomena desa-desa seperti Kuta, Sanur, Ubud di Bali; atau kawasan pedesaan dataran tinggi Dago hingga Lembang di Bandung menunjukkan gejala tersebut.

Fenomena itu tentunya berdampak pada kerangka berpikir dan berperilaku pada masyarakat desa. Inilah fenomena lanjut kondisi modernitas yang telah merasuki segenap segi masyarakat, terlebih lagi dengan kemajuan teknologi komunikasi, berkembangnya media sosial dan “the large global virtual citizen”. Menambah semakin kompleksnya cara pandang untuk memahami fenomena urban dan modernitas, yang tidak lagi terbatasi oleh ruang dan waktu.

Willy HimawanMade Jaya Putra

Persepsi Tentang Spiritualitas

Istilah spiritual dan spiritualitas pada awalnya dibedakan dengan religiusitas, yaitu penghayatan ke-Tuhan-an yang berada dalam keimanan di institusi  agama. Religiusitas menjunjung tinggi nilai kesucian religi yang berada dalam sistim ajaran agama-agama formal, yang pelaksanaannya sering menampakkan nilai perbedaan antara agama satu dengan yang lain. Perbedaan pun menjelma menjadi identitas. Sementara gerakan spiritual cenderung ingin memahami dan menghayati nilai ke-Tuhan-an dalam bentuk penghayatan personal, yang tidak terbatasi dalam sekat-sekat etik dan moralitas agama—formal. Spiritualitas menjadi spirit memahami nilai-nilai keilahian. Konsep tersebut mendudukan spiritualitas sebagai penghayatan ke-Tuhan-an yang berada di luar kategori institusi agama.

Dalam konteks Indonesia istilah spiritual pada awalnya dipakai untuk mewadahi tradisi keagamaan di luar institusi agama resmi yang dikategorikan Aliran Kepercayaan dan Kebatinan. Berbeda dengan konteks di dunia Barat dimana gerakan spiritual “terjadi pada saat menurunnya tingkat afiliasi publik terhadap agama-agama besar terutama Kristen”1. Dan kini, khususnya di Indonesia setidaknya sejak tahun akhir 1990an, “agama-agama besar  terutama Islam secara massif telah menggunakan istilah spiritual dan spiritualitas sebagai padanan dari ekspresi batin keberagamaan (inner religious expression)”. Istilah spiritualitas telah menjadi padanan dari religiusitas.

Fenomena ini semakin meluas sejak tahun 2000an, istilah spiritualitas telah menjadi bagian dari terminologi agama-agama formal. Bahkan telah menjadi tren dalam di masyarakat, seperti istilah wisata spiritual yang hampir ada disemua agama formal. Wisata spiritual menjadi program yang semakin diminati dalam dunia pariwisata, hal ini terjadi di Bali khususnya di daerah Ubud. Kini salah satu tujuan penting wisatawan mancanegara ke Bali, adalah untuk berwisata spiritual, salah satunya melalui program Yoga. Dalam konteks ini fenomena urbanitas bertemu dengan fenomena spiritualitas, dalam lingkup desa metropolitan.

Regie M AquaraGuntur Timur

Spirit, Spiritualitas dan Urbanitas, Dalam Tatapan Perupa

Berbagai perubahan dalam kerangka modernitas inilah yang ingin dicermati oleh para perupa dalam pameran ini. Modernitas tidak hanya dalam kondisi umum, tetapi juga di lingkup kreativitas seni rupa yang dijalani para perupa berada dalam kondisi modernitas (institusi seni rupa modern). Mereka mengenyam pendidikan di lembaga seni (rupa), berpameran di galeri, ditulis oleh kurator dan teoritikus seni, karya apresiasi oleh kolektor, adalah beberapa penanda kondisi kemodernan dalam seni rupa.

Sebagai perupa yang tumbuh dari kondisi modernitas, mereka berada dalam kerangka kreativitas yang terbalut dalam kredo-kredo seni rupa modern. Institusi seni rupa modern, membawa serta kerangka operasional (tool) pada eksplorasi kreativitas perupa, kerangka tersebut diantaranya berupa “kesadaran ekspresi—otonom” dan kritisisme. Komponen tersebut mendasari perspektif para perupa dalam mengelaborasi spiritualitas dan urbanitas dengan fenomenanya.

Modernitas dalam arus budaya urban membawa konsekwensi-konsekwensi, diantaranya adalah, “deferensiasi ranah nilai kultural” dan “pemisahan waktu dari ruang” yang berujung pada hilangnya “the sense of sacred2. Deferensiasi ranah nilai kultural dengan kata lain adalah “diferensiasi ranah nilai seni, moral, dan sains”3. Pembedaan ini telah membawa berbagai “kemungkinan setiap ranah mengupayakan ikhtiarnya sendiri-sendiri—tanpa turut dicampuri ranah lainnya”. Resiko paling ekstrim pembedaan tersebut adalah keterpisahan secara total antara ranah-ranah tersebut.

Persoalan keterpisahan ranah-ranah itu juga yang tengah dipresentasikan pada pameran ini. Spiritualitas berhubungan ranah moralitas—religiusitas. Urbanitas—kondisi modernitas berada pada ranah sains dan teknologi. Seni rupa sendiri berada pada ranah Seni yang telah mengalami dimanika perkembangan yang kompleks dalam naungan modernism. Fenomena yang menarik dari pameran ini adalah ketika keterpisahan ranah-ranah modern, kini coba didekati dari ranah seni rupa. Salah satu jendela untuk memasuki fenomena tersebut, adalah dengan memanfaatkan potensi sain terutama teknologi, yaitu kamera—yang sudah menjadi bagian inheren proses kreasi perupa saat ini.

Mempersoalkan kembali peran imaji terhadap realita, imaji yang mencerabut realita dari jalinan ruang dan waktunya. Pemertanyaan yang berbalut estetika, dari penghayatan ruang privat yang khusuk. Seperti renik-renik kecil peralatan berkarya yang diaransemen dan dipotret dari sudut tertentu, sehingga menghadirkan landscape yang sepertinya berasal dari dunia antah dalam karya Imam Sapari.

Iman Sapari

Panorama imej yang dijepret dari landscape yang tidak begitu terkenal namun, ruang dan waktu itu begitu menyiratkan nuansa nan puitik dalam karya Guntur Timur dengan nuansa hijau. Kemudian ditimpa dengan metode layering seperti pada olah digital, imej yang berumpuk masing-masing berbicara pada lapis-lapis narasinya. Begitupun lapisan-lapisan yang lebih kompleks lagi pada karya Willy Himawan, menjuktafosisikan beberapa imej yang diambil dari dunia maya. Imaji-imaji yang memiliki dimensi ruang dan konteks, dijajarkan dalam ruang “baru” pada realitas karya. Imej-imej tersebut dipilihnya tidak secara sembarang, namun dipilih berdasarkan sebuah pemikiran, atau berdasarkan rasa yang mengetarkan ingatan dan pengalaman pribadinya.

Sebagaimana halnya diri yang senantiasa akan mengalami gap dalam relung-relung psikologi manusia menjalani realitas hidup. Pengalaman itu real dialami, sekaligus juga juga abstrak—mengendap dalam penghayatan personal, seperti pengalaman spiritual itu sendiri.

Masih pada permainan lapisan out of focus (blur), dan pembesaran (zooming) pada imej yang beresolusi rendah sehingga menghasilkan grid—fixcel dalam karya Dadan Setiawan. Fenomena blur dalam imaji digital sangat jamak dipakai di media televisi, biasanya dipakai untuk menyamarkan rekaman realita tertentu. Melalui teknologi kita mempermainkan realita, walaupun hanya realita dalam media digital semata. Tetapi karena disiarkan ke ruang publik, permainan olah digital tersebut telah mempengaruhi persepsi terhadap sebuah realita. imaji—teknologi juga telah memangkas ruang imajinasi manusia modern.

Dalam kekuasaan rezim imaji, manusia masa kini mendapatkan dirinya tak lagi punya ruang yang lapang untuk berimajinasi, bahkan mimpi-mimpinya pun telah disusupi oleh imaji bentukan. Rezim imaji telah merengut alam bawah manusia sekarang, demi kepentingan persuasi konsumerisme. Regie Muhamad Aquara, melalui studi visualnya menyoroti soal terkikisnya imaji dengan memakai pendekatan metode tes kepribadian Rorschach. Metode ini memakai gambar yang simetris untuk mengidentifikasi kondisi psikologi. Ppendekatan Rorschach dalam lukisan Regie menjadi semacam terapi untuk membebaskan kembali imajinasi manusia sekarang dari cengkraman rezim imaji.

Teknologi kamera digital yang begitu mudah memerangkapkan ruang dan waktu, dipakai oleh perupa untuk mempersoalkan “pengosongan ruang dan waktu” seperti dinyatakan Giddens. Kamera dalam hal ini tidak hanya sebagai alat bantu semata, tetapi bagian dari kerangka persoalan, yaitu persoalan persepsi imaji. Tangkapan kamera memang merupakan mekanisme mekanikal, namun rekaman atas imaji tersebut tak lepas dari tilikan sang pemotret yaitu perupa itu sendiri. Pada konteks ini, perupa mengeksplorasi imej untuk mencari momen-momen transenden dalam penghayatan paling personal.

Dalam konteks yang lebih personal karya-karya Guntur, Willy, Dadan, Regie dan Iman, sejatinya tengah mempersoalkan persepsi, atas imaji dan realita. Realita yang kemudian menjadi imaji dan dengan mudah dipermainkan di media digital, kemudian menjadi realita lukisan, realitas campuran warna dan goresan kuas. Karya-karya mereka membawa pada pemertanyaan kembali kuasa manusia atas ruang dan waktu, dan seolah-olah juga kekuasaan terhadap realitas. Siapakah gerangan “kita”, sehingga “kita” merasa telah berhak dan memiliki kuasa atas ruang dan waktu? Apakah “kita” benar-benar bisa mengendalikan ruang dan waktu? Ataukah  “kita” hanya sekedar menjadi pelaku atas ruang dan waktu yang telah digariskan terhadap diri “kita”?

Sementara Wayan Suja, memakai imej untuk mempersoalkan nilai spiritualitas dalam konteks kehidupan tradisi religi Hindu Bali. Religiusitas yang mengedepankan representasi simbolik sebagai wujud keimanan, yang kini berkelindan dalam pragmatisme masyarakat religius urban. Fenomena yang umum masyarakat Bali dengan alasan kepraktisan, canang sudah jamak di taruh di lemari es agar tahan lebih lama dan tetap segar dipakai hari selanjutnya. Imej canang yang dibungkus plastik dan dibekukan dalam karya Suja menggelitik untuk memaknai kembali nilai spiritual dalam tradisi religi.

Plastik dengan alasan demi kepraktisan, sudah menjadi teman dekat dalam keseharian kehidupan manusia modern, disisi lain adalah sumber petaka. Ali-alih demi kepraktiasan akhirnya berimplikasi pada persoalan ekologi, plastik kemudian menjadi sampah, dan dianggap sebagai musuh peradaban modern. “Musuh” yang lahir dari rahim sains dan teknologi, sebagai penanda kemodernan dan akhirnya dijadikan kambing hitam atas keutamaan kemanusiaan itu sendiri.

Made Muliana “Bayak” perupa muda yang telah lama konsen pada persoalan tersebut, sebagai perupa yang juga aktivis ia cukup gigih mengolah sampah plastik melalui pendekatan kreativitas. Bayak mengangkat plastik sampah sebagai media berkarya, dalam usaha mengkritisi soal plastik ia kerap menempelkan ikon-ikon estetik tradisional dari ranah pewayangan ke dalam karyanya.

Keterlibatan plastik pada ranah religiusitas Hindu, menjadi pintu masuk untuk mempersoalkan kembali tradisi ritual (yang sejatinya untuk menemukan nilai-nilai spiritual), dalam praksisnya justru terjebak menjadi ritual demi ritual semata.

Masih pada persoalan yang sama, perupa Bali yang lain Made Wiguna Valasara mengetengahkan soal aspek vibrasi bunyi dalam tradisi spiritual Hindu Bali. Seperti pemakaian Genta sebagai menghantarkan doa-doa pendeta, serta untuk membangun suasana religius. Vibrasi bunyi menjadi elemen penting dalam kekhusyukan prosesi religi. Dalam suasana religious, waktu sejenak seperti terhenti atau terperangkap dalam ruang, saat itulah umat mendapat pengalaman spiritual. Tetapi kehidupan religi di zaman iptek seperti sekarang, vibrasi bunyi yang membawa suasana spiritual berhimpitan dengan derap kehidupan masyarakat yang menjadi lebih praktis dan pragmatis.

Karya Valasara yang memanfaatkan sumber-sumber bunyi dari pengeras suara yang melantunkan puja (Trisandya), suara genta dan sumber bunyi lainnya,dipadukan dalam sebuah karya instalasi multimedia. Karya tersebut memakai sistis sensor, yang hanya akan bereaksi ketika ada orang di depannya. Ketika berbagai sumber bunyi yang lekat dalam tradisi ritual berpadu, audien serasa diajak memahami kembali esensi dari vibrasi bunyi dalam mentransformasi nilai religiusitas dan nilai spiritualitas.

Kehidupan religiusitas di zaman sekarang, juga mendapatkan diri berhimpitan dengan representasi religiusitas antar agama. Fenomena representasi itu, kerap menjadikan agama terjerebab pada persaingan representasi identitas. Contoh sederhana, adalah fenomena pemakaian alat pengaras untuk menyiarkan puja tiga waktu dalam tradisi baru Hindu Bali. Alih-alih bermaksud mengguatkan religiusitas umat, bisa jadi siar puja itu hanya sekedar menjadi penanda waktu.

Persoalan identitas sepertinya telah menjadi nilai yang tak terpisahkan dalam representasi masyarakat modern—kontemporer, ketika ruang semakin multi, semakin menglobal, identitas justru menjadi hal yang laten. Persoalan identitas menyembul keluar di aras pergaulan munusia yang semakin mengglobal. Dan identitas itu cenderung terjebak hanya menjadi representasi semata, dan bahkan cenderung menjadi semacam fashion. Representasi tersebut begitu subur menjangkiti ruang-ruang religi, salah salah satunya adalah fenomena fashion preweading yang telah menjadi tradisi baru di kalangan generasi muda Bali. Persoalan ini menjadi topik dalam karya Made Jaya Putra.

Sebagaimana halnya fenomena siar Puja Trisandya melalui pengeras suara di desa-desa, fenomena pembekuan canang dan trasisi preweading adalah tradisi baru, yang lahir dari fenomena urban. Tradisi di atas tradisi menjadi fenomena menarik dalam memandang kembali nilai-nilai di balik ritual, nilai-nilai yang berbalut kesakralan.

Terlepas dari persoalan implikasi teknologi seperti pada fenomena rezim imaji, bagi Wayan Upadana kemajuan teknologi video hingga saat ini tetap berpotensi untuk menggemakan pengalaman transenden. Melalui pendaran cahaya monitor plasma dengan resolusi tinggi dan gema suara speaker sound sistem, memancar dalam sebuah ruangan. Monitor memutar rekaman deburan ombak laut di ujung Barat daya pulau Bali, memancarkan cahaya ke dalam objek berbentuk gunung transparan. Melalui pengkondisian atas potensi teknologi Upadana bermaksud untuk menggugah pengalaman personal, tentang penghayatan spiritualitas.

Pengalaman personal, juga yang tengah dihadirkan oleh Ngakan Made Ardana melalui sosok potret. Potret sosok laki-laki tua yang konon terlibat dalam kekerasan massal, potret seseorang yang mengalami trauma psikologis. Pengalaman traumatik yang kemudian menghantarkannya pada pengalaman yang tak terbayangkan sebelumnya, pengalaman yang membawa pengaruh pada ketenangan psikologis. Ardana hendak menyatakan pengalaman spiritual  menyentuh ruang terdalam dalam diri manusia, pengalaman yang tak terbatasi sekat-sekat formal yang terkadang sering terlalu disibukkan dengan ritual dan identitas.

Dadan SetiawanIman Sapari

Dari pemetaan ruang lingkup dan persilangan kedua istilah spiritualitas dan urbanitas, dalam praksis kreasi dan penghayatan para perupa hadir menjadi beberapa kecenderungan representasi. Pertama, terdapat karya-karya yang cenderung mempersoalkan nilai-nilai spiritualitas dalam pergumulan rupa. Perupa menyadari ruang kreativitas tidak sebatas hanya ruang sirkulasi produksi rupa dengan media-medianya semata. Melalui eksplorasi—rupa mereka mencoba menggali dan mengenali kembali nilai-nilai transendensi pada ruang penciptaan.

Kedua, ada kecenderungan mempersoalkan spiritualitas dalam fenomena urban, yang menyentuh ranah religiusitas dan kultural. Pada penghayatan tematik ini, perupa memakai kerangka berpikir kritisnya dalam menatap fenomena sekitar yang kemudian melahirkan sebuah model menyikapan dalam wujud intepretasi rupa. Dalam pemahaman ini spitualitas urban, dimaknai sebagai “spirit urban” (urban spirit). Merupakan sebuah kerangka persepsional dalam menatap kemodern dan konsekwensi-konsekwensinya dalam fenomena urban.

Melalui eksplorasi karya-karya pada pameran ini, sesungguhnya ranah seni (rupa) juga tengah mempertanyakan dirinya di dalam konstelasi keterkaitannya dengan ranah-ranah lain di aras modern. Dengan kata lain, inilah momen ketika ranah seni (rupa) mencoba menatap kembali diferensiasi dirinya terhadap ranah moral dan sains.

Sanggulan Tabanan, Juni 2015

  1. Ahmad Muttagin, Islam and the Changing Meaning of Spiritualitas and Spiritual in Contemporary Indonesia, Jurnal Al-Jamiah, Vol 50, No. 1, 2012 M/1433 H
  2. Emanuel Wora, 2006, Perenialisme, Pustaka Pelajar Yogyakarta, p.122
  3. Lucky Ginanjar A. dalam Alfathri Adlin (editor) Spiritualitas dan Realitas Kebudayaan Kontemporer Jalasutra Jogja & Bandung, p. 104

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s