Eternal Line”


IMG_20150216_114238

Pameran Mangku Muriati dan Teja Astawa, Sudakara Art Space Sanur

Oleh: Wayan Seriyoga Parta

Wayang diyakini oleh bangsa Indonesia (khususnya Jawa, Bali dan Lombok) sebagai kesenian yang telah diwarisi sejak berabad-abad lalu, dan menjadi sarana untuk menyiarkan sastra dengan nilai filosofis yang maknanya relevan dalam kehidupan sosial masyarakat. Dari penelurusan yang telah dilakukan terdapat beberapa sumber dari prasasti yang menyebutkan perihal istilah wayang, di Jawa Tengah terdapat prasasti tahun 907 M dari bahan batu dikeluarkan oleh raja bernama Balitung yang di dalamnya menyebutkan  istilah “mawayang”[1]. Pertunjukkan wayang ini konon mementaskan lakon “Bimmaya Kumara”.  Beberapa pihak lain meyakini kehadiran kesenian wayang di Jawa bahkan lebih lama dari abad ke-10 yang ditengarai dalam prasasti tersebut.

Beberapa sumber juga menyebutkan kehadiran peristilahan yang merujuk pada wayang di Bali, yang berasal dari masa Bali kuna,  yang pertama ditengarai pada masa pemerintahan raja Udayana Warmadewa terdapat istilah parbwayang (900an M).[1] Namun  tidak ditemukan bukti yang jelas, menyatakan mengenai kepastian adanya seni pementasan wayang saat itu. Berikutnya pada abad ke-11 masa pemerintahan Raja Anak Wungsu (1045-1077), bersaudara dengan Marakata dan Airlangga yang sama-sama keturunan Raja Udayana. Mengeluarkan sebuah prasasti yang dikenal sebagai Prasasti Pandak Gede yang di dalamnya menyebutkan istilah aringit yang merujuk pada wayang.[1] Prasasti ini berlapiskan hiasan berbentuk seperti wayang ditatahkan pada relief logam yang menggambarkan “Samara Ratih” berangka tahun 1071 masehi. Di Pura Kehen Bangli juga terdapat sebuah prasasti yang berangka tahun 1204 masehi berbahan logam yang berisikan pahatan mirip wayang.[1] Selain dari prasasti, ada juga data visual dari sebuah pahatan wayang pada sangku Sudamala di pura Pusering Jagat Pejeng yang diduga dari masa Bali Kuno.

Terlepas dari persoalan yang masih menyelimuti penelusuran sejarah kesenian wayang di Indonesia, kesenian wayang  telah dihidupkan oleh tokoh-tokoh yang mempunyai karakter-karakter kuat, yang diciptakan dari imajinasi yang tinggi oleh mango (pencipta) di jaman dahulu. Yang kemungkinan penciptanya tidaklah satu orang, tetapi oleh para mango dan penyempurnaannya bertahap dari masa ke masa, hingga menemukan bentuknya yang telah sempurna saat ini. Selama berabad-abad wayang telah menyertai kehidupan masyarakat khususnya di Jawa dan Bali, menyiarkan berbagai nilai-nilai kehidupan dan telah menjadi cerminan bagi generasi ke generasi. Bahkan presiden pertama Indonesia Ir. Sukarno telah mengangkat nilai-nilai kepemimpinan yang terkandung di dalam wayang, menjadi pendekatannya untuk menjalankan pemerintahan modern Negara Indonesia.

Perjalanan yang panjang telah membuat wayang begitu akrab di hati masyarakat (Indonesia). Terutama di Bali, yang mana wayang hadir dalam berbagi bentuk mulai dari pertunjukkan wayang kulit dan wayang Wong, seni patung, relief dan juga dalam seni lukis. Berdasarkan pada beberapa sumber, seni lukis wayang di Bali dipercayai berkembang sejak pemerintahan raja Gelgel Dalem Waturenggong abad ke 14-15 M.[1] Seni lukis wayang yang memakai warna-warna alam itu telah menjadi elemen utama untuk menghiasi kemegahan keraton Gelgel kala itu. Pun ketika kemudian pusat pemerintahan berpindah ke Klungkung pada masa berikutnya, seni lukis wayang kembali menjadi komponen penting dalam merepresentasikan kemegahan pusat kerajaan baru tersebut. Sisa-sisa kebesaran kerajaan Klungkung pra kolonial dapat disaksikan pada lokasi balai Kambang dan Kertagosa yang dihiasi lukisan wayang gaya Kamasan, yang masih ada hingga saat ini.

Dari Gelgel, seni lukis wayang kemudian menggema di seluruh Bali mengisi relung-relung imajinasi visual masyarakat Bali dari generasi kegenerasi. Pada generasi muda masa kini mungkin gemanya hanya sebatas pada representasi visual. Berbeda pada generasi sebelumnya yang lebih familiar dengan pakem ikonografi visual wayang, dan narasi di balik bentuk dan karakter tersebut. Juga memahami alur cerita dan nilai-nilai filsafat yang terkandung di balik keunikan karakter visual seni rupa wayang. Fenomena wayang dalam persepsi lintas generasi menjadi suatu kasus bagi pewarisan wayang dan nilai-nilainya pada perkembangan di masa modern ini.

Generasi yang lahir sebelum tahun 90an masih mendapatkan sajian visual yang relatif tidak begitu banyak, sehingga representasi wayang yang ikonik dengan karakter yang unik dan pertunjukkannya dengan aura magis, menjadi salah satu sajian penting di masyarakat. Narasi yang dipentaskan atau diperankan dalam cerita wayang pun selalu mengalun dengan merdu dalam kekawin yang dilantunkan di penjuru pura, puri atau di banjar dan di desa-desa. Narasi yang dilagukan dalam kakawin mengisi ruang imaji-imaji yang langsung terkoneksi ketika melihat representasi wayang. Sehingga wayang dengan simbol-simbol ikonografi dan nilai-nilai filosofisnya telah menggema dalam kesadaran dan bawah sadar kolektif masyarakat.

Kondisi berbeda dialami generasi muda yang tumbuh di era media, dimana mereka dihadapkan pada berbagai alternatif representasi visual dari berbagai arah dengan nilai-nilai instrinsik dan ekstrinsik dibenamkan di dalamnya. Generasi masa kini dihadapkan pada lautan representasi yang hadir menyeruak dari media-media. Mulai dari televisi yang awalnya single canel kemudian menjadi multi canel, hingga semakin tumpahruah imaji di dunia virtual yang berbasis pada internet dewasa ini. Representasi visual hadir dengan berbagai narasi menjejali relung-relung sadar dan bawah sadar, kondisi tumpah ruah representasi ini menjadikan orang semakin tidak lagi awas dengan narasi di baliknya. Kondisi inilah yang menjadikan generasi muda kemudian lebih peduli dengan representasi dari pada makna-makna, hal ini menyebabkan imaji semakin tercerabut dari landasannya (ground-nya).

Wayang kemudian dihadapkan pada persoalan “sistim visual” dan “nilai-nilai konvensi”nya yang bersifat singular, di tengah dihimpit oleh sistim-sistim visual lain dalam suasana pluralitas-multiplisitas representasi. Kronik persoalan inilah yang menjadi latar pemikiran dalam penyelenggaraan pameran duet pelukis Bali Mangku Muriati dan Ketut Teja Astawa, dalam tajuk “Eternal Line”. Dua persoalan, singularitas dan pluraritas mendasari wacana eksplorasi estetik kedua pelukis Bali ini.

Mangku Muriati adalah generasi muda seni lukis wayang yang dengan penuh kesadaran mewarisi sistim visual dan nilai-nilai yang terkandung pada wayang. Ia telah mempelajari seni lukis wayang Kamasan sejak kecil dari ayahnya Mangku Mura (1920-1999) salah satu pelukis wayang tersohor di Kamasan. Dengan dukungan penuh sang ayah ia pun akhirnya mengenyam pendidikan seni rupa akademis-modern. Namun selepas dari mengenyam pendikan seni rupa di PSSRD Unud tahun 1987-1993 (yang kemudian bergabung menjadi ISI Denpasar tahun 2004), ia justru membenamkan penguasaan teknik dan wawasan modern yang diserapnya dalam bawah sadarnya, dan kembali menekuni seni lukis wayang hingga kini. Hal ini merupakan sebuah pilihan yang menarik dan tentunya didasari konsepsi yang kuat yang berasal dari dalam dirinya.

Mangku Muriati memilih kreativitas yang sejatinya berada di “jalan pedang”,  sebuah jalan yang sunyi, yang bagi seniman lain mungkin dianggap tradisional, mengulang-ulang bahasa rupa yang telah ada. Akan tetapi pandangan nyinyir itu akan terlihat terlalu pejoratif jika kita mau menatap dari jarak yang sangat dekat moda kreativitas yang dijalani Muriati. Penguasaannya yang mendalam tentang seluk beluk dan pakem seni lukis wayang, membuatnya dapat dengan leluasa memainkan ikonografi-ikonografi  wayang. Hingga mencapai ruang-ruang kreativitas yang melampaui persepsi-persepsi yang meletakan wayang sebagai seni yang konservatif. Karena wayang sesungguhnya memiliki langgam ikonografi visual lain, ketika merepresentasikan narasi-narasi yang berada di luar pakem klasik seperti Mahabarata dan Ramayana. Hal ini dapat ditemukan pada wayang Panji yang memiliki sistim narasi visual dan ikografi yang berbeda dari wayang klasik-purwa. Cerita Panji adalah karya sastra yang berlatarbelakang masa kerajaan Jawa, cerita panji adalah narasi tentang masyarakat (Jawa). Berbeda dengan narasi tokoh-tokoh agung penjelmaan dewa-dewa seperti dalam wayang klasik-purwa, dengan lakon kitab Ramayana dan Mahabarata.

Dengan begitu sistim ikonografi wayang memiliki cakupan yang cukup luas, berada di antara keketatan konvensi (pakem) dan disisi lain juga memberikan peluang pada pengembangan kreativitas. Penguasaan yang mendalam pada pengetahuan wayang, membuat Muriati dapat menapaki kreativitasnya dengan penuh keyakinan dalam mewarisi dan mengembangkan bahasa rupa wayang. Bahasa rupa yang oleh sebagian besar orang bahkan oleh seniman “modern” dianggap sudah tidak lagi menyediakan ruang-ruang bagi kreativitas dan inovasi. Namun tidak halnya bagi seseorang yang memiliki pemahaman mendalam, seperti Muriati.

Keyakinannya itu ia hadirkan pada eksplorasi karya terbarunya, yaitu pada karya “Penangkapan Diponogoro” versi wayang kamasan garapannya. Karya ini adalah tawaran dari kami (kurator dan manajer galeri), setelah mendengar pemaparan Muriati  tentang pengetahuan seni lukis wayang. Kami menyodorkan contoh karya penangkapan Diponogoro garapan Raden Saleh, dan sejenak Muriati mengamati dengan seksama gambar yang kami tunjukkan dari perangkat digital. Dan pada lawatan kami berikutnya sekitar beberapa minggu berselang, Muriati tiba-tiba menyodorkan sketsa di kanvas Kamasan yang menampilkan komposisi penangkapan Diponogoro versi wayang yang dibuatnya. Rupa-rupanya dengan pengamatan yang begitu singkat saat pertemuan sebelumnya, telah menggugah imajinasi Muriati untuk mentransformasikannya ke dalam ikografi wayang. Dalam waktu yang singkat ia telah mampu menscan gambar itu dipikirannya, kemudian merekonstruksinya dalam bangunan ikonografi “baru” yang berasal dari berbagai ikonografi wayang terutama wayang panji dan ikonografi pengembangan yang pernah dibuatnya.

Orang-orang Belanda digambarkannya sebagai tokoh-tokoh yang berkarakter keras dengan mata bulat, mulut yang menonjol memakai topi dan Diponogoro digambarkan sebagai tokoh halus (tokoh bangsawan) dengan mata sipit dengan memakai blangkon. Pengambaran ini adalah sebentuk kreativitas yang luar biasa dalam memainkan berbagai sistim ikografi. Sebuah kreativitas yang tidak hanya sebatas eksplorasi bebas, pada bentuk dan ikon semata. Muriati menunjukkan seni lukis wayang yang dianggap tradisi dan kaku pada pakem itu, sejatinya memiliki kelenturan yang luar biasa dalam menterjemahkan berbagai tantangan zaman. Tantangan ini sejatinya dimotivasi oleh karya seri “Perang Puputan Klungkung” yang telah digarap Muriati berkolaborasi dengan ayahnya Mangku Mura. Juga karya-karyanya yang lain yang dikembangkan dari narasi-narasi babad seperti babad Dalem yang mengisahkan kebesaran Raja Gelgel, yang diwujudkan dengan merekonstruksi ikonografi bagi tokoh-tokoh yang baru di luar tokoh-tokoh klasik dalam pewayangan pada umumnya.

Menggunakan pendekatan yang cenderung berbeda, Teja Astawa yang tumbuh di pesisir Sanur ditemani hembusan angin pantai yang hangat mengiringi masa kecilnya sembari bermain-main dengan wayang-wayangan dari daun kamboja. Teja juga menempuh pendidikan formal seni rupa di peruguan tinggi seni, dari STSI (ISI) Denpasar tahun 1993-2000. Namun tidak seperti Muriati yang memiliki latar belakang keluarga sangging (seniman), yang sejak kecil telah mempelajari sistim simbol, ikonografi dan sistim narasi wayang secara langsung dari sang Ayah. Sebagai anak pesisir dengan orang tua berlatarbelakang pegawai negeri, Teja relatif tidak penah mempelajari secara mengkhusus ikonografi wayang dan sistim narasinya. Namun, sebagaimana halnya anak-anak Bali pada masa itu, masa-masa kecil Teja dilingkupi dengan kegembiraan dan kebebasan dalam menorehkan dan memainkan wayang dari media daun yang berada di sekelilingnya. Ingatan Teja terhadap wayang kemudian bertemu di dalam kreativitas berkarikatur yang menghingapinya saat menempuh pendidikan di sekolah menengah (SMP).

Kedua moda kreativitas berolah bentuk itulah yang kemudian menjadi bekal baginya dikemudian hari untuk mengembangkan karya-karyany selepas dari pendidikan tinggi. Hingga berimbas pada karya-karyanya saat ini yang menampilkan eksplorasi bentuk yang dikembangkan dari ikonografi wayang. “Teja me-rekreasi kembali struktur baku wayang yang telah menjadi pakem. Dengan kata lain Teja berhasil mendomestikasi wayang dari habitus kolektifnya menjadi gaya dan bahasa ungkap pribadi”.[1] Dari bahasa ikonik wayang khas inilah, Teja kemudian membangun narasi-narasi yang lebih bebas perihal fenomena keseharian. “Sebagaimana kebebasan bermain-main dengan wayang-wayang daun saat masa kecilnya, Teja merekonstruksi kembali pengalaman tersebut dalam proses berkarya. Sehingga pengalaman-pengalaman itu hadir menjadi fragmen-fragmen yang dikomposisikan secara visual menjadi sebuah sistim narasi”.[1] Representasi wayangnya tercerabut dari the ground-nya yaitu sistim narasi yang melekat di balik simbolisasi visualnya.

Narasi-narasi dalam karya Teja dibangun dari pembebasan atas sistim narasi yang berada dalam pakem cerita wayang. Narasi-narasi memakai pola skuensial seperti dalam sistim narasi seni lukis wayang, “narasi-narasi dalam karya Teja merupakan fragmen-fragmen cerita yang terputus-putus, yang disatukan dalam bidang kanvas. Karya Teja menghadirkan nukilan-nukilan pengalaman bawah sadarnya yang kerap kali muncul secara spontan ketika dia berkarya”.[1] Narasi-narasi dalam karya Teja bersifat “pseudo narasi” yang seolah-olah seperti narasi wayang, namun kenyataannya narasinya lebih bersifat subjektif dan terbuka pada berbagi intepretasi dari audiens.

Melalui dua model eksplorasi yang ditunjukkan oleh Muriati dan Teja Astawa dalam karya-karya mereka, kita diperlihatkan bahwa bahasa rupa wayang memiliki potensi kreativitas yang masih terbuka bagi kreativitas dan inovasi. Baik melalui penggalian dari dalam yang bersifat singular seperti dilakoni oleh Mangku Muriati, atau eksplorasi bebas keluar wayang pada representasi-representasi yang lebih bersifat plurar dalam karya-karya Teja Astawa. Dan jika ditelisik kembali pada konsepsi yang terkandung pada kesenian wayang, dalam kesenian ini terdapat konsep kebijaksaan yang terangkum dalam Trikara. Adapun Trikara terdiri dari “hamot” (keterbukaan), “hamong” (filterisasi dan adaptif) dan “hamengkat” (berkembang).[1]

Ketiga nilai-nilai kebijaksanaan itulah sesungguhnya menjadikan kesenian wayang senantiasa dapat bertahan dan menyesuaikan diri dalam derap perkembangan zaman. Wayang kemudian menjelma dalam berbagai bentuk representasi, dari pertunjukkan, seni relief, patung dan seni lukis. Wayang senantiasa selalu digerakkan oleh para mango—insan-insan kreatif—yang terus tumbuh sepanjang masa. Ditangan mereka nilai-nilai yang terkandung di dalam wayang senantiasa disesuaikan dan dikontekstualisasikan dengan perkembangan zaman.

IMG_20150218_145438

Wayang, Tradisional, Kontemporer: Sebuah Persilangan Wacana

Konfigurasi estetik dalam karya-karya Muriati dan Teja Astawa menghadirkan dua arah perkembangan wayang. Yaitu, dinamika yang berputar ke dalam (sentripugal), dan dinamika yang berputar keluar (sentripetal) yang menjauhi pusat. Dalam perputaran keluar, struktur wayang digerakkan keluar dari pakem-pakemnya dalam pengembangan yang lebih bebas dan terbuka ditangan kreator visual seperti Teja Astawa. Walaupun Teja mengembangkan dan mengobrak-abrik struktur wayang, namun audien tetap dapat melihat adanya kehadiran ikon-ikon wayang di dalamnya. Begitu juga pada pergerakan ke dalam seperti kreativitas Muriati, dengan jalan merekonstruksi ikonografi “baru“seperti ikonografi tokoh-tokoh dalam cerita Babad, tokoh perempuan, figur pejuang, dan sosok-sosok kolonial, yang dikonstruksi berdasarkan dari ikonografi-ikonografi yang telah ada.

Jika ditelisik secara lebih dekat, wayang sejatinya bersifat singular sekaligus plural, dan berbicara soal pakem atau konvensi ternyata ada banyak konvensi di dalam wayang. Misalkan sistim ikonografi wayang Jawa Tengah, Jawa Timur, ada sistim ikografi wayang Bali. Sistim ikografi wayang (klasik) Purwa  berbeda ikonografi dengan wayang Panji, di Bali juga dikenal ada wayang Gambuh. Jadi di dalam wayang yang dianggap singular itu ternyata juga bersifat plural, dalam persepsi umum ketika membicarakan soal pakem wayang seolah-olah pakem itu tunggal (singular). Tetapi pada kenyataannya di dalam sistim wayang, pakem itu ternyata jamak (plural).

Persepsi yang menjenderalisir itu disebabkan oleh kategorisasi akademik terhadap kesenian yang telah berusia tua seperti wayang, yang dikategorikan sebagai seni tradisional. Istilah itu telah menjebak seolah-olah seni tradisional itu bersifat tunggal dan ajeg. Tetapi pada kenyataannya seni tradisional sangat beraneka ragam, bahkan dalam lingkup yang sama seperti wayang pun ada berbagai varian. Sifatnya yang berulang-ulang juga sering menyebabkan adanya kesalahan persepsi, yang meletakkan seni tradisi sebagai seni yang statis—tidak berkembang (ajeg).  Padahal pada kenyataannya seni tradisi dimanapun, juga senantiasa berkembang dan bahkan mengalami re-kreasi dan komodifikasi, seiring dengan dinamika masyarakat penopangnya. Seni tradisi juga memiliki  dinamika internal, definisi yang termaktub dalam istilah tradisilah yang membuat persepsi terhadap seni tradisi menjadi tunggal.

Istilah tradisi dihadirkan untuk kepentingan pembedaan oposisi biner (lawan) dari modern, inilah pangkal yang menyebabkan persepsi yang mendeskritkan seni-seni yang dinyatakan sebagai seni tradisi tersebut. Di sisi lain tradisi juga diselimuti oleh upaya-upaya untuk mekonstruksi seni tradisi rekaan (invented tradition)[1], yang dimaksudkan agar seni yang dikonstruksi itu seolah-olah sudah mentradisi dan dari warisan masa lalu. Jadi pada kenyataannya istilah tradisi atau tradisional sejatinya diselubungi berbagai dimensi, dan termasuk dimensi politis.

Munculnya istilah seni rupa kotemporer sebagai diskursus global yang mengusung pluralisme, ditengarai sebagai wacana membawa hembusan angin yang lebih positif bagi persepsi tentang seni yang ter-tradisi-kan. Praksis-praksis yang tersubordinasikan dari seni-seni yang berbasiskan visi pada kemajuan, kemasakinian, ke”baru”an dan inovasi. Pluralisme yang diusung oleh wacana seni rupa kontemporer, sudah seharusnya menyentuh pada konsepsi penciptaan seni lukis seperti yang dilakoni Muriati, yang berbasis pada seni yang digolongkan sebagai seni tradisi.

Eksplorasi karya-karya Muriati dan Teja Astawa dengan basis estetik dari khasanah seni wayang, menyajikan sebuah fenomena singular-plural, keduanya saling berdinamika.  Dan jika ditinjau dari wacana seni rupa, fenomena kekaryaan mereka menghadirkan dialektika seni rupa kotemporer yang menyandarkan dirinya pada nilai-nilai masa lalu yang telah mentradisi. Dalam hemat saya karya-karya Muriati dan Teja adalah fenomena perkembangan seni rupa kontemporer, bukan seni rupa tradisi-kontemporer atau kontemporer-tradisi. Dengan premis pluralisme, seni rupa kontemporer sudah menanggalkan konsep pembedaan oposisi biner antara tradisi dengan modern, dan atas perbedaan heirarkisnya yang mendeskriditkan seni tradisi. Wacana seni rupa kontemporer yang saya maksud ini cenderung mengabaikan wacana seni rupa kontemporer yang berbasiskan pada “postmodern”, atau perkembangan seni rupa yang disepakati memiliki dasar (common ground)[1] dari asas-asas modernisme. Karena menurut saya wacana seni rupa kontemporer masih sangat debatable sifatnya masih terbuka pada berbagai persilangan pemikiran.

Seringkali wacana seni rupa kontemporer hanya menyentuh pada lapisan luar dari kompleksitas penciptaan, yang dipersoalkan hanya ujungnya saja yaitu hanya representasi visual karyanya saja. Seperti dalam kasus kreativitas Mangku Muriati yang mengenyam pendidikan formal seni rupa modern dari bangku akademis, dan kemudian ia memilih mengembangkan seni lukis wayang Kamasan.  Ketika hanya melihat reprentasi karyanya, orang pasti akan menyatakan itu hanya seni lukis “tradisional”. Sementara ketika melihat karya Teja Astawa yang keluar dari pakem estetika wayang, orang akan langsung menyatakan itu sebagai seni rupa “kontemporer”. Padahal kalau ditelisik lebih mendalam menyuruk konsepsi berkarya, akan ditemukan bahwa konsepsi penciptaan Muriati dekat dengan basis pemikiran kotemporer. Hal ini terepresentasi dalam inovasi-inovasi dalam karyanya yang bersifat involutif, mengarah ke dalam atau sentripetal.

Eksplorasi karya-karya mereka berdua, menunjukkan sebuah perkembangan yang secara sadar mendasarkan diri pada potensi warisan bahasa rupa masa lalu. Fenomena ini menunjukkan sebuah dinamika kontemporer yang memiliki dimensi “identitas”. Merujuk pada konsep singularitas-plural Jean Luc Nancy yang dijabarkan oleh Yasrat Amir Piliang, menyakatan bahwa “berbagai praktik, peristiwa dan ekspresi seni dapat dipandang sebagai ‘singularitas-singularitas’ bersifat plural—dalam kekhasan, identitas dan keunikan diri masing-masing—tetapi disatukan oleh konsep tunggal seni”[1]. Lebih lanjut dijelaskan, istilah seni (art) sebagai konsep kumpulan singularitas-singularitas praksis-praksis seni tidaklah berfungsi sebagai penyatuan, akan tetapi di dalamnya mereka “dihubungkan”. Konsep pluralitas yang diusung seni rupa kontemporer seharusnya sejalan dengan konsep singularitas-plural Nancy tersebut, konsep kontemporer dapat dimaknai sebagai penghubung berbagai praksis seni rupa. Termasuk praksis yang dijalani oleh Mangku Muriati dan Teja Astawa yang di ketengahkan dalam ruang bersama yaitu galeri atau art space ini.

Dalam wacana yang lain, praksis kekaryaan mereka menyiratkan fenomena identitas yang berdimensi kolektif dan sekaligus juga berdimensi subjektif. Di dalamnya kolektivitas tidaklah membuat individu serta merta tergerus dan menjadi anonim. Atau pun sebaliknya ketika menjadi individu yang memiliki kehendak bebas, tidak dengan sertamerta harus mencerabutkan diri dari kolektivitas, dan alih-alih menjadi otonom. Di dalam perkembangan seni rupa kontemporer yang mereka lakoni ini, kedua nilai itu dengan kesadaran sang senimannya tidak dinegasi antara satu dengan yang lainnya. Namun saling mengisi di dalam ruang kreativitas sesuai dengan pilihan mereka masing-masing. Bukankah di dalam sistim kosmos sejatinya semua saling terkait, karena alam mikro adalah untaian unsur-unsur yang membentuk tatanan medan makrokosmos.

 

Sanggulan, Tabanan Oktober 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s