“NITI BUMI”


Realitas, Intepretasi dan “Politik” Representasi

 

nitibumi-19-5753a66af67a61b6046bc6f1

Oleh:  Wayan Seriyoga Parta

 

Pameran tidak saja sebatas memajang dan memamerkan karya seni rupa ke hadapan publik, sebuah pameran memiliki tujuan yang dikonsepkan dan dirancang dengan baik. Mulai dari karya-karya yang mau dipamerkan, presentasi karyanya dalam ruang pamer, dan menentukan tema, atau topik apa yang diusung dalam gelaran tersebut. Tema atau judul menjadi pintu masuk bagi audien untuk memahami apa atau maksud dari sebuah pameran,  dari sanalah awal persepsi audien akan bertolak untuk lebih lanjut memahami sebuah gelaran pameran karya seni rupa. Karena itu sebuah pameran tidak  hanya sekedar memajang atau memindahkan karya dari ruang privat (studio) seniman kehadapan publik, ada landasan konseptual bahkan ada strategi-strategi tertentu di dalamnya. Dengan kata lain ada aspek “politis” di dalam representasi karya pada ruang pameran (politic of representation). Pengertian politik dalam hal ini tentunya tidak merujuk pada politik praktis, tetapi politis dalam pengertian sebuah langkah-langkah strategis yang ditempuh untuk mencapai sebuah ‘tujuan’. Strategi tersebut tercermin dalam konsep representasi yang dihadirkan oleh seniman dalam karyanya, dan juga dalam aspek presentasi di ruang pamer.

Rasanya tidak berlebihan, jika pameran bertajuk “Niti Bumi” yang digagas oleh komunitas seniman yang terwadahi dalam Niti Rupa ini, diletakkan dalam konteks wacana politis—representasi tersebut. Dari perjalanan mengikuti proses para seniman Niti Rupa meskipun tidak terlampau intensif, mereka menyiapkan pameran ini secara sungguh-sungguh dan terencana. Dimulai dengan memilih tema yang akan diusung bersama yaitu Niti Bumi, dan mempersiapkan karya berkaitan dengan tema yang telah disepakati bersama. Mereka menafsirkan tema dengan persepsi pribadi yang dituangkan ke dalam komposisi rupa dan kecenderungan gaya ungkapnya masing-masing. Tema Niti Bumi, memiliki keterkaitan dengan nama komunitasnya Niti Rupa, istilah Niti diambil dari bahasa Sansekerta yang dapat dimaknai sebagai “menata” atau manajemen padanan istilah modernnya.

Niti Rupa sebagai sebuah nama komunitas menyiratkan kesadaran mereka sebagai seniman, senantiasa berkaitan dengan urusan menata—rupa, menata imajinasi, pikiran, impresi, insight dalam rupa. Karena melalui rupa lah mereka menumpahkan segala bentuk ide, pemikiran, perasaan dengan kekuatan imajinasi dan didukung oleh sensibilitas teknis. Tataran berikutnya, Niti dimaknai pada kesadaran bahwa dunia seni rupa tidak berdiri sendiri dan sepenuhnya terbebas dari nilai di luar dirinya (otonom). Sebagai seniman yang telah malang melintang di medan apresiasi, mereka menyadari praksis kreativitas seni rupa berada dalam jejaring yang saling terkait antara seniman dan entitas-entitas lainnya di dalam medan sosial seni rupa. Serupa jalinan yang melibatkan nilai intersubjektif di dalam medan pemaknaan atas hasil karya cipta seniman.

Bahwa seniman tidak pernah bisa bekerja sendiri dalam mereprentasikan nilai dan makna-makna yang diterjemahkannya melalui rupa. Bahkan sejak sebuah karya diniatkan oleh seniman nilai intersubjektif itu telah menyertainya. Karena seniman tidak pernah total sendiri dalam menciptakan karyanya. Bahkan sedari proses ide, seniman telah menyerap dari alam dan lingkungan di sekitarnya, dan mendapat referensi mengenai berbagai bentuk-bentuk representasi. Ketika seniman mulai menerjemahkannya, maka membutuhkan media, berupa material mulai dari kertas, pensil, tinta, carcoal, kemudian kanvas, cat, kuas, palet, dan sebagainya. Seniman memakai media dan material yang telah diciptakan oleh subjek lainnya. Dan ketika karya telah terwujud seniman pun kembali membutuhkan subjek-subjek lain di luar dirinya untuk mengapresiasi karyanya. Seniman ingin membagi hasil karyanya dengan publik, bahkan lebih lanjut ia menginginkan sebuah konvensi atas ciptaannya tersebut. Singkat kata ia ingin supaya publik (audien) ikut menilai karyanya, dan tentunya ia ingin menyatakan karya tersebut memiliki nilai. Bernilai bukan hanya untuk dirinya pribadi tetapi juga untuk orang lain.

 

diskusi2-5754c67d729773191869f2c3

Dalam konteks ini, Niti Rupa bergerak pada ruang kesadaran intersubjektif, ruang yang membutuhkan penataan dan manajemen agar nilai dan makna tersebut menemukan konvensi bersama. Dalam entitas intersubjektif, setidak-tidaknya ada apresian umum, apresian khusus atau kolektor filantrofi; galeri dan pemasar; manajermen seni; kurator yang memediasi nilai melalui representasi karya dalam ruang pameran dan pertanggungjawaban tulisan; kritikus yang mengapresiasi secara kritis karya seni dengan landasan pengetahuan seni yang dimilikinya. Kesadaran niti rupa pun menyentuh pada pemahaman intersubjektif dalam medan seni rupa.

Intepretasi atas tema yang diusung dalam Niti Bumi, berlatarkan pada refleksi atas kondisi bumi tempat manusia dan berbagai entitas kehidupan bersandar tumbuh dan berdinamika. Persoalan alam berupa kerusakan, bencana, juga tidak dapat dilepaskan dari ulah serta perilaku, ambisi dan keserakahan manusia. Tetapi bagaimana jadinya ketika sebuah tema, terlebih lagi tema besar yang menyangkut alam dan manusia di dalamnya, diterjemahkan dalam karya yang bersifat subjektif? Bagaimana kolerasi antara karya satu seniman dengan yang lain dalam konstelasi representasi bersama di dalam pameran? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu memang senantiasa menyelimuti sebuah pameran yang mengusung tema tertentu. Karena tema atau judul menjadi pintu masuk bagi curiosity publik dalam mengapresiasi. Dalam hal ini tujuannya pun masih dapat diperdebatkan kembali, apakah tujuan itu bersifat praktis? Ataukah bersifat imbolis? Semua berpendar dari kretivitas dan maksud seniman.

Kalau dihubungkan dalam konteks pameran ini, seniman-seniman Niti Rupa meniatkan untuk menerjemahkan kegelisahan mereka terhadap persoalan alam dan lingkungan seperti terbesit dalam tajuk Niti Bumi. Mereka membuat tafsir terhadap persoalan-persoalan terkait tema melalui persepsinya masing-masing yang diwujudkan dalam bentuk intepretasi rupa. Para seniman bersiasat melalui eksplorasi rupa dengan memanfaatkan elemen-elemen yang diambil dari realitas sekitar diolah dalam imaji-imaji yang menjadi subjectmatter karya.

wayan-redika_karya-ok

Seperti rekaman imaji fotografis tentang kondisi alam yang dirusak oleh alat-alat berat, berupa rekaman langsung dari pengamatan Wayan Redika terhadap daerah galian pasir di desa Butus Karangasem. Ia menjajarkan secara over lapping imaji-imaji dari realitas masa kini dan masa lalu yang berdimensi sosial dan kebudayaan secara eklektik. Penjajaran itu merupakan modus estetik yang dimaksudkan untuk mengetengah persoalan kompleks yang tengah menyelimuti kehidupan sosial masyarakat Bali. Persoalan itu berkelindan serupa sengkarut yang multi dimensi, tidak mudah didekati hanya dalam satu cara pandang saja, apalagi berdasarkan cara pandang hitam-putih. Kolase-kolase dari elemen budaya tradisional menjadi jangkar untuk mengingatkan, dan sekaligus menghadirkan pesan-pesan pengetahuan yang berbasis kearifan.

teja-astawa_karya-ok

Nilai warisan kebudayaan khususnya kebudayaan tradisi menjadi perhatian Teja Astawa, sejak lama ia telah berkeyakinan untuk mengangkat ikon dari ikonografi seni rupa tradisi khususnya wayang; menjadi eksplorasi utama pada sistem representasi dalam karyanya. Teja tentu tidak hanya mengulang dan memakai warisan yang telah ada, tetapi ia mengolahnya kembali dengan mengutakatik ikonigrafi dalam imajinasinya. Hadir sebentuk modifikasi ikonografi wayang ala Teja yang ditempatkan sebagai “ideologi estetik”. Melalui bahasa ikonografi itulah Teja kemudian mengintepretasikan persepsinya terhadap tema pameran ini terutama tentang alam, dengan mengangkat persoalan alam air khususnya laut. Ikonografi berdimensi budaya dipakai sebagai bahasa ‘kritik’ melalui rupa.

putu-bambang-juliartakarya-ok_53m6d

Pada karya yang lain, imaji tentang alam menyiratkan kondisi ekosistem yang kian mengalami krisis air, yang ditandai dengan representasi kekeringan dalam karya Bambang Juniarta. Menghadapi persoalan tersebut, Bambang menghadirkan sosok ibu sedang memegang selang air. Dari karya ini setidaknya ada tiga komponen yaitu: alam yang “tereksploitasi”, binatang yang sengsara, dan ibu yang tengah menyiram namun belum ada air yang keluar dari selangnya. Melalui tiga komponen itulah sang seniman mencoba membangun pesan, penulis kira cara pemaknaannya bisa dari berbagai sudut pandang, bisa dari sudut sang Ibu, dari sudut binatang Sapi dan bisa juga dari sudut pandang alam; atau bisa secara langsung dikaitkan menjadi kesatuan yang utuh.

13388741_600158370143983_525865991_n

Dalam komposisi yang serupa, ada karya Loka Suara yang juga mengangkat sosok perempuan (Ibu) selain juga manusia, binatang dan diorama komposisi alam yang tandus yang direpresentasikan dengan bloking-bloking brushstrokes berkarakter warna coklat. Komponen objek-objek tersebut menjadi bagian dari representasi yang lebih mengarah pada permainan teknik melukis dan aspek formal estetik. Begitu juga sebuah komposisi sentral yang menyerupai sejenis pohon besar, yang bisa juga tampak seperti binatang menyerupi ulat, bahkan terlihat serupa “gajah”, di dalam karya Made Wiradana. Meskipun terdapat komponen-komponen lain seperti manusia, binatang dan peralatan pemotong, yang tampak mencolok dari karya ini adalah bentuk aneh dengan warna dominan gelap itu. Model gaya ungkap yang sejenis juga dapat dilihat dalam karya Galung Wiratmaja dengan bloking-bloking komposisi warna.

Lukisan karya Uuk Paramahita(Kredit Foto : Raka Santeri)
Lukisan karya Uuk Paramahita (Kredit Foto : Raka Santeri)

Pengolahan objek menjadi lebih figuratif, telah didalami sepanjang kreativitas Made Uuk Paramahita, hingga menemukan bahasa ungkap yang khas. Serupa deformasi bentuk objek-objek alam yang disederhanakannya sedemikian rupa tampak seperti berkarakter gaya ungkap anak-anak. Di tangan Uuk deformasi itu itu tidak hanya sebatas eksplorasi artistik, tetapi merupakan bahasa ungkap untuk mengetengahkan segala hal yang hendak ia utarakan melalui karya rupa. Seperti di dalam karya ini, Uuk ingin mengungkapkan soal keseimbangan, bahwa hidup itu senantiasa membutuhkan keseimbangan.

pande-alit-wijaya-suta_karya-ok

Begitu juga pada karya Pande Alit Wijaya Suta yang karyanya mengangkat fenomena persoalan perkotaan, digambarkan dengan komposisi figur-figur manusia yang terlihat berhimpitan sesak di antara bangunan dan gedung. Dalam karya ini komposisi memegang peran penting dalam mengutarakan mengenai tema perkotaan, penuh, padat dan sesak memberikan impresi pada kita perihal gambaran tentang suasana kota. Komposisi memiliki peran sentral dalam mengungkapkan maksud sang seniman dalam mengintepretasi tema.

Bahasa ungkapan formal yang diwujudkan melalui ekspresi teknik-teknik melukis, memang tak pernah pupus dari gempuran berbagai teknik dan media baru. Teknik konvensional seperti  brushstrokes, dan pengolahan bentuk (figuratif) senantiasa memberikan kemungkinan yang lebih imajinatif bagi penggambaran tematik, menjadikan tema meskipun verbal tapi relatif tidak menjadi banal. Karena objek tidak sepenuhnya representasional, relatif menjadi ikonik, simbolik, metaforik, atau bahkan berupa indeks, redundancenya objek dalam lukisan memberi peluang bagi hadirnya imajinasi dari audiens. Memberikan ruang pada terbukanya interpretasi, namun bukan berarti seniman melepaskan sepenuhnya pada kebebesan tafsir. Rangkaian komposisi aspek rupa dari objek hingga indeks menjadi landasan seniman dalam mengarahkan pada makna intepretasi rupa yang dibangunnya berdasarkan tema. Lebih lanjut, seniman menyuarakan kegelisahannya terhadap fenomena kehidupan melalui nilai artistik.

Dalam karya Nyoman Sujana “Kenyem” yang menampilkan subjectmatter berupa bentuk gunung berapi. Di balik kesederhanaan bentuknya tersebut, yang menjadi penanda sentral megarahkan pada intepretasi terhadap tema justru pada media yang dipakai yaitu pasir. Karya itu memakai material pasir yang dicampur dengan bahan perekat dan diterapkan langsung di dalam karnya membentuk gunung. Pasir selain sebagai media juga merupakan indeks yang mengandung rekaman langsung perihal fenomena yang tengah berlangsung, yaitu fenomena penambangan pasir di daerah Butus Karangasem. Di dalam material langsung itu sejatinya terkandung sejumlah jejak-jejak DNA (indeks) berbagai hal yang berhubungan dengan lokasi kejadian dan persoalan yang tengah menyelimutinya. Pilihan yang menurut Kenyem bersifat spontan itu patut diapresiasi sebagai gagasan yang cukup genial, sebagai suatu bentuk pengungkap tema berdasarkan insight yang dirasakan oleh seniman.  Yang tetap dikemas dalam citarasa artistik tidak dalam kebanalan material.

 

imam-nurofiq_karya-ok1

Sedikit berbeda dengan intepretasi oleh Imam Nurofiq yang memilih kebanalan artistik sebagai pilihan politis dalam menyoroti tema perihal persoalan lingkungan, yang justru terjadi karena ulah manusia itu sendiri. Bahkan ada semacam otokritik dalam karya Imam terhadap apa yang tengah mereka upayakan di dalam pameran itu sendiri. Bahwa sejatinya ‘kita’ toh hanya lebih banyak berkoar saja dari pada melakukan aksi langsung untuk menanggulangi persoalan. Otokritik juga hadir dalam karya Galung yang mengetengahkan potret tentang perjalanan yang mereka lakukan secara langsung ke lokasi dimana eskploitasi alam tengah berlangsung. Penempatan imaji diri mereka di dalam karya Galung, memberi penegasan bahwa sejatinya apa yang mereka lakukan sejatinya hanya sebatas impresi, dan intepretasi simbolik.

Galung dan Imam menegaskan, pada dasarnya mereka tetaplah berjarak dengan realitas dan sekaligus juga berjarak dengan sebentuk usaha-usaha langsung. Penyataan ini membuka pertanyaan lebih lanjut perihal apa tujuan seni dan apa fungsi seni, dalam kaitannya dengan upaya seniman dalam mengangkat sebuah tema besar yang berkaitan dengan persoalan ekosistem bumi yang kian hari, semakin nampak mengenaskan.  Apakah model menyikapan rupa seperti yang mereka lakukan, memiliki andil dalam mengupayakan “perubahan” ?

Sebelum lebih jauh mengurai persoalan pelik tersebut, ada baiknya kita meninjau karya terakhir dalam pameran ini yang totalitas abstrak, tidak ada bentuk sama sekali. Yaitu karya Made Supena yang hanya menampilkan olahan warna dalam permainan totalitas brushstrokes dan lelehan. Interpretasi terhadap tema menjadi nir dan hampir tidak dapat dikenali, jangankan ikon atau simbol, indeks pun tidak ada. Lalu bagaimana ‘kita’ dapat memahami kontens karya ini  dalam kaitannya penyikapan seniman terhadap tema besar yang relatif heroik tersebut?

Setelah anti klimak yang dihadirkan secara sadar dalam dua karya sebelumnya yang justru mempertanyakan kembali perihal diri sendiri. Diri mereka dan diri sendiri ‘kita’ semua umat manusia di muka bumi ini yang bertanggungjawab dan juga akan mempertanggungjawabkan apa yang telah ‘kita’ perbuat pada bumi ini. Karya Supena sepertinya menjadi titik kulminasi dalam pameran ini, dengan tiadanya objek nyata di dalamnya kita serasa diajak merenung, memahami kembali perihal “ada” dan “tiada”. Dan akhirnya karya Made Gunawan menghantarkan pada kesadaran bahwa sejatinya bumi ini adalah bagian dari sirkulasi kosmos yang bergerak dalam harmoni dan disharmoninya dan probabilitas-probabilitas yang diniscayakan oleh sistem itu sendiri. Ditegaskan kembali dalam karya Uuk bahwa dibutuhkan sebuah keseimbangan.

Menutup uraian yang cukup panjang lebar dan mungkin juga ngelantur ini, penulis ingin menegaskan kembali maksud dan tujuan tulisan ini. Alih-alih membahas isi dan makna atau bahkan konteks di dalam karya-karya seniman Niti Rupa, pembahasan ini lebih memilih membicarakan perihal pertanyaan bagaimana seniman mengungkapkan ide dan pemikirannya mengenai tema di dalam wujud rupa. Dan bahwa di dalam proses perwujudan tersebut, yang penulis maknai sebagai sebentuk usaha intepretasi seniman sesungguhnya tengah mengupayakannya melalui langkah strategis yang berdimensi “politis”. Politik representasi yang diupayakan seniman dalam bentuk representasi karya, jelas memiliki tujuan yaitu membagikan penghayatan subjektifnya dari pandangan dunianya kepada subjek-subjek yang lain. Dengan harapan, upaya yang dengan serius telah diniatkan tersebut (di dalam penciptaan karya dan secara politis melalui pameran), menyentuh kekhalayak luas. Sehingga setidaknya muncul secercah harapan agar dapat tumbuh bersama, diawali melalui mata, kemudian menyentuh rasa dan pada akhirnya juga menyentuh logika pikiran.

 

Yogyakarta, Mei 2015 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s